Bahaya Kaum Takfiri


Muhammad Manusia Paripurna

“Masalah seluruh orang Wahabi, yaitu bahwa setiap orang dari mereka dalam waktu yang singkat dan dengan ilmu yang sedikit telah menjadi seorang mujtahid yang berhak memberikan fatwa dalam masalah apapun”

Oleh Dr. Muhammad Tijani as Samawi

Minat keagamaan telah muncul sejak aku kecil, ada fitrah yang menarikku untuk berpegang teguh kepada agama. Dalam bayanganku ke masa depan, pikiranku tidak pernah keluar dari kerangka agama. Aku melihat diriku sebagai pahlawan dan mujahid Islam yang mampu mengembalikan kehormatan agama dan kemuliaan Islam. Pada saat itu aku belum lulus dari sekolah tingkat pertama. Maklum, pemikiranku waktu itu masih dangkal. Begitu pula pengetahuanku tentang sejarah kaum Muslimin dan peradabannya masih sangat terbatas. Aku belum mengetahui kecuali beberapa kisah tentang Rasulullah saw dan peperangan yang dilakukannya terhadap orang-orang kafir, dan kisah tentang kepahlawanan dan keberanian Imam Ali as. Aku mempelajari pemerintahan Mahdiyyah di Sudan, aku merasa kagum dengan kepribadian Usman Daqnah. Dia adalah salah seorang komandan pasukan Mahdi yang pemberani di daerah timur Sudan. Jihad yang telah membangkitkan minat saya manakala guru sejarah kami menggambarkan keberanian dan keagungan kepribadiannya kepada kami. Dia seorang mujahid di antara bukit dan lembah. Begitulah hatiku tertarik kepadanya. Saya bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. Mulailah saya berpikir dengan pikiran saya yang masih dangkal, bahwa untuk bisa mencapai tujuan ini maka jalan satu-satunya yang terbayang di dalam benak saya ketika itu ialah saya harus menjadi lulusan akademi militer, sehingga saya terlatih dalam strategi perang dan penggunaan senjata.

Bertahun-tahun saya hidup di atas angan-angan ini, hingga akhirnya saya pindah ke sekolah tingkatan menengah. Pada tingkatan ini, pemahaman dan pengetahuan saya mulai berkembang. Mulailah saya mengenal para pemimpin kemerdekaan dunia Islam, seperti Abdurrahman al-Kawakibi, as-Sanusi, Umar Mukhtar, dan Jamaluddin al-Afghani, seorang pejuang dan pemikir cemerlang yang bertolak dari Afhghanistan, dan kemudian berpindah-pindah dari satu ibu kota negara Islam yang satu kepada ibu kota negara Islam yang lain, dan begitu juga ke negara-negara bukan Islam, untuk menyebarkan pemikiran yang hidup, yang berbicara tentang sisi-sisi keterbelakangan dunia Islam dan bagaimana cara menyembuhkannya. Yang amat menarik perhatian saya ialah metode jihad yang dilakukannya. Dia melakukannya melalui hikmah, penyebaran pengetahuan dan pengembangan pemikiran di kalangan umat Islam, tidak melalui jalan memanggul senjata.

Saya pernah berkeyakinan bahwa setiap orang yang hendak berjuang dan membela kaum Muslimin, mau tidak mau dia harus menghunus pedang dan masuk ke dalam medan peperangan. Sementara cara yang ditempuh oleh Jamaluddin al-Afghani sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini saya bayangkan. Metode kata dan pendidikan yang sadar adalah sesuatu yang baru dalam pemikiran agama saya. Saya tidak mampu dengan mudah melepaskan diri dari pemikiran dan cita-cita yang telah saya bangun selama ini di dalam benak saya, meskipun saya sadar bahwa krisis yang dialami umat ini ialah krisis pendi¬dikan dan pemikiran. Karena pendidikanlah yang mampu menjadikan setiap individu mau mengemban tanggung jawabnya. Inilah Jamaluddin, dia mengelilingi dunia untuk menebarkan cahaya dan keberkahan, dan menyebarluaskan pemikiran-pemikirannya, yang mendapat sambutan yang hangat dari kaum Muslimin. Karena, pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya mampu menyelesaikan berbagai permasalahan mereka dan sekaligus sejalan dengan kenyataan mereka. Yang demikian ini amat mencemaskan kekuatan penjajah. Karena majalah al- ‘Urwah al-Wutsqa saja sudah merupakan tantangan yang berat bagi mereka, yang memaksa mereka untuk melarang penerbitannya.

Pertanyaan yang selalu menghantui benak saya ialah: “Bagaimana seorang individu mampu mengubah perimbangan ini, dan bagaimana seorang individu mampu membuat takut seluruh kekuatan besar?!” Untuk menjawab pertanyaan ini, di hadapan saya terbuka beberapa pintu pertanyaan. Sebagiannya sederhana dan sebagiannya lagi tidak ada jawabannya di Sudan. Ini menjadikan saya berusaha untuk dapat lepas dari kenyataan ini, dan sekaligus melepaskan berbagai belenggu yang selama ini mendorong saya untuk tunduk kepada kenyataan agama yang ada, supaya saya berjalan di dalam hidup ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh kakek-kakek saya. Akan tetapi, rasa tanggung jawab yang ada di dalam diri saya, dan begitu juga kecintaan saya ke¬pada Jamaluddin al-Afghani membunyikan lonceng bahaya di dalam fitrah saya, sehingga menjadikan saya bertanya-tanya,

Bagaimana saya bisa menjadi seperti Jamaluddin al-Afghani? Apakah agama yang saya warisi ini mampu membawa saya kepada tingkatan itu? Kemudian saya berkata, “Kenapa tidak?!” Apakah Jamaluddin mempunyai agama yang berbeda dengan agama kita?! Dan Islam yang berbeda dengan Islam kita?!” Untuk menjawab pertanyaan ini, saya terombang-ambing selama bertahun-tahun, dan setiap kali saya sampai kepada sebuah jawaban, maka itu berarti perubahan pada pemahaman saya tentang agama secara umum. Maka saya pun melihat Jamaluddin sebagai idola dan panutan, setelah sebelumnya Usman Daqnah, sehingga dengan begitu tentunya berubah pula cara yang harus ditempuh. Setelah sebelumnya akademi militer sebagai jalan keluar satu-satunya dalam pandangan saya, maka sekarang cara damailah yang memperkenalkan saya kepada pemikiran Islam yang orisinil, yang dari sela-selanya akan muncul kebangkitan Islam.

Bagaimana Permulaannya

Pembahasan tentang cara-cara dan pemikiran yang benar dan bertanggung jawab adalah sesuatu bahasan yang sulit. Tahapan ini adalah tahapan yang sulit, meski pun pembahasan yang saya bahas bersifat spontan. Sepanjang kehidupan saya, saya sering bertanya, berdiskusi dan lain sebagainya, dan tidak ada waktu yang kosong dari pembahasan. Setelah serangan keras yang dilancarkan oleh kaum Wahabi ter¬hadap Sudan, dan pengintensifan diskusi dan dialog, serta semakin berkembangnya pergerakan agama, mulailah tersingkap banyak kebenaran, dan semakin jelas berbagai perselisihan dan pertentangan sejarah, keyakinan, dan fikih. Kemudian mulailah upaya-upaya pengkafiran terhadap beberapa kelompok dan keluar mereka dari tali ikatan Islam, yang mendorong kepada terbentuknya mazhab-mazhab yang berbeda. Meskipun pahit apa yang telah terjadi, namun minat saya untuk melakukan pembahasan malah semakin bertambah, dan saya merasakan realitas pertanyaan-pertanyaan spontan yang selama ini menggangu benak saya. Besarnya perhatian saya kepada ajaran Wahabi dikarenakan diskusi-diskusi dan seminar-seminar yang mereka laksanakan telah menarik perhatian saya. Hal terpenting yang saya pelajari dari mereka ialah keberanian menentang ajaran yang ada. Saya pernah meyakini bahwa ajaran adalah sesuatu yang sakral, yang tidak dapat diserang dan dikritik, meskipun saya banyak memberikan catatan terhadap kenyataan yang ada, yang didasari oleh pertimbangan nurani dan fitrah saya.

Saya terus berjalan bersama mereka, dan banyak sekali diskusi yang terjadi diantara saya dan mereka, yang pada kenyataannya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membingungkan benak saya. Saya memperoleh jawaban yang memuaskan bagi sebagian pertanyaan saya, sementara jawaban sebagian yang lain tidak dapat saya temukan pada mereka. Hal ini menjadi jaminan bagi saya untuk bersimpati dan membantu mereka, namun dengan tetap disertai beberapa catatan yang merintangi saya untuk berpegang secara penuh kepada ajaran Wahabi. Yang pertama dan yang terpenting dari itu ialah saya tidak menemukan di sisi mereka apa yang dapat memenuhi cita-cita risalah saya. Kadang-kadang, rasa was-was menghinggapi diri saya dengan mengatakan, sesungguhnya apa yang engkau pikirkan dan yang engkau cari adalah sesuatu yang utopis yang tidak ada kenyata¬annya, dan ajaran Wahabi adalah ajaran yang paling dekat dengan Islam yang tidak ada tandingannya.

Saya berjalan mengikuti rasa was-was ini dan sekaligus membenarkannya, disebabkan ketidaktahuan saya terhadap pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang lain. Namun, dengan cepat saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Jamaluddin tidak mungkin merupakan pemikiran Wahabi. Saya pernah berteriak lantang, “Sesungguhnya ajaran Wahabi adalah jalan yang paling dekat kepada Islam — disebabkan mereka mengemukakan dalil-dalil dan nas-nas yang membenarkan mazhab mereka, yang tidak saya temukan pada kelompok-kelompok lain di Sudan namun kesulitan mereka ialah bahwa mazhab yang mereka bangun tidak ubahnya seperti rumus-rumus matematika. Yaitu berupa kaidah-kaidah yang kaku, yang tanpa memiliki refleksi peradaban yang jelas dalam kehidupan manusia, juga dalam meng-hadapi berbagai macam tataran kehidupan. Baik dalam tataran individu, tataran sosial, tataran ekonomi atau tataran politik, dan bahkan di dalam tata cara berhubungan dengan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, ajaran ini menjadikan manusia menjadi liar dan terasing dari masyarakat, dan sekaligus memberikan surat jaminan untuk mengkafirkan kelompok masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka. Setiap orang dari mereka tidak bisa hidup bersama dengan masyarakat. Dia selalu membedakan diri dari masyarakat dengan pakaian dan tingkah lakunya. Seluruh sisi kehidupannya tidak sejalan kecuali dengan teman-temannya. Saya merasakan kesombongan dan keangkuhan dari mereka. Mereka memandang manusia mempunyai kedudukan yang tinggi, namun dalam kehidupannya mereka tidak mau bekerjasama dan membaur dengan masyarakat.

Bagaimana mungkin mereka dapat bekerjasama dengan masya¬rakat?! Sementara seluruh yang dilakukan masyarakat adalah bid’ah dan sesat dalam pandangan mereka. Saya masih ingat benar manakala bantuan Wahabi masuk ke desa kami, dalam jangka waktu yang tidak berapa lama, dengan tanpa didasari pengkajian dan kesadaran, sekelompok besar dari para pemuda ikut bergabung ke dalam barisan Wahabi, namun tidak berapa lama kemudian mereka semua keluar dari barisan tersebut. Menurut perkiraan saya ini disebabkan karena mazhab baru ini melarang mereka berbaur dengan masyarakat, dan mengharamkan banyak sekali kebiasaan yang sudah mendarah daging pada diri mereka, yang sebenarnya kebiasaan itu tidak bertentangan dengan agama.

Ada baiknya saya sebutkan, bahwa salah satu di antara yang menyebabkan para pemuda yang bergabung dengan mazhab Wahabi menderita ialah bahwa ada kebiasaan di desa kami, di mana para pemudanya biasa duduk-duduk di atas hamparan pasir yang bersih di saat malam-malam bulan purnama, di mana mereka menghabiskan malamnya dengan mengobrol. Saat itulah merupakan satu-satunya kesempatan bertemu bagi para pemuda desa setelah bekerja sepanjang hari di ladang dan tempat-tempat kerja lainnya. Kini pemimpin mereka melarang perbuatan itu dan mengharamkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah saw telah mengharamkan perbuatan duduk-duduk di atas jalan. Padahal tempat-tempat tersebut tidak terhitung jalan. Kedua, dan ini merupakan masalah seluruh orang Wahabi, yaitu bahwa setiap orang dari mereka dalam waktu yang singkat dan dengan ilmu yang sedikit telah menjadi seorang mujtahid yang berhak memberikan fatwa dalam masalah apapun. Saya masih ingat, pada satu hari saya duduk berdiskusi dengan salah seorang dari mereka mengenai banyak hal. Di tengah-tengah diskusi dia bangkit berdiri setelah mendengar azan Magrib di mesjid mereka. Saya katakan kepadanya, “Sabar, kita selesaikan dulu diskusi kita.” Dia menjawab, “Tidak ada lagi diskusi. Telah datang waktu salat, mari kita salat di mesjid.” Saya berkata kepadanya, “Saya salat di rumah”, meskipun biasanya saya selalu salat bersama mereka. Dia berteriak lantang, “Batal salat Anda.” Saya merasa heran dengan kata-kata ini dan sebelum saya sempat meminta penjelasan darinya dia telah berbalik dan pergi. Saya berkata kepadanya, “Sebentar, apa yang menyebabkan salat saya di rumah batal?”

Dia menjawab dengan penuh kesombongan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Tidak ada salat bagi tetangga mesjid kecuali di mesjid.’” Saya berkata kepadanya, “Tidak ada perselisihan di dalam keutamaan salat berjamaah di mesjid, namun ini bukan berarti hilangnya kesahan salat di selain tempat ini. Hadis di atas sedang menekankan keutamaan di mesjid, bukan sedang menjelaskan hukum salat di rumah. Adapun dalilnya ialah kita belum pernah melihat di dalam fikih disebutkan bahwa salah satu yang membatalkan salat ialah salat di rumah, dan tidak ada seorang pun dari fukaha yang memberikan fatwa demikian. Adapun yang kedua, dengan hak apa Anda mengeluarkan hukum ini?! Apakah Anda seorang fakih?! Karena sulit sekali bagi seorang manusia untuk bisa memberikan fatwa dan menjelaskan hukum tentang permasalahan tertentu. Seorang fakih harus mempelajari seluruh nash yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dia harus mengetahui petunjuk perintah (dilalah al-amr) dan petunjuk larangan (dilalah an-nahyi) di dalam nash. Apakah perintah menunjukkan kepada hukum wajib atau hukum mustahab, apakah larangan menunjukkan kepada hukum haram atau hukum makruh. Sungguh, agama ini amat dalam, maka selamilah dengan kehati-hatian.”

Tampak kegusaran pada wajahnya. Dia cemberut dan berkata, “Anda telah mentakwil hadis, dan takwil itu haram.” Lalu dia pun pergi. Saya serahkan urusaan saya kepada Allah SWT dari manusia dungu seperti ini, yang tidak memahami apa pun. Pikiran inilah yang menjadi penyebab kedua yang menghalangi saya menjadi seorang Wahabi, meski pun mulanya saya banyak terpengaruh dengan pikiran-pikiran mereka dan membelanya. Dalam keadaan ini untuk beberapa waktu, saya bingung dan tidak mempunyai arah. Terkadang saya mendekati mereka dan terkadang pula saya menjauhi mereka. Saya melihat bahwa jalan satu-satunya yang ada di hadapan saya —sebagai ganti dari sekolah di akademi militer— ialah saya harus belajar di fakultas atau universitas Islam, sehingga saya dapat melanjutkan pengkajiaan saya dengan lebih teliti. Setelah menyelesaikan ujian masuk universitas, di mana di sana terdapat enam universitas atau institut yang diminati oleh para mahasiswa, saya memilih fakultas Islam. Kini, saya telah selesai diterima di salah satu fakultas Keislaman (yaitu fakultas studi Islam dan bahasa Arab di universitas Wadi an-Nil di Sudan). Saya sangat senang dengan penerimaan ini. Setelah menunaikan latihan kemiliteran (bela negara) —yang tidak mungkin seseorang dapat memasuki perguruan tinggi kecuali setelah menunaikan latihan militer ini— mulailah para utusan dari seluruh penjuru Sudan datang ke Universitas, dan saya termasuk yang pertama dari mereka. Pada saat interview, direktur fakultas bertanya kepada saya, tokoh mana yang Anda kagumi? Saya katakan kepadanya, “Jamaluddin”, dan saya jelaskan kepadanya alasan saya mengaguminya. Direktur fakultas merasa puas dengan jawaban saya. Setelah banyak mendapat pertanyaan, akhirnya secara resmi saya pun diterima di fakultas. Di fakultas, saya sering mengunjungi perpustakaan, terdapat banyak buku-buku dan ensiklopedia yang tebal-tebal. Akan tetapi, kesulitan yang saya hadapi ialah dari mana saya harus mulai? Dan apa yang harus saya baca?

Saya tetap dalam keadaan ini, berpindah dari suatu buku ke buku yang lain, tanpa mempunyai program yang jelas. Salah seorang dari kerabat saya telah membukakan pintu yang luas dan penting di dalam pembahasan dan penyelidikan, yaitu mempelajari sejarah dan mengkaji mazhab-mazhab Islam, untuk bisa mengetahui kebenaran di antara mereka. Sungguh ini merupakan pertolongan Allah SWT yang tidak saya duga, saya bisa bertemu dengan kerabat saya Abdul Mun’im —dia lulusan fakultas hukum— di rumah paman saya di kota Athbarah. Saat itu dia sedang berbincang-bincang di halaman rumah dengan seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang merupakan tamu di rumah paman saya. Saya menajamkan pendengaran saya untuk bisa melndengar apa yang sedang mereka perbincangkan. Dengan segera saya menuju kepada mereka manakala saya tahu topik yang menjadi perbincangan mereka adalah masalah-masalah agama. Saya duduk di dekat mereka, dan memperhatikan perkembangan perbincangan. Tampak sekali Abdul Mun’im begitu tenang di dalam perbincangan tersebut, meski pun begitu gencar provokasi dan serangan dari pihak lawan. Saya tidak mengetahui secara menyeluruh watak diskusi yang sedang berlangsung, hingga akhirnya anggota Ikwanul Muslimin itu berkata, “Sy’iah itu kafir dan zindiq!!”

Di sini saya mulai mengerti, dan timbul pertanyaan di benak saya. Siapakah Syi’ah itu? Kenapa mereka kafir? Apakah Abdul Mun’im orang Syi’ah? Apa yang dikatakannya sesuatu yang asing. Apakah itu perkataan Syi’ah?! Harus diakui bahwa Abdul Mun’im telah dapat mengalahkan lawannya pada setiap masalah yang dikemukaan di dalam diskusi, di samping tampak sekali kemampuan logika dan kekuatan argumentasinya. Setelah selesai diskusi dan mengerjakan salat magrib, saya mendekati Abdul Mun’im. Saya bertanya kepadanya dengan penuh hormat, “Apakah Anda seorang Syi’ah? Siapakah orang Syi’ah itu? Dan, dari mana Anda mengenal mereka?” Abdul Mun’im berkata, “Pelan-pelan, satu pertanyaan demi satu pertanyaan”. Saya berkata kepadanya, “Maaf, saya masih bingung dengan apa yang saya dengar dari Anda.” Abdul Mun’im menjawab, “Ini sebuah pembahasan yang panjang, yang merupakan hasil kerja keras selama empat tahun, dan itu pun masih belum sampai kepada kesimpulan yang diinginkan.” Saya potong pembicaraannya, “Kesimpulan apakah itu?”. Abdul Mun’im menjawab, “Kita hidup di atas timbunan kebodohan dan pembodohan sepanjang hidup kita. Kita berjalan di belakang masyarakat kita dengan tanpa bertanya, apakah agama yang ada di sisi kita ini adalah yang dikehendaki oleh Allah SWT, yaitu Islam? Setelah melakukan pengkajian, menjadi jelas bagi saya bahwa kebenaran sejauh dalam pandangan saya, yaitu Syi’ah.”

Saya berkata kepadanya, “Mungkin Anda tergesa-gesa, atau Anda salah… !” Mendengar itu dia tersenyum sambil berkata, “Kenapa Anda sendiri tidak mengkajinya dengan teliti dan penuh kesabaran? Apalagi Anda mempunyai perpustakaan di universitas, yang akan memberikan manfaat yang banyak sekali kepada Anda.” Saya berkata dengan penuh keheranan, “Perpustakaan kami perpustakaan Ahlus Sunnah, bagaimana mungkin saya dapat mengkaji Syi’ah?” Abdul Mun’im menjawab, “Salah satu bukti dari kebenaran Syi’ah ialah mereka berargumentasi atas kebenaran mereka dengan menggunakan kitab-kitab dan riwayat-riwayat ulama Ahlus Sunnah. Karena di dalamnya banyak sekali hal-hal yang menjelaskan kebenaran mereka dengan jelas sekali.” Saya menimpali, “Kalau begitu, sumber-sumber rujukan Syi’ah adalah sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah itu sendiri?”

Abdul Mu’im menjawab, “Tidak, Syi’ah mempunyai sumber-sumber rujukan tersendiri, yang jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dan semuanya diriwayatkan dari Ahlul Bait as dan dari Rasulullah saw. Namun demikian, mereka berargumentasi kepada Ahlus Sunnah dengan menggunakan riwayat-riwayat yang ada di dalam sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dikarenakan Ahlus Sunnah tidak percaya kepada apa yang ada pada sisi mereka, maka mau tidak mau mereka harus berhujjah dengan apa-apa yang diyakini oleh kalangan Ahlus Sunnah.” Pembicaraannya menyenangkan saya dan membuat saya tambah berminat untuk melakukan pembahasan. Saya tanya kepadanya, “Kalau begitu, bagaimana saya harus memulai?” Abdul Mu’in menjawab, “Apakah di perpustakaan Anda terdapat kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Turmudzi dan Nasa’i?” Saya menjawab, “Tentu saja, di perpustakaan kami terdapat sekumpulan besar kitab-kitab hadis rujukan.” Abdul Mu’im berkata, “Mulailah dari sini. Kemudian, bacalah kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab sejarah, karena di dalam kitab-kitab ini terdapat hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya mengikuti ajaran Ahlul Bait as.”

Mulailah dia menyebut beberapa contoh darinya, dengan tidak lupa menyebutkan sumbernya, sekaligus dengan nomer jilid dan nomer halamannya. Saya terheran-heran. Dengan penuh perhatian saya mendengarkan hadis-hadis yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya ragu apakah hadis-hadis ini benar-benar ada di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Namun dengan segera Abdul Mun’im memotong keraguan saya itu dengan mengatakan, “Catat hadis-hadis ini oleh Anda, dan kemudian carilah di perpustakaan. Nanti kita ketemu lagi pada hari Kamis yang akan datang —Insya Allah.”

Pada Hari Jumat

Setelah saya merujuk hadis-hadis tersebut ke dalam Sahih Bukhari, Muslim dan Turmudzi di perpustakaan universitas kami, saya menjadi yakin akan kebenaran apa yang dikatakannya. Saya kaget dengan serangkaian hadis-hadis lain yang lebih menunjukkan kepada wajibnya mengikuti Ahlul Bait, yang membuat saya menjadi shock (kaget dan terkejut). Kenapa kita belum pernah mendengar hadis-hadis ini sebelumnya?! Maka saya pun menunjukkan serangkaian hadis ini kepada sebagian teman-teman saya, supaya mereka pun ikut serta berpartisipasi di dalam kesulitan ini. Sebagian dari mereka memberikan perhatian, sementara sebagiannya lagi tidak begitu peduli. Namun saya telah bertekad untuk melanjutkan pengkajian, meski pun untuk itu saya harus menghabiskan seluruh umur saya. Ketika tiba hari Kamis, saya pergi ke Abdul Mun’im. Dia menyambut kedatangan saya dengan penuh senang hati. Dia berkata, “Anda tidak boleh tergesa-gesa, Anda harus melanjutkan pengkajian Anda dengan penuh kesadaran.”

Kemudian kami mulai membahas permasalahan-permasalahan lain yang beraneka macam, dan itu terus berlangsung hingga Jum’at sore. Saya banyak mendapatkan manfaat dari pembahasan-pembahasan itu, dan banyak mengetahui sesuatu yang sebelumnya saya tidak ketahui. Sebelum saya kembali ke kampus dia meminta saya untuk membahas beberapa masalah. Demikianlah hal itu berlangsung hingga beberapa waktu. Diskusi yang berlangsung di antara saya dengan dia selalu berubah dari waktu ke waktu. Terkadang saya berbicara keras kepadanya, dan terkadang saya membantah beberapa permasalahan yang sudah amat jelas. Sebagai contoh, ketika saya merujuk beberapa hadis di dalam kitab-kitab rujukan, dan saya meyakini keberadaannya, saya katakan kepadanya, “Hadis-hadis ini tidak ada.” Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong saya melakukan itu, selain dari perasaan merasa terdesak dan menginginkan kemenangan. Dengan cara ini, dan dengan semakin bertambahnya pembahasan, tersingkaplah kebenaran di hadapan saya yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Sepanjang periode ini saya banyak melakukan diskusi dengan teman-teman. Ketika mereka tidak mampu lagi menghadapi saya, mereka meminta saya untuk berdiskusi dengan doktor yang mengajarkan mata kuliah ilmu fikih kepada kami. Saya katakan, “Tidak ada halangan bagi saya, namun terdapat penghalang di antara saya dengan dia yang menghalangi saya dapat berbicara bebas dengannya.” Mereka tidak merasa puas dengan jawaban saya. Mereka mengatakan, “Di antara kami dan Anda ada dosen, jika argumentasi Anda dapat memuaskannnya maka kami akan bersama Anda..!” Saya katakan, “Yang menjadi masalah bukanlah memuaskan atau tidak memuaskan, yang menjadi masalah ialah dalil dan argumentasi, dan pencarian akan kebenaran….”

Pada permulaan mata kuliah fikih mulailah saya berdiskusi dengan dosen saya dalam bentuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Nampak dia tidak banyak menentang saya, bahkan sebaliknya dia menekankan kecintaan kepada Ahlul Bait as dan keharusan mengikuti mereka, serta menyebut keutamaan-keutamaan mereka. Selang be¬berapa hari dia meminta saya untuk menemuinya di kantornya, di kantor pusat universitas. Setelah saya pergi menemuinya, dia menyodorkan kepada saya sebuah kitab yang terdiri dari beberapa juz, yaitu kitab Sahih al-Kafi, yang termasuk kitab rujukan hadis yang paling dipercaya di kalangan Syi’ah. Dia meminta kepada saya untuk tidak semberono terhadap kitab ini, karena kitab ini merupakan warisan dari Ahlul Bait. Saya tidak dapat berbicara sepatah kata pun karena saking gugupnya, lalu saya ambil kitab itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Saya pernah mendengar kitab ini namun saya belum pernah melihatnya. Hal ini menjadikan saya ragu apakah doktor ini seorang Syi’ah, meski pun saya tahu dia itu seorang Maliki. Setelah bertanya ke sana ke mari, menjadi jelas bagi saya bahwa dia itu se¬orang sufi yang mencintai Ahlul Bait as.

Ketika teman-teman saya melihat kesesuaian di antara saya dengan dosen tersebut, mereka meminta kepada saya untuk berdiskusi dengan dosen lain, yang mengajarkan mata kuliah hadis. Dosen mata kuliah hadis tersebut adalah seorang laki-laki yang taat beragama, sangat tawadu dan baik akhlaknya. Saya amat mencintainya. Maka saya pun memenuhi permintaan mereka. Mulailah terjadi diskusi di antara kami dalam banyak masalah. Saya menanyakan kepadanya tentang kesahihan beberapa hadis, dan dia pun menguatkan kesahihan hadis-hadis tersebut. Setelah berjalan beberapa waktu, saya merasakan ketidaksukaan dia dengan diskusi-diskusi saya, dan begitu juga teman-teman saya merasakan hal yang sama. Maka saya pun berpikir bahwa cara yang paling baik untuk melanjutkan diskusi ialah melalui tulisan. Lalu saya tulis sekumpulan hadis dan riwayat yang menunjukkan secara jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait as, dan saya minta kepadanya untuk membahas kesahihan hadis-hadis ini. Setiap hari saya meminta jawaban darinya, namun dia membela diri dengan mengatakan tidak ada pembahasan. Saya terus mengikutinya dengan cara ini, hingga dia merasakan rasa kegelisahan saya.

Dia mengatakan kepada saya, “Semuanya sahih.” Saya katakan, “Semuanya jelas menunjukkan wajibnya mengikuti Ahlul Bait.” Dia tidak menjawab, melainkan bergegas pergi ke kantor. Tindakannya ini merupakan goncangan bagi saya, dan menjadikan saya merasakan kebenaran akan perkataaan Syi’ah. Namun saya ingin perlahan-lahan dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam memutuskan. Kebetulan, dekan fakultas kami adalah Profesor ‘Alwan. Dia mengajar mata kuliah tafsir bagi kami. Pada suatu hari dia berbicara tentang tafsir firman Allah SWT yang berbunyi, “Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi”, “Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir Khum dia menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya berkata, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya’. Berita itu pun tersebar ke seluruh pelosok negeri, dan sampai kepada Harits bin Nukman al-Fihri. Lalu dia mendatangi Rasulullah saw dengan menunggang untanya. Kemudian dia menghentikan untanya dan turun darinya. Harits bin Nukman al-Fihri berkata: Hai Muhammad, kamu telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan salat lima waktu, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk melaksanakan ibadah haji, dan kami pun menerimanya. Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua ini sehingga kamu mengangkat tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami semua dengan mengatakan, ‘Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya. ‘Apakah ini dari kamu atau dari Allah? Rasulullah saw menjawab: Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya ini berasal dari Allah SWT. Mendengar itu Harits bin Nukman al-Fihri berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya sambil berkata, ‘Ya Allah, seandainya apa yang dikatakan Muhammad itu benar maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.’ Maka sebelum Harits bin Nukman al-Fihri sampai ke kendara¬annya tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai ubun-ubunnya dan kemudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati. Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya: Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.”

Setelah selesai pelajaran salah seorang teman saya menemuinya dan berkata kepadanya, “Apa yang telah Anda katakan adalah perkataan Syi’ah.” Bapak Dekan tertegun sejenak, kemudian memandang ke arah pemerotes seraya berkata, “Panggil Mu’tashim ke ruang kantor…!” Saya merasa heran dengan permintaan ini, dan merasa takut bertemu bapak Dekan. Namun saya cepat-cepat menguasai diri saya dan pergi menemuinya. Sebelum sempat saya duduk, bapak Dekan berkata kepada saya, “Anda orang Syi’ah!” Saya menjawab, “Saya semata-mata hanya seorang yang sedang mengkaji.” Bapak Dekan berkata, “Pengkajian itu sesuatu yang bagus, dan sesuatu yang harus.” Bapak Dekan mulai menyebutkan beberapa kecurigaan tentang Syi’ah yang banyak disebut orang. Namun dengan pertolongan Allah SWT saya bisa menjawab semua itu dengan sekuat-kuatnya dalil dan argumentasi, dan dapat lancar berbicara melebihi dari yang saya duga. Sebelum menutup pembicaraan kami, dia berpesan kepada saya akan kitab al-Muraja ‘at. Dia mengatakan, “Kitab al-Muraja ‘at termasuk kitab yang bagus dalam hal ini.”

Setelah saya membaca kitab al-Muraja ‘at, Ma’alim al-Madrasatain dan beberapa kitab yang lain, maka kebenaran pun menjadi jelas bagi saya dan tersingkaplah kebatilan dari hadapan saya, disebabkan dalil-dalil yang jelas, dan argumentasi-argumentasi yang terang, yang menunjukkan kebenaran mazhab Ahlul Bait as, yang terkandung di dalam kedua kitab ini. Dengan begitu, kekuatan saya di dalam berdiskusi dan mengkaji pun menjadi semakin bertambah, sehingga Allah SWT membukakan cahaya kebenaran di dalam hati saya, dan saya pun mengumumkan Kesyi’ahan saya. Selanjutnya mulailah periode baru dari pergumulan. Orang-orang yang tidak mampu berdiskusi, mereka tidak menemukan jalan lain selain dari jalan olok-olok, caci-maki, ancaman, fitnah dan jalan-jalan kebodohan lainnya. Saya serahkan seluruh urusan saya kepada Allah SWT, dan saya sabar dengan apa yang terjadi, meskipun serangan-serangan yang dialamatkan kepada saya itu berasal dari teman-teman saya, yang telah mengharamkan makan dan tidur dengan saya dalam satu atap.

Mereka mengasingkan saya secara penuh, kecuali sebagian teman yang lebih paham dan lebih terbuka. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya saya bisa menormalkan kembali hubungan saya dengan semuanya, dan dalam bentuk yang lebih baik dari yang semula. Bahkan saya menjadi orang yang dihormati dan dihargai di tengah-tengah mereka. Sebagian mereka meminta pertimbangan saya di dalam setiap masalah yang kecil maupun yang besar, dari masalah-masalah kehidupannya. Namun ini semua tidak berlangsung lama. Api fitnah pun kembali menyala, setelah tiga orang mahasiswa lainnya mengumum¬kan Kesyi’ahan mereka, di samping sekelompok besar mahasiswa yang menampakkan simpati dan dukungan mereka kepada Syi’ah. Serangkaian konflik dan guncangan pun mengelilingi kami, dan kami menghadapi semua itu dengan berpegang teguh kepada akhlak dan hikmah, sehingga kami mampu menghilangkan kemarahan dengan sesegera mungkin.

Sebab Lahirnya Firqoh Islam –Bagian Pertama


asteroid.jpg

Setelah Rasulullah saw pulang dari Haji Wada’, selama berhari-hari beliau hanya bisa berbaring sakit di atas ranjang, dan tepatnya pada hari Kamis, ketika banyak sekali sahabat yang berkumpul di sekeliling beliau, beliau bersabda: “Ituni bil kitfi wad dawati aktubu lakum kitaban lan tadhillu ba’dahu abada” (Ambilkan aku papan dan pena, karena aku ingin menuliskan sebuah wasiat penting untuk kalian yang setelah itu kalian tidak akan tersesat dari jalan yang benar selama-lamanya). Pada saat itu pula secara lancang Umar Bin Khattab berkata: Orang ini sedang dirundung oleh rasa sakit yang parah sehingga dia selalu mengigau, sekarang pun dia sedang mengigau, al-Qur’an bagi kita sudah cukup –dan tidak perlu lagi pada wasiat tertulis atau yang lain–. Sebagian orang yang hadir saat itu mendukung kata-kata Umar dan sebagian yang lain mengatakan: Patuhilah apa yang beliau perintahkan. Perselisihan antara mereka tidak bisa dihindarkan lagi, suasana berubah menjadi gaduh dan memanas sehingga nyaris terjadi baku hantam di antara mereka”

Oleh Muhsin Pur Muhammad. Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Pada umumnya, ketika penulis-penulis Barat menulis tentang teologi Islam mereka hanya menyoroti teologi Sunni dan jarang sekali mereka mempedulikan pendapat-pendapat para teolog Syi’ah, contohnya H. A. Wolfson di dalam buku tebalnya yang berjudul The Philosophy of The Kalam menyebutkan nama-nama sosok yang tidak terkenal di dalam sejarah teologi Islam, kebanyakan isi bukunya berdasarkan akidah dan pemikiran Ibnu Hazm, Ibnu Khaldun, Abu Hasan Asy’ari, Syahrestani, Baqelani, Baghdadi, Taftazani dan ulama Sunni yang lain, sementara dari kalangan ulama dan teolog Syi’ah dia sama sekali tidak menyebut nama mereka, bagaimana mungkin dibayangkan dia mengenal pemikiran Baqelani tapi dia sama sekali asing dari pemikiran Syekh Mufid yang setempo dengan Baqelani.

Memang benar Wolfson tidak menyatakan bahwa kajian-kajian Islam hanya berdasarkan akidah Sunni tapi secara praktis dia menyatakan hal tersebut, sebagian dari teolog-teolog kontemporer menyatakan hal itu secara tegas, contohnya W. M. Watt di dalam pengantar atas buku Islam and Christianity Today P.X III mengatakan: “Di bidang agama Islam, kita akan berurusan dengan aliran terbesar Islam, yaitu Sunni”. Contoh lainnya, L. Gisler dan Abdul Saleeb di dalam buku Answering Islam menyamakan Islam dengan akidah Jabrnya Asy’ari yang menurut mereka berseberangan dengan proses kesempurnaan, dan pada konsekuensinya mereka juga menolak Islam. Ada kemungkinan faktor penulis-penulis Barat tidak menyebut ulama Syi’ah dan menyinggung pendapat mereka adalah pengikut Sunni mayoritas umat Islam, dan lebih penting lagi dari faktor itu adalah banyaknya jumlah literatur Sunni dan minimnya literatur Syi’ah yang tersisa dari abad-abad permulaan Islam, tapi walau demikian sangat disayangkan sekali mereka sama sekali tidak memanfaatkan literatur Syi’ah yang masih tersisa.

Perselisihan umat Islam [1] dapat diselidiki dengan dua cara; historis dan teologis. Kendati dua kajian ini tidak bisa dipisahkan secara total antara satu dengan yang lain, akan tetapi masing-masing bisa memiliki pembahasan tersendiri. Dan apa yang menjadi konsentrasi tulisan ini adalah penyelidikan yang pertama. Penyelidikan historis perselisihan umat Islam harus dimulai dari masa hidupnya Rasulullah saw, apakah pada masa itu telah terjadi perselisihan dan perpecahan umat Islam atau tidak? Sudah barang tentu keberadaan Rasulullah saw sendiri merupakan cermin seluruh wajah Islam dan berselisih dengan beliau berarti berselisih dengan Allah swt, sebaliknya patuh kepada beliau berarti patuh kepada Allah swt. [2] Maka dari itu, perselisihan terhadap Rasulullah saw merupakan arus cabang dan penyimpangan, konsekuensinya komunitas yang mengikuti arus itu tidak mungkin terbilang sebagai mayoritas umat Islam.

Apakah semua sahabat Nabi Muhammad saw sepenuhnya mematuhi perintah dan larangan beliau sebagaimana dikehendaki oleh Allah swt? Jelas bahwa mereka semua tidak sedang berada pada satu tingkat keimanan. Sayangnya, di samping sahabat yang sama sekali tidak keberatan untuk mengorbankan segala sesuatunya di jalan Islam, ada juga sahabat Nabi saw yang menentang dan membantah perintah serta larangan beliau karena menuruti hawa nafsu mereka, tetapi dalam hal ini para penulis buku tentang bangsa-bangsa dan aliran-aliran umumnya mereka menyatakan semua sahabat Nabi saw adalah adil dan melemparkan semua perselisihan itu ke kalangan orang-orang yang kafir dan munafik, [3] tapi pada kenyataannya di beberapa kasus ada juga orang-orang yang menentang Nabi saw dan tidak mengindahkan perintah beliau. Meskipun pada masa hidup beliau mereka tidak mendirikan aliran tertentu akan tetapi mereka sudah menyiapkan latar belakang perpecahan umat Islam pasca wafatnya beliau. Oleh karena itu, pembahasan ini bisa dikaji dengan dua tema yang berbeda; latar belakang munculnya aliran-aliran Islam, dan faktor-faktor munculnya aliran-aliran Islam.

A. Latar Belakang Munculnya Aliran-Aliran Islam

1. Penentangan terhadap Perdamaian Hudaibiyah

Perdamaian Hudaibiyah terjadi pada tahun Enam Hijriah. Singkat cerita bahwa pada suatu malam Rasulullah saw bermimpi, beliau beserta para sahabatnya pergi ke Mekkah dan menunaikan ibadah umrah. Pada keesokan harinya, beliau menceritakan mimpi itu kepada para sahabat seraya mengungkapkan takbir mimpi tersebut, beliau bersabda: Insyaallah kita akan pergi ke Mekkah dan menunaikan ibadah umrah. [4] Pada tahun itu juga, beliau rindu sekali untuk berziarah ke rumah Allah, maka beliau beserta para sahabatnya bergerak menuju Mekkah. Dan ketika mereka sampai di Hudaibiyah, nama sebuah sumur di dekat Mekkah, kehadiran mereka diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, segera mereka menyiapkan peralatan dan kebutuhan perang melawan muslimin dan mencegah kedatang mereka ke Mekkah. Dan mengingat bahwa Rasulullah saw pergi ke Mekkah dengan niat berziarah dan sama sekali tidak bermaksud untuk perang maka beliau menulis dan menyetujui surat perdamaian dengan kafir Quraisy, apalagi di dalam perdamaian itu ada banyak maslahat bagi umat Islam.

Berhubung pada waktu Rasulullah saw menceritakan mimpi tersebut beliau tidak menentukan waktu masuknya mereka ke Mekkah maka ketika perdamaian Hudaibiyah ada sebagian sahabat yang berunjuk rasa dan protes. Ibnu Hisyam di dalam kitab al-Siroh al-Nabawiyah melaporkan: “Ketika kondisi sudah tenang dan hanya tersisa penulisan surat perdamaian, Umar bin Khattab segera menghampiri Abu Bakar dan berkata kepadanya: Bukankah dia adalah utusan Allah? Abu Bakar menjawab: Tentu. Umar kembali bertanya: Bukankah kita beragama Islam? Abu Bakar menjawab: Tentu. Lalu Umar mengungkapkan protesnya: Kalau begitu, kenapa kita menyerah pada kehinaan padahal berada di jalan agama Islam? Sebenarnya Umar dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu ingin mengajak Abu Bakar bersamanya, lalu dia mendatangi Rasulullah saw dan mengulangi pertanyaan-pertanyaan tadi untuk di hadapan beliau. Beliau bersabda: Aku adalah utusan Allah, dan apa yang kuungkapkan pasti akan terjadi. [5] Pada saat itu pula malaikat Jibril turun dan menyampaikan wahyu Allah swt.:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُؤُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا / الفتح: 27

Artinya: “Sungguh Allah membuktikan kebenaran mimpi kepada Rasul-Nya bahwa sungguh kalian akan memasuki Majidil Haram dengan kehendak-Nya dalam keadaan aman, mencukur kepala, dan menggunting rambut, serta tidak merasa ketakutan. Dan Dia mengetahui apa yang kalian tidak ketahui dan sebelum itu Dia tetapkan suatu kemenangan yang dekat”. (QS. 48: 27).

2. Usaha untuk Menghalangi Pidato Rasulullah saw di Haji Wada’

Rasulullah saw. sejak awal misinya[6] sampai saat-saat akhir hayatnya[7] telah berulang kali dan di berbagai kesempatan[8] menegaskan posisi Ali bin Abi Thalib as sebagai pengganti beliau setelah beliau meninggal dunia, tapi tidak jarang ketika beliau sedang menyampaikan suksesi kepemimpinan itu dihadapkan kepada oknum-oknum yang tidak memiliki jiwa patuh kepada beliau dan Islam, di antara kasus-kasus itu telah diriwayatkan oleh banyak sekali periwayat bahwa Rasulullah saw di sela-sela pidatonya di Mina, atau menurut sebagian periwayat di Arafah, [9] ketika beliau hendak memperkenalkan pemimpin-pemimpin yang berhak menggantikannya kepada masyarakat maka ada sekelompok orang yang membuat suasana menjadi gaduh dengan teriakan-teriakan mereka agar sabda beliau tidak sampai ke telinga masyarakat yang hadir di sana.

Ahmad bin Hanbal di dalam kitab Musnadnya dan Abu Dawud di dalam kitab al-Shahihnya menukil riwayat dari Jabir bin Samrah yang mengatakan: Rasulullah saw bersabda: “Agama ini –yakni Islam– akan senantiasa mulia sampai dengan dua belas khalifah”, ketika itu juga ada sekelompok orang yang berteriak dengan suara takbir dan membuat suasana menjadi gaduh sehingga suara Rasulullah saw menjadi lirih tak terdengar. [10] Di riwayat yang lain periwayat mengatakan: “Mereka bukan saja berteriak melainkan mereka membuat suasana menjadi kacau balau dengan duduk dan berdiri yang terus mereka ulangi”. [11]

Menurut laporan buku induk hadis Shahih Muslim dan Musnad Ahmad bin Hanbal serta yang lain, periwayat mengatakan bahwa sekelompok orang pada waktu itu membuat suasana jadi sangat gaduh dan bising sehingga nyaris membuat telingaku menjadi tuli!. [12] Ada satu poin penting di sini yang jangan sampai dilewatkan begitu saja, yaitu ungkapan an-nas atau sekelompok orang di dalam riwayat-riwayat ini, dan sangat mungkin jika orang-orang itu pula yang kemudian di Ghadir Khum berusaha menghalang-halangi suara sabda Rasulullah saw untuk sampai ke telinga hadirin dan pada akhirnya mukjizat Allah swt membungkam telinga dan melumpuhkan usaha mereka tersebut lalu berfirman kepada beliau:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ / المائدة: 67

Artinya: “Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan maka –sama dengan– kamu tidak menyampaikan risalah Allah, dan Allah menjagamu dari –bahaya– manusia”. (QS. 5: 67). Orang-orang itulah yang kemudian di saat-saat terakhir hayat Rasulullah saw membantah permintaan beliau untuk mengambilkan pena dan tinta agar beliau tuliskan wasiat penting sebelum meninggal.

3. Berpaling dari Pasukan Usamah

Arus pembangkangan terhadap Rasulullah saw semakin serius dan sering terjadi pada akhir hayat beliau. Di hari-hari menjelang kematian, Rasulullah saw memerintahkan Usamah bin Zaid “Bentuklah pasukan besar lalu bergeraklah menuju Mu’tah, tempat terbunuhnya bapakmu” [13]. Praktis, Rasulullah saw telah mengangkat Usamah sebagai panglima perang, dan saat itu beliau sangat menekankan kepada Usamah dan bala tentaranya agar segera keluar dari kota Madinah, bahkan beliau juga menekankan kepada orang-orang tua seperti Abu Bakar dan Umar untuk mematuhi perintah panglima perang muda yang bernama Usamah. [14] Akan tetapi pada kenyataannya ada sekelompok sahabat beliau yang membangkang perintah beliau dengan alasan Usamah masih terlalu muda untuk menjadi panglima kita. Dan ketika berita pembangkangan itu sampai ke telinga Rasulullah saw, beliau marah sekali dan walaupun dalam keadaan sakit beliau segera keluar dari rumah dan naik ke atas mimbar seraya bersabda kepada komplotan pembangkang itu: “Telah sampai kepadaku berita pembangkangan kalian terhadap Usamah, dan betapa buruknya pembangkangan itu? Dulu kalian pula orang-orang yang iri terhadap kepanglimaan bapak Usamah dan kalian cemooh dia. Demi Allah, pada waktu itu dia (Zaid bapak Usamah) lebih layak menjadi panglima perang daripada kalian, dan dalam hal ini putranya yang bernama Usamah juga lebih layak daripada kalian”. [15]

Setelah itu, beliau berulang kali bersabda: “Jahhizu jaysya Usamah”; Lengkapilah pasukan Usamah. Bahkan dalam jarak satu farsakh dari Madinah, orang yang ditugaskan oleh Rasulullah saw sebagai pengumandang perang mengumumkan bahwa jangan sampai ada seorang pun dari pasukan Usamah yang membantah perintah dia sebagai panglima perang. Namun demikian, tetap saja ada sekelompok orang yang tidak mematuhi perintah Rasulullah saw dan sebaliknya mereka berpaling dari pasukan Usamah serta pulang ke Madinah. Gelombang pembangkangan terhadap perintah-perintah Rasulullah saw ini muncul dalam berbagai kasus dan dengan bentuk yang berbeda-beda, lalu secara bertahap pembangkangan itu juga disertai dengan permainan-permainan politik yang tajam.

4. Tragedi Hari Kamis

Salah satu fenomena penting sejarah Islam yang secara serempak dicatat baik oleh literatur Syi’ah maupun Sunni adalah fenomena yang terkenal dengan sebutan Hari Kamis. Setelah Rasulullah saw pulang dari Haji Wada’, selama berhari-hari beliau hanya bisa berbaring sakit di atas ranjang, dan tepatnya pada hari Kamis, ketika banyak sekali sahabat yang berkumpul di sekeliling beliau, beliau bersabda: “Ituni bil kitfi wad dawati aktubu lakum kitaban lan tadhillu ba’dahu abada”; Ambilkan aku papan dan pena, karena aku ingin menuliskan sebuah wasiat penting untuk kalian yang setelah itu kalian tidak akan tersesat dari jalan yang benar selama-lamanya. Pada saat itu pula secara lancang Umar Bin Khattab berkata: Orang ini sedang dirundung oleh rasa sakit yang parah sehingga dia selalu mengigau, sekarang pun dia sedang mengigau, al-Qur’an bagi kita sudah cukup –dan tidak perlu lagi pada wasiat tertulis atau yang lain–. Sebagian orang yang hadir saat itu mendukung kata-kata Umar dan sebagian yang lain mengatakan: Patuhilah apa yang beliau perintahkan. Perselisihan antara mereka tidak bisa dihindarkan lagi, suasana berubah menjadi gaduh dan memanas sehingga nyaris terjadi baku hantam di antara mereka. Rasulullah saw yang menyaksikan kejadian ini secara langsung, bersabda: “Bangkitlah kalian dan pergilah dari sini, jangan kalian bertengkar satu sama yang lain di sisiku”. [16]

Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair bahwa dia mengatakan: Ibnu Abbas sering sekali menangis. Kadang-kadang lama sekali menangis sampai tanah di bawah kakinya menjadi basah, ketika itu dia selalu mengatakan: Hari Kamis, oh Hari Kamis. Aku bertanya kepadanya: Apa gerangan Hari Kamis? Dia menjawab: Hari Kamis adalah hari ketika mereka bertengkar satu sama yang lain di sisi Rasulullah saw, padahal sungguh tidak pantas mereka bertingkah konyol seperti itu di sisi beliau. [17] Begitu pula telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia mengatakan: Petaka oh petaka, semua malapetaka ini bermula dari saat mereka halangi Rasulullah saw untuk menulis surat wasiatnya. [18]

Soal penting apa yang ingin ditulis oleh Rasulullah saw pada situasi yang sensitif itu mudah sekali untuk dimengerti dari pembangkangan Umar Bin Khattab dan komplotannya, yaitu soal wilayah dan khilafah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, karena jelas pembangkangan itu dilakukan oleh orang-orang itu juga, dan merekalah yang merasa ada bahaya, sudah barang tentu penjelasan undang-undang universal atau hukum parsial bukanlah bahaya yang mengancam mereka sehingga mereka terpaksa harus membuat kerusuhan seperti itu dan menyakiti hati Rasulullah saw di depan umum. Anehnya, cerita papan dan pena ini juga terjadi pada saat-saat akhir kehidupan Abu Bakar, dan walaupun pada saat itu Abu Bakar sedang dalam keadaan pingsan dan belum sempat mengatakan apa-apa akan tetapi Usman tetap saja menulis wasiat dari pihak Abu Bakar bahwa orang yang berhak menjadi khalifah setelah dia adalah Umar. [19] Walau kondisi yang dialami oleh Abu Bakar lebih parah dari kondisi Rasulullah saw pada riwayat papan dan pena akan tetapi ketika itu Umar sama sekali tidak mengatakan Abu Bakar sedang mengigau, jelas hal itu karena target yang dia inginkan sedang tercapai.

Menurut riwayat-riwayat Syi’ah Imamiyah dan sebagian riwayat mazhab Sunni, Rasulullah saw meninggal dunia pada tanggal dua puluh delapan bulan Shafar tahun sepuluh hijriah. Wafat beliau telah menyelimutkan kesedihan ke seluruh penjuru Madinah, muslimin tidak pernah menyaksikan hari yang lebih menyedihkan dari hari itu sehingga setiap kali ada hari yang penuh petaka dan musibah setelah itu maka mereka perumpamakan dengan hari wafatnya Rasulullah saw. Tepatnya ketika umat Islam sedang dirundung duka nestapa, dengan suara lantang Umar bin Khattab berteriak: Celakalah kalian semua, Muhammad tidak mati melainkan dia sedang menemui Tuhannya sebagaimana Isa putra Maryam … Barangsiapa yang mengatakan dia mati maka akan kupenggal kaki dan tangannya. [20] Soal apa kepentingan Umar di balik permainan ini; apakah dia bermaksud untuk membius urat syaraf massa sampai Abu Bakar, yang keluar keluar ke sekitar Madinah, datang[21] dan bersama-sama dengannya merealisasikan target-target yang sudah mereka rencanakan? Adalah tema yang layak untuk didiskusikan.

Perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara sahabat khususnya pada akhir hayat Rasulullah saw dan penegasan beliau yang berulang-ulang mengenai hak Ali untuk menjadi khalifahnya memberitahukan kepada kita bahwa pada masa hidup Rasulullah saw minimal ada dua kategori besar yang memiliki mental dan kecenderungan yang berseberangan; satu di antaranya pasrah dan secara mutlak mematuhi sabda Rasulullah saw. serta tidak pernah lesu untuk memperjuangkan tuntutan beliau, orang yang paling terkemuka dari kategori sahabat ini adalah Ali bin Abi Thalib as, ada pun yang lain adalah sekelompok sahabat yang tanpa merasa ada beban dan secara terang-terangan melakukan pembangkangan terhadap Rasulullah saw, mereka tunjukkan pembangkangan itu di saat-saat terakhir hayat beliau dengan perhitungan yang matang dan perencanaan yang teliti sehingga terjadilah fenomena Saqifah. Pada saat itulah dua kelompok sahabat ini terpisah antara satu sama yang lain. Dan meskipun banyak sekali ayat al-Qur’an tentang kelompok munafik bahkan ada surat yang diberi nama al-Munafiqun namun setelah kejadian Saqifah dan Abu Bakar telah menduduki posisi khilafah tidak ada perlawanan terhadap kelompok munafik tersebut! Walaupun demikian kenyataannya, selama Rasulullah saw masih hidup umat Islam masih memiliki persatuan yang khas, tapi perbedaan dan pembangkangan sebagian dari mereka di saat-saat akhir hayat beliau telah melatarbelakangi perselisihan dan perpecahan yang lebih dalam pasca kematian beliau.

B. Faktor-Faktor Munculnya Aliran-Aliran Islam

1. Cinta Kedudukan yang Disertai dengan Fanatisme Kesukuan

Ketika Rasulullah saw wafat, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Ibnu Abbas dan Bani Hasyim menggelar upacara pemandian dan pemberian kafan atas jenazah beliau di dalam rumah. Pada saat yang bersamaan, sekelompok orang dari kalangan Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan melontarkan persoalan khilafah. Sahabat Anshar tersusun dari dua suku besar Aus dan Khazraj, sebelum kedatangan Islam dua suku ini selama bertahun-tahun senantiasa bersaing secara serius dan telah berkali-kali terjadi perang serta pertumpahan darah di antara mereka, ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah mereka menyambut hangat kedatangan beliau dan mereka masuk Islam, lalu beliau mendamaikan hubungan di antara mereka, dan pada saat muslimin masih berjumlah sedikit dan terhitung lemah mereka telah membela Islam dengan jiwa, raga dan harta, mereka telah menanggung berbagai resiko dan kesulitan di jalan ini. Dalam pada itu, Rasulullah saw di akhir hayatnya berwasiat tentang nasib mereka. [22]

Sahabat Anshar, telah membunuh banyak sekali dari orang-orang kafir Mekkah dan negeri-negeri lainnya, oleh karena itu mereka menyimpan kekhawatiran jangan sampai ada orang-orang yang menjadi khalifah Nabi saw lalu ingin membalas dendam darah-darah yang telah mereka tumpahkan. Rasa takut terhadap musuh yang sama membuat suku Aus dan Khazraj bergabung dan berkumpul di Saqifah serta bersepakat untuk menerima kepemimpinan Sa’ad bin Ubadah. Secara sekilas, suku Aus menerima kepemimpinan Sa’ad bin Ubadah yang pada waktu itu dia merupakan kepala suku Khazraj, tapi pada kenyataannya mereka tidak percaya penuh dan masih menyimpan dugaan bahwa jika khilafah ini jatuh ke tangan suku Khazraj maka mungkin sekali kedengkian-kedengkian lama mereka menjadi hidup kembali. Lain dari rasa takut dan kekhawatiran, masalah hasud atau iri juga dominan di antara mereka. Maka dari itu, setelah kelompok sahabat Muhajirin memasuki kancah politik yang sedang berkembang ini dan setelah dialog yang terjadi di antara mereka, maka suku Aus memisahkan diri dari suku Khazraj dan mengikuti Basyir bin Sa’ad untuk berbaiat kepada Abu Bakar.

Di samping persaingan antar suku, di antara mereka juga ada persaingan antara individu. Oleh karena itu Basyir bin Sa’ad –misannya Sa’ad bin Ubadah– bergabung dengan Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah dalam berbaiat kepada Abu Bakar untuk melemahkan Sa’ad bin Ubadah, perbuatan dia ini merupakan pukulan telak yang mengenai tubuh sahabat Anshar sebagaimana hal itu telah diperingatkan secara langsung oleh Hubab bin Mundzir kepada Basyir bin Sa’ad. [23] Abu Bakar dalam kapasitasnya sebagai wakil kelompok sahabat Muhajirin menunjukkan penghormatannya terhadap sahabat Anshar, tapi secara tegas dia menyatakan bahwa khilafah merupakan hak yang tidak bisa diganggu gugat bagi sahabat Muhajirin, di sela-sela perkataannya dia menyinggung bahwa situasi politik bangsa Arab tidak mengijinkan sahabat Anshar untuk memerintah masyarakat; alasannya adalah masyarakat mau tunduk dan hormat di hadapan Quraisy karena hubungan kekeluargaan mereka dengan Rasulullah saw dan kedekatan mereka dengan seluruh kabilah Arab, sedangkan mereka tidak akan pernah mau dipimpin oleh kelompok Anshar. [24]

Metode argumentasi tiap-tiap kelompok tersebut menunjukkan bahwa mereka memandang posisi khilafah setelah Nabi saw tidak lebih dari pemerintahan lahiriah dan kepemimpinan atas massa, padahal selain menduduki posisi kepemimpinan yang tertinggi beliau juga memiliki kedudukan-kedudukan lain yang harus juga dimiliki oleh pengganti setelahnya, di antaranya adalah kedudukan sebagai panutan dalam urusan-urusan agama dan kedudukan wilayah atas massa. Kedudukan-kedudukan ini tidak dimiliki baik oleh wakil kelompok sahabat Muhajirin maupun wakil kelompok sahabat Anshar. Bukankah semestinya mereka singkirkan tolok ukur seperti kesukuan dan bersandar kepada tolok ukur kedudukan-kedudukan yang dimiliki oleh Rasulullah saw, lalu memilih pemimpin dari sahabat beliau yang menguasai pokok-pokok agama dan cabangnya serta berada persis di bawah beliau jika dipandang dari segala sisinya.

Memang benar sahabat Muhajirin adalah orang-orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw dan mereka juga memiliki hubungan kerabat dengan beliau, tapi semua ini tidak bisa membuktikan posisi kepemimpinan adalah hak mereka. Lain dari itu, apa tidak ada sahabat lagi di antara Muhajirin yang lebih dulu dalam beriman, lebih dekat dalam hubungan kekeluargaan, dan lebih layak untuk menanggung jawab khilafah dan tugas kepemimpinan ini daripada yang lain? Dengan demikian, kalaupun standardisasi mereka yang dijadikan pedoman tetap saja hasilnya adalah Ali bin Abi Thalib as, orang yang harus dipilih sebagai khalifah dan pemimpin setelah Rasulullah saw. Kritikan yang sama juga mengenai sahabat Anshar; anggap saja sepenuhnya benar bahwa Islam tersebar karena darah dan pengorbanan mereka, tapi ini juga tidak membuktikan posisi kepemimpinan adalah hak mereka, dan kalaupun pengorbanan yang dijadikan sebagai tolok ukur khilafah setelah Rasulullah saw, maka tetap saja hasilnya adalah orang yang paling banyak berkorban untuk Islam! Yaitu Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

2. Kejumudan Intelektual dalam Memahami Syariat Islam

Abul Hasan Asy’ari dan lain-lain[25] melaporkan bahwa ada berbagai persoalan yang muncul dan berkembang pasca pencabangan pertama umat Islam yang menampilkan fenomena Saqifah, tapi tidak sampai terjadi perpecahan yang mencolok. Periode khilafah Abu Bakar dan Umar berlalu dengan tenang, namun di saat-saat akhir khilafah Usman ada komplotan yang memberontak dia sehingga nyawa Usman pun melayang. Soal apa motivasi di balik pemberontakan dan pembunuhan itu, terjadi perbedaan pendapat. Ketika Usman terbunuh, masyarakat berbondong-bondong menuju rumah Ali dan berbai’at kepadanya, tapi pada periode khilafah beliau ada tokoh-tokoh masyarakat muslim yang bertekad bulat untuk menentang, di antaranya adalah Talhah, Zubair dan Muawiyah yang memprakarsai Perang Jamal dan Peran Shiffin untuk menumbangkan pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.

Di Perang Shiffin, pendukung-pendukung Ali menunjukkan keksatriaan mereka dalam berperang dan setelah peperangan dahsyat yang mengabiskan waktu selama berbulan-bulan pasukan musuh terancam kekalahan yang pasti. Oleh karena itu, Amr bin Ash segera mencetuskan ide pengelabuhan (siasat) dan mengusulkannya kepada Muawiyah, Muawiyah pun langsung menerima dan mengeluarkan perintah agar ide itu segera dilaksanakan, maka mereka serempak mengangkat al-Qur’an di atas tombak dan menuntut agar al-Qur’an dijadikan sebagai hakim yang memutuskan kebenaran di antara dua kubu yang sedang bertikai ini.

Ternyata tipu daya Muawiyah berdampak sangat luas dan berhasil menimbulkan perselisihan di dalam tubuh pasukan Amirul Mukminin Ali as; ada sebagian dari pasukan beliau yang termakan oleh tipu muslihat ini dan mengharamkan perang melawan para pemberontak yang menginginkan pengadilan al-Qur’an serta menuntut agar perang segera dihentikan dan genjatan senjata. Adapun Ali dan sahabat-sahabatnya yang bijaksana bersikeras untuk melanjutkan peperangan dan mereka mengetahui persis bahwa permintaan musuh untuk dibuat pengadilan al-Qur’an adalah tipu daya mereka yang menyaksikan kekalahan sudah ada di depan mata. Amirul Mukminin Ali as berkata kepada sahabat-sahabatnya yang membangkang: “Muawiyah dan Amr bin Ash sedang menipu kalian; celakalah kalian, ini adalah kalimat yang benar tapi digunakan untuk niat yang busuk. Beri aku kesempatan singkat untuk memutus akar-akar tiran”. Sebaliknya mereka menjawab: “Kalau kamu tidak menerima permintaan mereka berupa pengadilan al-Qur’an itu maka kami juga akan membunuhmu seperti Usman”.

Mereka bukan saja tidak mau berperang, bahkan mereka mengancam: “Kalau kamu tidak menarik mundur Malik Asytar maka kami akan menyerahkanmu kepada musuh”. Oleh karena itu Amirul Mukminin Ali as terpaksa menarik mundur Malik Asytar. Saat itu pula orang-orang yang termakan oleh tipu daya Muawiyah dan Amr bin Ash ini bersorak bahwa Ali telah menerima perdamaian. Dengan demikian mereka memaksa Ali as untuk menerima perdamian sementara dan mereka juga menuntutnya untuk memilih satu orang sebagai delegasi hakim. Apa yang menjadi ketetapan pada waktu itu adalah masing-masing dari kubu yang bertikai harus kembali ke posisinya dan delegasi-delegasi hakim mereka bertemu di satu titik yang netral lalu mengajukan perselisihan ini kepada al-Qur’an dan sunnah Nabi saw serta kemudian mengumumkan hasil jawaban yang mereka terima dari al-Qur’an dan sunnah. Dalam pada ini dibuatlah surat kesepakatan antara Amirul Mukminin Ali as dan Muawiyah lalu ditandatangani oleh tokoh-tokoh dari dua kubu tersebut.

Tinta surat kesepakatan masih belum kering, orang-orang yang tadi bersikeras menuntut agar perang dihentikan berubah pikiran dan menganggap genjatan senjata serta kesepakatan ini bertentangan dengan prinsip “Hukum hanya milik Allah” (QS. Al-An’am: 57), maka dari itu mereka mengubah tuntutan menjadi pelanggaran atas surat kesepakatan yang menurut mereka bertentangan dengan prinsip tersebut. Setelah Amirul Mukminin Ali as pulang ke Kufah, komplotan ini tidak sudi untuk masuk ke pusat kekhalifahan Islam melainkan mereka memilih pusat baru yang terletak di daerah Haura’.

Mulai saat itu mereka mengganggu Ali as dan sahabat-sahabatnya serta menyebarkan slogan anti Ali, bahkan mereka juga membunuh orang-orang yang tidak berdosa hanya karena mereka mendukung atau mencintai Ali as. Untuk beberapa saat Amirul Mukminin Ali as masih mentolerir tingkah laku mereka dan berusaha mengingatkan mereka dengan berbagai nasihat serta mengirim berbagai pesan, tapi ternyata ketika beliau melihat mereka tetap bersikukuh dalam kebatilan dan bertingkah semakin brutal maka terpaksa beliau menyikapi mereka dengan kekuatan.

Pada akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Ali as dengan kelompok pembangkang sekaligus penyamun itu di kawasan yang bernama Nahrawan, perang ini terkadang disebut dengan Perang Khawarij. Sebelum pertempuran dimulai, Amirul Mukminin Ali as berkata kepada mereka: [26] “Aku peringatkan kalian bahwa kalian akan terbunuh di samping sungai di kawasan yang berlembah ini sementara di hadapan Tuhan kalian tidak mempunyai bukti untuk menentangku. Dunia telah menghempaskan kalian kepada kesesatan dan takdir telah mempersiapkan kalian untuk kematian. Sebelumnya aku larang kalian dari kesepakatan pengadilan al-Qur’an –yang tidak lain merupakan tipu daya Muawiyah– tapi kalian keras kepala dan membangkang sehingga aku pun terpaksa menuruti tuntutan kalian. Wahai kelompok yang tidak menggunakan akal dan tidak pula berpikir, sungguh aku tidak berbuat salah dan aku tidak ingin membahayakan kalian”. Bagaimanapun juga, sebab lahirnya kelompok Khawarij adalah tipu daya Amr bin Ash dan Muawiyah yang disempurnakan oleh kebodohan serta kesalahpahaman sekelompok orang di kubu Amirul Mukminin Ali as.

Catatan:

[1] Tidak diragukan lagi bahwa persatuan merupakan salah satu kebutuhan asasi umat Islam, namun perlu diketahui juga bahwa persatuan dunia Islam bukan berarti aliran-aliran Islam harus menutup mata dari prinsip-prinsip ideologis dan non ideologis mereka demi persatuan Islami, atau dengan kata lain bukan berarti mereka harus berpegang teguh kepada titik-titik kesamaan mereka saja dan membuang ciri khas masing-masing demi persatuan; sebab, hal itu selain tidak logis juga tidak praktis …. Bagaimanapun juga, pembelaan atas tesa “Persatuan Islami” tidak mengharuskan siapapun agar tidak mengutarakan hakikat yang sebenarnya. Dan hal yang semestinya tidak boleh terjadi adalah sikap-sikap yang membangkitkan emosi, fanatisme dan kedengkian kelompok yang berbeda pendapat, sedangkan kajian ilmiah berhubungan dengan akal dan logika, bukan dengan perasaan”. (Murtada Mutahhari, Imomat wa Rahbari [Imamah dan Kepemimpinan], cetakan keempat belas, Qom, Intisyarat Shadra, 1372, hal 17-20).
[2] Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً / النساء: 59
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan kepada pemimpin kekuasaan di antara kalian, maka jika kalian berselisih dalam suatu urusan kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman terhadap Allah dan hari akhir, itulah yang lebih baik dan lebih bagus kesudahannya”. (QS. 4: 59).
Dia juga berfirman:
وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ / الانفال: 46
Artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan kekuatan kalian menjadi hilang, dan bersabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar”. (QS. 8: 46).
[3] Baghdadi mengatakan: Ketika Rasulullah saw. wafat, umat Islam masih berada di satu jalan baik dalam hal usuludin maupun furu’udin, kecuali orang-orang yang secara lahir menampakkan kesepakatan dan di dalam hati mereka menyembunyikan kemunafikan. (al-Farqu baina al-Firoq, hal. 35, Bairut). Dalam pada ini Syahrestani juga mempunyai ungkapan yang serupa di dalam kitab al-Milal wa al-Nihal, hal. 21.
[4] Ibnu Abil Hadid, Syarhu Nahji al-Balaghoh, jilid 2, hal. 861.
[5] Ibnu Hisyam, al-Siroh al-Nabawiyah, jili 3, hal. 331, Bairut; Ibnu Abil Hadid, Syarhu Nahji al-Balaghoh, jilid 2, hal. 861.
[6] Pada awal penyampaian risalah, turun sebuah ayat “و انذر عشیرتک الاقربین” , maka Rasulullah saw. memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menyampaikan undangan kepada empat puluh orang dari keluarga beliau, termasuk juga Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Abu Lahab berhasil membubarkan pertemuan yang pertama sementara beliau belum menyampaikan risahalnya. Terpaksa Rasulullah saw. mengundang mereka lagi di hari yang lain, dan setelah menyantap hidangan beliau mengajak mereka untuk masuk agama Islam seraya bersabda: Siapa yang berminat untuk menjadi saudara dan pembela [baca: menteri]ku sehingga aku tetapkan dia sebagai wasi dan khalifah setelahku nanti? Seuan ini berulang sampai tiga kali, dan di setiap kalinya hanya Ali bin Abi Thalib as. yang berdiri dan memberikan jawaban positif. Ketika itu maka Rasulullah saw. bersabda tentang Ali as.: Dia adalah saudara, wasi dan penggantiku, oleh karena itu dengarkan ucapan dia dan taatilah dia”. (Thabari, Tarikh Thobari, jilid 3, hal. 1171-1174).
[7] Mengisyaratkan kepada Hadis Manzilat yang disabdakan oleh Rasulullah saw. kepada Ali bin Abi Thalib as.: “Wahai Ali, kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, bedanya adalah tidak ada lagi nabi setelahku”. (Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jilid 2, hal. 278).
[8] Kejadian hari kamis, kejadian tentang papan dan pena.
[9] Diriwayatkan dari Jabin bin Samurah yang mengatakan: Rasulullah saw. berpidato kepada kita di Arafah, Maqdami menyebutkan di dalam hadisnya bahwa aku mendengar Rasulullah saw. berpidato di Mina dan berikut ini adalah leterlek hadis yang disebutka noleh Ibnu Rabi’, aku mendengar beliau menyabdakan: “Urusan –agama Islam– ini akan senantiasa mulai, menonjol, dan memiliki dua belas –imam-, seluruh dua belas imam itu adalah …” ketika beliau sampai pada potongan kalimat ini, ada sekelompok orang yang membuat suasana menjadi gaduh dan bising sehingga aku tidak bisa mengerti apa sabda beliau setelah kata-kata “seluruh dua belas imam itu adalah”. (Ahmad bin Hambal, al-Musnad, Bairut, cetakan kedua, Bairut, Darul Fikr, 1414, jilid 7, hal. 428, hadis ke 20981).
[10] Ahmad bin Hanbal, Ibid, jilid 7, hal. 428, hadis ke20981; Muntakhob al-Atsar fi al-Imam al-Tsani Asyar, hal. 11, dinukil dari Shohih Abu Dawud, jilid 2, kitab al-Mahdi, hal. 11207, hadis yang disebutkan adalah: Rasulullah saw. bersabda: “Ahli agama ini [yakni Islam] senantiasa membelanya melawan siapa saja yang memusuhi mereka karena agama tersebut sampai dengan dua belas khalifah”, ketika sampai pada potongan sabda ini maka ada sekelompok orang yang membuat suasana menjadi gaduh dengan ulah duduk dan berdiri mereka, itulah sebabnya aku tidak bisa mengerti apa lanjutan sabda beliau”. Ibid, hal. 20, dinukil dari Syekh Thusi, Kitab al-Ghoibah; Ahmad bin Hambal, Ibid, jilid 7, hadis ke20993.
[11] Ibid.
[12] Shohih Muslim, cetakan keempat, Bairut, 1412 H., jilid 3, hal. 1453, kitab al-imaroh, hadis ke9; Ahmad bin Hambal, Ibid, jilid 7, hal. 435, hadis ke2120, dan hal. 428, hadis ke20980; periwayat hadis ini tidak terbatas kepada Jabir bin Samurah, melainkan juga diriwayatkan oleh Hisyam bin Yazid dan Hafshah binti Sirin melalui jalur Abul Aliyah dari Anas bin Malik. Anda bisa merujuk kepada kitab Muntakhob al-Atsar, menukil dari kitab Kifayah al-Atsar dan Hakim Nisyaburi di al-Mustadrok ‘ala al-Shohihain.
[13] Ibnu Abil Hadid, Ibid, jilid 1, hal. 77 dan jilid 2, hal. 21.
[14] Thabari, Ibid, cetakan Urupa [Eropa], jilid 2, hal. 445, dan jilid 4, hal. 1794.
[15] Ibid. Jilid 4, hal. 1311-1313, dan jilid 2, hal. 431 cetakan Bairut.
[16] Shohih Muslim, jilid 3, kitab al-washiyah, hal. 1259; Ibnu Atsir, ibid. Jilid 2, hal. 122; Thabari, ibid. Jilid 2, hal. 426; Bukhari, Shohih al-Bukhori, Bairut, 1987, bab mardho al-nabi, jilid 3; Ahmad bin Hanbal, ibid. Jilid 3, hal. 246.
[17] Shohih Muslim, jilid 3, kitab al-washiyah, hal. 1257.
[18] Shohih Muslim, jilid 3, kitab al-washiyah, hal. 1259.
[19] Ibnu Abil Hadid, ibid. Jilid 1, hal. 165.
[20] Syahrestani, ibid. Jilid 1, hal. 36.
[21] Thabari, ibid. Jilid 2, hal. 442; Ibnu Atsir, ibid. Hal. 219.
[22] Ibnu Abil Hadid, ibid. Jilid 2, hal. 20.
[23] Ibid. Jilid 6, hal. 10; “وَ الله مَا اضطَرَّکَ اِلَی هَذَا الاَمرِ اِلَّا الحَسَدُ لِابنِ عَمِّکَ” ; Thabari, ibid., jilid 3, hal. 109 dan jilid 2, hal. 446.
[24] Ibid.
[25] Untuk penjelasan lebih lanjut Anda bisa lihat buku Abu al-Hasan Asy’ari, Maqolat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushollin, hal. 10 dan Ibnu Abil Hadid, ibid. Jilid 2, hal. 212.
[26] Ibid. Jilid 2, hal. 271.