Kampung Halaman


Kragilan, Serang, Banten by Asep S Bahri

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan.

Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang terbatas. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru.

Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam Rosela, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosela tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar. Bila kami selesai mengemas bubuk Rosela tersebut, ibu saya lah yang akan menjajakannya alias menjualnya, kadangkala ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.

Seingat saya, selain menanam Rosela, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosela dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami. Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosela yang berwarna merah itu agar sambil yang dibuatnya cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosela.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosela. Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 80-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami. Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu lampu damar tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar al Qur’an. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya al Qur’an sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah. Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog.

Demikian, dalam rekonstruksi saya saat ini, ingatan dan kenangan saya tentang kampung halaman atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.

Dalam kesendirian itulah, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Ke arah burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu saya sebagai seorang anak. Dan bila masa panen tiba, saya pun akan membantu ibu saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut arit. Dengan demikian, kehidupan masa kanak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.

Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan kampung halaman dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai “kepedihan” pertama saya adalah ketika adik perempuan yang bermata indah dan berwajah cantik meninggal karena demam. Seingat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama saya dan senantiasa menangis bila saya tinggalkan.

Dengan sedikit paparan itu, kampung halaman dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman “kepedihan” saya bersamanya. Ia adalah sebuah konteks dan tempat di mana ingatan dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang. Ia adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk “merekonstruksi” sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi. Singkat kata, kampung halaman atau tanah kelahiran adalah sebuah “historiografi personal” sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ia adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami “kepedihan” saya.

Sulaiman Djaya

Ahmad Wahib dan Soren Kierkegaard


Sulaiman Djaya

“Setiap orang bebas untuk mempercayai apa yang ditulisnya, dan untuk menuliskan apa yang dipercayainya.” Demikian ujar Czeslaw Milosz dalam bukunya yang berjudul The Captive Mind itu. [1]

Apa yang dikatakan Czeslaw Milosz itu seakan hendak menyiratkan apa yang juga diperjuangkan dan dihidupi Ahmad Wahib, ketika hasrat untuk mengomentari sama kuatnya dengan gairah apresiasi dan kehendak untuk menuliskan segala hal, di mana kegelisahan menjadi ladang subur bagi rasa tak puas seseorang yang begitu bersemangat untuk bertarung dalam kancah pemikiran dan teologi, yang membuat Wahib selalu bergairah untuk menuliskan apa yang memang ingin ia tulis atau apa saja yang ingin ia kritik, terutama sejauh menyangkut soal-soal keagamaan, dan ia percaya dengan apa yang ia tuliskan dan yang ia pikirkan.

Seperti halnya Soren Kierkegaard, Ahmad Wahib mempercayai bahwa segala sesuatu tak lepas dari ruang dan waktu, ketika kedua orang itu memiliki pemahaman serupa saat memandang bahwa manusia bukan berada di atas dunia, tetapi di dalamnya. Demikianlah, pengalaman dan pergulatan intelektual Ahmad Wahib adalah ladang subur kegelisahan di tengah tiga isu utama yang menarik minat dan perhatiannya: pemikiran, politik, dan isu-isu keagamaan. Dan memang, setidak-tidaknya dalam kasus Indonesia, ketiga isu tersebut paling mewarnai situasi sosial Indonesia.

Begitulah, Ahmad Wahib, sebagaimana Soren Kierkegaard ratusan tahun silam sebagai perbandingannya, dapat dikatakan sebagai seorang yang selalu gelisah dalam kamar kontrakan yang adalah juga laboratorium pribadinya itu. Konon, Wahib yang pemalu itu, selalu diliputi keragu-raguan dalam persoalan cinta dan perempuan, yang tak ayal lagi telah membuat dirinya akrab dengan buku-buku dan mesin tik miliknya.

Selain itu, riwayat hidupnya yang bergaul dengan orang-orang non-muslim, juga aktivitasnya dalam Limited Group-nya Mukti Ali Dkk itu, tak diragukan lagi telah turut mempengaruhi gagasannya. Wahib memang dapat dikatakan sebagai pribadi yang terbuka untuk mengapresiasi segala bentuk pemikiran, dan ia menolak segala bentuk ketertutupan, sebagaimana yang ia saksikan sendiri ketika ia menjadi anggota HMI. Tentu saja, meski tak seluruhnya, pandangannya tentang agama, terutama tentang Islam, tak lepas dari pengaruh Limited Group. Setidak-tidaknya, hal itu dapat dilihat dari sub-sub tema yang dikomentarinya dalam catatan hariannya yang kebetulan populer itu: pluralisme, toleransi, eksclusivisme, dialog agama, dan masalah-masalah apologisme.

Ahmad Wahib, sang calon jurnalis itu, justru menjadi seorang jurnalis yang bekerja untuk dirinya sendiri melalui catatan-catatan hariannya, yang saat ini telah dibukukan itu, dan kita dapat membaca tulisan-tulisannya di saat ia telah meninggal, di mana seorang penyair Sapardi Djoko Damono mengabadikan insiden saat dirinya mengalami kecelakaan itu dalam sebuah sajak yang berjudul Peristiwa Pagi Tadi, Kepada GM: Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyebrang. Siang tadi seorang pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyebrang membentur aspal, lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan. Sore tadi tukang warung bercerita tentang aku yang terlanggar motor waktu menyebrang membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulan dan meninggal sesampai di rumah sakit. Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.[2]

Apa yang ditulis Ahmad Wahib dalam catatan hariannya itu merupakan sekian aspirasi karena rasa tak puas yang muncul dari ruang kegelisahannya untuk menyikapi apa saja yang ia pikirkan, ia rasakan dan ia saksikan, yang tentu saja membentangkan keberpihakan dan perbedaan yang sifatnya personal dan individual, di mana tulisan-tulisannya merupakan sejumlah fragment dan pecahan, bukan sebuah ikhtiar pemikiran yang sistematis atau menghendaki menjelma sistem yang konstruktif ala para filsuf metafisika. Sejumlah tulisan, fragment dan ekspressi seseorang yang mempercayai dan menghidupi kebebasan berpikir.

Begitu pula, subjek yang ditulis dan dibahas Ahmad Wahib bisa apa saja, tanpa merasa dibatasi oleh kategori-kategori akademik yang sistematis. Catatan hariannya itu, yang bak otobiografi-nya Giaccomo Cassanova di abad ke-18, memang acapkali ditaburi dengan detil tentang diri sendiri, yang karena keterusterangan dan kejujurannya itulah banyak pihak yang tidak suka dan merasa disudutkan.

Demikian, sebagai sejumlah fragment dan pecahan, cara terbaik membaca tulisan-tulisan Ahmad Wahib, adalah dengan menghindari klaim sistematik itu sendiri. Dengan kata lain, membaca tulisan-tulisan Ahmad Wahib, adalah memahami seseorang yang ingin berkomentar tentang apa saja yang ingin dikomentari dan dikritiknya, seseorang yang begitu bergairah dan bersemangat untuk bersentuhan dengan arena pemikiran itu sendiri.

Pada kasus Ahmad Wahib, seperti telah dikumandangkan Czeslaw Milosz itu, setiap orang pada dasarnya berhak mengekspressikan apa yang dipikirkannya sebagai sebuah aspirasi, tanpa mesti dibebani embel-embel kesarjanaan. Ahmad Wahib, jika demikian, memang seorang amatiran yang bersemangat dan bergairah, ketika pandangannya tentang agama begitu berani menentang dan menantang kanonisasi dan otorisasi yang buta yang menurutnya rentan jatuh pada dogmatisme dan kejumudan. Dan karena itu, posisinya secara sengaja atau tak sengaja, melawan mereka yang eksclusif dalam memaknai agama, dan menolak secara terang-terangan siapa pun yang anti-intelektual.

Dalam catatan hariannya itu, Ahmad Wahib menulis: “Walaupun kita mengatakan diri kita sebagai penganut Islam, belum tentu pikiran kita berjalan sesuai dengan Islam. Terus terang saya kurang setuju dengan orang-orang yang berkata bahwa sumber dari Islam itu tiga: Qur’an, Sunnah dan akal. Saya pikir hanya dua, yaitu al Qur’an dan Sunnah. Bila akan dimasukkan dalam deretan itu, menjadi tidak proporsional. Akal di sini bukan sebagai sumber, tetapi sebagai alat untuk mengenali sumber tadi.”[3]

Apa yang dikatakan Wahib itu telah menunjukkan dengan jelas tentang kepercayaan dan pandangan Wahib sendiri tentang agama, yang dalam hal ini Islam, sebagai agama yang sejalan dengan pemikiran dan akrab dengan rasionalitas, atau akal manusia. Tetapi akal baginya lebih merupakan sebuah instrument, bukan resource, ketika ia memandang bahwa jika segala sesuatu yang merupakan produk akal asal tidak bertentangan dengan al Qur’an dan Sunnah diklaim sebagai Islam, hanya akan mengaburkan dan menyulitkan diferensiasi mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang berasal dari produk manusia, saat ia meneruskan pendapatnya itu dan berkata: “Dan bila akal dipakai sebagai sumber, maka segala sesuatu yang merupakan produk akal yang tidak bertentangan dengan al Qur’an dan Hadits, lalu bernama Islam, akibatnya membuat rumah=Islam, sembahyang=Islam, naik sepeda=Islam, ini menunjukkan kurang diferensiasi.”[4]

Dalam catatan-catatan hariannya itu, teranglah bahwa Ahmad Wahib bukanlah seorang yang overdosis dengan rasionalisme, juga sebaliknya, bukan seorang anti-rasionalis yang mengutuk kepercayaan berlebihan kepada rasionalisme. Ia mengakui secara jujur batas-batas rasio, namun karena batas-batas rasio yang tak pernah jelas itulah, pemikiran justru menjadi bebas. Kebebasan berpikir yang dipahami Wahib itu juga termasuk dalam masalah akidah, yang menurutnya sama terbukanya untuk dikritisi sebagaimana persoalan-persoalan lainnya, semisal masalah syari’ah atau pun mu’amalah.

Dengan sikap yang demikian itulah, menurutnya, kita akan mengetahui beda antara psudo-akidah dan akidah yang sebenarnya: “Saya sungguh-sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehingga seolah-olah absolut. Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tahu batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya. Batas kekuatan itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai disana dan percobaan-percobaan untuk menembusnya selalu gagal. Karena itu manakala keterbatasan kekuatan berpikir, maka jelas statement ini tidak berarti dan mungkin salah besar. Otak itu akan melampaui batas kekuatannya. Kalau sudah terang begitu, apa gunanya mempersoalkan batas, kalau diluar batas itu sudah diluar kemampuannya? Hal ini sudah dengan sendirinya, tak perlu dipersoalkan. Berikanlah otak itu kebebasan untuk bekerja atau berpikir, itulah tanda bahwa ia masih dalam batas kemampuannya. Dalam batas-batas kemampuannya dia bebas. Jadi dalam, tiap-tiap bekerja dan berpikir, otak itu bebas.”[5]

Dengan wawasan dan pandangan yang dipercayainya itulah Ahmad Wahib menolak sikap-sikap apologetik sebagian kaum muslim, yang menurutnya membuat beberapa kaum muslim bersikap eksclusif dan hipokrit, di mana cirinya adalah defensif, normatif, dan cenderung romantisis, dan prototope-nya adalah Amir Ali dan Mohammad Abduh, yang dalam pandangan Wahib, merupakan orang-orang yang mewariskan dan menularkan sikap-sikap apologetik, sembari mengatakan bahwa cara pandang mereka yang seperti itu acapkali apriori dan anti-kritik, yang tak jarang emoh kebebasan berpikir, dan karena itu, obat untuk melawannya adalah kebebasan berpikir itu sendiri. Sebabnya adalah karena Wahib merasa khawatir, dan memang seringkali terbukti, semangat ideologis yang berlebihan dan anti-kritik itu merupakan cikal-bakal sejumlah praktek kekerasan atasnama agama. Dan celakanya, yang juga sangat ia sesalkan, hal itu justru terjadi di HMI, almamater yang dicintainya dan menjadi tumpuan harapannya.

“Kalau suatu golongan atau umumnya ummat Islam lemah, dalam suatu peristiwa atau hal tertentu, maka dengan cepat orang-orang terpelajar muslim dan saya pun dulu begitu juga, berkata bahwa yang salah adalah orang Islam-nya, bukan Islam-nya. Orang takut untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya kritik terhadap Islam. Kemungkinan adanya kritik sudah ditutup karena Islam sudah apriori dianggap betul dan kebal terhadap kemungkinan kelemahan. Apakah tidak mungkin Islam itu sendiri mengandung kelemahan? Saya sendiri sampai sekarang masih bertanya-tanya. Saya tidak bisa mengelak dari pikiran. Di mana saya berada, ke mana saya menuju, di situ dan ke sana pikiran itu ada dan bertanya. Bekerjanya pikiran itu telah melekat pada adanya manusia. Tak ada kerja pikir berarti tak ada manusia. Karena itu tak ada jalan lain kecuali menggunakan daya pikir itu semaksimal mungkin. Dan titik akhir dari usaha dan menilai usaha adalah kematian.”[6]

Untuk melawan eksclusivisme yang ia resahkan itu, Wahib menganjurkan keterbukaan, semangat inklusivisme dan toleransi. Begitu pula, Wahib menolak konsep kebajikan dan kejahatan sebagai sifat yang secara eksclusif melekat pada kelompok tertentu, yang pada saat bersamaan, ia pun menentang pembelaan ideologis yang dilakukan sebagian kaum muslim untuk menutup-nutupi kesalahan kelompoknya. Sebab, ketidakjujuran atau pun kemunafikan dan sikap apologetik sebagian kaum muslim itu justru adalah ciri yang paling kuat apa yang disebut kaum munafiqun, yang justru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Ahmad Wahib, seperti halnya Soren Kierkegaard, menjadikan agama sebagai pergulatan, aspirasi dan penghayatan individual, meskipun kedua orang tersebut dipisahkan konteks jaman dan tempat. Sekurang-kurangnya, Wahib dan Kierkegaard juga masih berkutat dalam isu yang sama ketika membincang agama atau pun teologi: persoalan modernitas dan sekularisasi. Hanya saja, mereka memang dikontraskan oleh perbedaan sikap masing-masing, ketika Kierkegaard melakukan negasi, Wahib dengan berani bersikap afirmatif kepada modernitas dan sekularisasi. Demikian pula, entah Wahib atau Kierkegaard, sama-sama menempatakan dirinya antara yang sosial dan yang individual ketika membincang persoalan-persoalan iman dan diskursus keagamaan.

Meskipun demikian, dalam satu sisi, dapatlah dipahami bahwa pandangannya tentang agama dalam keterkaitannya dengan isu-isu sosial memang tak dapat dilepaskan dari keinginannya untuk juga berbicara tentang kemajuan dan peradaban, yang sedikit-banyaknya, terkait dengan masalah keagamaan, terutama Islam. Akan tetapi, porsi terbesar Wahib ketika membincang agama atau pun persoalan iman, masihlah tetap dalam sikapnya yang menjadikan agama sebagai arena pergulatan dan penghayatan individual.

Dan karena itu wajar, ketika ia memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dipahami dan dipikirkan secara individual, dengan serta-merta Wahib menolak pandangan sebagian kaum muslim yang mempercayai bahwa doktrin dan ajaran agama sebagai sesuatu yang tertutup untuk dikoreksi dan diperdebatkan: “Dalam ijtihad tentang masalah-masalah individual, seperti akidah, syariah, dan beberapa masalah akhlak, sebenarnya masing-masing pribadi punya hak untuk ikut serta dan setiap pribadi harus menggunakan haknya. Ijtihad dalam masalah ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada suatu lembaga tarjih walau sangat kompeten sekalipun untuk kemudian menghasilkan keputusan yang berlaku umum. Hati nurani manusia, tegasnya setiap manusia, harus ikut berbicara tentang apa yang baik bagi dirinya dan pada akhirnya hati nuraninya yang berhak menentukan.”[7]

Ahmad Wahib dan Soren Kierkegaard

Rasionalisme ala Wahib itu seakan-akan hendak menyiratkan bahwa agama semestinya tidak menjadi penghalang bagi setiap orang untuk mengaktualisasikan potensi nalar yang dimilikinya. Namun sebaliknya, akan membuat orang menjadi akrab dan terbiasa dengan dunia dan keseharian, tidak menutup diri bagi perubahan dan gelanggang pemikiran. Dengan kepercayaannya itulah, Wahib bahkan melihat sekularisasi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai material yang mestinya membuat ummat Islam melakukan rethinking sejauh menyangkut pemahaman ummat Islam selama ini tentang agama mereka. Demikianlah, meski Ahmad Wahib dan Soren Kierkegaard berbeda dari sisi waktu dan konteks jaman, namun mereka sama-sama figur dan prototipe yang mengakrabi isu-isu keagamaan sebagai penghayatan dan pergulatan yang sifatnya individual dan personal.

Baik Kierkegaard atau pun Wahib, telah mencandra dan mengakrabi isu-isu keagamaan dalam penolakan mereka terhadap otorisasi, ketika mereka menjadikan diskursus keagamaan sebagai penghayatan dan pergulatan yang sifatnya sangat pribadi dalam rangka memenuhi kebebasan subjektif dan individual itu sendiri. [Ciputat, 2003]

Catatan:

[1] Czeslaw Milosz, The Captive Mind. Terj. YOI 1987, hal. 87
[2] Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas. PN Balai Pustaka 1983, hal. 34
[3] Ahmad Wahib, PPI, LP3ES dan Freedom Institute, Jakarta 2003, hal. 19-20
[4] PPI, ibid, hal. 20
[5] PPI, ibid, hal. 24-25
[6] PPI, ibid, hal. 25-26
[7] PPI,ibid, hal. 90

Sulaiman Djaya