Dostoievsky dan Akutagawa


Sajak Prosaik Sulaiman Djaya

Sebuah karya, atau pun eksperimen penulisan, seperti yang telah kita maphumi, adalah ikhtiar dan pergulatan pencapaian bahasa, di mana suatu kebaruan dan keunikan akan diperlihatkan oleh sebuah karya, entah puisi atau pun prosa. Misalnya, apakah sebuah karya menawarkan suatu bentuk pengucapan atau penuturan dan pengucapan tertulis, meski belum jauh berbeda dengan puisi-puisi atau prosa-prosa sebelumnya, tetaplah mampu memberikan sedikit sentuhan dan kenakalan.

Tak jarang, kreativitas mesti mendobrak kemapanan bahasa atau pun mainstream tuturan dari tradisi atau pun kebiasaan sebelumnya. Sebutlah sebagai contohnya, ikhtiar itu dengan tuturan puitis sebuah prosa, yang bercerita lewat imaji dan citra-citra pinjaman untuk menyiratkan sesuatu yang hendak disampaikan, atau cukup dengan jalan sederhana saja semisal dengan jalan verbalisme yang nakal namun berpetualang, yang dengan itu semua proses pembacaan sebuah karya sanggup membangkitkan sebentuk orgasme literer.

Contoh lainnya adalah semisal ketika kita membaca karya-karyanya Dostoievsky yang membuat kita tergoda untuk menelusuri dan menerka dunia yang tengah ditebarkannya kepada kita, bak ketakusaian Alfu Layla Wa Layla, karena suasana dari efek penulisan prosa-prosanya yang menghadirkan keragaman sekaligus teka-teki dunia ala novel-novel detektif.

Dalam Crime and Punishment, misalnya, kita sebenarnya tidak pernah tahu secara jelas alasan kejahatan Raskolnikov. Apakah karena kemiskinannya? Apakah karena kebenciannya terhadap tingkah-polah masyarakat rente? Kita tak tahu mana muasal dan akibat, karena yang tersisa adalah kesamaran yang memberi kita kesempatan untuk memikirkan sendiri. Dan itulah mungkin yang akan kita sebut sebagai efek musikal sebuah karya sastra yang tak menghendaki dirinya menjelma sebuah saintisme-bahasa, tetapi lebih sebagai kebijaksanaan penuturan dan penceritaan.

Model yang sama juga dapat kita rasakan dalam beberapa prosa Akutagawa, seperti prosa Di Hutan Belukar-nya yang menawarkan kepada kita ragam versi kesaksian atas kejahatan yang sama-sama menawarkan anti-tesis bagi setiap usaha saintisme bahasa. Seperti kita tahu, dalam salah-satu prosanya itu, Akutagawa rupa-rupannya hendak menyentil dan mempermainkan perspektif pembaca, atau kita, dalam memahami dan memandang sebuah kejahatan agar tidak terlalu terburu-buru menuduhnya.

Secara longgar kita dapat saja membandingkannya dengan Alfu Layla Wa Layla atau Kisah Seribu Satu Malam yang bercerita dalam sebuah cerita, di mana si tokoh yang bercerita dalam sebuah cerita pada saat yang sama juga tengah bercerita atau menceritakan tokoh lainnya dan tokoh yang tengah diceritakan juga tengah bercerita dalam cerita yang lainnya. Mungkin begitulah sebuah prosa, bertarung dan menjelujur dalam rimba bahasa itu sendiri. Bila demikian, kesusastraan memperlakukan bahasa bukan sebagai saintisme yang hendak mencipta kejelasan, tetapi lebih sebagai petualangan.

Sulaiman Djaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s