Lampu Damar


Kragilan, Serang, Banten by Asep S Bahri

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2007)

Kadang aku merasa sesuatu begitu berharga justru di saat sudah lewat dan tak ada, di saat sudah berubah. Yang kumaksudkan adalah sebuah tempat di mana aku dilahirkan sebagai seorang bocah dan lelaki remaja yang akrab dengan rindang dan keteduhan pepohonan sepanjang jalan.

Masa-masa ketika malam-malam belajarku ditemani lampu-lampu buatan ibuku sendiri yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak yang dibuat oleh ibuku sendiri dari kelapa bila ibuku tak memiliki uang membeli minyak tanah, hingga asapnya yang hitam dapat menghitamkan bambu-bambu penyangga genting-genting rumah kami yang sederhana. Seringkali juga mengotori buku-buku catatan dan buku-buku pelajaranku. Apalagi bila sepanjang musim hujan, kami harus menjaga nyalanya dengan cara memberinya pelindung agar tidak padam oleh hembusan angin.

Wajar saja bila sepanjang musim hujan pula ibuku selalu merasa was-was karena ia juga harus mempersiapkan dan menabung kayu-kayu bakar kering untuk keperluan menyalakan tungku.

Setiap malam minggu aku dan teman-temanku bermain di mana kami bersembunyi di antara pohon-pohon pisang dan pohon-pohon lainnya yang ada di belakang rumah-rumah penduduk kampung kami, sementara satu orang teman kami harus mencari kami. Siapa yang ketemu dan tertangkap olehnya akan dapat hukuman untuk mencari kami pada giliran berikutnya.

Berbeda dengan sekarang yang hampir setiap sudut malam di kampung kami teraba cahaya listrik, ketika itu jam sembilan malam seperti tengah malam yang gelap, kecuali bila sedang terang bulan. Ketika itu kami dilarang ke luar rumah hingga melewati jam sembilan malam. Dan hampir setiap minggu kami mendengar cerita tentang pembunuhan atau pun pencurian di kampung-kampung tetangga yang kami dengar dari orang tua-orang tua kami dan orang-orang yang lebih tua dari kami.

Sementara itu, selain malam minggu alias enam malam sebelum-sebelumnya, kami akan pergi ke rumah ustadz kami untuk belajar membaca Al-Qur’an hingga jam sembilan malam setiap kali selesai menunaikan sembahyang magrib di mesjid kampung kami yang masih sederhana.

Biasanya ustadz kami akan mengajarkan kami dengan berpasang-pasangan untuk maju ke di hadapannya secara bergiliran alias bergantian sesuai dengan siapa saja di antara kami yang terlebih dulu datang dan hadir di aula rumahnya. Karena itulah aku sering berusaha untuk datang pertama kali agar aku segera menghadapnya dan bisa lekas pulang untuk belajar di rumah sembari sesekali memandangi kegelapan langit malam melalui jendela yang sengaja kubuka tanpa sepengetahuan ibuku.

Entah kenapa aku tak terpengaruh oleh cerita-cerita tentang hantu perempuan berambut panjang yang telah bertahun-tahun menjadi cerita favorit ibu-ibu di kampungku. Kebiasaan itu kulakukan karena rumahku terletak sendirian di seberang sungai yang relatif memiliki tanah dan halaman yang lebih luas ketimbang rumah-rumah penduduk lainnya yang berdekat-dekatan satu sama lainnya.

Ustadz kami pun terbilang galak sampai-sampai ia tak pernah lupa untuk memegang sebatang lidi dengan tangan kanan-nya. Untungnya aku cepat bisa menirukan apa yang diucapkan dan dibacakannya, yang artinya aku jarang terkena lecutan ringan atau pun keras sebagaimana yang menimpa kebanyakan teman-temanku yang memang lambat belajar membaca Al-Qur’an sesuai dengan apa yang diucapkan dan dibacakannya atau ketika mereka diminta untuk membacanya sendiri.

Masa-masa belajar membaca Al-Qur’an itu kujalani selama sebelas tahun bila dijumlah dengan masa dua tahun aku belajar Al-Qur’an pada ibuku sendiri di saat aku memasuki usia lima tahun. Mungkin karena aku terlebih dahulu belajar dari ibuku-lah, aku tak lagi mengalami kesulitan yang berarti ketika aku belajar membaca Al-Qur’an pada dua ustadz di kampungku untuk masing-masing selama enam tahun dan tiga tahun.

Pagi hari dan sore hariku begitu akrab dengan burung-burung, angin yang datang dan bergelombang di antara ilalang bukit, dari pematang-pematang dan hamparan sawah-sawah. Sementara itu suara-suara gemeritik para serangga dan suara-suara gemeletak para katak akan riuh terdengar di malam harinya hingga ke kamar tempatku belajar dan tidur, terlebih mereka akan terdengar lebih riang dan riuh sepanjang musim hujan.

Setiap hari Senin pagi dan Kamis pagi di depan halaman rumahku yang memang berbatasan dengan jalan di mana rumahku terletak di salah sudut perempatan jalan, orang-orang akan menawarkan barang-barang kerajinan rumah tangga hasil kerja mereka siang dan malam. Maklum, hari Senin dan Kamis merupakan hari pasar di mana banyak orang-orang dari kampung-kampung tetangga berlalu-lalang sejak subuh hingga jam sepuluh untuk pergi ke pasar.

Ada yang berjalan kaki dan ada juga yang mengendarai sepeda mereka. Tetapi kebanyakan adalah berjalan kaki, terutama ibu-ibu yang membawa barang-barang yang akan mereka jual di pasar. Ketika itu ibuku akan memakaikan baju seragam sekolah dasarku sebelum berangkat ke sawah bersama kakakku di masa-masa mencangkul, membajak, dan menggarap sawah. Aku hanya akan dapat giliran membantu keluargaku di waktu sore harinya setelah aku pulang sekolah dan makan siang.

Puisi Sungai Sulaiman Djaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s