Secangkir Kopi & Selembar Diari


Taraneh Alidoosti

“Seseorang tak berhak bicara tentang sesuatu hanya dari katanya, hanya dari yang didengarnya dari orang lain, tapi harus menjumpai dan mengalaminya”

Kupandangi kerumunan lampu-lampu selepas isya –pukul 21.01 WIB. Lampu-lampu yang berada cukup jauh dari rumah, tapi begitu jelas, sekedar hiburan sesaat dan mencari objek untuk mengalihkan perhatian dari aktivitasku yang terbilang membuat jenuh. Sore tadi hujan turun begitu lebat, dan kini rasa dingin cukup untuk membuatku dicekam rasa asing –rasa asing yang seperti biasanya kurasakan sebelum menulis atau membaca.

Sudah enam tahun lebih Ibu telah tiada, selama itu pula aku tak merasakan menu-menu makanan yang biasanya disiapkannya menjelang buka puasa. Bakwan, tumis kangkung, tempe goreng yang dicampur bubuk terigu, sambal pedas dan sayur asam yang memang khas masakan Ibu.

Di masa kanak dulu, ketika aku hanya menginginkan apa saja yang kuinginkan terpenuhi, aku belum sadar bahwa tak semua yang kuinginkan dapat dipenuhi oleh Ibu. Ada banyak prioritas ketimbang mengabulkan permintaan yang menurut ibuku tidak banyak berguna, semisal mobil mainan yang dibeli teman-temanku.

Aku hanya bisa menangis ketika itu layaknya seorang bocah yang keinginannya tak terpenuhi, sebelum akhirnya aku belajar dan menjadi paham bahwa kekecewaan di masa yang akan datang adalah pelajaran ketabahan dan kesabaran. Aku tak hendak mendefinisikan kebahagiaan, aku hanya ingin berkata tentang bahwa seseorang adakalanya harus mengalami kekecewaan untuk mengerti dan paham.

Ingatanku kepada Ibu hadir begitu saja saat kupandangi susunan angka-angka di almanak –suatu ingatan yang cukup aneh bagi seorang lelaki. Barangkali itu karena rasa sepi yang tak disadari, dan lalu mencari objek pengalihan untuk melawannya.

“Ada debur sunyi di dalam dada seorang lelaki
yang acapkali tak dimengerti ketika hadir.
Barangkali juga seperti nasib yang mirip pencuri
dan kita senantiasa kehilangan koin
untuk menukar kesunyian kita dengan kegembiraan.”

Itulah sepenggal puisi yang kutulis ketika rasa bosan dan jenuh datang menyerbu dalam ragu. Sepenggal puisi yang memang ditulis dalam rangka mendapatkan penghiburan bagi diri yang seringkali diterkam rasa asing –kegelisahan yang tersamar dan dirasakan dengan malu-malu. Rasanya puisi ditulis justru agar kesepian itu tak berubah menjadi kegilaan. [Sulaiman Djaya]

Salle de meditation.Ketika Gerimis Terus Berbisik Karya Sulaiman DjayaAmsal RinduSketsa Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya oleh Ade Wahyu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s