Di Sebuah Kafe, di Dago –Sebuah Melodrama Mahasiswa


Di IAIN (kini UIN) Bandung Tahun 2000

“Di meja yang agak menyudut ke arah dinding itu ia terus saja berbicara dengan riang, sementara aku sendiri hanya bisa mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut dan kedua bibirnya yang tipis dan indah”

Di Dago, di bulan Juni tahun 2001 itu –di sebuah keriuhan malam kota Bandung, aku pernah begitu akrab dengan cahaya lampu-lampu jalan, lampu-lampu kota, cahaya lampu-lampu yang telah kutinggalkan di antara pepohonan jalan dan trotoar. Sekarang –tentu saja ketika menulis catatan ini, aku hanya bisa menghadirkan kembali keberadaan mereka dalam benakku dengan jalan mengembarakan pikiranku ke tempat-tempat yang pernah kukunjungi, kulewati, dan kudiami bersama.

Bersama detik-detik dan menit-menit yang tak terasa ketika itu, kami tak peduli pada cuaca dingin yang menyusup ke sela-sela benang baju kami –ke pori-pori kulit tubuh kami. Sebab kami hanya tahu bahwa kami sama-sama ingin bertemu untuk sebuah alasan yang anehnya kami rahasiakan dalam diri kami masing-masing. Sebuah pengkhianatan –di saat aku tak memiliki alasan yang meyakinkan untuk marah, hingga aku hanya bisa menerimanya dan memang tak menemukan alasan untuk membantahnya.

Saat itu kami memutuskan untuk berjalan kaki saja –karena menurut kami dengan apa yang kami putuskan itu kami bisa saling mengenal kembali setelah selama satu tahun kami tak bertemu –selepas pertemuan dan perkenalan pertama kami di kampusnya, di sebuah kampus Islam, yang begitu akrab dan tanpa beban, meski pertemuan dan perbincangan itu memang bersifat kebetulan saja di sela-sela acara diskusi yang diselenggarakan oleh kampusnya dan kampusku.

Kami pun akhirnya bisa kembali untuk saling menerka dan memahami diri kami masing-masing selama berjalan kaki bersama itu –sebab hubungan kami sebelumnya hanya melalui pertukaran kata-kata yang kami tuliskan di lembar-lembar kertas. Kadang-kadang kami saling bertukar puisi –meski hanya sekali dua kali. Dan menurut pengakuannya sendiri, ia pun sesekali menuliskan apa yang dirasakan dan dialaminya menjadi sebuah puisi.

Sebenarnya aku tak menyangka bahwa ia sangat menyukai puisi yang kutulis dan kukirim untuknya selama kami hanya bisa berhubungan lewat pertukaran kata-kata di lembar-lembar kertas.

Kami berjalan kaki pelan saja dan memang kembali mendapatkan keakraban seperti saat pertama kali kami berkenalan dan berbincang di salah satu sudut taman kampusnya. Entah atas alasan dan dorongan apa, ia dan aku bersepakat untuk berkunjung ke rumahnya –dan meneruskan perbincangan kami di rumahnya hingga menjelang magrib. Bahkan aku sempat berkenalan dengan ibunya dan adik perempuannya.

Cuaca yang agak mendung dan menyembunyikan matahari di hari itu sangat mendukung apa yang kami lakukan. Apalagi ia mengenakan kemeja dan kerudung biru yang tentu saja menambah keindahan suasana kami selama kami berjalan dan berbincang menuju jalan umum untuk menaiki angkutan umum yang akan membawa kami ke Dago –di mana kami telah bersepakat untuk menghabiskan waktu kami demi memenuhi keinginanku untuk bisa kembali akrab di hari Minggu itu.

Ia memaksaku untuk turun bersamanya dari angkutan sebelum sampai di tempat yang hendak kami tuju. Ketika kutanya kenapa mesti turun di saat tempat yang akan kami tuju masih jauh sekitar ratusan meter lagi, ia hanya menjawab bahwa ia merasa tak nyaman berada di dalam angkutan dan lebih baik berjalan kaki lagi saja agar bisa lebih santai dan bisa berbincang-bincang seperti pada saat kami berangkat dari rumahnya.

Ia menggandeng dan menggenggam tanganku ketika kami akhirnya berjalan kaki lagi sesuai dengan keputusan dan kehendaknya. Dan memang aku sendiri merasa lebih nyaman dengan berjalan kaki lagi daripada merasakan kegerahan akibat cuaca mendung yang malah membuat tubuh kami merasa panas karena keringat orang-orang yang duduk bersama kami di dalam angkutan yang berdesakan-desakan.

Selama kami berjalan kaki untuk yang kedua kalinya itu, lampu-lampu jalan kota mulai menyala. Sepanjang trotoar dan pepohonan itu kurasa adalah pengalamanku yang paling akrab dengan seorang perempuan yang usianya lebih muda satu tahun dari usiaku, hingga kami lebih merasa sebagai sepasang bocah berlainan jenis kelamin yang asik bercanda tanpa canggung dan merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Kejadian-kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun itu tiba-tiba menemukan kembali detil-detilnya di dalam benak dan kepalaku saat aku tak menemukan tema dan isu lain untuk menulis. Kami sempat duduk berdua dan saling bertukar kata yang keluar dari mulut kami di trotoar itu untuk beberapa menit sembari memandangi lalulalang dan laju lalulintas sebelum kami berjalan kaki lagi.

Kami menyandarkan punggung kami masing-masing di sebaris pagar taman –di bawah lampu-lampu yang menyala dengan terang. Kami melakukan itu karena menurutnya bioskop yang hendak kami datangi baru akan dibuka sekitar satu jam lagi, jadi kami tak perlu terburu-buru.

Aku masih ingat, kami tak sempat menonton sebuah film yang kami rencanakan itu. Kami malah lebih asik bercanda di sebuah kafe yang terletak agak ke sudut di pusat hiburan itu setelah kami berkeliling di antara rak-rak sebuah toko buku. Ia membeli sebuah novel Sampek Engtay, sementara aku sendiri membeli Aeneid-nya Publius Virgilius Maro terbitan Everyman Books.

Di meja yang agak menyudut ke arah dinding itu ia terus saja berbicara dengan riang, sementara aku sendiri hanya bisa mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut dan kedua bibirnya yang tipis dan indah.

Sebenarnya aku tak sepenuhnya hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkannya –aku lebih terpesona dengan kelembutan sepasang matanya yang agak sendu. Seakan-akan aku tengah membaca larik-larik sebuah puisi yang memberikan kedamaian dan ketentraman bathin saat aku terus memandangi sepasangan matanya sambil berusaha menyimak apa yang dikatakannya dari satu tema ke tema lainnya saat itu.

Di sela-sela perkataannya –mungkin agar aku tak merasa diacuhkan, ia memintaku untuk membacakan sebuah puisi yang mungkin masih kuhapal, meski permintaannya kutolak dengan halus dengan mengatakan padanya bahwa tak ada satu pun puisi yang kuhapal. Tapi ia malah menggodaku untuk membuat puisi seketika itu juga untuknya. Tentu saja aku hanya bisa mengatakan bahwa puisi yang ia maksud itu telah ada ada di depanku –sebuah puisi yang tak lain sepasang matanya yang indah dan agak sendu, yang memberiku sebuah pandangan yang menenangkan dan memberiku rasa damai.

Ia hanya tersenyum dan sedikit tertawa gembira ketika mendengarkan apa yang kuucapkan itu. Aku yakin ia merasa istimewa dengan apa yang kukatakan itu –sebab ia tampak sedikit tersipu akibat ulahku itu, hingga ia mencubit lenganku dengan lembut. Setelah itu ia kembali menyeruput minumannya melalui sedotan dan kembali bercerita tentang apa saja yang ia lakukan selama kami tak bertemu. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mendengarkannya saja –karena memang aku tak memiliki tema yang bisa kuceritakan padanya, mungkin karena aku lelah, rasa lelah yang terobati karena kebahagiaan.

Rasa-rasanya momen-momen itu merupakan sebuah peristiwa paling riang dalam hidupnya sepanjang yang kuketahui –momen paling ceria dibanding pertemuan-pertemuan kami sebelumnya. Hingga rasa lelahku akibat perjalanan dari Jakarta ke Bandung seakan-akan hilang begitu saja, berubah menjelma rasa senang yang ia hadirkan. Dan sepertinya ia tahu bagaimana agar aku bisa mendapatkan sesuatu yang setimpal untuk mengobati keletihanku demi bertemu kembali dengannya.

Di kafe itu kami menghabiskan waktu hampir dua jam sejak kami berbincang selepas adzan magrib berkumandang. Ia pun mencegahku ketika aku hendak membayar minuman yang kami pesan, karena ia ingin mentraktirku dari uang lomba karya ilmiah yang ia menangkan. Setelah itu kami pun beranjak meninggalkan meja tempat kami bercengkerama dan bercanda selama dua jam itu, meninggalkannya dan berjalan keluar melewat pintu depan kafe. Kami tak segera pulang atau mengantarkan dirinya ke rumahnya –sementara malam itu aku berencana menginap ke kontrakan salah seorang teman kampusnya atas permintaan dirinya.

Setelah kami menghabiskan waktu bersama di kafe itulah ia memintaku untuk duduk barang sejenak di lantai depan kafe demi mendengarkan apa yang ingin ia katakan kepadaku. Tanpa rasa curiga kuiyakan dan kuturuti permintaannya. Tapi saat itu setiap perkataannya tiba-tiba menjadi pelan dan tak lagi riang seperti ketika kami berbincang di meja kafe sembari menikmati jajanan kami.

Saat itulah timbul pertanyaan dan rasa penasaran dalam diriku. Dan kecurigaanku yang muncul seketika itu ternyata benar dan tak ia bantah, meski sebelum-sebelumnya aku tak menyangkanya sedikit pun. Tiba-tiba ia malah meminta maaf bahwa kegembiraan dan keceriaannya selama kami berjalan kaki bersama dan mengobrol bersama di meja kafe itu memang disengajakan untuk menghargai apa yang telah kulakukan demi bertemu dengannya –demi membuatku merasa senang dan gembira meski untuk beberapa jam sebelum akhirnya ia akan mengatakan apa yang ingin ia katakan dengan terus-terang.

Aku memang hanya bisa mendengarkan setiap kata yang diucapkannya dan hanya bisa diam setelah ia sampai pada kata-kata klimaksnya bahwa undangan pernikahan dirinya dengan lelaki pilihan keluarganya telah ia kirimkan di hari ketika aku dalam perjalanan ke Bandung. Dan menurut pengakuannya, di dalam undangan pernikahan itu terdapat dua lembar surat yang ia tulis sendiri dengan jari-jemari tangannya –dan memang benar demikian ketika surat itu kubuka sesampainya aku di Jakarta.

Meski setelah perbincangan terakhir kami itu kami masih bisa berjalan kaki bersama kembali dan duduk bersama kembali di dalam angkutan umum –aku dan dirinya hanya bisa diam, sementara ia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. Kedua mataku hanya bisa memandangi pepohonan jalan dan lampu-lampu malam kota sebelum akhirnya aku berpisah dengannya di mana kami turun dan keluar dari angkutan umum yang kami tumpangi.

Sulaiman Djaya

Ciujung


SUNGAI CIUJUNG BANTEN MENGHITAM

Di masa-masa silam, Sungai Ciujung tentulah sebuah anugerah dan keajaiban bagi Banten. Selain merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Banten, Ciujung tak ubahnya nyawa bagi masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, yang memang melintas sedari Gunung Kendeng di Lebak hingga ujung utara Serang. Airnya yang mengalir jernih ketika itu memberikan kesuburan dan produktivitas bagi pertanian –sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi hidup keseharian para penduduk dan masyarakat yang dilalui aliran airnya.

Tentu saja, ia juga memberikan keindahan bagi yang ingin mendekati dan memandanginya. Saat itu, ada banyak unggas atau pun burung-burung yang bercengkerama dan singgah di aliran airnya atau berkerumun di pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepinya.

Masyarakat tradisional Baduy –alias Urang Kanekes, yang hidup di kawasan Leuwidamar dan Gunung Kendeng, Lebak, bahkan menganggapnya sebagai salah satu sungai sakral di Banten, dan menyebutnya sebagai “Sasaka Buana”. Masyarakat Baduy, yang memang memegang kearifan tradisional mereka, juga percaya bahwa pengrusakan lingkungan akan menyebabkan petaka atau dampak buruk bagi manusia. Dan apa yang mereka percaya itu, kini menjadi kenyataan, ketika air Sungai Ciujung telah menghitam kental dan menyebarkan aroma tak sedap, alias tidak sejernih dan sewangi dulu lagi.

Namun bukan hanya kehadiran industri, yang salah-satunya adalah kehadiran pabrik kertas di Kecamatan Kragilan, Serang, yang menyebabkan airnya menghitam dan acapkali menyebarkan aroma tak sedap, ketika angin yang datang dari arahnya berhembus ke arah hidung kita, karena limbah yang dibuang ke Sungai Ciujung oleh pabrik tersebut. Pencemaran Sungai Ciujung juga disebabkan oleh sampah-sampah rumah tangga yang dibuang oleh para penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciujung, yang tak kalah mengkhawatirkannya dengan yang disebabkan oleh limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur tersebut.

Keadaan itu tentu saja sangat berdampak buruk bagi lingkungan (tanah, lahan, dan pohon), serta masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, terutama bagi penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang Serang Timur hingga Serang Utara, alias mereka yang tinggal di hilirnya. Pendeknya, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah dan keajaiban bagi Banten, kini telah menjelma kutuk dan sumber penyakit bagi masyarakat dan penduduk yang disinggahi aliran airnya, serta mengirimkan racun bagi lahan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya, atau yang dilintasi oleh aliran airnya yang tak lagi jernih, alami, dan sehat seperti dulu itu.

Keadaan tersebut, tentu saja sangat berbeda dengan kondisi Sungai Ciujung sekira 15 atau 20-an tahun silam. Sekarang, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah alamiah dan keajaiban bagi para petani dan nelayan, itu telah menjelma racun yang akan menmbulkan penyakit bagi penduduk dan membunuh produktivitas lahan-lahan pertanian. Masyarakat tak lagi dapat menggunakan airnya untuk kebutuhan mengairi sawah dan tanaman-tanaman ladang mereka. Apalagi untuk keperluan mandi dan kebutuhan air rumah tangga lainnya, terutama sekali bagi mereka yang tinggal di hilir sungai terpanjang dan terbesar di Banten ini.

Selain telah tercemar karena limbah rumah tangga para penduduk yang tinggal di hulu sungai dan limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur, debit air Sungai Ciujung juga mengalami penurunan yang signifikan dan mendekati taraf mengkhawatirkan. Salah-satu penyebabnya adalah mulai berubahnya sejumlah hutan di hulu sungai menjadi lahan pertanian dan perkebunan, dan juga beberapa kegiatan pertambangan pasir dan batu-bara. Fakta tersebut, tak pelak lagi, mesti menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah, baik pemerintah provinsi atau pun pemerintah kabupaten/kota, jika kita tidak ingin tanah Banten menjelma neraka di bumi dan sumber petaka bagi kita.

Sulaiman Djaya