Hikmah Abadi Perjuangan Imam Hussain


Imam Husain Menurut Edward G Brown

Oleh “Abdullah Yusuf Ali

Halaman-halaman berikut adalah catatan dari pidato yang saya sampaikan di London pada Majlis Ashura pada hari Kamis 28 Mei, 1931 (Muharram 1350 H), di Hotel Waldorf. Catatan tersebut telah dikoreksi seperlunya dan sedikit diperluas. Majlis tersebut merupakan peringatan besar, yang dihadiri atas undangan dari Mr A.S M. Anik. Nawab Sir Umar Hayat Khan, Tiwana, para ketua dan anggota semua kelompok mazhab Islam, juga yang bukan Muslim, datang dengan penuh antusias dalam rangka menghormati peringatan Syuhada Agung Islam. Dengan menerbitkan dalam seri edaran Progressive Islam, diharapkan catatan ini bisa menjangkau publik yang lebih luas, tidak hanya para hadirin. Diharapkan juga, ini akan membantu memperkuat ikatan persaudaraan yang mempersatukan semua yang menginginkan persaudaraan sejati yang dianjurkan oleh Nabi pada khutbah terakhir beliau.

Kesedihan Sebagai Ikatan Persatuan

Saya akan berbicara pada siang hari ini tentang topik yang sangat serius, kesyahidan Imam Husain di Karbala, yang sedang kita peringati sekarang ini. Sebagaimana ketua majlis telah ungkapkan dengan tepat, peristiwa itu merupakan salah satu saat yang menakjubkan dalam sejarah agama kita, yang disepakati semua mazhab. Lebih dari itu, di ruangan ini saya mendapatkan kehormatan untuk berbicara kepada beberapa orang dari agama yang berbeda, tetapi saya memberanikan diri untuk berfikir bahwa pandangan yang akan saya kedepankan hari ini mungkin akan membuat mereka tertarik dari kepentingan aspek sejarah, moral dan spiritual. Sungguh, ketika kita melihat latar belakang dari tragedi besar tersebut dan semua yang terjadi pada 1289 tahun komariah yang lewat, kita tidak bisa memungkiri bahwa beberapa peristiwa menyedihkan dan kematian adalah hal-hal yang bisa membawa, atau mengarahkan kita kepada persatuan kemanusiaan.

Bagaimana Kesyahidan Menyembuhkan Perpecahan

Ketika kita mengundang orang tak dikenal atau tamu dan menerima mereka sebagai bagian dari keluarga, itu berarti menunjukkan besarnya keramahan kita kepada mereka. Peristiwa yang akan saya jelaskan merujuk kepada beberapa peristiwa yang menyentuh perasaan dalam aspek spiritual dari sejarah kita . Kita meminta saudara kita dari agama lain untuk hadir dan berbagi pemikiran yang terungkap dari peristiwa tersebut. Sesungguhnya, semua pemerhati sejarah mengakui bahwa horor yang terjadi pada peristiwa besar Karbala bahkan lebih bisa, dibanding cara lain, mempersatukan bermacam faksi yang bertikai pada periode awal sejarah Islam itu. Ada ungkapan lama Persia untuk menghormati Nabi:

“Tu barae wasl kardan amadi; Ni barae fasl kardan amadi” (Engkau datang untuk mempersatukan dunia, bukan memecahbelah).

Pernyataan ini telah diteladankan dengan indah oleh kesedihan, penderitaan dan akhirnya kesyahidan Imam Husain.

Peringatan Kemuliaan

Ada kecenderungan dalam sejarah kita untuk merayakan peristiwa dengan menangis dan meratap atau kadang dengan simbol seperti Tazia di India – beberapa orang menyebutnya Taboot (peringatan kesedihan dengan menyakiti badan). Simbolisme atau lambang yang nyata kadang berguna pada situasi tertentu untuk pengkristalan ide. Tapi saya pikir Muslim di India sekarang ini lebih siap untuk mengadopsi bentuk perayaan kesyahidan yang lebih efektip dengan merenungkan kemuliaan dari para syuhada, mencoba mengerti intisari dari peristiwa yang terjadi, dan mengambil pelajaran moral dan spiritual yang didapat untuk kehidupannya sendiri. Dari titik pandang itu saya pikir anda sepakat bahwa adalah bagus kita bisa duduk bersama, bahkan dari agama yang beda, dan mempelajari peristiwa besar sejarah dimana diteladankan kemuliaan yang menggetarkan jiwa seperti mereka yang teguh iman, yang keberaniannya bergeming, yang berfikir untuk kepentingan orang lain, yang rela mengorbankan diri, yang penuh ketabahan dalam kebenaran dan yang tidak gentar memerangi kebatilan. Islam punya catatan sejarah yang memperlihatkan keintiman yang indah, dengan penderitaan, dengan perjuangan spiritual yang tak ada bandingannya. Catatan sejarah yang sangat berharga tersebut, saya sesalkan, sering terlupakan. Sangatlah penting sekali untuk memberi perhatian kepada catatan sejarah itu, perhatian yang terus menerus, perhatian dari orang-orang kita sendiri, juga perhatian dari mereka yang tertarik dengan kebenaran sejarah dan agama. Jika ada yang bernilai dalam sejarah Islam itu bukanlah perang, atau politik, atau ekspansi yang brilian, atau penaklukan yang agung atau bahkan intelektualitas yang dicapai orang dahulu dan diturunkan kepada kita. Dalam segi ini, sejarah kita, seperti sejarah yang lain, punya kecemerlangan dan kegelapan. Apa yang perlu ditekankan adalah semangat persatuan dalam persaudaraan dari keberanian yang bergeming dalam kehidupan moral dan spiritual.

Rencana Pembahasan

Saya mengusulkan pertama-tama membahas latar belakang geografis dan sejarah. Kemudian secara singkat peristiwa aktual yang terjadi pada bulan Muharam dan akhirnya memberikan perhatian pada pelajaran agung yang bisa kita pelajari dari peristiwa itu.

Gambaran Geografis

Dalam rangka menjelaskan gambaran geografis diseputar tempat dimana tragedi besar ini terjadi, saya merasa beruntung punya ingatan pribadi tentang hal itu. Mereka membuat gambaran yang jelas di benak saya dan mungkin bisa membantu anda memahami. Ketika saya mengunjungi tempat-tempat itu pada tahun 1928, saya ingat saya datang dari Baghdad ke seluruh tempat yang dilewati oleh sungai Euphrat. Saat saya menyeberang sungai dengan perahu di Al-Musaiyib pada pagi yang cerah di bulan April, benak saya meloncat ke abad-abad yang lewat. Di sisi kiri aliran sungai anda mendapatkan tanah kuno klasik dari sejarah Babilonia, stasiun kereta Hilla, reruntuhan kota Babilon, menyaksikan salah satu peradaban kuno yang besar. Gambaran yang dikaburkan debu bahwa hanya pada tahun-tahun terakhir kita mulai menyadari kebesaran dan keagungannya. Lalu anda mendapatkan sistem aliran sungai besar Eufrat, dinamai Furat, sebuah sungai yang tiada bandingnya. Sumber air yang berhulu dari berbagai tempat di pegunungan Armenia Timur, mengalir kebawah meliuk-liuk melewati daerah perbukitan, dan akhirnya melingkari sisi gurun pasir, seperti yang kita ketahui sekarang. Disetiap tempat sungai bercabang atau terhubung dengan kanal, sungai itu merubah gurun menjadi daerah perkebunan buah-buahan, yang dalam ungkapan lukisan, telah membuat gurun mekar seperti mawar. Aliran ini melingkari sisi Timur gurun Suriah dan mengalir ke daerah rawa. Di bagian yang tidak jauh dari Karbala sendiri terdapat danau-danau yang menampung airnya dan menjadi sumber-air untuk keperluan hidup. Kebawah lagi sungai ini bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Tigris, dan gabungan aliran sungai ini dikenal sebagai Shatt-al-Arab yang mengalir ke Teluk Persia.

Air Melimpah Dan Tragedi Kehausan

Dari jaman dahulu bagian bawah Eufrat ini adalan perkebunan. Bayi dari peradaban awal, tempat pertemuan antara orang Sumeria dan Arab, dan kemudian antara orang Persia dan Arab. Tempat yang subur, pengairan yang bagus dengan pohon-pohon korma dan delima. Perkebunan penuh buah-buahan yang hasilnya dikirim ke kota-kota padat penduduk dan kegenitannya menarik Arab nomaden dari gurun dengan ternak gembalaannya. Sangatlah tragis bahwa di bagian batas dari tempat air melimpah, telah terjadi tragedi terhadap orang orang mulia yang kehausan dan dibantai karena menolak tunduk kepada kekuatan batil. Kata-kata penyair Inggris: ”Air, Air dimana-mana tapi tiada setetes minuman.” membantu gambaran anda tentang daerah perbatasan antara air melimpah dan tanah yang tandus ini.

Karbala dan Kubahnya Yang Besar

Saya masih ingat suasananya ketika saya mendekati Karbala dari arah Timur. Sinar mentari pagi menyinari Gumbaz-i-Faiz, kubah besar yang memahkotai bangunan tempat makam Imam Husain. Karbala sebenarnya terletak pada salah satu rute kafilah besar yang melintasi gurun. Kota sungai Kufa sekarang, yang dahulu pernah jadi ibukota kekhalifahan, hanyalah sebuah dusun kecil dan kota Najaf terkenal dengan makam Imam Ali, tapi kecil nilai komersilnya. Karbala, terletak di batas gurun, adalah sebuah pasar dan tempat pertemuan juga tempat ziarah suci. Tempat ini merupakan pelabuhan di gurun, mirip seperti Basra, yang terletak ke bawah lagi, yang merupakan pelabuhan di Teluk Persia. Jalan ke petirahan (mausoleum) terawat dengan indah, dan dilewati peziarah sepanjang tahun dari seluruh dunia. Lantai yang tersusun penuh warna menghiasi bangunan. Ke bagian dalam, di langit-langit dan bagian atas dinding, dipenuhi mosaik kaca. Kaca yang menangkap dan memantulkan cahaya. Pantulan cahaya yang menyorot dikombinasikan dengan ketenangan bangunan tertutup. Makamnya sendiri seperti pagar bergaris-garis, dan dibawah permukaannya ada bentuk gua, tempat dimana Syuhada menemui kesyahidan. Kota Najaf terletak sekitar 40 mil ke arah Selatan, dengan makam Imam Ali di lantai yang tinggi. Anda bisa melihat kubah emas dari jarak bermil-mil. Hanya empat mil dari Najaf dan terhubung dengan jalur trem, adalah reruntuhan kota Kufah. Mesjidnya besar tapi jarang dipergunakan. Kubah biru dan Mihrab dengan lantai keramik menjadi saksi kebesaran tempat ini pada jaman dahulu.

Kota-Kota Dan Kebudayaannya

Bangunan-bangunan di Kufa dan Basra, dua tempat dari Kerajaan Islam pada tahun ke 16 Hijriah, adalah simbol nyata bagaimana Islam memperlihatkan kekuasaannya dan membangun peradaban, tidak hanya dari aspek militer, tapi bidang moral dan sosial dan bidang ilmu pengetahuan dan seni. Kota-kota kuno yang merosot tidak mengisi sistem nilainya, kecuali dengan kekunoan dan kemerosotan yang tergantikan. Tidak juga diisi oleh sistem nilai pada awal kota terbentuk. Sistem nilai itu akan selalu dinilai, diuji, dibuang dan diperbaharui oleh karya tangannya sendiri. Selalu ada pihak yang bertahan dengan sistem nilai kuno, seperti kota Damaskus misalnya, yang mencintai kemudahan hidup dan jalan yang sedikit tantangan. Tetapi jiwa-jiwa yang besar berkembang mencapai gagasan-gagasan baru, juga tempat-tempat baru. Mereka merasakan bahwa sistem nilai lama penuh dengan kebusukan yang membahayakan untuk meraih nilai kehidupan yang lebih tinggi. Bentrokan diantara sistem nilai ini adalah bagian dari tragedi Karbala. Di balik bangunan kota-kota baru ini sering lahir pengembangan gagasan-gagasan baru. Mari kita perhatikan permasalahannya lebih rinci lagi. Akan terungkap dan mengalir keluar bagian menarik dari sejarah yang tersembunyi.

Perkembangan Kota Mekah dan Madinah

Kota-kota besar Islam pada kelahirannya adalah Mekah dan Madinah. Kota Mekah, pusat ziarah Arab kuno tempat lahir Nabi, menolak ajaran Nabi dan mengusirnya keluar. Sistem pemujaannya sudah merosot, sistem kesukuan yang eksklusif sudah merosot, kegarangannya terhadap Guru dari Cahaya Baru sudah merosot. Nabu mengibas debu di kakinya dan pergi ke Madinah. Kota itu adalah Yastrib, dengan air melimpah dan dengan populasi Yahudi yang cukup besar. Kota itu menerima Nabi dengan antusiasme terhadap ajaran Nabi, dan memberikan perlindungan kepadanya dan sahabatnya (Muhajirin) dan penolongnya (Anshar). Nabi mereformasi dan menamakannya Kota Cahaya baru. Mekah, dengan pemujaan kuno dan kepercayaan kuno, mencoba menaklukan Cahaya baru ini dan menghancurkannya. Jumlah orang Mekah lebih banyak. Tetapi rencana Tuhan memenangkan Cahaya dan menaklukkan Mekah kuno. Nabi membangun sambil menghancurkan bentuk pemujaan kuno, dan menyalakan mercusuar baru di Mekah – mercusuar dari persatuan Arab dan persaudaraan manusia. Saat Nabi wafat, semangatnya tetap tinggal. Semangat yang menginspirasikan masyarakatnya dan membuat kemenangan demi kemenangan. Ketika kemenangan moral atau spiritual dan materi jalan bersamaan, semangat kemanusiaan ikut berkembang. Tetapi kadang ada kemenangan materi dengan kejatuhan spiritual, dan kadang ada kemenangan spiritual dengan kejatuhan materi, dan kemudian terjadilah tragedi.

Semangat Damaskus

Perkembangan Islam pertama adalah ke arah Suriah, dimana kekuasaan terpusat di kota Damaskus. Diantara kota yang ada, mungkin kota ini tertua di dunia. Pasarnya ditumpahi oleh orang-orang dari seluruh bangsa dan kemewahan dari segala bangsa ada disini. Jika anda datang ke arah Barat dari gurun Suriah, seperti yang saya lakukan, akan merasakan perbedaan yang jelas, perbedaan negara dan orang-orangnya. Dari pasir gurun kering anda datang ke mata air, kebun-kebun anggur, anggrek dan bising kota. Dari Arab yang sederhana, kekar, merdeka dan jujur anda datang ke Suriah yang lembut, mewah dan rumit. Perbedaan ini dipaksakan kepada kaum muslim ketika Damaskus menjadi kota Islam. Mereka ada dalam atmosfir yang beda. Beberapa larut dalam pengaruh lembut dari ambisi, kemewahan, kebanggaan ras, cinta kemudahan dan sebagainya. Islam selalu berdiri sebagai juara kemuliaan moral yang tegas. Dia tidak berkompromi dengan kejahatan dalam berbagai bentuk, dengan kemewahan, dengan kemalasan, dengan kegenitan duniawi. Dia menolak diri dari hal-hal tersebut. Walaupun begitu orang yang seharusnya berbuat begitu, menjadi lembek di Damaskus. Mereka meniru pangeran dunia yang merosot dibanding bertahan menjadi pemimpin pemikiran spiritual. Disiplin dikendurkan dan gubernur berambisi menjadi lebih besar daripada Khalifah. Hal ini melahirkan buah pahit di kemudian hari.

Tipuan-Tipuan Kekayaan

Sementara itu Persia masuk ke dalam kekuasaan Muslim. Ketika Medain dikuasai di tahun 16 Hijriah, pertempuran Jalula menghancurkan pertahanan Persia, pampasan perang dibawa ke Madinah- permata, mutiara, rubi, berlian, pedang emas dan perak. Perayaan besar diadakan untuk menghormati kemenangan besar dan pahlawan-pahlawan tentara Arab. Di tengah perayaan mereka menemukan Khalifah sedang menangis. Seseorang bertanya kepadanya, ”Apa! Waktu bergembira dan engkau menangis?” ”Ya.”, ujarnya ”Aku meramalkan kekayaan akan menjadi tipuan, sumber keduniawian dan dengki, dan akhirnya malapetaka pada rakyatku.” Karena Arab menghargai, diatas segalanya, kesederhanaan hidup, keterbukaan, dan keberanian di depan bahaya. Wanitanya bertempur bersama mereka dan berbagi bahaya. Mereka bukan makhluk yang terpenjara oleh kesenangan indrawi. Mereka menunjukkan kegagahan pada ronde awal pertempuran di daerah kepala Teluk Persia. Ketika tertekan, wanita mereka membalikkan keadaan. Mereka membuat kerudung menjadi bendera dan ikut berbaris dalam barisan tempur. Lawan salah menafsirkan dan menganggapnya sebagai bantuan pasukan baru dan meninggalkan pertempuran. Kemudian kekalahan yang menghampiri berbalik menjadi kemenangan.

Basra dan Kufah: Perencanaan Kota

Di Mesopotamia muslimin tidak membuat basis kekuasaannya pada kota-kota Persia kuno dan merosot, tetapi membangun tempat baru untuk mereka. Pertama kali dibangun adalah Basra di daerah kepala Teluk Persia, di tahun 17 Hijriah. Dan menjadi Kota Besar! Bukan kebesaran dalam perang dan penaklukan, bukan pula dalam perdagangan dan jual beli, tetapi dalam pengetahuan dan kebudayaan pada puncaknya; tapi sayangnya ! Juga kebesaran dalam semangat perpecahan dan kemerosotan pada hari-hari buruknya ! Tetapi juga situasi dan iklimnya tidak cocok sama sekali untuk karakter Arab. Kota ini rendah, lembab dan melelahkan. Di tahun yang sama orang Arab membangun kota lain dekat Teluk dan berfungsi sebagai pelabuhan di gurun, sama seperti Karbala di kemudian hari. Kota ini adalah Kufah, dibangun pada tahun yang sama seperti Basra, tapi dengan iklim yang lebih segar. Kota ini merupakan kota ekperimen pertama kali yang dibangun dengan perencanaan dalam pemerintahan Islam. Di pusat kota ada kompleks untuk mesjid besar. Kompleks ini dikitari dengan jalan-jalan yang sejuk karena ditutupi bayangan. Kompleks lain dibuat terpisah khusus untuk lalu lintas perdagangan. Jalan-jalan lurus saling bersimpangan dan lebar jalan dibuat sama. Jalan umum utama untuk lalu lintas (jangan bayangkan seperti lalu lintas di Charing Cross, Inggris) dibuat dengan lebar 60 kaki, jalan yang lebih kecil lebarnya 30 kaki, dan bahkan ada jalur kecil untuk pejalan kaki yang diatur sebesar 10.5 kaki. Kufa merupakan pusat pencerahan dan belajar. Imam Ali tinggal dan wafat disana.

Saingan dan Racun Damaskus

Tetapi saingannya, kota Damaskus, ditambunkan oleh kemewahan dan kebesaran Byzantium. Kejayaan yang keropos menggantikan dasar-dasar kesetiaan dan kemuliaan militer. Racun itu menyebar ke seluruh dunia Islam. Gubernur ingin menjadi raja. Kemegahan dan cinta diri, kemudahan dan kemalasan dan foya foya tumbuh sebagai kanker; anggur dan minuman keras, skeptisisme, sinisme dan penyakit sosial menjadi ganas sampai-sampai manusia-manusia Tuhan ditenggelamkan oleh pelecehan. Mekah, yang menjadi simbol pusat spiritual, diabaikan dan dilecehkan. Damaskus dan Suriah menjadi pusat keduniawian dan kesombongan yang memotong akar-akar Islam.

Husain Yang Benar Menolak Tunduk Kepada Keduniawian Dan Kekuasaan

Kita telah memasuki cerita pada tahun 60 Hijriah. Yazid memegang kekuasaan di Damaskus. Dia tidak peduli kepada kesucian manusia. Dia bahkan tidak tertarik pada masalah sehari-hari pemerintahan. Kesukaannya adalah berburu dan dia haus kuasa untuk kebanggaan diri. Disiplin dan penjagaan diri, keteguhan iman dan perjuangan, kemerdekaan dan persamaan sosial yang menjadi motif dasar kekuatan Islam telah dipisahkan dari kekuasaan. Mahkota Damaskus menjadi mahkota keduniawian yang didasarkan kepentingan diri pribadi dan kebesaran keluarga, menggantikan pemerintahan spiritual dengan rasa tanggungjawab ilahiah. Ada satu orang yang bisa melawan arus. Dia adalah Imam Husain. Cucu Nabi ini, berbicara tanpa takut, karena takut adalah hal asing baginya. Tetapi hidup yang bersih dan tak ternoda ini dengan kesuciannya menjadi kehinaan bagi yang punya standar lain. Mereka berupaya membuatnya tutup mulut, tapi dia tidak tutup mulut. Mereka berusaha menyuapnya, tapi dia tidak bisa disuap. Mereka berupaya memperdaya dengan menawarkan kekuasaan. Lebih jauh lagi, mereka menginginkannya mengakui kekuasaan tiran dan mendukungnya. Karena mereka tahu bahwa nurani orang bisa bangkit suatu saat dan menyapu mereka, kecuali jika orang suci ini mendukung cara mereka. Orang suci ini lebih bersiap untuk mati daripada menyerahkan prinsip yang dibelanya.

Bergerak Dari Kota Ke Kota

Madinah merupakan pusat tempat Husain mengajar. Mereka membuat dia tidak dapat tinggal di Madinah. Dia meninggalkan Madinah dan pergi ke Mekah, berharap supaya tidak diganggu. Tetapi dia tetap diganggu. Kekuasaan Suriah menginvasi Mekah. Invasi ini ditentang, bukan oleh Husain, tapi oleh orang lain. Karena Husain, orang paling berani diantara yang berani, tidak punya tentara dan persenjataan. Keberadaannya sendiri sudah menjadi gangguan dimata lawannya. Hidupnya dalam bahaya, dan juga hidup orang-orang dekat dan kerabatnya. Dia punya banyak teman, tapi takut untuk bicara. Mereka tidak seberani Husain. Tapi jauh di Kufah, sekelompok orang berkata:”Kita merasa risih dengan keadaan ini, kita harus mengajak Imam Husain berlindung di tempat kita.” Jadi mereka mengirim orang dan mengundang Imam untuk meninggalkan Mekah, untuk datang ke mereka, tinggal di antara mereka, dan mendapatkan kehormatan untuk menjadi pengajar dan pembimbing. Ingatan kepada ayahnya masih lekat di Kufah. Gubernur Kufah bersikap bersahabat dan penuh hasrat untuk menerimanya. Kufah, 40 mil dari Karbala, adalah alasan dari Tragedi Karbala. Sementara Kufah sekarang memudar, Karbala tetap ada sebagai simbol kenangan abadi dari kesyahidan.

Undangan dari Kufah

Ketika undangan Kufah sampai ke Imam, beliau merenungkannya, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan, dan berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya. Dia mengirim sepupunya Muslim untuk mempelajari situasi langsung di tempatnya dan melaporkan kepadanya. Laporan hasil pengamatannya bagus, dan dia memutuskan untuk pergi. Dia tetap mencium adanya bahaya. Banyak sahabatnya di Mekah menganjurkan untuk membatalkannya. Tapi bisakah dia menggagalkan misinya ketika Kufah memanggilnya? Apakah dia seorang yang bisa dicegah, karena musuhnya telah berkomplot kepadanya, di Damaskus dan di Kufah? Setidaknya, dia disarankan untuk tidak mengajak keluarganya. Tetapi keluarga dan kerabat dekatnya tidak mau mendengar. Mereka adalah keluarga yang solid, terkenal karena kebersihan dari hidup mereka, kebaikan dan kasih sayang mereka. Jika kepala keluarga dalam bahaya, mereka akan membelanya. Imam tidak pergi hanya untuk acara kunjungan. Ada tanggungjawab yang diemban, dan mereka harus bersamanya untuk mendukungnya, tak perduli dengan resiko dan konsekwensi yang dihadapi. Kritik rendahan menganggap ada ambisi politik dari Imam. Tetapi apakah seorang dengan ambisi politik datang tanpa pasukan, melawan sesuatu yang disebut musuh negara, yang telah berniat jahat untuk menaklukannya dengan menggunakan seluruh kemampuannya dalam bidang politik, militer, politik dan finansial terhadapnya?

Perjalanan Melewati Gurun Pasir

Imam Husain meninggalkan Mekah ke Kufah dengan seluruh keluarganya termasuk anak-anaknya. Berita yang datang kemudian membingungkan. Gubernur, yang lebih ramah, telah digantikan dengan yang baru yang lebih kejam dan siap untuk melaksanakan rencana Yazid. Jika Husain jadi pergi, dia harus pergi dengan cepat atau teman-temannya dalam bahaya. Di pihak lain, Mekah sendiri tidak lebih aman untuk dia dan keluarganya. Saat itu bulan September dan tidak ada orang yang bepergian melewati gurun dengan panas seperti itu. Dalam tahun komariah, saat itu adalah bulan haji di Mekah. Tetapi dia tidak berhenti untuk berhaji. Dia jalan terus, dengan keluarga dan kerabatnya, dengan jumlah sekitar 90 sampai 100 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Mereka menempuh 900 mil melewati gurun pasir dalam waktu 3 minggu lebih. Ketika hampir sampai ke Kufah, di batas gurun, mereka bertemu dengan orang Kufah. Saat itulah terdengar berita pembunuhan Muslim, sepupu Husain, yang telah dikirim lebih dahulu. Seorang penyair melukiskan keadaan itu sebagai ”Kota yang hatinya bersamamu tapi pedangnya bersama lawanmu dan permasalahannya ada di tangan Tuhan” Apa yang harus dilakukannya? Mereka sudah melewati tiga minggu perjalanan meninggalkan Mekah. Di kota tujuan, utusan mereka telah dibunuh termasuk anaknya. Mereka tidak tahu situasi kota Kufah. Tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengecewakan teman-temannya di Kufah.

Memilih Menyerah Atau Mati

Utusan dari Kufah datang, dan Imam diminta untuk menyerah. Imam Husain menawarkan tiga pilihan. Dia tidak menginginkan kekuasaan atau balas dendam. Dia berkata: ”Aku datang untuk membela orang-orangku. Jika aku terlambat, berikan aku tiga pilihan: Kembali ke Mekah atau menghadapi Yazid sendiri di Damaskus atau jika kehadiranku tidak kau atau dia sukai, aku tidak berniat menyebabkan perpecahan diantara kaum muslimin. Biarkan aku pergi ke tapal batas yang terjauh, jika pertempuran tak terelakkan, aku akan bertempur melawan musuh Islam.” Semua pilihan ini ditolak. Mereka hanya menginginkan untuk menghancurkan hidupnya, atau yang lebih baik, membuatnya menyerah, menyerah kepada kekuatan yang ditentangnya, untuk menyatakan ketaatan kepada mereka yang telah melanggar hukum Tuhan dan manusia, dan untuk mentoleransi semua penyalahgunaan yang merendahkan Islam. Sudah pasti dia tidak akan menyerah. Tapi apa yang harus dilakukannya ? Dia tidak punya pasukan. Dia punya alasan untuk percaya bahwa banyak kawannya dari tempat-tempat jauh akan mendatanginya, datang dan membelanya dengan pedang dan tubuhnya. Tapi waktu sangat penting, dan dia tidak akan mendapatkannya dengan berpura-pura tunduk. Dia berputar ke kiri sedikit, ke arah yang akan mengantarkannya ke Damaskus, tempat Yazid sendiri. Dia berkemah di dataran Karbala.

Pemutusan Sumber Air –Keinginan Teguh, Pengabdian dan Kekesatriaan

Selama sepuluh hari pesan-pesan dikirim bolak-balik antara Karbala dan Kufah. Kufah menginginkannya menyerah dan tunduk. Hal yang tidak bisa dikabulkan Imam. Setiap pilihan lainnya ditolak oleh Kufah, dibawah perintah Damaskus. Sepuluh hari itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Muharam, tahun 61 Hijriah. Krisis terakhir terjadi pada hari ke sepuluh, Asyura, yang kita peringati sekarang. Selama tujuh hari pertama berbagai tekanan dialami Imam, tapi keinginannya tetap teguh. Ini bukanlah tentang pertempuran, karena cuma ada 70 laki-laki melawan 4000. Kelompok kecil ini dikelilingi dan dihina, tapi mereka tetap solid sehingga tidak bisa diganggu. Hari ke delapan sumber air di putus. Sungai Eufrat yang melimpah ada dalam jangkauan mata tapi dihalangi untuk mendapatkannya. Kepahlawanan pemuda ditunjukkan untuk memperoleh air. Tantangan bertempur satu lawan satu, sesuai tradisi Arab, ditawarkan. Lawan menjadi ciut, ketika orang-orangnya Imam berkelahi berani mati dan bisa merobohkan mereka. Pada malam hari ke sembilan, anak Imam yang masih kecil sakit. Dia menderita demam dan sangat kehausan. Mereka mencoba mendapatkan setetes air. Tapi ditolak mentah mentah dan kemudian memutuskan, daripada menyerah, bertarung sampai mati. Imam Husain menawarkan orang-orangnya untuk pergi. Dia berkata: ”Mereka mengincarku, keluargaku dan orang-orangku bisa kembali ke Mekah”. Tapi semua orang menolak untuk pergi. Mereka akan bertahan sampai akhir dan memang terjadi. Mereka bukan pengecut, mereka dilahirkan dan dibesarkan untuk bertempur, dan mereka bertempur seperti pahlawan, dengan pengabdian dan kekesatriaan.

Penderitaan Terakhir –Wajah Tenang Manusia Tuhan

Pada hari Asyura, hari kesepuluh, Imam Husain sendiriam dikelilingi musuhnya. Dengan penuh keberanian hingga saat akhir. Dia dengan kejam dibantai. Kepalanya yang suci dipenggal ketika shalat. Pesta kemenangan yang sangat biadab dirayakan di atas mayatnya. Pada saat kritis ini kita tahu rincian kejadian setiap jam. Dia menderita 45 luka dari pedang dan tombak musuh, dan 35 tusukan anak panah. Tangan kirinya dipotong, dan tombak menghujam dadanya. Setelah semua penderitaan ini, kepalanya dipancangkan di tombak, wajahnya penuh ketenangan sebagai manusia Tuhan. Semua laki-laki gagah dari kelompoknya dibunuh dan mayatnya terinjak-injak kaki kuda. Hanya satu laki-laki yang tersisa, Ali anak Husain, dengan panggilan Zainul Abidin – ”Perhiasan Ketaatan”. Dia tinggal dalam keterasingan, belajar, menafsirkan dan mengajarkan prinsip-prinsip ketinggian spiritual yang diperoleh dari ayahnya sepanjang hidupnya.

Kepahlawanan Wanita

Ada contoh keteladanan dari wanita. Dari Zainab saudara dari Imam, Sakina anak perempuan kecilnya dan Sharibanu, istrinya di Karbala. Bertumpuk literatur sastra Islam dipersembahkan, mengabadikan kejadian yang menyentuh hati ini. Bahkan dalam airmata dan dukacita mereka ada kepahlawanan. Mereka meratapkan tragedi itu dalam kesederhanaan, cinta kasih, dan sangat manusiawi. Tetapi mereka juga menyadari kemuliaan dari pengalaman yang dialami sendiri, tentang hidup dalam kebenaran mencapai puncaknya dengan mahkota kesyahidan. Salahsatu penyair terkenal yang mengungkap kejadian ini adalah penyair Urdu, yang tinggal di Lucknow, dan wafat di tahun 1874.

Pelajaran dari Tragedi

Telah dituturkan ceritanya dengan singkat. Apa yang dapat diambil sebagai pelajaran? Tentunya ada penderitaan fisik dalam kesyahidan, dan semua kesedihan dan penderitaan mendapatkan simpati kita, – simpati yang paling dalam, murni dan besar yang kita bisa berikan. Tetapi ada penderitaan yang lebih besar daripada penderitaan fisik. Itu adalah ketika jiwa yang penuh kegagahan bangun melawan dunia; ketika niat yang mulia dilecehkan dan diolok, ketika kebenaran menemui kebuntuan. Bahkan jika sepatah kata penyerahan, sedikit melonggarkan perlawanan, banyak penderitaan dan kesedihan bisa dielakkan; dan tetap kalimat yang hangat tetap dibisikkan: ”Pada akhirnya kebenaran tidak akan bisa musnah”. Ini sangatlah benar. Kebenaran abstrak tidak punah. Itu diluar nalar manusia. Tapi keseluruhan pertempuran dipersembahkan untuk manusia yang berpegang pada kebenaran. Dan hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan keteladanan tinggi- perjuangan spiritual dan bertahan dalam penderitaan untuk keteguhan iman dan tujuan, kesabaran dan keberanian dimana orang biasa akan menyerah atau takluk, pengorbanan kepada tujuan kebenaran dengan mengabaikan konsekwensi yang ada. Para syahid menjadi saksi, dan berhasil, yang pada saat lain disebut kegagalan. Ini terjadi pada Husain. Karena semua orang menjadi tersentuh dengan kasyahidan Husain, dan itu menjadikan kematian politik kepada Damaskus dan semua prinsip-prinsip yang dianutnya. Muharam masih memberikan kekuatan untuk bersatu kepada semua mazhab Islam, dan juga memberikan pesona kekuatan kepada non-muslim.

Pencari Spiritual

Itulah, menurut saya, yang jadi nilai penting utama dari kesyahidan. Semua sejarah manusia menunjukkan semangat kemanusiaan bertahan dalam berbagai bentuk, mendapatkan kekuatan dan ketahanan dari banyak sumber. Tubuh kita, kekuatan fisik kita, telah berkembang dan berevolusi dari bentuk awal, setelah berbagai perjuangan dan kekalahan. Dunia intelektual kita punya cerita kesyahidan sendiri dan para pencari agung intelektual sering pergi dengan semangat kesyahidan. Semua penghormatan untuk mereka. Tetapi kehormatan tertinggi harus dialamatkan kepada para pencari agung dalam spiritualitas, mereka yang menghadapi hal yang menakutkan dan menolak takluk kepada kejahatan. Daripada membiarkan kehinaan dikaitkan dengan kesucian, mereka membayar dengan hidupnya sebagai akibat dari perlawanan. Bentuk pertama perlawanan yang dilakukan Imam adalah ketika dia berjalan dari kota ke kota, diburu dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tetap tidak berkompromi dengan kejahatan. Kemudian datang pilihan efektif tetapi berbahaya, untuk membersihkan rumah Tuhan, atau hidup penuh kemudahan untuk diri sendiri yang secara tidak langsung akan mengorbankan kawan-kawan seperjuangannya. Dia memilih jalan yang berbahaya dengan pengabdian dan kehormatan, dan tidak goyah menyerahkan nyawanya dan dengan penuh keberanian. Kisahnya memurnikan perasaan kita. Kita memberikan penghormatan terbaik kepadanya dengan menerima pelajaran keberanian dan keteguhan.

Akhirnya Kutemukan Kebenaran


Akhirnya Kutemukan Kebenaran

Oleh “Dr. Muhammad Tijani as Samawi

Banyak sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Ahlul Bait (Syi’ah Imamiah Itsna Asyariyah). Dan tidak mungkin bagiku menyebutnya secara rinci di sini kecuali sebagiannya saja.

[1] Nas Khilafah

Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki pembahasan ini untuk tidak berpegang pada sebarang dalil melainkan ia benar-benar dianggap shahih oleh kedua mazhab, dan membiarkan setiap dalil yang hanya diriwayatkan oleh satu mazhab saja. Kemudian aku mulai menelaah tentang pemilihan (khilafah) antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, dan khilafah (kekhalifahan) pada dasarnya apakah hak Ali bila dilihat dari sisi nash seperti yang diklaim oleh mazhab Syi’ah, atau ditentukan oleh syura seperti yang dikatakan oleh mazhab Sunni. Apabila mereka yang menelaah subjek ini benar-benar tulus untuk mencari sebuah kebenaran, maka mereka akan dapati bahwa nash yang mengatakan Ali sebagai khalifah adalah nash yang tak terbantahkan. Seperti sabda Nabi saw: “Siapa yang menganggap aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali sebagai maulanya”. Hadis ini beliau ucapkan sekembalinya beliau dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan haji wada’. Usai pengangkatan, berduyun-duyun orang datang mengucapkan selamat kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata: “Selamat untukmu wahai Putera Abu Thalib. Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin, laki-laki dan perempuan”.[1]

Hadis ini telah disepakati keabsahannya oleh Sunni dan Syi’ah. Referensi yang kusebutkan dalam telaahku ini adalah referensi yang berasal dari Ahlu Sunnah saja. Itupun bukan semua. Karena yang semestinya adalah jauh lebih banyak dari apa yang kusebutkan. Untuk memperoleh dalil-dalil yang lebih rinci aku mengajak para pembaca untuk menelaah kitab al Ghadir karya al Allamah al Amini. Buku ini setebal tiga belas jilid. Dan penulisnya telah mendaftarkan nama para perawi hadis ini dari golongan Ahlu Sunnah yang cukup banyak. Adapun ijma’ yang dinyatakan sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di Saqifah Bani Sa’idah, lalu kemudian ia dibaiat di masjid adalah pernyataan yang tidak kokoh. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai ijma’ sementara sejumlah pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan anggota Bani Hashim yang lain tidak ikut serta membaiatnya. Begitu juga Usamah bin Zaid, Zubair, Salman al Farisi, Abu Dzar al Ghifari, Miqdad bin al Aswad, Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Thabit, Abu Buraidah al Aslami, Barro’ bin Azib, Ubay bin Ka’ab, Sahal bin Hunaif, Sa’ad bin Ubadah, Qais bin Sa’ad, Abu Ayub al Anshori, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Sa’ ad dan lain sebagainya.[2]

Di mana ijma’ yang dikatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya hanya Ali saja yang tidak membaiat, maka itu sudah cukup sebagai bukti tercelanya ijma’ seumpama itu. Hal ini karena beliau adalah satu-satunya calon Khalifah yang ditunjuk oleh Rasul saw, apabila kita katakan bahwa nash tersebut tidak menunjuknya sebagai khalifah secara eksplisit. Sebenarnya bai’ at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai’at itu diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal ‘aqdi, sedang bingung dan sibuk dalam mengurus jenazah Nabi saw. Saat itu penduduk kota Madinah sedang berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk mem bai’ at sang khalifah.[3] Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara musyawarah dan ijma’? Umar sendiri pernah berkata bahwa bai’at yang diambil waktu itu adalah tergesa-gesa, dan Allah telah memelihara kaum muslimin dari kejahatannya. Beliau juga berkata bahwa siapa saja yang mengulangi cara bai’at seperti itu, ia mesti dibunuh, atau paling tidak bai’atnya tidak sah dan tidak diakui.[4]

Imam Ali pernah berkata tentang haknya ini, yang antara lain: “Demi Allah, Ibnu Abi Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khilafahku) sedangkan beliau tahu bahwa kedudukanku dengan khilafah ini bagaikan kedudukan kincir dengan roda”[5] (Nahjul Balaghah). Sa’ad bin Ubadah pemuka kaum Anshar yang menyerang Abu Bakar dan Umar di hari Saqifah dan berusaha mati-matian untuk mencegah mereka dari jabatan khilafah, namun tak mampu karena sakit dan tak dapat berdiri, pernah berkata setelah kaum Anshar membaia’t Abu Bakar: “Demi Allah, sekali-kali Aku tidak akan membai’at kalian sampailah kulemparkan anak-anak panahku dan kulumurkan tombakku serta kupukulkan pedangku dan kuperangi kalian bersama-sama keluarga dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membai’at kalian niscaya aku tetap tidak akan memberikannya, sampai aku berjumpa dengan Tuhanku.” Sa’ad bin Ubadah tidak shalat sama-sama mereka dan tidak ikut serta kumpul bersama mereka bahkan tidak mau haji bersama-sama mereka. Seandainya ada sekelompok orang yang mau memerangi mereka niscaya ia akan membantunya. Dan seandainya ada orang yang membaiatnya untuk memerangi mereka niscaya ia akan perangi. Begitulah sikap Sa’ad terhadap Abu Bakar sampai beliau wafat di Syam pada periode pemerintahan Umar.[6]

Apabila bai’at tersebut dilakukan secara tergesa-gesa di mana Allah telah memelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang disinyalir oleh Umar sendiri, arsitektur rencana ini dan tahu akibat yang akan diderita oleh kaum muslimin karenanya. Dan apabila khilafah ini merupakan “pakaian” Abu Bakar saja, (seperti yang diibaratkan oleh Imam Ali karena dia bukan empunya yang sah). Dan apabila bai’at ini diambil secara zalim seperti vang dikatakan oleh Sa’ad bin Ubadah, pemuka Anshor yang memisahkan diri dari jamaah karenanya. Dan apabila bai’at ini tidak sah secara syari’at mengingat sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas paman Nabi tidak memberi-nya, lalu apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abu Bakar? Jawabnya: tidak ada alasan dari kalangan Ahlu SunnahWal Jamaah. Dengan demikian maka benarlah alasan dan hujjah Syi’ah dalam hal ini, karena nash tentang kehalifahan Ali nyata ada dalam Ahlu Sunnah sendiri, namun mereka telah menakwilkannya karena ingin memelihara “kemuliaan” sahabat. Tetapi bagi orang yang insaf dan adil, dia tidak akan memperoleh sebarang alasan kecuali harus menerima kenyataan nash ini. Terutama apabila ia ketahui rangkaian peristiwa yang menyelubungi sejarah ini.[7]

[2] Perselisihan Antara Fatimah Dan Abu Bakar

Masalah ini juga telah disepakati kebenarannya oleh dua mazhab, Sunni dan Syi’ah. Orang yang insaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus mengatakan bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang keliru dalam perselisihannya dengan Fatimah, meskipun ia tidak menolak fakta bahwa Abu Bakar pernah rnenzalirni Perempuan Penghulu Alam semesta ini. Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Fatimah Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bih Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Di antaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah Zahra’, (semoga Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali. Mereka menjawab: ”Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai’at kami pada orang ini (Abu Bakar). Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului Abu Bakar niscaya kami tidak akan berpaling darinya.” Ali berkata: “apakah aku harus tinggalkan Nabi di rumahnya dan tidak kuutus jenazahnya, lalu keluar berdebat tentang kepemimpinan ini?” Fatimah menyahut, “Abul Hasan (Ali) telah melakukan apa yang sepatutnya beliau lakukan, sementara mereka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya.”[8]

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiaannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun. Semua ini telah menyebabkan Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya.[9] Untuk pembuktian ini saya sendiri telah berangkat ke Madinah untuk memastikan kebenaran fakta sejarah ini. Di sana kudapati bahwa pusaranya memang masih tidak diketahui oleh siapa pun. Sebagian berkata ada di Kamar Nabi, dan sebagian lain berkata ada di rumahnya yang berhadapan dengan Kamar Nabi. Ada juga yang berpendapat bahwa pusaranya terletak di Baqi’, di tengah-tengah pusara keluarga Nabi yang lain. Tapi tiada satupun pendapat yang berani memastikan dimana letaknya.

Alhasil, aku berkesimpulan bahwa Fatimah Zahra’ sebenarnya ingin melaporkan kepada generasi muslimin berikutnya tentang tragedi yang disaksikannya pada zamannya, agar mereka bertanya-tanya kenapa Fatimah sampai memohon pada suaminya agar dikebumikan di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun. Hal ini juga memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada sebuah kebenaran lewat telaah-telaahnva yang intensif dalam bidang sejarah. Aku juga mendapati bahwa penziarah yang ingin berziarah ke kuburan Utsman bin Affan terpaksa harus menempuh jalan yang cukup jauh agar bisa sampai ke sudut akhir dari wilayah tanah pekuburan Jannatul Baqi’. Di sana dia juga akan dapati bahwa kuburan Utsman berada persis di bawah sebuah dinding, semantara kebanyakan sahabat lain dikuburkan di tempat yang berhampiran dengan pintu masuk Baqi’. Hatta Malik bin Anas, imam mazhab Maliki, seorang Tabi’it-Tabi’in (generasi keempat setelah Nabi) juga dikuburkan dekat dengan istri-istri Nabi.

Hal ini bagiku bertambah jelas apa yang dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Utsman dikuburkan di Hasy Kaukab, sebidang tanah milik seorang Yahudi. Pada mulanya kaum muslimin melarang jasad Utsman dikebumikan di Baqi’. Ketika Mua’wiyah menjabat sebagai khalifah dia beli tanah milik si Yahudi, kemudian memasukkannya sebagai bagian dari wilayah Baqi’, agar kuburan Utsman juga termasuk di dalamnya. Mereka yang ziarah ke Baqi’ pasti akan dapat melihat hakekat ini dengan jelas sekali. Aku semakin heran ketika kuketahui bahwa Fatimah Zahra’ as adalah orang pertama yang menyusul kepergian avahnva. Antara wafat Rasul dengan wafat Fatimah hanya dipisahkan selang waktu enam bulan saja. Demikian pendapat sebagian ahli sejarah. Tapi -anehnya-beliau tidak dikuburkan di sisi ayahnya! Apabila Fatimah Zahra’ berwasiat agar dikebumikan secara rahasia, dan beliau tidak dikuburkan dekat dengan pusara ayahnya seperti yang disebutkan di atas, lalu apa pula gerangan yang terjadi dengan jenazah putranya Hasan yang tidak dikuburkan dekat dengan pusara datuknya Muhammad saw? Aisyah melarang jasad Hasan dikebumikan di sana. Ketika Husain datang untuk mengebumikan saudaranya Hasan di sisi pusara datuknya, Aisyah datang dengan menunggangi baghalnya sambil berteriak, “jangan kuburkan di rumahku orang yang tidak kusukai.” Bani Umayah dan Bani Hasyim saling berhadapan nyaris perang. Tetapi Imam Husain kemudian berkata bahwa dia hanya membawa jenazah saudaranya untuk “tabarruk” pada pusara datuknya, kemudian dikuburkan di Baqi’. Imam Hasan pernah berpesan agar jangan tertumpah setetes pun darah karenanya. Dalam kontek ini Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah:

Kau tunggangi onta[10]
Kau tunggangi baghal[11]
Kalau kau terus hidup
kau akan tunggangi gajah
Sahammu kesembilan dari seperdelapan
tapi telah kau ambil semuanya

Ini adalah contoh dari rangkaian fakta yang sungguh mengherankan. Bagaimana Aisyah mewarisi semua rumah Nabi sementara istri-istri beliau berjumlah sembilan, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas di atas. Apabila Nabi tidak meninggalkan harta waris seperti yang disaksikan oleh Abu Bakar, karenanya dia melarangnya dari Fatimah, Lalu bagaimana Aisyah dapat mewarisi pusaka Nabi? Apakah ada dalam al Qur’an suatu ayat yang memberikan hak waris pada istri tapi melarangnya anak perempuan? Ataukah politik yang telah merobah segala sesuatu sehingga anak perempuan diharamkan dari menerima segala sesuatu dan si istri diberi segala sesuatu? Saya akan membawakan suatu kisah yang diceritakan oleh sebagian ahli sejarah. Cerita ini ada kaitannya dengan hak-pusaka ini.

Ibnu Abil-Hadid al-Mu’tazili dalam bukunya Syarhu Nahjul Balaghah pernah berkata: ”Suatu hari Aisyah dan Hafshah datang kepada Utsman pada periode pemerintahannya. Mereka minta agar pusaka Nabi tersebut diberikan kepada mereka. Sambil membetulkan cara duduknya, Utsman berkata kepada Aisyah: ”Engkau bersama orang yang duduk ini pernah datang membawa seorang badui yang masih bersuci dengan air kencingnya menyaksikan Nabi saw bersabda: “Kami para Nabi tidak meninggalkan harta pusaka. Jika memang benar bahwa Nabi tidak meninggalkan sebarang warisan, lalu apa yang kalian minta ini? Dan jika memang Nabi meninggalkan warisan pusaka, kenapa kalian larang haknya Fatimah? Lalu Aisyah keluar dari rumahnya Utsman sambil marah-marah dan berkata: “bunuh si na’thal. Sungguh, dia telah kufur.”[12]

[3] Ali Lebih Utama Untuk Diikuti

Di antara sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Syi’ah dan meninggalkan tradisi para leluhur adalah pertimbangan akal dan naqal (aqliyah dan naqliyah) antara Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar. Seperti yang kusebutkan pada halaman-halaman yang lalu bahwa aku sepenuhnya berpegang pada ijma’ yang disepakati oleh Ahlu Sunnahdan Syi’ah. Aku juga telah menelaah berbagai kitab dari dua mazhab ini. Di sana tidak kuternui sebuah ijma’ atau kesepakatan pendapat yang sempurna melainkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Sunnah dan Syi’ah telah sepakat tentang keimamahannya sebagaimana yang dicatatkan dalam nash-nash berbagai kitab rujukan dua mazhab itu. Sementara tentang keimamahan Abu Bakar hanya dikatakan oleh sekelompok tertentu kaum muslimin saja. Di atas telah kami sebutkan ucapan Umar tentang pembai’atan terhadap Abu Bakar. Demikian juga tentang keutamaan dan keistimewaan Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Syi’ah di kitab-kitab mereka. Semua bersandar pada sanad dan otentisitas yang tak dapat digugat, termasuk oleh kitab-kitab Sunnah. Sebagaimana ia juga diriwayatkan melalui berbagai jalur yang tak dapat diragukan. Banyak sahabat telah meriwayatkan hadis berkenaan dengan keutamaan Ali ini, sehingga Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Tidak satupun dari sahabat Nabi yang memiliki keutamaan sebagaimana Ali bin Abi Thalib.”[13] Al Qodhi Ismail dan an Nasai serta Abu Ali an Naisaburi berkata: “Tidak satupun hadis-hadis keutamaan sahabat yang diriwayatkan dengan isnad-isnad yang hasan sebagaimana hadis tentang keutamaan Ali”[14]

Meskipun Bani Umayah telah memaksa setiap orang yang berada di Barat dan di Timur untuk mencaci, mengutuk, serta tidak menyebut-nyebut tentang keutamaan Ali, bahkan melarang siapa pun untuk menggunakan namanya, bagaimanapun keutamaan-keutamaannya tetap memancar dan menguak ke permukaan. Imam Syafi’i berkata berkenaan dengan ini: “Aku sungguh takjub akan seseorang yang karena dengki. musuh-musuhnya telah menyembunyikan keutamaannya, dan karena takut, para pecintanya tidak berani menyebut-nyebut namanya. Namun tetap saja keutamaannya tersebar dan memenuhi lembaran-lembaran buku.” Berkenaan dengan Abu Bakar juga telah kutelaah dengan kritis dan teliti dari berbagai kitab dua mazhab ini. Namun kitab-kitab Sunni yang menyebut tentang keutarnaannya juga tidak dapat menyaingi keutamaan-keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Itupun diriwayatkan oleh putrinya Aisyah yang kita kenal bagaimana sikapnya terhadap Imam Ali, dimana beliau berusaha keras untuk menonjolkan ayahnya walau dengan menciptakan hadis-hadis sekalipun, atau diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, seorang yang terbilang jauh dengan Imam Ali. Abdullah bin Umar pernah menolak memberikan bai’at pada Imam Ali setelah semua kaum muslimin sepakat untuk mengangkatnya sebagai Imam. Dia pernah berkata bahwa orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar dan kemudian Utsman, lalu tiada seorang pun yang lebih utama dari yang lainnya, semua adalah sama.”[15] Yakni Abdullah bin Umar ingin mengatakan bahwa Imam Ali adalah manusia awam biasa yang tidak memiliki sebatang keutamaan. Aneh memang. Bagaimana Abdullah bin Umar dapat menyembunyikan dirinya dari fakta-fakta yang telah dinyatakan oleh para pemuka ummat bahwa tiada suatu hadispun berkenaan dengan sahabat yang diriwayatkan secara isnad yang hasan sebagaimana hadis tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib! Apakah Abdullah bin Umar tidak pernah mendengar satu keutamaan pun tentang diri Ali bin Abi Thalib? Demi Allah beliau pernah mendengarnya. Tetapi politik, ya politik, yang telah memutar-belit segala kebenaran dan menciptakan berbagai keanehan.

Mereka yang meriwayatkan tentang keutamaan Abu Bakar antara lain adalah Amr bin A’sh, Abu Hurairah, Urwah dan Akramah. Sejarah menyingkapkan bahwa mereka adalah lawan-lawan Ali dan memeranginya. Baik dengan senjata atau menciptakan berbagai keutamaan untuk musuh-musuh dan lawan-lawannya. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Ali banyak mempunyai musuh. Mereka berupaya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa mencelanya, namun mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka cari seseorang yang pernah memeranginya lalu diciptakanlah keutamaan-keutamaannya.”[16] Tapi Allah berfirman: “Sebenarnya mereka merencanakan tipu-daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” (86: 15, 16, 17). Sungguh merupakan mukjizat Allah bahwa keutamaan-keutamaan Ali dapat terungkap atau mencuat keluar setelah enam abad serangkaian pemerintahan yang zalim menganiaya dirinya dan kaum kerabatnya. Dinasti Bani Abbas tidak kurang dari Bani Umayah dalam membenci, mendengki dan memperdaya kaum kerabat Nabi saw. Sehingga Abu Faras al-Hamdani berkata:

Apa yang dilakukan oleh putra-putra
Banu Harb terhadap mereka
Walau sunguh dahsyat
Tapi tidaklah sedahsyat kezaliman yang kalian lakukan
Berapa banyak pelanggaran terhadap
agama yang kalian lakukan
Dan berapa banyak darah keluarga
Rasulullah yang kalian tumpahkan
Kalian mengaku sebagai pengikutnya
sementara tangan kalian penuh
berlumuran darah anak-anaknya yang suci.

Setelah ucapan-ucapan itu semua dan setelah kekaburan menjadi terang maka biarlah Allah yang menjadi Hujjah Yang Unggul, dan manusia tidak lagi mempunyai alasan dihadapanNya. Walaupun Abu Bakar adalah khalifah pertama dan mempunyai kekuasaan seperti yang kita ketahui, walaupun pemerintahan Umawiyah menyogokkan segala bonus dan upah kepada setiap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman, walaupun riwayat-riwayat keutamaan Abu Bakar diciptakan begitu banyak dan memenuhi lembaran-lembaran buku, walaupun itu semua dilakukan namun ia tetap tak dapat menyamai bahkan sepersepuluh dari keutamaan Ali. Bahkan jika Anda teliti hadis-hadis yang diriwayatkan tentang keutamaan Abu Bakar maka Anda akan dapati bahwa ia tidak sejalan dengan apa yang dicatat oleh sejarah tentang berbagai tindakannya. Bukan saja ia bertentangan dengan apa yang dikatakan dalam “hadis” itu bahkan juga bertentangan dengan akal dan syara’. Dan ini telah kami jelaskan ketika membicarakan hadis yang bermaksud:

“Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan imannya ummatku maka iman Abu Bakar akan lebih berat”. Seandainya Rasulullah saw tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian hebatnya maka beliau tidak akan meletakkannya di bawah pimpinan komandan pasukan seperti Usamah bin Zaid; dan beliau juga tidak akan enggan untuk memberikan kesaksian padanya sebagaimana yang pernah beliau berikan kepada para syuhada di Uhud. Nabi pernah berkata kepadanya: “Sungguh aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku kelak”, sampai Abu Bakar Bakar menangis.[17] Nabi juga tidak akan mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengambil surah Baraah yang telah diberikannya kepada Abu Bakar dan melarangnya membacakannya.?[18] Beliau juga tidak akan berkata pada hari pemberian panji dalam peperangan Khaibar: “Akan kuberikan panjiku ini esok kepada seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya. Dia senantiasa akan maju dan tidak pernah akan berundur sedikitpun. Sungguh Allah telah menguji hatinya dengan iman. “Kemudian Nabi memberikannya pada Ali dan tidak memberikannya kepada Abu Bakar.”[19]

Seandainya Allah tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian tingginya hingga melebihi iman seluruh ummat Muhammad saw maka Allah tidak akan pernah mengancamnya untuk menggugurkan amal-amalnya ketika beliau mengangkat suaranya lebih dari suara Nabi.[20] Seandainya Ali dan sahabat-sahabatnya tahu bahwa Abu Bakar memiliki keimanan yang demikian tinggi maka mereka tidak ada alasan untuk menolak memberikan bai’at kepadanya. Seandainya Fatimah Zahra’, penghulu seluruh wanita, mengetahui ketinggian derajat imannya Abu Bakar maka dia tidak akan pernah marah kepadanya dan tidak akan enggan berbicara dengannya, menjawab salamnya, berdo’a untuk kecelakaannya pada akhir setiap sholatnya,[21] atau tidak mengizinkannya (seperti yang diwasiatkannya) hadir dalam pemakaman jenazahnya. Seandainya Abu Bakar sendiri tahu tentang ketinggian imannya maka beliau tidak akan mendobrak rumah Fatimah Zahra’ walau mereka telah menutupnya sebagai tanda protes. Abu Bakar juga tidak akan membakar al Fujaah al Salami dan akan menyerahkan kepada Umar atau Abu Ubaidah perkara khalifah pada hari Saqifah itu.[22] Seorang yang mempunyai derajat iman sedemikian tinggi dan lebih berat dari iman seluruh ummat yang ada tentu tidak akan pernah menyesal di akhir-akhir hayatnya atas sikapnya terhadap Fatimah. Tindakannya yang membakar al Fujaah al Salami serta kekhalifahan yang dipegangnya. Sebagaimana dia juga tidak akan pernah berangan-angan untuk tidak menjadi manusia, dan sekadar menjadi sehelai rambut atau kotoran hewan. Apakah iman orang seperti ini setaraf dengan iman seluruh ummat Islam, bahkan lebih berat?

Jika kita teliti hadis yang bermaksud: “Seandainya aku harus mengambil seorang sahabat (khalil) maka akan kuambil Abu Bakar sebagai khalilku”, hadis ini serupa dengan hadis sebelumnya. Di mana Abu Bakar pada hari persaudaraan-terbatas (Muakhoh sughro) di Mekah sebelum Hijrah, dan pada hari persaudaraan besar (Muakhoh kubro) di Madinah setelah Hijrah. Dalam dua peristiwa ini, Nabi hanya menjadikan Ali sebagai saudaranya, sampai beliau berkata: “Engkau adalah saudaraku di Dunia dan di Akhirat.”[23] Nabi tidak menoleh kepada Abu Bakar dan enggan mengikat tali persaudaraan dengannya, baik untuk dunia ataupun akhirat. Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan permasalahan ini dengan lebih panjang. Saya cukupkan dengan dua contoh di atas yang saya kutip dari sejumlah referensi Ahlu Sunnah sendiri. Adapun mazhab Syi’ah memang mereka telah menolak kesahihan hadis ini. Mereka mengatakan dengan alasan yang sangat kuat bahwa ia diciptakan tidak lama setelah wafatnya Abu Bakar.

Jika kita tinggalkan sifat-sifat utama Ali dan meneliti kemungkinan dosa yang pernah dilakukannya, maka kini tidak akan menemukan satu dosa pun yang pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib yang pernah tercatat dalam buku dua mazhab ini. Sementara itu kita temukan dari orang-orang selainnya perbuatan-perbuatan dosa yang tidak sedikit. Hal ini bisa kita temukan dari berbagai buku Ahlu Sunnah, seperti buku-buku hadis, buku sirah dan dan sejarah. Hal ini berarti bahwa ijma’ dua mazhab adalah hanya Ali sajalah yang tidak terbukti melakukan sebarang dosa, sebagaimana sejarah juga menegaskan bahwa bai’at yang pernah diberikan secara benar hanya bai’at yang diberikan kepada Ali semata-mata. Beliau enggan menerima jabatan Khalifah, namun dipaksa oleh Muhajirin dan Anshor. Beliau juga tidak memaksa orang yang enggan memberikan bai’at padanya. Sementara bai’at Abu Bakar dilakukan sangat tergesa-gesa dimana Allah telah memelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang diistilahkan oleh Umar. Kekuasaan Umar diperoleh berdasarkan penobatan yang diberikan oleh Abu Bakar kepadanya, sementara pengangkatan Utsman sebagai khalifah terjadi semacam secara komedi. Lihatlah, Umar menominasi enam orang sebagai calon khalifah dan mewajibkan mereka rnemrlih satu di antaranya. Beliau berkata, “apabila empat orang sepakat dan dua orang yang lain menentang maka bunuh yang dua. Apabila enam orang ini berpecah tiga tiga dan membentuk dua kelompok, maka pilihlah pendapat kelompok yang di dalamnya ada Abdurrahman bin A’uf Apabila waktu telah berakhir sementara mereka belum sepakat menemukan sang “khalifah” maka bunuh saja mereka semua.”

Ceritanya panjang dan aneh sekali. Alhasil, Abdurrahman bin A’uf , mula-mula, memilih Ali dengan syarat beliau memerintah berdasarkan pada Kitab Allah, Sunnah Nabi dan Sunnah Syaikhain, yakni Sunnah Abu Bakar dan Umar. Ali menolak syarat ini dan Utsman menerimanya. Maka jadilah Utsman sebagai khalifah. Ali keluar dari majlis itu, dan beliau telah tahu hasil yang akan keluar. Hal ini pernah diucapkannya dalam khutbahnya yang terkenal dengan nama Khutbah as Syiqsyiqiyah. Setelah Ali, Muawiyah yang ‘memegang’ jabatan khalifah. Di tangannya khalifah telah digantikan dengan dinasti kekaisaran yang berpindah-tangan dari generasi ke generasi Bani Umayah. Kemudian berpindah pula ke tangan Bani Abbas. Khalifah berikutnya hanya dipilih dengan ketentuan sang khalifah atau dengan kekuatan pedang atau penggulingan. Sistem bai’at yang paling benar yang pernah terjadi dalam sejarah lslam, sejak zaman para khulafa’ hingga ke zaman Kemal Ataturk yang telah menghapus sistem kekhalifahan, hanya bai’ah yang pernah diberikan kepada Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib saja.

Hadis-Hadis Berkenaan Dengan Ali Menyirat Arti Wajib Ikut

Di antara hadis-hadis yang mengikatku dan mendorongku untuk ikut Imam Ali adalah hadis yang diriwayatkan oleh berbagai Kitab Sahih Ahlu Sunnah yang telah dijelaskan kesahehannya, sementara di dalam mazhab Syi’ah sendiri mereka memiliki hadis-hadis serupa itu berlipat-ganda. Namun saya, seperti biasa, tidak akan berhujjah dan berpegang kecuali kepada hadis-hadis yang telah disepakati oleh kedua mazhab. Di antara hadis-hadis tersebut adalah:

[1] Hadis yang berbunyi: “Aku kota ilmu dan Ali gerbangnya.”[24]

Hadis ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menentukan teladan yang mesti diikuti setelah Nabi saw. Mengingat orang yang berilmu adalah lebih utama untuk diikuti dibandingkan dengan orang yang jahil. Allah berfirman: “Katakanlah apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.” Dan firman-Nya: “Apakah seseorang yang menunjukkanrnu kepada kebenaran lebih utama untuk diikuti ataukah orang yang tidak membimbingmu kecuali ia perlu dibimbing. Maka bagaimana kalian membuat keputusan?“ Jelas bahwa orang alimlah yang tahu membimbing sementara orang jahil perlu mendapatkan bimbingan, bahkan ia perlu bimbingan lebih dari orang lain. Dalam hal ini sejarah telah mencatatkan kepada kita bahwa Imam Ali adalah sahabat yang paling alim tanpa sedikitpun bantahan. Dahulunya mereka merujuk kepada Ali di dalam perkara-perkara yang pokok. Dan kita tidak pernah tahu yang Ali pernah merujuk kepada mereka walau satu kali sekalipun. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Abu Bakar: “Semoga Allah tidak menetapkanku di suatu tempat yang ada masalah kalau Abul Hasan (Ali) tidak hadir di sana.” Umar berkata: “Kalaulah Ali tiada, maka celakalah Umar”[25] Ibnu Abbas berkata: “Apalah ilmuku dan ilmu sahabat-sahabat Muhammad dibandingkan dengan ilmu Ali. Perbandingannya bagaikan setetes air dengan tujuh samudera.” Imam Ali sendiri berkata: “Tanyalah aku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah, tiada persoalan yang kalian hadapkan padaku sampai hari kiamat kecuali aku beritahu kalian apa jawabannya. Tanyakan kepadaku tentang Kitab Allah. Demi Allah, tiada suatu ayatpun kecuali aku tahu dimana ia diturunkan, di waktu malam atau siang, di tempat yang datar atau di pegunungan.”[26]

Sedangkan Abu Bakar ketika ditanya makna Abban dari firman Allah: wa fakihatan wa abban , beliau berkata: “Langit mana yang dapat melindungiku, bumi mana yang dapat kujadikan tempat berpijak daripada berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang tidak kuketahui.” Umar bin Khattab pernah berkata: “Semua orang lebih faqih dari Umar, hingga wanita-wanita.” Ketika beliau ditanya tentang suatu ayat dalam Kitab Allah, beliau marah sekali pada orang yang bertanya itu, lalu memukulnya dengan cambuk sampai melukainva. Katanya:” Jangan kalian tanya tentang sesuatu yang jika nampak kepada kalian, maka kalian akan terasa tidak enak.[27] Sebenarnya beliau ditanya tentang makna Kalalah, tapi tak tahu menjawabnya. Di dalam tafsirnya, Thabari meriwayatkan dari Umar yang berkata: “Seandainya aku tahu apa makna Kalalah maka itu lebih kusukai daripada memiliki seperti istana-istana di Syam.” Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Umar bin Khattab yang berkata: “Tiga hal yang apabila Rasulullah saw telah menjelaskannya maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya: alKalalah, ar-Riba dan al Khilafah.” Subhanallah! Mustahil Rasulullah diam dan tidak menjelaskan perkara-perkara itu.

[2] Hadis yang berbunyi: “Hai Ali, kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”

Hadis ini seperti yang dipahami oleh orang-orang yang berakal menyirat makna keutamaan dan kekhasan Amir al-Mukminin Ali di dalam menyandang kedudukan wazir, washi dan khalifah, sebagaimana Harun yang menjadi wazir, washi dan khalifahnva Musa ketika beliau berangkat menemui Tuhannya. Ia juga menyirat arti bahwa kedudukan Imam Ali adalah umpama kedudukan Harun as. Kedua mereka memiliki kemiripan; melainkan kenabian saja seperti yang dikecualikan oleh hadis itu sendiri. Ia juga berarti bahwa Imam Ali adalah sahabat yang paling utama dan paling mulia setelah Nabi saw itu sendiri.

[3] Hadis yang berbunyi: “Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Alilah pemimpinnya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya, dan musuhilah mereka yang memusuhinya. Jayakanlah mereka yang menjayakannya, dan hinakanlah mereka yang menghinakannya, liputilah haq bersamanya di manapun dia berada.” Hadis ini saja sudah cukup untuk menolak dugaan orang yang mengutamakan Abu Bakar, Umar dan Utsman atas seseorang yang telah dilantik oleh Rasulullah saw sebagai pemimpin kaum mukminin setelahnya. Mereka yang mentakwilkan kalimat maula dalarn hadis ini dengan arti sebagai pecinta dan pembantu semata-mata karena ingin memalingkan arti yang sebenarnya dengan alasan ingin memelihara kemuliaan para sahabat. Karena ketika Nabi saw menyampaikan pesannya ini beliau berkhutbah dalam keadaan matahari panas terik. Katanya: “Bukankah kalian menyaksikan bahwa aku adalah lebih utama dari orang-orang mukminin atas diri mereka sendiri?” Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah. Kemudian beliau melanjutkan: “Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali maulanya…”

Nash ini sangat jelas dalam melantik Ali sebagai khalifah untuk ummatnya. Orang yang berakal, adil dan insaf tak dapat menolak pengertian maksud hadis ini lalu menerima takwilan yang direka oleh sebagian orang demi menjaga kemuliaan sahabat dengan mengorbankan kemuliaan Rasul saw. Karena dengan demikian ia telah meremehkan dan mencela kebijaksanaan Rasul yang telah menghimpun ribuan manusia dalam keadaan cuaca yang sangat terik dan panas hanya semata-mata karena ingin mengatakan bahwa Ali adalah pecinta kaum mukminin dan pembela mereka. Bagaimana mereka akan menafsirkan ucapan selamat yang diberikan oleh barisan orang-orang mukminin kepada Ali setelah pelantikan itu, yang sengaja diciptakan oleh Nabi saw? Pertama-tama adalah para istri Nabi, kemudian Abu Bakar dan menyusul Umar yang berkata: “Selamat, selamat untukmu wahai putra Abu Thalib. Kini kau adalah pemimpin orang-orang mukrninin, laki-laki atau perempuan.” Fakta sejarah juga telah menyaksikan bahwa mereka yang mentakwil adalah orang-orang yang berdusta. Celakalah apa yang mereka tulis dengan tangan mereka. Firman Allah: “Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui” (al Baqarah: 146).

[4] Hadis: “Ali dariku dan aku dari Ali. Tiada siapa yang mewakili tugasku kecuali aku sendiri atau Ali”[28]

Hadis ini juga dengan jelas menyatakan bahwa Imam Ali adalah satu-satunya orang yang diberikan kepercayaan oleh Nabi untuk mewakili tugasnya. Nabi nyatakan ini ketika beliau mengutusnya untuk mengambil dan membacakan surah Baraah yang pada mulanya diserahkan pada Abu Bakar. Abu Bakar kembali dan menangis. Katanya, “Duhai Rasulullah, apakah ada ayat turun berkenaan denganku?” Rasulullah menjawab: “Allah hanya menyuruhku atau Ali saja yang melaksanakan tugas ini.” Hadis ini juga mendukung sabda Nabi yang lain kepada Ali: “Engkau hai Ali, menjelaskan kepada ummatku apa yang mereka perselisihkan setelah ketiadaanku.”[29] Jika tiada orang yang diberikan kepercayaan oleh Rasulullah kecuali Ali, dan Alilah yang paling layak untuk menjelaskan kepada ummat ini segala permasalahan yang dihadapi, maka kenapa orang yang tidak tahu akan makna kalimat abba dan kalimat kalalah mengambil alih haknya? Sungguh ini adalah musibah besar yang menimpa ummat ini, dan yang menghalanginya dari menjalankan tugas penting yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Telah cukup hujjah dan alasan dari Allah, dari RasulNya dan dari Amir al Mukminin. Mereka yang ingkar dan tidak patuh kelak harus mengajukan alasan di hadapan Allah swt. Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka: marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk.” (al Maidah: 104).

[5] Hadis ad Dar Yaum al Indzar

Bersabda Nabi saw sambil menunjuk kepada Ali: “Sesungguhnya ini adalah saudaraku, washiku dan khalifahku setelahku. Maka dengarlah dan taatilah dia.”[30] Hadis ini juga terbilang di antara hadis-hadis shahih yang di nukil oleh para ahli sejarah ketika bercerita tentang peristiwa pertama yang terjadi pada masa periode awal dari era kebangkitan Nabi saw. Mereka menganggap hadis ini sebagai bagian dari mukjizat Nabi saw. Namun politik telah merobah dan memalsukan kebenaran-kebenaran dan fakta-faktanya. Tidak aneh memang. Karena apa yang pernah terjadi di zaman kegelapan tersebut kini berulang lagi di zaman sekarang. Lihatlah Muhammad Husain Haikal. Beliau telah mencatat hadis ini secara sempurna dalam kitabnya “Riwayat Hidup Muhammad” halaman 104, cetakan pertama tahun 1354 H. Tetapi dalam cetakan kedua dan seterusnya sebagian dari isi hadis nabawi ini, yakni kalimat “washiku dan khalifahku setelahku” dihapus dan digunting. Mereka juga telah menghapus dari kitab Tafsir Thabari jilid 19 halaman 121 bagian dari sabda Nabi berikut “Washiku dan khalifahku” , dan menggantinya dengan kalimat “Inilah saudaraku dan begini dan begitu…”!! Mereka lalai bahwa Thabari telah menyebutnya secara sempurna dalam kitab sejarahnya jilid ke 2 pada halaman 319. Lihatlah betapa mereka telah merobah kalimat dari tempatnya yang asal dan memutar-balikkan fakta-fakta. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tetap akan menyalakan cahaya-Nya.

Ketika aku masih menelaah dan mengkaji, aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri segala apa yang telah terjadi. Aku cari buku Riwayat Hidup Muhammad cetakan pertama. Akhirnya kujumpai juga setelah mengarungi berbagai liku-liku yang sulit dan melelahkan. Alhamdulillah atas semua ini. Yang penting aku telah saksikan sendiri perobahan itu. Aku tambah yakin bahwa tangan-tangan jahat berupaya dengan segala usaha untuk menghapuskan kebenaran-kebenaran yang memang telah terbukti ada. Karena mereka menganggap bahwa ini adalah dalil kuat yang akan digunakan oleh “musuhnya”!

Tetapi bagi seorang peneliti yang adil ketika menyaksikan perobahan seumpama ini akan merasa bertambah yakin. Tanpa ragu-ragu dia akan berkata bahwa pihak kedua yang enggan menerima dalil-dalil tersebut sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat. Mereka hanya melakukan makar dan tipu muslihat serta memutar balik fakta walau dengan membayar mahal sekalipun. Mereka telah mengupah penulis-penulis tertentu dan mengulurkan kepada mereka berbagai kekayaan, gelar dan ijazah-ijazah perguruan tinggi yang palsu, agar dapat menuliskan segala sesuatu yang mereka inginkan baik buku atau makalah-makalah tertentu. Yang penting tulisan itu mencaci Syi’ah dan mengkafirkan mereka, serta membela dengan segala upaya (walau itu batil) “kemuliaan” sebagian sahabat yang telah belok dari kebenaran dan yang telah merobah hak menjadi batil sepeninggal Rasul saw. Firman Allah: “Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu, hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.” (al Baqarah: 118). Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

Catatan Kaki:

[1] Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal. 241; Siyar al-Alamin Oleh Imam Ghazali hal. 12; Tazkirah al-Khawas Oleh Ibnu al-jauzi hal. 29; Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 169; Kanzul Ummal jil. 6 hal. 397; al-Bidayah wan Nihayah Oleh Ibnu Kathir ji1. 5 hal. 212; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 50; Tafsir ar-Razi jil.5 hal. 63; Al-Hawi Lil Fatawi Oleh Suyuthi jil. 1 hal. 12
[2] Tarikh Thabari, Ibnu Athir, Suyuthi, al-Isti’ab dll.
[3] Tarikh al-Khulafa Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 8
[4] Sahih Bukhari jil. 4 hal. 127
[5] Syarh Nahjul Balaghah Oleh Muhammad Abduh jil. 1 hal. 34
[6] Tarikh al-Khulafa’ jil. 1 hal. 17
[7] Lih. as-Saqifah Wal Khilafah Abdul Fattah Abdul Maksud dan as-Saqifah Syaikh Muhamad Ridha al-Muzaffar
[8] Tarikh al-Khulafa jil. 1 hal 19; Syarh Nahjul Balaghah oleh Ibnu Abil Hadid
[9] Shahih Bukhari jil. 3 hal 36; Sahih Muslim jil. 2 hal 72
[10] Mengimbas peperangan Jamal ketika beliau menunggangi onta
[11] Mengimbas ketika beliau menunggangi baghal dalam usaha menghalangi Hasan dari dikuburkan dekat dengan pusara datuknya.
[12] Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil. 16 hal. 220-223
[13] Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 107; Manaqib al-Khawaizmi hal. 3,9; Tarikh al-Khulafa’ hal. 168; Sawiq al-Muhriqan hal. 72; Tarikh Ibnu Asakir jil. 3 hal. 63; Syawahid at-Tanzil jil. 1 hal. 10
[14] Riyadh Nadhirah jil, 2 hal 282 Sawaiq al-Muhriqah hal. 118, 72
[15] Shahih Bukhori jil. 2 hal. 202
[16] Fathul Bari Fi Syarhil Bukhori jil. 7 hal. 83; Tarikh al-Khulafa’ hal. 199; Sawaiq al-Muhriqah hal. 125
[17] Muwatto’ Imam Malik jil. 1 hal. 307; Maghazi al-Waqidi hal. 310
[18] Shahih Turmizi jil. 4 hal. 339; Musnad Ahmad bin Hanbal jil, 2 hal 319; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 51
[19] Shahih Muslim
[20] Shahih Bukhori jil. 4 hal. 184
[21] Al-Imam was-Siyasah jil. 1hal. 14; al Jahiz hal. 301; A’lam an-Nisa jil. 3 hal. 12,15
[22] Tarikh al-Khawas hal. 23; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 107; Tarikh Masu’di jil. 1 hal. 414
[23] Tazkirah al-Khawas hal. 234; Tarikh ibnu Asakir jil. 1 hal.107; Manaqib al-Khawarizmi hal. 7; Fushul al-Muhaimmah Oleh al-Maliki hal. 21
[24] Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 127; Tarikh Ibnu Kathir jil.7 hal. 358
[25] Al-Isti’ab jil. 3 hal. 39; Manaqib al-Khawarizmi hal. 48; Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 194
[26] Ibid jil. 2 hal. 198; Tarikh Khulafa’ hal. 124; Al-Itqan jil. 2 hal. 319; Fath al-bari jil. 8 hal. 485; Tahzib at-Tahzib jil. 7 hal. 338
[27] Sunan ad-Darimi jil. 1 hal. 54 Tafsir Ibnu Kathir jil. 4 hal. 232; Ad-Dur al-Manthur jil. 6 hal. 111
[28] Sunan Ibnu Majah jil. 1 hal. 44; Khasais Nasai hal. 20; Sahih Turmizi jil. 5 hal. 300; Jami’ Ushul Oleh Ibnu Kathir jil. 9 hal. 471; Jami’ Shagir Oleh Suyuthi jil. 2 hal. 56; Riyadh Nadhirah jil.2 hal. 229
[29] Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 448; Kunuz al-Haqaiq Oleh al-Maulawi hal. 203; Kanzul Ummal jil. 5 hal. 33
[30] Tarikh Thabari jil. 2 hal. 319; Tarikh Ibnu Athir jil. 2 hal. 62; As-Sirah al-Halabiah jil. 1 hal. 312; Syawahid at-Tanzil Oleh Al-Haskani jil. 1 hal. 371; Kanzul Ummal jil.5 hal. 15; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 85; Tafsir al-Khazin Oleh Alaudin as-Syafei; Hayat Muhammad Oleh Husain Haikal Edisi pertama.