Nietzsche dan Puisi-puisinya


Puisi Jalaluddin Rumi

Hari ini kuulurkan tangan pada ikal sang kebetulan, atau cukup cerdik untuk menuntun dia, seperti menuntun seorang anak, cukup cerdik untuk memperdayanya. Hari ini aku sudi ramah pada segala yang tak kuselamatdatangi, bahkan pada nasib enggan kuberduri….karena jiwa inilah aku dipanggil Si Bahagia”, Nietzsche. Terus terang, ketika saya membaca esei-esei atau pun puisi-puisi yang ditulis Nietzsche, sedikit banyaknya saya merasakan kekaburan untuk membedakan antara karya dan riwayat, sebab begitu eratnya, atau katakanlah begitu tak terpisahkannya antara figur dan tulisan dalam kasus tulisan-tulisan Nietzsche. Sebab tulisan-tulisan atau pun puisi-puisinya telah sedemikian memiliki “kepribadian” yang karakternya tak lain adalah Nietzsche sendiri.

Dalam esei-eseinya atau puisi-puisinya, erotisme dan kepedihan atau pun kesepian, saling menyumbang dan saling melahirkan. Puisi-puisi yang ditulisnya acapkali telah menjelma sejumlah figur dan karakter, tetapi yang anehnya, figur-figur dan karakter-karakter itu tetap kembali kepada Nietzsche sebagai seseorang yang tengah diceritakannya, dan si pencerita itu tak lain adalah Nietzsche sendiri.

Ia memang acapkali berbicara, atau lebih tepatnya berujar, tentang pentingnya bersikap afirmatif pada hidup meski dalam deraan derita dan kesepian, tetapi tak juga bisa diingkari, bahwa ujaran-ujaran yang dikemukakannya seringkali adalah sebuah cerita tentang riwayat Nietzsche sendiri. Estetika sebagai penghiburan diri, estetika yang diimajinasikan oleh Nietzsche sendiri, yang kadangkala ia anggap sebagai praktek transfigurasi alias olah tubuh yang berhadapan sekaligus berdiam dalam hidup, yang kadangkala ia anggap sebagai wujud riil dari sikap afirmatif yang ia gagas dan yang ia percayai itu.

Tetapi tidakkah justru karena demikian ada ironi dan kontradiksi terselubung dalam esei-esei otobiografis dan puisi-puisi Nietzsche? Yang justru menggambarkan Nietzsche sebagai seseorang yang kecewa pada hidup, dan bahkan kurang bersikap santai pada keseharian?

Karena hal itu pula, saya berani berkata bahwa teks terselubung dalam tulisan-tulisan Nietzsche adalah “perempuan” yang dimaknakan sebagai gairah dan afirmasi, tetapi di dalamnya adalah pengalaman kekecewaan, yang anehnya karena demikianlah esei-esei dan puisi-puisinya terasa sublim dan indah: “Pada rekah fajar, saat hiburan embun ke bumi berjingkat, tak terdengar tak terlihat, –sebab embun, sang pelipur berkasut halus layaknya penghibur lembut- ingatkah kau, wahai kalbu membara, betapa dulu kau dahagakan airmata surgawi dan tetes embun, meranggas lungkrah dahaga, ketika di jalan kering rumputan, sorot keji mentari malam membara dengki menyilaukan, mengepungmu dari sela hitam pohonan”.

Suara-suara kekecewaan sang pencinta yang kesepian itu telah dialihkan dengan begitu indah, dengan begitu sangat imajis dan surealis, hingga menghasilkan bunyi-bunyi dan suara-suara yang memiuh dan menyelam.

Dalam pembacaan saya, puisi-puisi Nietzsche, bahkan esei-esei otobiografisnya sekalipun, mestilah juga dilihat sebagai tubuh yang bercerita, tubuh Nietzsche itu sendiri. Rasa kecewanya, kesepian dan pelariannya, hasrat-hasratnya dan ambisi-ambisinya, yang justru merupakan sekian upaya untuk mendapatkan penghiburan diri dan alternatif untuk mendapatkan pemuasan yang tak pernah merasa genap, meski Nietzsche sendiri menyebutnya sebagai “amor fati atau pun afirmasi: “Datanglah, wahai sentosa kencana! Kau benih nikmat kematian yang paling rahasia! Terlalu lekaskah kumelangkah? Kini, saat kakiku lungkrah, barulah tatapmu sanggup mengajariku, barulah bahagiamu sanggup mengajariku”. “….kini perahuku menunggu. Badai dan tualang tak mungkin ia lupakan! Cita dan harapan telah karam, jiwa dan laut terbentang tentram”. “Tak pernah kurasa sedekat ini manis kepastian, sehangat ini tatap mentari: –Bukankah es di puncakku masih membara?”.

Ketika kita membaca larik-larik sajak di atas, bukankah di sana ada amarah, ada suara-suara kekecewaan yang disulap menjadi sedemikian sublim dan indah. Dan itu pula yang akan saya sebut sebagai puisi yang telah memiliki tubuhnya sendiri. Nietzsche adalah seorang penyair yang paling jujur yang pernah saya baca. Kejujuran yang disulap menjadi imajisme dan surealisme, bahkan sedemikian simbolik, yang acapkali terasa enigmatik dan penuh teka-teki, sebagaimana ia menjuluki dirinya sendiri sebagai “hewan teka-teki”. Kepedihan yang disembunyikan melalui erotisme, yang malah saling menyetubuhi satu sama lainnya.

Membaca tulisan-tulisan dan puisi-puisi Nietzsche, mau tak mau saya sendiri harus membayangkan sebagai seorang pribadi yang selalu dirundung gelisah, bukan oleh apa-apa, tetapi oleh gairah artistik dan estetis untuk terus-menerus mencari sebuah wawasan yang bisa dipercayai oleh diri saya sendiri di saat saya merasa tak puas atau merasa ada yang keliru dalam konvensi-konvensi nilai dan kepercayaan di jaman dan tempat di mana saya hidup sebagai seorang penyair atau pun seorang penulis.

Secara umum, dalam pembacaan saya, kata-kata penting yang tak bisa diabaikan begitu saja ketika membaca tulisan-tulisan atau pun puisi-puisi Nietzsche adalah tubuh, tari, dan musik, sebab seringkali Nietzsche sendiri menggunakan kata-kata tersebut sebagai konsep sekaligus kiasan untuk menyampaikan atau pun menjelaskan apa yang ingin dikomunikasikannya sejauh filsafat dan estetika yang dipahaminya sebagai afirmasi dan transfigurasi.

Bahkan ia selalu berbicara tentang bagaimana seseorang bisa bergembira meski dalam kemalangan, asketisme yang tidak didasarkan pada dogmatisme. Juga penolakannya terhadap agama lebih karena agama yang sejauh dipahami dan dialaminya dalam kenyataannya adalah sejumlah ajaran dan nilai yang membenci tubuh dan menganjurkan untuk menolak dunia, sejenis ressentment alias mentalitas budak yang reaktif yang di dalamnya terkandung juga hasrat untuk berkuasa, untuk mengalahkan sang tuan.

Hingga Nietzsche sendiri berpendapat bahwa ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin agama merupakan topeng dari hasrat kuasa para pendeta. Hanya saja hasrat tersebut menimpakan dan menyebarkan negativitas pada kehidupan, bukannya berkata “ya” pada hidup itu sendiri. Tetapi meskipun demikian, sebagaimana kajian hermeneutisnya Tyler T. Roberts, kita akan gegabah jika menempatkan Nietzsche secara ekstrem dan berhadap-hadapan antara yang religius dan yang sekuler. Sebab menurut Tyler T. Roberts, Nietzsche mestilah dilihat di antara keduanya. Artinya, ateisme-nya Nietzsche dengan kumandang Tuhan telah mati-nya itu lebih diarahkan pada kenyataan-kenyataan doktrin dan praktek agama yang menurutnya justru memusuhi hidup dan keseharian.

Demikianlah menurut saya sebagai seorang pembaca, tulisan-tulisan Nietzsche adalah gairah erotisme itu sendiri, erotisme yang acapkali dipupuk dari kesepian dan penderitaan ketika menjalani tahun-tahun produktifnya dalam kesendirian, di mana penghiburan kesehariannya ia gunakan dengan berjalan kaki sendirian di antara lembah-lembah di Sils-Maria atau di tempat-tempat yang dikunjunginya sembari selalu membawa buku catatan tempat ia menuangkan dan menuliskan ide-ide dan gagasan-gagasan yang terbersit di benaknya, yang muncul begitu saja, yang didapatnya ketika berjalan-jalan itu dengan segera, hingga karena itulah ia menuliskannya secara padat dan aforistik, mirip kata-kata mutiara.

Sulaiman Djaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s