Kenapa Saya Menulis


Puisi Amsal Rindu karya Sulaiman Djaya

Saya menulis diari ini setelah mengalami kebuntuan dan tak mendapatkan ide dan suasana untuk menulis selainnya. Mungkin karena menulis sekalipun tak luput dari kebetulan dan ketakterdugaan, atau mungkin lebih karena suasana hati, selebihnya adalah karena kebiasaan dan disiplin. Dan di atas segalanya saya mempercayai cakrawala seorang penulis pada akhirnya adalah keseharian dan kesekitaran dirinya, dunia keterbatasannya, meskipun ada unsur imajinasi dan fantasi dalam sebuah tulisan yang ditulis seorang penulis, misalnya, tetaplah tak terlepas dari keseharian dan kehidupannya sendiri, dari kesekitarannya.

Usaha untuk mengatasi kenyataan itu, yang kadang untuk penghiburan diri dan menunjukkan identitas intelektual seorang penulis, toh pada akhirnya adalah kondisi kenyataan kesehariannya. Khayalannya adalah sebuah konsolasi, yang dalam kasus saya sendiri, untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan keseharian saya.

Gambaran-gambaran dan pelukisan-pelukisan yang sifatnya pengalihan dalam sebuah puisi, misalnya, adalah sejumlah topeng, yang bisa jadi lebih merupakan dunia-dunia kekecewaan dan keputusasaan, harapan dan angan-angan seorang penulis, tentang apa yang diinginkan sekaligus tentang apa yang tak terpenuhi dalam kehidupan seorang penulis itu sendiri. Puisi bagi saya adalah sebuah seni yang paling baik untuk memahami jiwa individual seorang penulis itu sendiri. Karena itulah bagi saya sebuah puisi adalah sebuah ekspresi dan ikhtiar penemuan diri itu sendiri. Dan semakin personal dan subjektif sebuah puisi, maka ia menurut saya semakin berhasil.

Pendapat itu, tentu saja, adalah kepercayaan saya sendiri, pembelaan saya dalam memahami puisi sebagai sebuah karya seni yang paling subjektif dan individual. Dan dalam kadar itu pula, menulis puisi bagi saya adalah sebuah upaya untuk memenuhi kerinduan bathin saya sendiri untuk menuliskan kegelisahan dan kegundahan dalam waktu-waktu luang yang sepi dan sendirian. Ia ditulis karena ia dapat melepaskan dan menggantikan amarah dan kebosanan saya dalam keseharian dan kehidupan saya.

Begitulah adakalanya keadaan bathin seorang penyair mampu menulis puisi dengan begitu spontan, dan kadang membutuhkan waktu yang lama untuk merampungkannya. Adakalanya ia memiliki cakrawala dan suasana yang memungkinkan bathinnya teramat riuh dengan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan, dan adakalanya ia tak memilikinya. Mungkin saja hal itu pun dimungkinkan oleh pengalaman-pengalaman tertentu yang membuat hatinya merasa gundah, kadang sedih, atau gelisah tanpa saya tahu penyebab yang sesungguhnya.

Terlebih di musim hujan ini bagi saya adalah waktu-waktu yang entah kenapa membuat hati saya begitu riuh dan lembab dengan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan. Waktu sore hari dan malam harinya memberikan suhu dan suasana bagi tubuh saya untuk menulis dan membaca dengan khusuk, sembari mendengarkan musik. Tentu dengan menu-menu yang saya sukai: rokok kretek dan kopi hitam, demi menstabilkan stamina saya ketika menulis atau membaca dalam kesendirian. Udara dan kelembabannya telah memberikan kenyamanan tersendiri bagi tubuh saya.

Entah kenapa, dalam beberapa hari ini kegundahan terasa kuat dalam pikiran dan hati saya, hingga di saat saya duduk, menulis dan membaca. Selama hari-hari saya seperti ini saya hanya bisa membaca dan latihan menulis, yang itu pun hanya menjadi sejumlah esei-esei terpenggal dan tidak rampung, hanya bersifat percikan-percikan yang berserakan, mengalami kebuntuan. Ikhtiar saya untuk merefleksikan apa yang saya baca pun hanya berujung pada kegagalan untuk menjadi sebuah tulisan yang berdiri sendiri sebagai sebuah renungan atau sekedar curahan-curahan pikiran dan perasaan yang sifatnya pribadi.

Mungkin saja itu semua terjadi karena saya masih menjadi seorang pembeo mentah-mentah dari sejumlah gagasan dan pengalaman para penulis yang saya baca, tanpa melakukan pengendapan dan memandangnya sebagai teman dialog bagi kegelisahan dan kegundahan saya sendiri selama ini. Memang harus saya akui juga bahwa jikalau pun saya membaca dengan durasi waktu berjam-jam di waktu pagi hari, sore hari, dan malam hari, itu lebih karena mengisi waktu luang. Dan adakalanya dalam beberapa hari tertentu saya hanya ingin belajar menulis saja, menulis puisi tepatnya, yang pada akhirnya itu pun menghasilkan sejumlah puisi yang bercerita tentang diri saya sendiri: kegundahan dan kegelisahan, dan mungkin juga itu semua sebenarnya adalah keputusasaan saya sendiri.

Saya sendiri memandang puisi-puisi yang saya tulis tak lebih sebagai sejumlah sketsa-sketsa, lebih merupakan kepingan-kepingan, coretan-coretan yang sifatnya sepenggal-penggal dan lebih merupakan emosi pribadi semata. Dan secara pribadi pula saya mempercayai itu semua lahir dari kondisi dan keadaan saya sendiri dalam keseharian saya, keseharian saya yang sendiri dan kesepian, keseharian saya yang hanya bertemankan buku-buku yang terhampar di meja. Hal itu lebih karena menulis puisi bagi saya sendiri adalah jalan pelepasan dan penghiburan diri dalam kejenuhan dan kebosanan keseharian saya, seperti yang telah saya katakan sebelumnya. Begitu pun ketika saya membaca kembali puisi-puisi yang telah saya tulis, saya seakan-akan tidak sedang membaca puisi saya. Puisi-puisi itu telah menjadi subjek-subjek yang menjadi teman-teman dialog saya ketika hendak menulis puisi lagi.

Dan di bulan Januari ini, waktu-waktu keseharian saya dihabiskan untuk melihat dan membaca kembali puisi-puisi yang telah saya tulis, selain membaca puisi-puisi yang ditulis para penyair sebelumnya. Terutama sekali saya membaca puisi-puisi para penyair sufi dan para penyair Eropa dan Amerika Latin. Tentu juga sesekali saya masih menyempatkan untuk membaca novel dan traktat-traktat pemikiran kontemporer.

Keseharian saya, buku-buku itu, dan meja belajar ini, mungkin adalah dunia saya, dunia saya yang bagaimana pun penuh dengan keterbatasan dan amarah yang sekuat tenaga kupendam dan kukalahkan, meski seringkali saya pun tak sanggup mengalahkannya. Mereka-lah yang seringkali mengalahkan saya dan membuat saya menyerah kepada mereka. Tapi mereka juga yang telah memberi saya banyak hal dan membuat saya bertahan dan tidak ingin menyerah. Mereka adalah musuh-musuh sekaligus teman-teman saya dalam keseharian dan kesepian saya sebagai seorang lelaki. Seorang lelaki yang di masa kanak-kanak dan remajanya tak pernah menyangka dan bercita-cita untuk mengisi waktu-waktu luangnya untuk menulis dan membaca buku-buku pemikiran, karena dulu saya bercita-cita ingin jadi ilmuwan.

Sulaiman Djaya