Ihwal Fiksi dan Domain Sastra


More Important

“Jika seorang ilmuwan melihat suatu peristiwa dari penyebabnya, maka seorang sejarawan (yang barangkali juga seorang sastrawan) mencoba memahami maknanya” (Dilthey)

Meski ada banyak ragam definisi tentang fiksi dan sastra, umumnya tetap memandang fiksi dan sastra tidak terlepas sebagai kerja kreatif yang berhubungan dengan wilayah imajinasi dan rasa. Karena ia merupakan wilayah rasa dan imajinasi, sebagai contohnya, maka ia berbeda dengan sosiologi atau “ilmu” dalam arti umum yang kita pahami. Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi.

Wawasan itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas. Sedikit banyaknya, estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran. Semangat estetika adalah keraguan dalam prosesnya, di mana keakraban dan simpati dimungkinkan. Ikhtiar seorang penulis, pemikir, dan penyair adalah untuk menemukan dan mencari peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelahi sebelumnya tersebut. Seorang penulis, yang sekaligus seorang pemikir, dapat dibayangkan sebagai seorang usiran yang mencari tempat berteduh dan bernaung, yang di waktu senja ia tiba-tiba sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia kesepian sekaligus ingin memasuki ruangan yang sepi dan menjelang gelap itu.

Ignas Kleden (Lihat Ignas Kleden, Sasra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Grafiti 2004, hal. 7-8), dalam tulisannya yang berjudul Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, yang dipengaruhi pandangan filsafat hermeneutik-nya Paul Ricoeur, mengemukakan definisi dan perbedaan yang cukup menarik antara “Sastra” dan “Yang Bukan Sastra” yang ia tulis sebagai berikut: “Apakah yang membedakan sebuah tulisan yang bersifat sastra dari jenis tulisan-tulisan lainnya? Mengapa reportase seorang wartawan, catatan perjalanan seorang turis, kenang-kenangan hidup seorang tokoh, pandangan seorang politisi, atau laporan penelitian seorang ilmuwan dianggap berbeda dari sebuah cerpen, sebuah novel, dan sebuah sajak, atau sebuah esai? Mengapa ada biografi yang dianggap karya sastra seperti Confessiones Santo Agustiunus dan Autobiography Bertrand Russel, atau Ayahku Hamka dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Pramoedya Ananta Toer, dan ada pula biografi yang tidak dianggap sastra sama sekali seperti banyak sekali memoar tokoh politik dan tokoh bisnis Indonesia yang muncul dalam tahun-tahun terakhir ini? Apakah perbedaan itu harus dicari dalam tingkat keindahan atau sofistikasi berbahasa? Apakah karena ada perbedaan jenis narasi? Atau karena factor-faktor lain yang lebih mendalam dan lebih asasi?……

Perbedaan itu disebabkan oleh jenis-jenis makna yang ada dalam sebuah tulisan, yaitu apakah makna itu diproduksikan dalam hubungan sebuah teks dengan kenyataan-kenyataan di luar teks, atau makna itu lahir dalam hubungan internal di dalam teks-teks itu sendiri. Makna referensial (yaitu makna yang lahir dari hubungan antara teks dan dunia luar-teks) dan makna tekstual (yaitu makna yang lahir dari hubungan-hubungan di dalam teks sendiri) adalah dua jenis makna yang membedakan sebuah teks kesusastraan dari teks-teks lainnya. Sastra berbeda dari karya tulis lainnya, karena di sini makna tekstual diproduksikan pada berbagai tingkat, dengan sedikit banyak mensuspendir (yaitu membatalkan untuk tujuan tertentu dan untuk sementara waktu) makna referensial yang digarap dalam ilmu pengetahuan atau jurnalisme, misalnya. Sastra adalah dialektik (pada berbagai tingkatnya) antara dunia luar-teks (yaitu peristiwa) dan dunia dalam-teks (yaitu makna). Interaksi teks dan dunia luar teks menghasilkan makna referensial, sementara interaksi antara bagian-bagian teks satu sama lain menghasilkan makna tekstual, yang menurut hemat penulis merupakan pencapaian spesifik dari kesusastraan. Perbedaan pokok di antara ilmu pengetahuan dan sastra ialah bahwa yang pertama memproduksikan makna referensial dengan cara mereduksikan makna tekstual, sedangkan yang kedua memproduksikan makna tekstual dengan sejauh mungkin mensuspendir (yaitu menempatkan dalam tanda kurung) makna referensial. Atau dengan lain perkataan, dalam ilmu pengetahuan konsep-konsep disusun dengan cara menyingkirkan sebanyak mungkin konotasi dan ambivalensi sehingga tercapai denotasi yang dapatkan ditetapkan isi dan batas-batasnya. Sebaliknya, dalam karya sastra, konotasi dimungkinkan, dan ambivalensi justru diaktifkan untuk menghidupkan watak simbolik sastra, dengan memanfaatkan berbagai teknik simbolisasi seperti metaphor, alegori, atau cara-cara lainnya”.

Demikianlah sejumlah batasan dan definisi perbedaan antara apa “yang sastra” dan “yang bukan sastra” menurut Ignas Kleden yang mengambil wawasan filsafat hermeneutik-nya Paul Ricoeur.

Bila kita argumentasikan dengan kategori eksplanasi (Erklaren) yang sifatnya saintifik dan pemahaman (Verstehen) yang sifatnya hermeneutik, maka sastra berada dalam wilayah Verstehen yang sifatnya hermeneutik sedangkan sains (semisal fisika) berada di wilayah Erklaren yang sifatnya saintifik, sebagaimana ungkapannya Wilhelm Dilthey, “jika seorang ilmuwan melihat suatu peristiwa dari penyebabnya, maka seorang sejarawan (“yang barangkali juga seorang sastrawan) mencoba memahami maknanya (Lihat Rene Wellek & Austin Warren, Theory of Literature, Harcourt Brace Javanovich, Publisher, San Diego, New York, London 1977. Edisi Bahasa Indonesia: Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusatraan, Penerjemah Melani Budianta, Gramedia Jakarta 1993, hal. 6).

Dalam hal ini, Rene Wellek dan Austin Warren mendefinisikan atau mengkategorikan sastra sebagai sebagai sebuah kegiatan kreatif yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan kreatif dalam dunia seni pada umumnya, yang sama-sama berkaitan dengan kreativitas-imajinatif (Ibid, hal. 3), di mana dengan hal itu pula kita menyebut sastra sebagai “karya fiksi” (Ibid, hal. 14). Sementara itu, secara fungsional, sebagaimana dikemukakan oleh Edgar Allan Poe, sastra berfungsi untuk menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu (Ibid, hal. 25), yang kalau kita meminjam wawasannya Aristoteles, seni dan sastra berfungsi sebagai katarsis.

Sulaiman Djaya

Nietzsche dan Puisi-puisinya


Puisi Jalaluddin Rumi

Hari ini kuulurkan tangan pada ikal sang kebetulan, atau cukup cerdik untuk menuntun dia, seperti menuntun seorang anak, cukup cerdik untuk memperdayanya. Hari ini aku sudi ramah pada segala yang tak kuselamatdatangi, bahkan pada nasib enggan kuberduri….karena jiwa inilah aku dipanggil Si Bahagia”, Nietzsche. Terus terang, ketika saya membaca esei-esei atau pun puisi-puisi yang ditulis Nietzsche, sedikit banyaknya saya merasakan kekaburan untuk membedakan antara karya dan riwayat, sebab begitu eratnya, atau katakanlah begitu tak terpisahkannya antara figur dan tulisan dalam kasus tulisan-tulisan Nietzsche. Sebab tulisan-tulisan atau pun puisi-puisinya telah sedemikian memiliki “kepribadian” yang karakternya tak lain adalah Nietzsche sendiri.

Dalam esei-eseinya atau puisi-puisinya, erotisme dan kepedihan atau pun kesepian, saling menyumbang dan saling melahirkan. Puisi-puisi yang ditulisnya acapkali telah menjelma sejumlah figur dan karakter, tetapi yang anehnya, figur-figur dan karakter-karakter itu tetap kembali kepada Nietzsche sebagai seseorang yang tengah diceritakannya, dan si pencerita itu tak lain adalah Nietzsche sendiri.

Ia memang acapkali berbicara, atau lebih tepatnya berujar, tentang pentingnya bersikap afirmatif pada hidup meski dalam deraan derita dan kesepian, tetapi tak juga bisa diingkari, bahwa ujaran-ujaran yang dikemukakannya seringkali adalah sebuah cerita tentang riwayat Nietzsche sendiri. Estetika sebagai penghiburan diri, estetika yang diimajinasikan oleh Nietzsche sendiri, yang kadangkala ia anggap sebagai praktek transfigurasi alias olah tubuh yang berhadapan sekaligus berdiam dalam hidup, yang kadangkala ia anggap sebagai wujud riil dari sikap afirmatif yang ia gagas dan yang ia percayai itu.

Tetapi tidakkah justru karena demikian ada ironi dan kontradiksi terselubung dalam esei-esei otobiografis dan puisi-puisi Nietzsche? Yang justru menggambarkan Nietzsche sebagai seseorang yang kecewa pada hidup, dan bahkan kurang bersikap santai pada keseharian?

Karena hal itu pula, saya berani berkata bahwa teks terselubung dalam tulisan-tulisan Nietzsche adalah “perempuan” yang dimaknakan sebagai gairah dan afirmasi, tetapi di dalamnya adalah pengalaman kekecewaan, yang anehnya karena demikianlah esei-esei dan puisi-puisinya terasa sublim dan indah: “Pada rekah fajar, saat hiburan embun ke bumi berjingkat, tak terdengar tak terlihat, –sebab embun, sang pelipur berkasut halus layaknya penghibur lembut- ingatkah kau, wahai kalbu membara, betapa dulu kau dahagakan airmata surgawi dan tetes embun, meranggas lungkrah dahaga, ketika di jalan kering rumputan, sorot keji mentari malam membara dengki menyilaukan, mengepungmu dari sela hitam pohonan”.

Suara-suara kekecewaan sang pencinta yang kesepian itu telah dialihkan dengan begitu indah, dengan begitu sangat imajis dan surealis, hingga menghasilkan bunyi-bunyi dan suara-suara yang memiuh dan menyelam.

Dalam pembacaan saya, puisi-puisi Nietzsche, bahkan esei-esei otobiografisnya sekalipun, mestilah juga dilihat sebagai tubuh yang bercerita, tubuh Nietzsche itu sendiri. Rasa kecewanya, kesepian dan pelariannya, hasrat-hasratnya dan ambisi-ambisinya, yang justru merupakan sekian upaya untuk mendapatkan penghiburan diri dan alternatif untuk mendapatkan pemuasan yang tak pernah merasa genap, meski Nietzsche sendiri menyebutnya sebagai “amor fati atau pun afirmasi: “Datanglah, wahai sentosa kencana! Kau benih nikmat kematian yang paling rahasia! Terlalu lekaskah kumelangkah? Kini, saat kakiku lungkrah, barulah tatapmu sanggup mengajariku, barulah bahagiamu sanggup mengajariku”. “….kini perahuku menunggu. Badai dan tualang tak mungkin ia lupakan! Cita dan harapan telah karam, jiwa dan laut terbentang tentram”. “Tak pernah kurasa sedekat ini manis kepastian, sehangat ini tatap mentari: –Bukankah es di puncakku masih membara?”.

Ketika kita membaca larik-larik sajak di atas, bukankah di sana ada amarah, ada suara-suara kekecewaan yang disulap menjadi sedemikian sublim dan indah. Dan itu pula yang akan saya sebut sebagai puisi yang telah memiliki tubuhnya sendiri. Nietzsche adalah seorang penyair yang paling jujur yang pernah saya baca. Kejujuran yang disulap menjadi imajisme dan surealisme, bahkan sedemikian simbolik, yang acapkali terasa enigmatik dan penuh teka-teki, sebagaimana ia menjuluki dirinya sendiri sebagai “hewan teka-teki”. Kepedihan yang disembunyikan melalui erotisme, yang malah saling menyetubuhi satu sama lainnya.

Membaca tulisan-tulisan dan puisi-puisi Nietzsche, mau tak mau saya sendiri harus membayangkan sebagai seorang pribadi yang selalu dirundung gelisah, bukan oleh apa-apa, tetapi oleh gairah artistik dan estetis untuk terus-menerus mencari sebuah wawasan yang bisa dipercayai oleh diri saya sendiri di saat saya merasa tak puas atau merasa ada yang keliru dalam konvensi-konvensi nilai dan kepercayaan di jaman dan tempat di mana saya hidup sebagai seorang penyair atau pun seorang penulis.

Secara umum, dalam pembacaan saya, kata-kata penting yang tak bisa diabaikan begitu saja ketika membaca tulisan-tulisan atau pun puisi-puisi Nietzsche adalah tubuh, tari, dan musik, sebab seringkali Nietzsche sendiri menggunakan kata-kata tersebut sebagai konsep sekaligus kiasan untuk menyampaikan atau pun menjelaskan apa yang ingin dikomunikasikannya sejauh filsafat dan estetika yang dipahaminya sebagai afirmasi dan transfigurasi.

Bahkan ia selalu berbicara tentang bagaimana seseorang bisa bergembira meski dalam kemalangan, asketisme yang tidak didasarkan pada dogmatisme. Juga penolakannya terhadap agama lebih karena agama yang sejauh dipahami dan dialaminya dalam kenyataannya adalah sejumlah ajaran dan nilai yang membenci tubuh dan menganjurkan untuk menolak dunia, sejenis ressentment alias mentalitas budak yang reaktif yang di dalamnya terkandung juga hasrat untuk berkuasa, untuk mengalahkan sang tuan.

Hingga Nietzsche sendiri berpendapat bahwa ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin agama merupakan topeng dari hasrat kuasa para pendeta. Hanya saja hasrat tersebut menimpakan dan menyebarkan negativitas pada kehidupan, bukannya berkata “ya” pada hidup itu sendiri. Tetapi meskipun demikian, sebagaimana kajian hermeneutisnya Tyler T. Roberts, kita akan gegabah jika menempatkan Nietzsche secara ekstrem dan berhadap-hadapan antara yang religius dan yang sekuler. Sebab menurut Tyler T. Roberts, Nietzsche mestilah dilihat di antara keduanya. Artinya, ateisme-nya Nietzsche dengan kumandang Tuhan telah mati-nya itu lebih diarahkan pada kenyataan-kenyataan doktrin dan praktek agama yang menurutnya justru memusuhi hidup dan keseharian.

Demikianlah menurut saya sebagai seorang pembaca, tulisan-tulisan Nietzsche adalah gairah erotisme itu sendiri, erotisme yang acapkali dipupuk dari kesepian dan penderitaan ketika menjalani tahun-tahun produktifnya dalam kesendirian, di mana penghiburan kesehariannya ia gunakan dengan berjalan kaki sendirian di antara lembah-lembah di Sils-Maria atau di tempat-tempat yang dikunjunginya sembari selalu membawa buku catatan tempat ia menuangkan dan menuliskan ide-ide dan gagasan-gagasan yang terbersit di benaknya, yang muncul begitu saja, yang didapatnya ketika berjalan-jalan itu dengan segera, hingga karena itulah ia menuliskannya secara padat dan aforistik, mirip kata-kata mutiara.

Sulaiman Djaya