Kiasan Menulis


Perempuan Muslim Syi'ah Sedang Memperingati Tragedi Imam Husain as

Jika bunga-bunga tebing mekar kembali dan menguning di awal musim –dan secercah cahaya mengerdip di tanah ini, aku senantiasa percaya makna-makna yang akan kau tulis pada selembar kertas, takkan cukup bercerita tentang langkah-langkah dan jejak. Atau tentang kisah-kisah masa kanak yang kau rajut kembali tanpa henti pada sebuah diari.

Dan jika pun kau mau, tulislah satu dua sajak seolah mereka adalah jiwamu yang selalu setia di saat-saat riangmu. Demikian bila kau sendiri pergi dan tak menemu apa yang hilang di antara dongeng-dongeng jelang tidur. Meski acapkali kau pun gundah dan tak sanggup menolaknya sebagai kata.

Seperti juga semua kerapuhan hidup yang membuatmu takut. Meski jarum-jarum matahari senantiasa meresap pada tanah –juga pada daun-daun. Seperti juga mengeringkan apa yang mereka sentuh, membakar rambutmu-rambutku –menjelma tangan-tangan usia yang tak pernah kita tahu kapan ia pergi dan kapan ia datang kembali. Seringkali aku pun tak paham kenapa anugerah hidup mesti meminta kehilangan.

Seringkali saat pagi hari, kupandangi kelengangan -di antara para unggas yang sibuk menancapkan paruh mereka pada air dan lumpur. Bermain-main cahaya yang memantul di mata mereka. Dan jika pun ingin bertanya tentang hidup, kuyakin aku tak punya jawabnya. Sebab seringkali apa pun yang kupikirkan, seringkali aku pun lupa menyaksikan sesuatu yang berharga pada yang biasa saja –pada apa yang tak kusadari sebagai yang paling nyata.

Dan kau sadar betapa banyak yang datang tanpa kehendakku –sebanyak yang hilang tanpa sepengetahuanmu dan raguku. Seperti saat kau tidur dan memejamkan matamu pada lembut telapak tanganmu. Seperti saat kunyanyikan lagu-laguku sembari kupandangi lampu yang mengilau urai rambutmu. Dan seakan aku tak percaya betapa keindahan selalu luput –saat aku hanya memikirkannya. Dan ketika segala yang padam tiba-tiba menyala, saat itulah kutahu kau ada.

Sulaiman Djaya