Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi. Wawasan itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas.
Sedikit banyaknya, estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran. Semangat estetika adalah keraguan dalam prosesnya, di mana keakraban dan simpati dimungkinkan.
Ikhtiar seorang penulis, pemikir, dan penyair adalah untuk menemukan dan mencari peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelahi sebelumnya tersebut.
Seorang penulis, yang sekaligus seorang pemikir, dapat dibayangkan sebagai seorang usiran yang mencari tempat berteduh dan bernaung, yang di waktu senja ia tiba-tiba sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia kesepian sekaligus ingin memasuki ruangan yang sepi dan menjelang gelap itu.
Di sana ia sendirian dan tak menemukan apa-apa selain kehampaan dan kesunyian. Tetapi di sana pula ia tiba-tiba menjadi sedemikian intim dan sadar dengan keberadaan dirinya yang malang sekaligus bahagia itu. Orang itu mungkin Gao, Kierkegaard, dan Nietzsche di sebuah jaman, Kafka dan Dostoyevsky di jaman yang lain.
Kita tak pernah tahu dengan tepat apa yang akan dan telah dilakukannya di sana selain sekian kebetulan yang disengaja dan tak disengaja. Di ruangan sepi yang tanpa pemilik itulah ia tertunduk, menengadah, dan sesekali bersandar. Si perokok berat dan penggila kopi seperti Voltaire, bila ia lelaki, dan si perenung yang penuh dengan perasaan natural bila ia seorang perempuan semisal Anna Akhmatova, Forough Farrokhzad, atau pun Virginia Woolf.
Ia juga dapat dibayangkan sebagai seseorang yang menciptakan ruang pribadinya dengan begitu nyaman dan mewah, atau ia melakukannya dalam keadaan terpaksa, pelarian yang tak terhindarkan ketika ia tak memiliki kesempatan yang pertama. Ketika ada seorang penulis yang proses kreatifnya dalam penderitaan dan keterbatasan di sebuah jaman, tetapi ada seorang penulis yang begitu nyaman secara finansial di sebuah jaman yang lainnya. Dan karena perbedaan kondisi dan keadaan itulah, ruang mereka masing-masing akan memungkinkan pemaknaan yang berbeda pula.
//
Sulaiman Djaya //
