Akutagawa –Penulis yang Pemikir


Van Gogh's Bridge(Lukisan: Bridge karya Vincent Van Gogh)

“Ia disebut-sebut sebagai Flaubert-nya bangsa Jepang”

Penulis yang baik bukan sekedar penyampai cerita yang baik –tapi juga seorang pemikir yang brillian. Pemikir yang selalu mencari cara-cara penulisan yang baru, menemukan plot dan menggali tema-tema segar. Hanya saja, tokoh-tokoh semacam ini sangat langka –salah satunya adalah Ryunosuke Akutagawa, penulis Jepang yang dikenal sebagai penulis novel pendek dan cerpen, aktif pada periode sho. Dia dikenal sebagai bapak Cerita Pendek Jepang –dan sebagian besar dari karya sastranya merupakan kisah-kisah yang mengeksplorasi sisi gelap manusia.

Akutagawa dapat dikatakan tipe penulis-perenung yang cukup tajam mengulik sisi-sisi dalam manusia –berbicara tentang moralitas yang ternyata tidak mutlak, melainkan harus senantianasa ditukik lebih dalam dan tidak sekedar ajaran verbal yang artificial –seperti yang ia gambarkan dan ia metaforkan dalam ceritanya yang berjudul Rashomon.

Selanjutnya –meski ia dapat dikatakan sebagai penulis inter-disiplin, sebagian besar karyanya memang berupa cerpen, seperti Imogayu, Yabu no Naka (Dalam Belukar), Jigokuhen, dan Haguruma. Cerpen-cerpen tersebut diangkat dari kisah-kisah yang terdapat dalam naskah kuno seperti Konjaku Monogatarishū dan Uji Shūi Monogatari.

Selain itu, Akutagawa juga menulis cerita untuk anak-anak, misalnya: Kumo no Ito (Jaring Laba-laba) dan Toshishun. Cerpennya yang berjudul Yabu no Naka dan Rashomon bahkan telah filmkan oleh Akira Kurosawa (1950) yang berjudul sama dengan judul cerpen Rashomon karya Akutagawa. Di tangan sutradara legendaris itu, meski film-nya mengambil judul dari judul cerpen Akutagawa yang berjudul Rashomon, sebagian besar kejadian dalam film diambil dari cerpen lain, Yabu no Naka (Dalam Belukar).

Akutagawa Ryūnosuke, lahir di Tokyo, 1 Maret 1892 di distrik Kyobashi, sebagai putra sulung penjual susu bernama Toshizō Niihara. Ketika berusia 7 bulan, ibunya yang bernama Fuku menderita sakit jiwa. Dan karena ayahnya tidak mampu mengurusnya, maka Ryūnosuke dititipkan di rumah orang tua ibunya, dan dibesarkan oleh bibi dari pihak ibu. Pada tahun berikutnya, Ryūnosuke mulai menggunakan nama keluarga Akutagawa setelah dijadikan anak angkat oleh pamannya yang bernama Akutagawa Dōshō (kakak kandung dari ibunya).

Dari generasi ke generasi sejak zaman Edo, keluarga Akutagawa merupakan keluarga terpandang (sukiya bōzu) yang melayani keluarga Tokugawa dalam pelaksanaan upacara minum teh dan berbagai macam pekerjaan lainnya.

Dia sangat tertarik dengan sastra klasik China pada masa-masa awal. Kusazoki yang menjadi bahan bacaan pertamanya banyak dipenuhi gambar-gambar hantu dan monster menyeramkan. Mori Ogai dan Natsume Soseki telah menjadi penulis yang berpengaruh semasa masa pertumbuhan Akutagawa.

Setelah itu, Akutagawa memasuki sekolah pertamanya pada 1910. Masa sekolah dilewatkannya di Tokyo, mulai dari Sekolah Dasar Umum Edo, Sekolah Menengah 3 Tokyo, Sekolah Lanjutan Atas 1, hingga Jurusan Sastra Inggris Universitas Kekaisaran Tokyo. Semasa sekolah Akutagawa membangun pertemanan dengan Kikuchi Kan, Kume Masao, Yamamoto Yûzô, and Tsuchiya Bunmei, semuanya kelak menjadi penulis terkenal.

Pada Bulan Februari 1914, Akutagawa bersama teman kuliah bernama Kan Kikuchi dan Masao Kume mendirikan majalah sastra Shinshichō (Arus Pemikiran Baru). Majalah tersebut awalnya diisi Akutagawa dengan terjemahan karya Anatole France, Balthasar (1889) dan Yeats (The Heart of the Spring). Pada waktu itu, Akutagawa memakai nama pena Yanagigawa Ryūnosuke. Kariernya sebagai penulis dimulai dengan cerpen berjudul Rōnen yang sempat dimuat Shinshichō sebelum kembali berhenti terbit di bulan Oktober tahun yang sama. Cerita pendek yang menjadi salah satu adikaryanya, Rashōmon, dimuat dalam majalah Teikoku Bungaku bulan Oktober 1915. Sejak itu pula, nama Akutagawa Ryūnosuke mulai digunakannya sewaktu menulis.

Temannya yang bernama Miekichi Suzuki memperkenalkannya kepada novelis Natsume Sōseki yang menerimanya sebagai murid karena Natsume Soseki, sangat tertarik dengan hasil karya Akutagawa Ryuunosuke yang dirasa memiliki bakat dan ingin memberi dorongan dan bimbingan kepadanya dalam menulis.

Pada tahun 1916 Akutagawa kembali menghidupkan Shinshichō dengan tim redaksi yang hampir sama dengan penerbitan sebelumnya. Setelah kembali terbit, edisi perdananya memuat cerpen berjudul Hana (Hidung) yang mendapat pujian dari Sōseki, yang menurut Soseki karya Akutagawa yang berjdul Hana tersebut merupakan sebuah novel satire yang mengambil bahan dari cerita klasik. Pada tahun yang sama, Akutagawa lulus dengan nilai terbaik nomor dua di antara 20 mahasiswa. William Morris dijadikan topik skripsi yang ditulisnya.

Mulai bulan Desember 1916, Akutagawa menjadi pengajar bahasa Inggris di Akademi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, statusnya sebagai dosen tidak tetap. Di tengah kesibukan memberi kuliah, Akutagawa terus produktif menulis dan menerbitkan antologi cerpen berjudul Rashōmon pada bulan Mei 1917. Setelah itu, Akutagawa secara berturut-turut menyelesaikan sejumlah cerpen, dan berhasil menerbitkan kumpulan cerpen Tabako to Akuma pada bulan November 1917.

Akutagawa sebenarnya ingin memusatkan diri pada sastra sepenuhnya dan menolak ajakan untuk mengajar di Universitas Tokyo dan Kyoto. Akhirnya dia mengundurkan diri pada bulan Maret 1918 dan menjadi kontributor tetap koran Osaka Mainichi. Surat kabar tempatnya bekerja tidak mengharuskan dirinya menyumbang tulisan, sehingga Akutagawa bisa terus berkonsentrasi menulis. Pada 12 Maret1919, Akutagawa menikahi Tsukamoto Fumi yang dikenalnya dari seorang teman bernama Yamamoto Kiyoshi. Fumi adalah anak dari Mayor AL Tsukamoto Nōgorō, sedangkan ibunya adalah kakak perempuan dari Yamamoto Kiyoshi. Di bulan Februari 1921 Akutagawa ditugaskan kantornya untuk berkunjung ke Tiongkok sebagai koresponden luar negeri, dan kembali bulan Juli tahun yang sama.

Perjalanannya ke Tiongkok tersebut ia tuangkan ke dalam tulisan berjudul Shanghai Yūki (Catatan Perjalanan ke Shanghai). Sekembalinya dari Tiongkok, kesehatan fisik dan mentalnya mulai menurun. Akutagawa mulai menderita gangguan kejiwaan yang waktu itu populer sebagai lemah syaraf (neurastenia) dan diare kronis. Pada tahun 1923, Akutagawa menginap beberapa lama di sebuah pemandian air panas (onsen) di Yugawara, Kanagawa dengan maksud pengobatan.

Selama sakit, jumlah karya yang ditulisnya terus menurun. Namun sejak itu pula mulai bermunculan karya Akutagawa yang cenderung bersifat shishōsetsu (otobiografi). Karya-karya tersebut dikenal sebagai Yasukichi-mono karena tokoh utama dalam cerita bernama Yasukichi. Kecenderungan ini terus berlanjut hingga karya-karya terakhirnya, seperti Haguruma (1927) dan Kappa (1927). Pada tahun 1926 Akutagawa kembali berobat di pemandian air panas di Yugawara dengan keluhan lemah syaraf, tukak lambung, dan insomnia yang semakin parah. Pada tahun berikutnya, kakak iparnya, Yutaka Nishikawa bunuh diri pada bulan Januari 1927 setelah dicurigai melakukan pembakaran. Akibatnya, Akutagawa harus menanggung anggota keluarga dan membayar utang yang ditinggalkan kakak iparnya.

April 1927 terjadi polemik antara Akutagawa dengan Jun’ichirō Tanizaki akibat transkrip yang dimuat majalah Shinchō. Transkrip tersebut adalah hasil panel diskusi sastra yang diadakan Akutagawa bersama rekan-rekannya, dan di antaranya membahas karya Tanizaki. Cerita fiksi Tanizaki dikritik sebagai cerita yang memiliki plot menarik, namun cara penyajiannya tidak bagus. Tanizaki membela diri dengan serangkaian tulisan yang diterbitkan majalah sastra Kaizō. Akutagawa membalas pembelaan tersebut dengan seri kritik sastra Bungei teki na, amari ni Bungei teki na (Sangat Sastra, Terlalu Sastra Sekali) yang dimuat majalah Kaizō. Sebagai pembanding, Akutagawa memuji Naoya Shiga dalam cara penyajian cerita walaupun plotnya “Tidak ada cerita penting yang diceritakan” (“Hanashirashii hanashi no nai”).

Di akhir hidupnya dia tidak bisa mengikuti dan menyesuaikan diri dengan dunia sekelilingnya. Pada masa-masa ini dia sering mengalami halusinasi dan dejavu. Hal-hal itu mengguncang jiwanya karena dia sadar sepenuhnya bahwa dia sedang menjadi gila. Sebelumnya Akutagawa pernah mencoba untuk bunuh diri tetapi gagal. Dan puncaknya, pada dini hari di Tokyo, 24 Juli 1927, pada umur 35 tahun. Akutagawa bunuh diri dengan menelan obat tidur dalam dosis fatal. Pesan terakhir yang ditinggalkan kepada sahabatnya berbunyi, “Hanya kegelisahan yang usulnya tidak jelas” (Tada bonyarishita fuan). Pesan terakhir yang menjadi alasan bunuh diri ini, diambilnya dari kata-kata yang ia tulis dalam cerita halusinasinya “Kappa” yaitu: “Boku no shourai ni taisuru dare bonyaritoshita fuan” (Kehawatiran terhadap masa depan yang tak jelas).

Karya terakhirnya yang tidak bisa dianggap remeh itu berkisah tentang seseorang yang tersesat ke negeri Kappa, sosok dalam mitos dan folklor masyarakat Jepang. Kappa adalah karya satir yang dalam beberapa sisi memperlihatkan sisi kejiwaan Akutagawa yang tidak stabil dan mengalami gangguan. Dia menulis Kappa, Haguruma dan lain-lain dalam keraguan terhadap dirinya dan dalam penderitaan jiwa. Hatinya yang tersiksa oleh tekanan jiwa dilampiaskan ke dalam karya-karyanya. Kappa adalah cerita satir yang merupakan kekecewaan Akutagawa terhadap masyarakat Jepang pada masa itu. Dimana diyakini bahwa tokoh utama pada kappa merupakan dirinya sendiri.

Sebenarnya sejak kecil, Akutagawa memiliki masalah psikologis berupa ketakutan akan menjadi gila seperti ibunya. Akutagawa meninggalkan putra sulung bernama Hiroshi Akutagawa (1920-1981) yang nantinya menjadi aktor. Sementara itu, putra ketiga, Yasushi Akutagawa (1925-1989) menjadi konduktor sekaligus komponis, sedangkan putra kedua, Takashi Akutagawa (1922-1945) gugur dalam perang dunia II. Sampai hari ini, cerpen-cerpen karya Akutagawa dicantumkan ke dalam buku teks sebagai bacaan untuk murid sekolah menengah di Jepang.

Dalam menuliskan cerita-ceritanya, Akutagawa mengutamakan pengambilan bahan dari cerita yang berlatar-belakang sejarah atau cerita klasik, kemudian diolah dengan baik sehingga akhirnya lahirlah sebuah cerita baru dengan penafsiran yang baru pula. Di antaranya adalah Rashomon, Gesaku Zanmai, Karenoshoo dan Yabu no Naka. Dia memiliki keahlian untuk mengubah realitas, sehingga dia dijuluki neo-realisme.

Akutagawa sangat familiar dengan kesusastraan Eropa dan China. Dia pelanggan tetap Maruzen, publikasi berbahasa asing di Tokyo, dan tertarik dengan penulis barat seperti Strindberg, Mérimée, Nietzsche, Dostoievsky, Baudelaire, dan Tolstoy. Meski Akutagawa belum pernah berkunjung ke Barat –namun pengetahuannya akan kesusastraan Barat sangat luas. Akutagawa menulis sekitar 150 cerita, beberapa sudah pernah difilmkan, semisal Rashomon yang telah disebutkan. Kini, namanya diabadikan menjadi sebuah penghargaan bergengsi untuk kesusastraan Jepang: Akutagawa Prize.

Sulaiman Djaya