Puisinya Jalaluddin Rumi & Filsafatnya Martin Buber


Jalaluddin Rumi

“Apa pun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit belaka. Sebab inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan” (Jalaluddin Rumi)

Kita dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berlainan satu dengan lainnya di dunia ini. Kita menjadi aku yang benar-benar jika kita mempunyai hubungan yang erat dengan orang-orang lain. Melewati Thou seseorang menjadi I. Karenanya, menurut Martin Buber, Aku itu bersifat sosial dan interpersonal, dan seseorang yang real adalah orang yang hidup antara orang dan orang.

Menurut Martin Buber, hubungan I-Thou mempunyai ciri-ciri timbal balik, langsung dan kesungguhan (intensity). Dalam hubungan yang semacam itulah suatu dialog atau pengetahuan dapat terlaksana. Dialog tersebut mungkin dengan perkataan atau secara diam-diam. Bahkan dialog tersebut terjadi dengan sekadar pandangan yang spontan dan tanpa gaya, akan tetapi mengandung pemahaman dan perhatian yang timbal balik.

Lebih lanjut Martin Buber mengkritik, atau tepatnya melakukan protes terhadap “pembendaan” serta kecenderungan depersonalisasi dalam kehidupan modern seiring maraknya fetishisme (pembendaan) atau komodifikasi dalam segala hal, karena kedua hal tersebut akan berakibat mengingkari aku dan menghalangi ekspresinya.

Begitulah, menurut filsafatnya Martin Buber, orang hanya dapat hidup dalam hubungan yang timbal balik jika mereka dapat berkata Thou kepada yang lain dan yang baik itu dalam pandangan Buber adalah persatuan jiwa dengan kehidupan, sedang yang jahat adalah pemisahan jiwa dari kehidupan.

Apa yang didadarkan filsafatnya Martin Buber itu sangat koheren dan berada di garis wawasan dan spiritual yang sama dengan puisinya Jalaluddin Rumi, filsuf sufi yang hidup sebelum Buber, lewat puisinya yang berjudul Kau dan Aku:

Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung,
Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –
Kau dan Aku.

Persis seperti yang diidealkan Martin Buber, puisi Kau dan Aku-nya Jalaluddin Rumi tersebut memadahkan keintiman dalam sebuah hubungan yang karib dan saling memahami satu sama lain. Sebuah puisi yang mengandung filosofi dan hikmah yang demikian dalam dan karib dan dimadahkan dengan suara dan bahasa yang jernih, yang pada saat bersamaan merupakan simbolisme yang sublim –sebuah kearifan pedagogis yang disampaikan dengan modus dialog dan medium puitis, sehingga yang membacanya akan merasa terlibat sebagai kawan dialog itu sendiri, bukan semata objek yang digurui.

Sementara itu, bila kita kembali kepada filsafatnya Martin Buber, manusia mempunyai dua relasi atau dua hubungan yang fundamental yang berbeda antara satu dan lainnya. Di satu pihak relasi dengan benda-benda, dan di lain pihak relasi dengan sesama manusia dan Allah. Dalam hal ini, puisinya Jalaluddin Rumi yang berjudul Kau dan Aku itu, bila dibaca dalam kerangka filsafatnya Martin Buber, berada dalam kategori relasi atau hubungan antara manusia dengan manusia dan hubungan atau relasi antara manusia dengan Tuhan.

Dan seperti terefleksi dengan jernih dalam puisinya Jalaluddin Rumi itu, Martin Buber lebih lanjut mengatakan bahwa karena dua jenis relasi inilah “Aku” sendiri bersifat dwi-ganda, di mana “Aku” yang berhubungan dengan “Itu” (atau dengan benda) berlainan dengan “Aku” yang behubungan dengan “Engkau” .

Jenis dan bentuk hubungan antara Aku dan Itu, demikian dalam filsafat Martin Buber merupakan dunia dimana saya menggunakan benda-benda, menyusun benda-benda, memperalat benda-benda. Dunia ini ditandai kesewenang-wenangan. Semuanya dalam dunia ini diatur menurut kategori-kategori seperti kepemilikan dan penguasaan, tak ada dialog.

Sedangkan bentuk dan jenis hubungan Aku – Engkau adalah dimana di dunia ini Aku tidak menggunakan Engkau sebagaimana terjadi dalam hubungan antara Aku dan Itu, melainkan Aku menjumpai Engkau, Aku yang menjumpai Engkau sebagaimana dilukiskan dengan indah oleh puisinya Jalaluddin Rumi yang berjudul Kau dan Aku itu. Di sini, Aku karena Engkau, Engkau yang hadir dan tampil bagi Aku sebagai suatu rahmat.

Emmanuel Levinas dan Kritik Atas Filsafat Totalitas & Sains-Egologi


Mourning in Ashura in Iran

“Dalam filsafat dan telisik filosofisnya Emmanuel Levinas, karena “yang lain” itu berada di luar ‘aku’, maka untuk menjumpainya, aku harus keluar dari diriku, imanensi atau interioritasku. Sebab karena perjumpaan dengan orang lain itulah tampak suatu eksterioritas – suatu transendesi. Ia membuka suatu dimensi tak terhingga bagi ‘aku’. Jadi, orang lain itu bukan alter ego. ‘Aku’ tidak dapat mendekati ‘dia’ (yang tak terhingga itu) dengan bertitik tolak dari “aku”, karena ia lain sama sekali, sebagai pendatang atau orang asing (l’Etranger)”.

Dalam beberapa hal, kritik Levinas terkait pemikiran dan kultur Barat tak berbeda dengan sejumlah pokok pemikiran dan tradisi filsafat Barat yang juga dikritik oleh Martin Heidegger dan Jacques Derrida. Barangkali karena hal ini pula, Jacques Derrida dengan sangat baik menjelaskan Emmanuel Levinas dan filsafatnya, termasuk kritik Levinas atas filsafat dan tradisi berpikir Barat yang disebutnya dengan kecenderungan berpikir totalitas. Namun apa yang sesungguhnya dimaksudkan Levinas sendiri dengan istilah dan sebutan totalitas itu? Baiklah kita mulai saja untuk membahasnya.

Apa yang dimaksudkan Emmanuel Levinas dengan istilah totalitas adalah kerangka berpikir filsafat Barat yang cenderung menyamaratakan realitas, yang menurut telisik filsafatnya Emmanuel Levinas merupakan suatu ide yang buruk, dan karena itulah Emmanuel Levinas mengkritik dan kemudian menolaknya. Dalam hal itu, menurut Levinas, filsafat Barat selama ini mengejar suatu totalitas, suatu filsafat yang senantiasa membangun totalitas, sebuah keseluruhan yang memperjuangkan kesamaan (the same). Emmanuel Levinas menyebut filsafat dan cara berpikir ini sebagai la philoshofhie du Meme (the philosophy of the same) atau filsafat penyamaan.

Lalu apa masalahnya bagi Emmanuel Levinas terkait dengan filsafat dan tradisi berpikir filosofis yang cenderung berusaha mengejar totalitas tersebut? Menurut Levinas filsafat yang ia sebut sebagai filsafat totalitas itu ingin membangun suatu keseluruhan yang berpangkal pada “ego” (aku) sebagai pusatnya, tak lain karena tradisi filosofis ini selalu bertolak dari dan kembali pada “aku”, yang mana Emmanuel Levinas menyebutnya sebagai ‘egologi’.

Dalam telisik historis dan pembacaannya atas sejarah filsafat Barat, Emmanuel Levinas memandang kecenderungan totaliter atau primat “yang-sama” ini merupakan ajaran Sokrates yang tidak menerima sesuatu apa pun dari orang lain kecuali apa yang ada dalam ‘diriku’, sebab dalam telisik dan pembacaan historis-filosofis yang dilakukan Emmanuel Levinas itu cita-cita Sokratisme ini beranggapan bahwa yang sama mencukupi dirinya pada identifikasi yang sama sebagai kedirian, pada egoismenya. Inilah yang menurut Levinas filsafat keakuan atau egologi.

Demikian, dalam telaah Emmanuel Levinas, dalam ajaran Sokrates, mengetahui berarti menelanjangkan apa yang ada dari ‘keberlainannya’. Dan dalam hubungan dengan benda-benda, penyerahan “yang lain” ke “yang sama” terjadi melalui perumusan konseptual. Sementara itu, dalam hubungan dengan manusia, penyerahan itu tercapai melalui teror yang menyeret manusia bebas ke bawah kekuasaan manusia tertentu. Karena itu, menurut Emmanuel Levinas, Sokrates pada hakikatnya memandang orang lain hanyalah “aku yang lain” atau alter ego. Di sini, Sokratisme menyamakan yang berlainan melalui prinsip-prinsip metafisik.

Berdasarkan telisik dan pembacaan historis itu, menurut Emmanuel Levinas sebagaimana ia nyatakan dengan tanpa beban, tradisi filsafat Barat sejak Socrates selalu mereduksikan yang banyak ke yang satu dan kelainan ke kesamaan. Kerangka berpikir totalitas ini kemudian berkembang kuat dan menjadi kokoh dalam filsafat Rene Descartes dengan ‘cogito ergo sum’-nya (aku berpikir maka aku ada-nya) itu, lalu Immanuel Kant yang menanamkan bibit-bibit idealisme hingga ke Friedrich Hegel.

Dengan demikian, apa yang dimaksudkan Levinas dengan istilah totalitas adalah suatu sikap dasar yang kita ambil untuk memandang serta menguasai segala-galanya dengan diri kita sebagai pusatnya. Kita mengubah realitas di sekitar kita menjadi obyek yang dipandang dan kita menjadikan diri kita sendiri subyek yang mendominasi segalanya. Atau lebih tepatnya kita katakan bahwa ide “totalitas” ini berasal dari keinginan manusia sebagai ‘aku’ yang mau menjadi sempurna dan melengkapi diri sendiri dengan cara menjadikan orang lain sebagai yang diperuntukkan dan atau keuntungan bagiku.

Persis inilah yang menjadi masalah bagi Emmanuel Levinas (sebagaimana menjadi masalah juga bagi Jacques Derrida), dan karena itulah menurut Emmanuel Levinas, Ada manusia itu sendiri tidak pernah dapat ditangkap sebagai suatu kebulatan atau totalitas, karena tidak pernah dapat diobyektivikasikan sepenuhnya. Suatu pandangan yang tak diragukan lagi memiliki keterpengaruhan oleh filsafatnya Martin Heidegger.

YANG LAIN (THE OTHER) & INFINITY (YANG TAK-TERHINGGA), AUTRE/UI
Secara bahasa atau linguistik, istilah Autre/ui dalam bahasa Prancis mengandung beberapa makna. Kata tersebut memang berarti sesuatu “yang lain”. Namun sesuatu “yang lain” itu bisa menunjuk pada “barang” (benda), atau suatu hal lain tertentu, atau juga menunjuk pada “orang lain”. Jika demikian, dalam arti apakah autre/ui itu dalam filsafat Emmanuel Levinas? “Barang” (benda) ataukah “orang”?

Demi mendapatkan pengertian yang kita inginkan itu, kita harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Emmanuel Levinas sendiri, persis ketika dalam filsafatnya, Emmanuel Levinas menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “alterity/alteritas”, “eksteriority”, “etranger” (yang asing), “yang absolut atau mutlak”, yang mana dengan ungkapan-ungkapan tersebut, Emmanuel Levinas hendak menunjukkan bahwa sesuatu “yang lain” itu haruslah sesuatu yang sama-sekali di luar dan tak pernah boleh menjadi bagian dari ‘aku’, yang sekaligus bahwa kedirian dan keberlainan dari “yang lain” itu harus dipertahankan secara mutlak. Dalam hal ini Emmanuel Levinas mengatakan: ‘The absolutely other is the Other’. Ia mutlak berarti pasti sebuah subyek yang bereksistensi.

Maka teranglah bagi kita bahwa autre/ui atau “yang lain” yang dimaksudkan Emmanuel Levinas itu bukan barang (benda) atau sesuatu hal yang lain, tetapi orang, karena hanya manusia saja yang dapat menjadi subyek yang bereksistensi. Emmanuel Levinas acapkali dengan tegas menggunakan kata “autrui”, karena kata ini dalam bahasa Prancis hanya berarti dan menunjukkan orang lain, dan yang lain (autrui) itu, dalam filsafat Emmanuel Levinas, merupakan yang tak terhingga (Infinity). Singkatnya, yang tak terhingga itu adalah orang lain, di mana dengan Yang Tak Terhingga ini Emmanuel Levinas memaksudkan suatu realitas yang secara prinsipil tidak mungkin dimasukkan ke dalam ruang lingkup pengetahuan dan kemampuan ‘aku’. Kedirian dan keberlainan dari “orang lain” itu tetap mutlak.

Begitulah, menurut Emmanuel Levinas, totalitas yang aku ciptakan dengan seksama, langsung pecah dalam perjumpaan dengan “orang lain” – karena ketakterhinggaannya.

Filsafat Emmanuel Levinas tersebut tak ragu lagi merupakan refleksi dan renungan tentang suatu jaman atau masa ketika fasisme dan totalitarianisme ‘menenggelamkan’ individu-individu, wajah-wajah yang lain, dalam politik ‘penyamaan’ yang pada saat bersamaan melakukan penyingkiran dan kekejaman terhadap yang dianggap dan didaku berbeda. Singkat kata, ada ‘elegi Judaisme’ terkait Holocaust di masa berkuasanya fasisme dan Nazisme Jerman yang dipimpin Hitler, yang menurut sejumlah filsuf, seperti Jacques Derrida, kekejian Eropa di jaman modern tersebut, memiliki akarnya dalam tradisi berpikir totaliter Barat itu sendiri.

EKSTERIORITY/EKSTERIORITAS
Demikianlah, dalam filsafat dan telisik filosofisnya Emmanuel Levinas, karena “yang lain” itu berada di luar ‘aku’, maka untuk menjumpainya, aku harus keluar dari diriku, imanensi atau interioritasku. Sebab karena perjumpaan dengan orang lain itulah tampak suatu eksterioritas – suatu transendesi. Ia membuka suatu dimensi tak terhingga bagi ‘aku’. Jadi, orang lain itu bukan alter ego. ‘Aku’ tidak dapat mendekati ‘dia’ (yang tak terhingga itu) dengan bertitik tolak dari “aku”, karena ia lain sama sekali, sebagai pendatang atau orang asing (l’Etranger). Soal inilah yang juga kemudian dibicarakan dengan indah oleh Jacques Derrida ketika membincang secara filosofis tentang mereka yang terusir, mereka yang menjadi pengungsi, dan mereka yang menjadi orang-orang asing.

Begitulah, dalam filsafat Emmanuel Levinas, yang tak terhingga itu asing terhadap atau sama-sekali lain daripada aku, tak hanya berarti “orang lain” itu sama sekali terlepas dari kungkungan aku, tapi juga bahwa di dalam dan melalui penampakkan wajah, orang lain itu menyatakan perlawanannya yang mutlak terhadap aku. Karena kemutlakan itu aku sama sekali pasif, tak berdaya apa pun terhadapnya. Mutlak berarti tak dapat ditawar sama sekali, tak dapat dikesampingkan, tak ada batasnya. Maka dalam menghadap orang lain, aku menghadap Yang-Tak-Terhingga. Di sana dimensi ilahi membuka diri dalam wajah orang lain, mereka yang asing, namun bukan secara langsung, seolah-olah dalam orang lain itu Tuhan muncul, tetapi dalam kemutlakan orang lain muncul sesuatu yang melampaui orang lain itu.