Arsip Kategori: Gallery

Emmanuel Levinas dan Kritik Atas Filsafat Totalitas & Sains-Egologi


Mourning in Ashura in Iran

“Dalam filsafat dan telisik filosofisnya Emmanuel Levinas, karena “yang lain” itu berada di luar ‘aku’, maka untuk menjumpainya, aku harus keluar dari diriku, imanensi atau interioritasku. Sebab karena perjumpaan dengan orang lain itulah tampak suatu eksterioritas – suatu transendesi. Ia membuka suatu dimensi tak terhingga bagi ‘aku’. Jadi, orang lain itu bukan alter ego. ‘Aku’ tidak dapat mendekati ‘dia’ (yang tak terhingga itu) dengan bertitik tolak dari “aku”, karena ia lain sama sekali, sebagai pendatang atau orang asing (l’Etranger)”.

Dalam beberapa hal, kritik Levinas terkait pemikiran dan kultur Barat tak berbeda dengan sejumlah pokok pemikiran dan tradisi filsafat Barat yang juga dikritik oleh Martin Heidegger dan Jacques Derrida. Barangkali karena hal ini pula, Jacques Derrida dengan sangat baik menjelaskan Emmanuel Levinas dan filsafatnya, termasuk kritik Levinas atas filsafat dan tradisi berpikir Barat yang disebutnya dengan kecenderungan berpikir totalitas. Namun apa yang sesungguhnya dimaksudkan Levinas sendiri dengan istilah dan sebutan totalitas itu? Baiklah kita mulai saja untuk membahasnya.

Apa yang dimaksudkan Emmanuel Levinas dengan istilah totalitas adalah kerangka berpikir filsafat Barat yang cenderung menyamaratakan realitas, yang menurut telisik filsafatnya Emmanuel Levinas merupakan suatu ide yang buruk, dan karena itulah Emmanuel Levinas mengkritik dan kemudian menolaknya. Dalam hal itu, menurut Levinas, filsafat Barat selama ini mengejar suatu totalitas, suatu filsafat yang senantiasa membangun totalitas, sebuah keseluruhan yang memperjuangkan kesamaan (the same). Emmanuel Levinas menyebut filsafat dan cara berpikir ini sebagai la philoshofhie du Meme (the philosophy of the same) atau filsafat penyamaan.

Lalu apa masalahnya bagi Emmanuel Levinas terkait dengan filsafat dan tradisi berpikir filosofis yang cenderung berusaha mengejar totalitas tersebut? Menurut Levinas filsafat yang ia sebut sebagai filsafat totalitas itu ingin membangun suatu keseluruhan yang berpangkal pada “ego” (aku) sebagai pusatnya, tak lain karena tradisi filosofis ini selalu bertolak dari dan kembali pada “aku”, yang mana Emmanuel Levinas menyebutnya sebagai ‘egologi’.

Dalam telisik historis dan pembacaannya atas sejarah filsafat Barat, Emmanuel Levinas memandang kecenderungan totaliter atau primat “yang-sama” ini merupakan ajaran Sokrates yang tidak menerima sesuatu apa pun dari orang lain kecuali apa yang ada dalam ‘diriku’, sebab dalam telisik dan pembacaan historis-filosofis yang dilakukan Emmanuel Levinas itu cita-cita Sokratisme ini beranggapan bahwa yang sama mencukupi dirinya pada identifikasi yang sama sebagai kedirian, pada egoismenya. Inilah yang menurut Levinas filsafat keakuan atau egologi.

Demikian, dalam telaah Emmanuel Levinas, dalam ajaran Sokrates, mengetahui berarti menelanjangkan apa yang ada dari ‘keberlainannya’. Dan dalam hubungan dengan benda-benda, penyerahan “yang lain” ke “yang sama” terjadi melalui perumusan konseptual. Sementara itu, dalam hubungan dengan manusia, penyerahan itu tercapai melalui teror yang menyeret manusia bebas ke bawah kekuasaan manusia tertentu. Karena itu, menurut Emmanuel Levinas, Sokrates pada hakikatnya memandang orang lain hanyalah “aku yang lain” atau alter ego. Di sini, Sokratisme menyamakan yang berlainan melalui prinsip-prinsip metafisik.

Berdasarkan telisik dan pembacaan historis itu, menurut Emmanuel Levinas sebagaimana ia nyatakan dengan tanpa beban, tradisi filsafat Barat sejak Socrates selalu mereduksikan yang banyak ke yang satu dan kelainan ke kesamaan. Kerangka berpikir totalitas ini kemudian berkembang kuat dan menjadi kokoh dalam filsafat Rene Descartes dengan ‘cogito ergo sum’-nya (aku berpikir maka aku ada-nya) itu, lalu Immanuel Kant yang menanamkan bibit-bibit idealisme hingga ke Friedrich Hegel.

Dengan demikian, apa yang dimaksudkan Levinas dengan istilah totalitas adalah suatu sikap dasar yang kita ambil untuk memandang serta menguasai segala-galanya dengan diri kita sebagai pusatnya. Kita mengubah realitas di sekitar kita menjadi obyek yang dipandang dan kita menjadikan diri kita sendiri subyek yang mendominasi segalanya. Atau lebih tepatnya kita katakan bahwa ide “totalitas” ini berasal dari keinginan manusia sebagai ‘aku’ yang mau menjadi sempurna dan melengkapi diri sendiri dengan cara menjadikan orang lain sebagai yang diperuntukkan dan atau keuntungan bagiku.

Persis inilah yang menjadi masalah bagi Emmanuel Levinas (sebagaimana menjadi masalah juga bagi Jacques Derrida), dan karena itulah menurut Emmanuel Levinas, Ada manusia itu sendiri tidak pernah dapat ditangkap sebagai suatu kebulatan atau totalitas, karena tidak pernah dapat diobyektivikasikan sepenuhnya. Suatu pandangan yang tak diragukan lagi memiliki keterpengaruhan oleh filsafatnya Martin Heidegger.

YANG LAIN (THE OTHER) & INFINITY (YANG TAK-TERHINGGA), AUTRE/UI
Secara bahasa atau linguistik, istilah Autre/ui dalam bahasa Prancis mengandung beberapa makna. Kata tersebut memang berarti sesuatu “yang lain”. Namun sesuatu “yang lain” itu bisa menunjuk pada “barang” (benda), atau suatu hal lain tertentu, atau juga menunjuk pada “orang lain”. Jika demikian, dalam arti apakah autre/ui itu dalam filsafat Emmanuel Levinas? “Barang” (benda) ataukah “orang”?

Demi mendapatkan pengertian yang kita inginkan itu, kita harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Emmanuel Levinas sendiri, persis ketika dalam filsafatnya, Emmanuel Levinas menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “alterity/alteritas”, “eksteriority”, “etranger” (yang asing), “yang absolut atau mutlak”, yang mana dengan ungkapan-ungkapan tersebut, Emmanuel Levinas hendak menunjukkan bahwa sesuatu “yang lain” itu haruslah sesuatu yang sama-sekali di luar dan tak pernah boleh menjadi bagian dari ‘aku’, yang sekaligus bahwa kedirian dan keberlainan dari “yang lain” itu harus dipertahankan secara mutlak. Dalam hal ini Emmanuel Levinas mengatakan: ‘The absolutely other is the Other’. Ia mutlak berarti pasti sebuah subyek yang bereksistensi.

Maka teranglah bagi kita bahwa autre/ui atau “yang lain” yang dimaksudkan Emmanuel Levinas itu bukan barang (benda) atau sesuatu hal yang lain, tetapi orang, karena hanya manusia saja yang dapat menjadi subyek yang bereksistensi. Emmanuel Levinas acapkali dengan tegas menggunakan kata “autrui”, karena kata ini dalam bahasa Prancis hanya berarti dan menunjukkan orang lain, dan yang lain (autrui) itu, dalam filsafat Emmanuel Levinas, merupakan yang tak terhingga (Infinity). Singkatnya, yang tak terhingga itu adalah orang lain, di mana dengan Yang Tak Terhingga ini Emmanuel Levinas memaksudkan suatu realitas yang secara prinsipil tidak mungkin dimasukkan ke dalam ruang lingkup pengetahuan dan kemampuan ‘aku’. Kedirian dan keberlainan dari “orang lain” itu tetap mutlak.

Begitulah, menurut Emmanuel Levinas, totalitas yang aku ciptakan dengan seksama, langsung pecah dalam perjumpaan dengan “orang lain” – karena ketakterhinggaannya.

Filsafat Emmanuel Levinas tersebut tak ragu lagi merupakan refleksi dan renungan tentang suatu jaman atau masa ketika fasisme dan totalitarianisme ‘menenggelamkan’ individu-individu, wajah-wajah yang lain, dalam politik ‘penyamaan’ yang pada saat bersamaan melakukan penyingkiran dan kekejaman terhadap yang dianggap dan didaku berbeda. Singkat kata, ada ‘elegi Judaisme’ terkait Holocaust di masa berkuasanya fasisme dan Nazisme Jerman yang dipimpin Hitler, yang menurut sejumlah filsuf, seperti Jacques Derrida, kekejian Eropa di jaman modern tersebut, memiliki akarnya dalam tradisi berpikir totaliter Barat itu sendiri.

EKSTERIORITY/EKSTERIORITAS
Demikianlah, dalam filsafat dan telisik filosofisnya Emmanuel Levinas, karena “yang lain” itu berada di luar ‘aku’, maka untuk menjumpainya, aku harus keluar dari diriku, imanensi atau interioritasku. Sebab karena perjumpaan dengan orang lain itulah tampak suatu eksterioritas – suatu transendesi. Ia membuka suatu dimensi tak terhingga bagi ‘aku’. Jadi, orang lain itu bukan alter ego. ‘Aku’ tidak dapat mendekati ‘dia’ (yang tak terhingga itu) dengan bertitik tolak dari “aku”, karena ia lain sama sekali, sebagai pendatang atau orang asing (l’Etranger). Soal inilah yang juga kemudian dibicarakan dengan indah oleh Jacques Derrida ketika membincang secara filosofis tentang mereka yang terusir, mereka yang menjadi pengungsi, dan mereka yang menjadi orang-orang asing.

Begitulah, dalam filsafat Emmanuel Levinas, yang tak terhingga itu asing terhadap atau sama-sekali lain daripada aku, tak hanya berarti “orang lain” itu sama sekali terlepas dari kungkungan aku, tapi juga bahwa di dalam dan melalui penampakkan wajah, orang lain itu menyatakan perlawanannya yang mutlak terhadap aku. Karena kemutlakan itu aku sama sekali pasif, tak berdaya apa pun terhadapnya. Mutlak berarti tak dapat ditawar sama sekali, tak dapat dikesampingkan, tak ada batasnya. Maka dalam menghadap orang lain, aku menghadap Yang-Tak-Terhingga. Di sana dimensi ilahi membuka diri dalam wajah orang lain, mereka yang asing, namun bukan secara langsung, seolah-olah dalam orang lain itu Tuhan muncul, tetapi dalam kemutlakan orang lain muncul sesuatu yang melampaui orang lain itu.

Di Tunisia


people-of-tunisia-2

Oleh Dr. Muhammad Tijani as Samawi (‘Ulama dan penulis)

Di sebuah desa selatan Tunisia, ketika berlangsungnya sebuah kenduri, wanita-wanita yang hadir sedang asyik membincangkan tentang seorang isteri dari suami si Fulan. Seorang wanita tua yang berada di sekitar mereka sangat terkejut mendengar berita perkawinan dua orang ini. Ketika ditanya kenapa dia tekejut, dijawabnya bahwa dua suami isteri tersebut sebenarnya pernah menyusu darinya; dan mereka adalah kakak beradik dari satu ibu susu.

Berita besar ini dibawa pulang oleh wanita-wanita yang hadir kepada suami mereka. Kaum lelaki yang ada di sekitar ingin membuktikan kebenaran berita ini. Akhirnya ayah si perempuan menyaksikan bahwa anak perempuannya memang pernah menyusu dari ibu susu yang terkenal ini; sebagaimana ayah si lelaki ini juga menyaksikan kebenaran kata-kata si ibu tua ini. Akibatnya dua suku ini berperang dengan tongkat dan kayu. Masing-masing menuduh yang lain sebagai sebab musibah yang akan menyebabkan turunnya bala Allah ini. Terlebih lagi perkawinan itu telah berusia sepuluh tahun dan telah menghasilkan tiga orang anak.

Mendengar berita ini, si isteri lari ke rumah ayahnya. Dia tidak mau makan dan minum. Bahkan dia berusaha bunuh diri lantaran tidak tahan menerima “bencana” yang sangat besar itu. Bagaimana dia dapat menerima kenyataan bahwa suaminya adalah saudaranya sendiri dan telah melahirkan anak-anak pula. Bilangan korban yang luka berjatuhan di kedua belah pihak, hingga orang tua yang disegani menghentikan peperangan dan menasihati mereka agar menanyakan para alim ulama tentang hukumnya dan mencari jalan keluar.

Mulailah mereka pergi ke kota-kota besar yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka demi menanyakan para ulamanya tentang jalan keluar dari perkara ini. Setiap kali mereka bertanya, jawapan mereka adalah perkawinan tersebut adalah haram dan suami isteri wajib dipisahkan seumur hidup. Mereka juga wajib membayar fidyah dengan membebaskan hamba sahaya atau puasa dua bulan berturut-turut atau fatwa-fatwa sejenisnya.

Mereka juga pergi ke Qafsah dan menanyakan persoalan tersebut kepada alim ulamanya. Namun jawaban yang mereka dapatkan tetap sama. Mengingat ulama-ulama mazhab Maliki menghukumkan muhrim pada setiap anak susuan walau sekadar satu tetes sekalipun; berdasarkan pendapat Imam Malik yang mengkiaskan air susu dengan arak. Dalam hokum arak dikatakan bahwa “jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram.” Dengan itu maka menyusui, walau settes sekali pun adalah berhukum muhrim.

Seorang yang hadir menyela dan menunjukkan mereka ke rumahku. Katanya: “Tanyakan pada Tijani masalah-masalah seperti ini karena beliau mengetahui pendapat semua mazhab. Aku saksikan beliau berhujjah dengan ulama-ulama tadi berkali-kali dan bahkan dapat mematahkan dalil mereka.”

Ketika kuajak mereka masuk ke dalam perpustakaanku, si suami menceritakan segalanya kepadaku secara terperinci, dia juga berkata demikian: “Tuan, isteriku mau bunuh diri dan anak-anak tidak terurus karena persoalan ini. Kami tidak mendapatkan apa-apa untuk penyelesaian dari kemusykilan ini. Mereka telah tunjukkanku alamatmu, dan aku sangat yakin kerana melihat buku-buku yang sebegini banyak di perpustakaan ini yang tidak pernah aku lihat sebelum ini. Mudah-mudahan saja Anda dapat menyelesaikan perkaraku ini.”

Kemudian aku hidangkan secangkir kopi untuknya dan aku berpikir sejenak, lalu kutanyakan kepadanya bilangan susu yang dia hisap dari si ibu tua itu. Beliau menjawab: “Aku tidak pasti berapa tetapi isteriku menyusu dari orang tua itu, dua kali atau tiga kali saja. Ayahnya juga menyaksikan bahwa dia hanya dua atau tiga kali saja membawanya pergi ke tempat orang tua itu.” Lalu ku jawab: “Jika ini memang betul, maka kalian bukanlah kakak beradik (berdasarkan menyusu dari wanita yang sama yang dipercayakan sebagai penyusu) dan perkawinan kalian adalah sah.” Mendengar ini lelaki tersebut memelukku dan menciumi kepalaku dan tanganku. Katanya: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Anda telah membukakan pintu kedamaian di hadapanku”. Dia terus pergi dan tidak sempat menghabiskan kopinya, bahkan tidak bertanya lagi perinciannya atau dalil dariku. Dia hanya meminta izin untuk pulang agar dapat segera menemui isterinya dan membawa berita gembira untuknya, anak-anaknya serta kaum kerabatnya.

Namun esoknya dia kembali bersama tujuh orang lelaki yang lain. Katanya: “Ini ayahku dan ini ayah isteriku. Yang ketiga itu ketua desa dan keempat Imam sholat Jum’ah dan Jama’ah, kelima adalah Penghulu agama, keenam ketua suku, dan ketujuh ketua sekolah. Semua mereka datang untuk bertanya tentang masalah menyusui tersebut dan dengan alasan Apa anda menghalalkannya?

Semua aku ajak masuk ke dalam perpustakaanku dan aku memang menduga bahwa mereka akan mendebatku. Kuhidangkan mereka minuman kopi dan kusambut mereka dengan mesra. Mereka berkata: “Kami datang untuk bertanya akan fatwamu yang menghalalkan susuan itu sementara Allah telah mengharamkannya di dalam al Quran dan telah diharamkan juga oleh RasulNya, dengan sabdanya: “Telah diharamkan dengan susuan segala apa yang diharamkan dengan cara nasab. Begitu juga Imam Malik telah mengharamkannya.”

Aku berkata: “Wahai tuan-tuan, kalian Masya Allah adalah delapan orang dan aku hanya seorang. Jika aku berbicara dengan kalian semua maka aku tidak akan dapat meyakinkan kalian dengan hujjahku dan diskusi kita nantinya akan berlarut-larut (menjadi debat kusir yang tak bermanfaat). Aku usulkan kalian memilih salah seorang di antara kalian sebagai juru bicara kalain sehingga aku senang berdiskusi dengannya dan yang lainnya menjadi hakim kami.”

Mereka menerima usul tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada penghulu agama sebagai wakil karena dialah yang paling alim dan paling arif di antara mereka. Maka penghulu pun mulailah mengajukan pertanyaannya mengapa aku menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, RasulNya dan para Imam? Aku jawab: “Aku berlindung kepada Allah dari berbuat demikian. Allah mengharamkan susuan dengan ayat yang mujmal (ringkas) dan tidak menjelaskan secara terperinci. DiserahkanNya kepada Rasul cara dan bagaimana perincian hukumnya.”

– “Tetapi Imam malik menghukumkan muhrim bahkan dari setetes air susu.”– “Aku tahu. Namun Imam Malik bukanlah hujjah kepada semua kaum Muslimin. Kalau tidak maka bagaimana pendapat Anda dengan imam-imam yang lain?” – “Semoga Allah meridhai mereka. Kesemua dari mereka mengambil dari Rasul saw.” – “Lalu bagaimana nantinya hujjahmu di sisi Allah atas taklidmu kepada pendapat Imam Malik yang berargumen dengan nash Nabi ini?” – “Subhanallah” katanya sambil merasa heran. “Aku tidak pernah tahu yang Imam Malik, Imam Dar al-Hijrah, menyalahi nash-nash Nabi.” Yang hadir juga keheranan dengan kata-kataku ini. Mereka sangat terkejut atas sikapku yang sangat berani terhadap Imam Malik yang tidak pernah dilihatnya sebelum ini dari ulama-ulama yang lain. Kemudian aku menambah lagi:

– “Apakah Imam Malik dulunya dari kalangan sahabat?”– “Bukan.” Jawabnya. – “Apakah beliau dari kalangan Tabi’in?” – “Bukan. Bahkan dari kalangan Tabi’it-Tabi’in, generasi keempat setelah Nabi saw.” – “Mana yang lebih dekat kepada Rasul; Imam Malik atau Imam Ali bin Abi Thalib?”– “Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah satu dari empat Khulafa’ Rasyidin.” Salah seorang dari yang hadir berkata: – “Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu adalah gerbang kota ilmu.”

– “Mengapa kalian tinggalkan gerbang kota ilmu dan ikut seorang bukan sahabat dan bukan Tabi’in sekalipun. Bahkan seorang yang dilahirkan setelah berlakunya berbagai pertikaian antara kaum muslimin, dan setelah penduduk kota Madinah Nabi dibunuh dan diperkosa oleh tentara Yazid dan diperlakukan sedemikian rupa sehingga sahabat-sahabat yang terbaik terbunuh, para wanita diperkosa dan sunnah-sunnah Nabi diubah oleh Yazid bin Muawwiyah bin Abu Sufyan. Bagaimana seseorang boleh percaya sepenuhnya kepada imam-imam yang dipersetujui oleh para penguasa saat itu, yang memberikan fatwanya mengikut persetujuan mereka.” Salah seorang dari mereka berkata:

– “Memang kami pernah dengar bahwa Anda adalah seorang Syiah yang menyembah Imam Ali.” Serta merta sahabat yang duduk di sampingnya manamparnya dengan agak kuat, lalu berkata: – “Diam. Apakah anda tidak mau berkata seperti ini kepada seseorang yang terhormat seperti beliau. Aku banyak kenal ulama, tetapi aku tidak pernah melihat perpustakkan sebesar ini. Beliau berbicara dengan pengetahuan yang dalam dan penuh keyakinan.”

Aku jawab: – “Memang benar saya seorang Syi’ah. Tetapi Syi’ah tidak menyembah Ali. mereka ikut Imam Ali sebagai ganti dari ikut Imam Malik. Kerana Ali adalah gerbang kota ilmu seperti yang kalian saksikan.” Penghulu agama berkata: “Apakah Imam Ali menghalalkan perkawinan dua kakak-beradik satu susuan?” – “Tidak. Beliau menghukum-muhrimkannya jika si bayi menyusu sebanyak lima belas kali dengan kenyang dan berturut-turut atau sehingga menumbuhkan daging dan tulang.” Mendengar ini ayah si isteri merasa sangat lega dan berkata: – “Alhamdulillah. Anakku hanya menyusu dua atau tiga kali saja. Fatwa Imam Ali ini adalah jalan keluar bagi kami dari kemusykilan ini dan rahmat Allah kepada kami setelah puas kami mencari dan hampir-hampir putus asa.”

Penghulu berkata: “Berikan kami dalilnya agar kami berpuas hati.” Lalu kuberikan kepada mereka kitab Minhaj as-Sholihin, fatwa Syed al-Khui. Dibacakannya Bab Hukum Menyusui kepada mereka. Mereka semua sangat gembira terutama si suami yang takut kalau-kalau saya tida mempunyai dalil yang memuaskan. Mereka memohon agar aku meminjamkan buku tersebut kepada mereka agar dapat berhujjah kelak di kampungnya. Lalu kuserahkan buku tersebut setelah mereka meminta izin untuk pulang.

Setelah mereka keluar dari rumahku, mereka berjumpa dengan seseorang yang akhirnya membawa mereka kepada beberapa ulama-upahan. Dihasutnya mereka dan dikatakan bahwa aku adalah agen Israel, kitab Minhaj as-Solihin yang kuberikan itu adalah sesat, penduduk Irak semuanya kafir dan munafik, dan Syi’ah adalah Majusi yang menghalalkan perkawinan kakak beradik. Karena itu tidak heran kalau aku menghalalkan perkawinan antaara kakak beradik satu susuan dan berbagai tuduhan lain yang menghasut secara keji dan tanpa hujjah. Sedemikian rupa ancaman mereka sehingga kesemuanya kembali seperti semula dan tidak percaya akan kebenaran pendapat yang kuberikan.

Dipaksanya sang suami mengangkat perkara ini ke mahkamah negeri di Qafsah. Ketua mahkamah meminta mereka pergi ke pusat dan meminta penyelesaian dari Mufti Besar Negara. Maka pergilah orang yang malang ini ke sana dan menunggu selama satu bulan penuh untuk dapat menghadap mufti. Diceritakannya masalahnya dari awal hingga akhir. Mufti bertanya tentang pendapat ulama yang menganggap sah perkawinan mereka. Katanya tiada siapa pun yang mengatakan demikian kecuali seorang yang bernama at-Tijani as-Samawi. Mufti mencatat namaku dan berkata kepada orang ini: “Pulanglah! Aku akan kirimkan sepucuk surat kepada ketua mahkamah negeri di Qafsah.”

Tidak lama selepas itu tibalah sepucuk surat dari Mufti Besar. Kemudian wakil orang ini memberitahunya bahwa mufti juga menghukumkan haram perkawinan mereka dan dianggap tidak sah.

Itulah apa yang diceritakan oleh orang yang malang dan lemah ini kepadaku. Dia meminta maaf karena telah menyebabkanku susah dan terganggu. Aku juga berterima kasih kepadanya atas timbang rasanya yang tinggi. Tetapi aku heran kenapa mufti besar menganggap perkawinan seumpama itu tidak sah. Aku minta orang ini mendapatkan lembaran tulisan yang dikirimkan oleh mufti kepada mahkamah di sini agar aku dapat memuatnya di akhbar-akhbar (harian-harian) di Tunisia. Aku ingin katakan bahwa mufti tidak mengetahui mazhab-mazhab Islam dan tidak tahu akan perbedaan-perbedaan fiqh mereka di dalam perkara susu-menyusu ini.

Orang ini berkata bahwa dia tidak dapat melihat file (persoalan) perkaranya, apalagi untuk mendapatkannya. Akhirnya kami berpisah.

Setelah beberapa hari sepucuk surat panggilan pun datang kepadaku dari mahkamah. Mereka memerintahkanku agar datang membawa rujukan dan hujjah atas keabsahan perkawinan “dua kakak-beradik satu susuan ini. Aku datang dengan membawa berbagai buku rujukan yang telah kuteliti sebelumnya. Setiap Bab Menyusui kuletakkan tanda agar mudah dan dapat mengenalnya kelak. Aku pergi pada waktu dan jam yang ditentukan itu. Sekretaris ketua mengambil kedatanganku dan memintaku masuk ke ruang bilik pejabat ketua. Di sana aku dikejutkan dengan kehadiran ketua mahkamah negeri, ketua mahkamah kampung dan wakil dari pusat beserta tiga anggotanya yang lain. Mereka semua mengenakan pakaian kebesaran mahkamah yang seakan-akan mereka sedang berada dalam satu persidangan resmi. Aku perhatikan juga di sana ada lelaki yang malang itu duduk di sisi lain. Aku ucapkan salam kepada mereka semua. Mereka pun memandangku dengan sikap menghina dan jengkel. Ketika aku duduk , ketua mereka berbicara kepadaku dengan nada yang kasar:

– “Anda Tijani Samawi?” – “Ya.” Jawabku – “Anda yang memberi fatwa akan sahnya perkawinan ini? – “Bukan saya. Tetapi Imam-imam fiqh dan ulama kaum Muslimin yang memberikan fatwa akan sahnya perkawinan tersebut.” – “Itulah kenapa kami memanggilmu. Anda sekarang dalam tuduhan. Jika anda tidak dapat membuktikan kebenaran dakwaan anda makan anda akan dihukum penjara. Dan dari sini anda akan terus diiring ke penjara.” Aku sadar bahwa aku kini berada dalam suatu tuduhan yang keji. Bukan kerana aku memberikan fatwa tersebut, tetapi ada beberapa ulama jahat yang mengatakan kepada penguasa bahawa aku adalah penyulut fitnah , mencaci sahabat dan menyebarkan Syi’ah Ahlul Bait Nabi. Ketua mahkamah berkata bahwa jika ada dua saksi yang membuktikan kesalahanku maka dia akan memasukkanku ke dalam penjara. Di sisi lain, Jama’ah Ikhwanul Muslimin memanipulasi fatwa ini. Mereka sebarkan kepada kalangan umum dan khusus bahawa aku menghalalkan nikah antara kakak-beradik. Dan ini adalah pendapat Syi’ah. Begitulah dugaan mereka.

Semua ini aku sadari ketika Ketua Mahkamah mengancamku dengan penjara. Tiada lain bagiku waktu itu kecuali menentang dan mempertahankan dari dengan penuh keberanian. Kukatakan kepada ketua: “Apakah saya boleh bercakap dengan terus terang dan tanpa takut?” – “Bicaralah. Tetapi Anda tidak mempunyai pembela.” – “Pertama-tama, aku tidak mengangkat diriku sebagai mufti. Ini suami perempuan itu berada di hadapan kalian dan tanyakan kepadanya. Dialah yang datang ke rumahku dan bertanya kepadaku. Sudah tentu aku wajib menjawabnya mengikut apa yang aku tahu. Aku tanyakan kepadanya berapa kali dia minum susu tersebut. Ketika diberitahunya bahwa isterinya menyusu dua atau tiga kali saja maka aku memberitahu kepadanya hukum Islam yang benar. Dalam hal ini aku bukan seorang yang mujtahid dan bukan pula seorang yang mengadakan syari’at baru.”

– “Aneh. Anda sekarang mendakwa yang Anda tahu akan hukum Islam dan kami jahil.” – “Astaghfirullah. Aku tidak bermaksud demikian. Semua orang di sini tahu apa pendapat mazhab Imam Malik dan hanya berhenti pada pendapatnya saja, sementara aku menelitinya dalam berbagai mazhab dan mendapatkan cara penyelesaiannya di sana.” – “Di mana anda dapatkan jalan penyelesaiannya?” tanya ketua. – “Sebelum itu bolehkah aku bertanya satu soalan hai ketua?” – “Tanyakanlah apa yang kau mau.” – “Apa pendapat Anda tentang mazhab-mazhab Islam yang lain?”– “Semua benar. Semua mereka mengambilnya dari Nabi; dan perselisihan yang ada adalah rahmat.” – “Kalau demikian maka kasihanilah orang yang malang ini (sambil menunjuk ke arah orang tersebut) yang telah dua bulan lebih berpisah dengan isteri dan anak-anaknya. Padahal di sana ada mazhab Islam lain yang memberinya penyelesaian.”

Dengan nada marah ketua itu berkata: – “Bawakan dalilnya dan jangan berdolak dalik. Kami telah berikan hak kepadamu untuk membela dirimu; dan sekarang kau mahu membela orang lain.”Kuberikan kepadanya kitab Minhaj as-Solihin, fatwa Syed al-Khui. Kukatakakan kepadanya bahwa ini adalah mazhab Ahlul Bait. Di dalamnya memuat berbagai dalil. Kemudian beliau memotong kata-kataku: “Jangan libatkan kami dengan mazhab Ahlul Bait. Kami tidak mengenalnya dan tidak beriman kepadanya.”Aku memang menduga demikian. Karena itu aku bawa bersamaku beberapa buku rujukan Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang telah kukaji dan kususun sejauh pengetahuanku. Kuletakkan Sahih al-Bukhori di bahagian pertama. Kemudian Sahih Muslim. Lalu kitab fatwa Syaltut, Bidayah al-Mujtahid Wa Nihayah al-Muqtasid karangan Ibnu Rushd, kitab Zad al-Masir Fi I’lmi at-Tafsir karangan Ibnu al-Jauzi dan beberapa buku rujukan lain dari kalangan Ahlus Sunnah (Sunni).

Ketika pengetua menolak kitab Syed al-Khui, kutanyakan kepadanya kitab apa yang beliau pegang dan jadikan rujukan. “Bukhori dan Muslim,” katanya. Lalu kuambil kitab Sahih al-Bukhori dan kubukakan halaman yang telah kutandakan. “Silakan baca hai yang arif,” kataku mempersilakan. “Engkau baca.” Mintanya kepadaku. Lalu kubaca: “Telah diriwayatkan oleh Fulan daripada si Fulan dan daripada A’isyah yang berkata: “Rasulullah saw meninggal dan tidak menjatuh-muhrimkan susuan melainkan setelah lima susuan atau lebih.”

Maka sang ketua tersebut mengambil buku itu dariku dan membacanya. Kemudian diberikannya kepada wakil dari pusat yang duduk di sampingnya. Lalu dibacanya dan diberikannya pula kepada orang yang duduk di sisinya. Kemudian aku keluarkan pula kitab Sahih Muslim dan kubukakan pula hadits yang sama. Lalu kitab Fatwa Syaikh al-Azhar Mahmud Syaltut, di mana beliau telah menjelaskan berbagai perbedaan pendapat para imam fiqh tentang perkara susu-menyusu ini. Ada sebagian pendapat mengatakan bahwa ia akan jatuh muhrim setelah lima belas kali susuan; pendapat lain mengatakan setelah tujuh kali susuan, dan pendapat berikutnya di atas lima kali susuan. Melainkan Imam Malik yang menyalahi nash dan menjatuh-muhrimkan walau satu tetes sekalipun. Kemudian Syaltut berkata: “Aku condong pada pendapat yang tengah, yakni tujuh kali susuan atau lebih.”

Setelah ketua mahkamah mengetahui semua itu, beliau berkata: “Cukuplah.” Kemudian beliau memandang pada suami wanita tersebut dan berkata: “Engkau pergi dan bawa ayah isterimu kemari untuk menyaksikan di hadapanku bahwa anaknya menyusu hanya dua atau tiga kali saja. Kalau betul maka kau boleh ambil isterimu semula hari ini juga. Orang yang malang ini pun pergi. Wakil dari pusat dan hadirin yang lain meminta izin keluar meneruskan tugas masing-masing. Ketika majlis itu lengang, sang ketua tersebut menghadapku sambil meminta maaf. Katanya: “Maafkan aku hai Ustaz. Mereka telah menghasut aku tentang dirimu. Mereka berkata tentang hal yang aneh-aneh atas dirimu. Sekarang aku tahu bahwa mereka hasad dan dengki kepadamu.”

Hatiku sangat gembira melihat perubahan cepat seperti itu. Aku berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanku di tanganmu hai pengetua yang arif.” – “Aku dengar Anda juga mempunyai buku Hayat al-Hayawan al-Kubro karya ad-Dumairi?” Tanyanya kepadaku. – “Ya.” Jawabku. – “Bolehkah anda pinjamkan padaku? Telah dua tahun aku mencari buku itu.” – “Ia adalah milikmu bila saja kau mau.” – “Apakah Anda mempunyai waktu untuk datang ke kantorku agar kita berbincang dan belajar darimu.” Pintanya. – “Astaghfirullah. Saya yang seharusnya belajar darimu. Anda adalah orang yang lebih tua dan lebih agung dariku. Saya ada empat hari cuti dalam seminggu. Saya senantiasa hadir menerima jemputanmu.”

Akhirnya kami sepakat setiap hari Sabtu untuk dapat duduk bersama, karena hari itu beliau tidak disibukkan dengan urusan mahkamah. Setelah beliau memintaku meninggalkan kitab Bukhori dan Muslim serta kitab Fatwa Syaltut untuk dapat disalinnya semua nash-nash yang ada, beliau sendiri berdiri dan mengantarku pulang sehingga terbukalah pintu tanda suatu penghormatan. Aku keluar dengan hati yang sangat gembira sambil memuji-muji Allah atas kejayaan ini di mana sebelumnya aku masuk dalam keadaan takut dan diancam penjara. Kini aku keluar dari mahkamah dan sang ketuanya telah menjadi seorang sahabat yang dekat, menghormatiku dan memintaku menemaninya agar dapat “belajar”. Semua ini adalah berkat Ahlul Bait yang tiada akan rugi orang yang berpegang kepada mereka dan akan aman orang yang merujuk kepada mereka.

Suami yang malang tadi menceritakan semua apa yang dilihatnya kepada penduduk desanya sehingga berita itu tersebar ke seluruh pelosok desa yang ada di sekitarnya. Dia kini kembali bersama-sama isterinya dan perkara perkawinannya dianggap sah. Orang-orang pun mulai berani berkata bahwa aku lebih alim dari semua, bahkan dari mufti besar sekalipun. Si suami ini kemudian datang ke rumahku dengan keretanya yang besar, ingin mengajak aku dan keluargaku ke desanya. Dia memberitahuku bahwa semua keluarganya sedang menunggu kedatanganku. Mereka akan meyembelih tiga ekor anak unta sebagai tanda syukur dan kegembiraan. Tetapi aku meminta maaf karena tidak dapat hadir lantaran kesibukanku di Qafsah. Kukatakan kepadanya bahwa aku akan mengunjungi kalian di waktu yang lain saja, Insya Allah.

Lalu sang kgetua mahkamah tadi pun menceritakan kejadian itu kepada sahabat-sahabatnya, hingga tersebarlah cerita itu dan Allah telah menolak tipu daya orang-orang yang menipu. Sebagian mereka datang meminta maaf dan sebagian lagi Allah bukakan hatinya untuk menerima hidayah dan kebenaran sehingga mereka ikut mazhab Ahlul Bait dan menjadi orang-orang yang mukhlisin. Semua ini adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada mereka yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pemberi Kurnia Yang Agung. Wa Akhiru Da’wana Anil Hamdulillahi Rabbil A’lamin. Wa Sollallahu A’la Sayyidina Muhammadin Wa A’la Aalihi at-Thayyibin Wat Tahirin.