Arsip Kategori: Kotak Puisi

Jika Kau


Jika kau bayangkan dirimu kupu-kupu
dan mengangankan sepasang sayap tumbuh
di punggungmu, datanglah kepadaku
yang tengah menggambar

hujan lalang: Aku adalah kanak-kanak
yang bermain dengan riang dan bebas
di padang-padang pengembaraan.
Aku adalah kegembiraan

yang tak pernah bosan
mencandai kesedihan.
Aku akan mencintai hatimu
bila kau resah, menemanimu berjalan-jalan

bila kau tiba-tiba jadi tak paham
dengan apa yang tengah kau rasakan.
Aku adalah burung-burung terbang
dan keriangan capung-capung

dalam lanskap gerimis rembang petang.
Aku adalah sepasukan kunang-kunang
dengan nyala biru di tubuh: datanglah kepadaku
mereka yang termenung.

Jika kau membayangkan dirimu seekor burung
yang ingin bebas sesukamu
datanglah kepadaku.
Aku adalah diam-sunyi

yang terbentang, langit biru untukmu.
Aku adalah jari-jemari angin
yang akan membantu sayap-sayapmu
terbentang. Aku adalah padang sabana

tempat cahaya bercermin
di matamu. Aku akan bahagia
berganti-ganti warna
cakrawala yang ingin kau gambar

di dalam bathinmu.
Aku adalah keluasan semesta
yang ada dalam hatimu. Semesta yang kau arungi
dengan sampan-sampan sepimu sendiri.

(2010)

Sulaiman Djaya in 2008b

Penyair


Sulaiman Djaya in 2008

Puisi Sulaiman Djaya (2015)

Bahwa waktu tak berjalan
di saat aku memendam pertanyaan
dan tak menemu jawaban.

Debu, benda-benda, dan bayang-bayang sang tahun
sudah sekian lama menertawakanku.

Ruang tempatku setia dan gundah
sama halnya lembar-lembar
yang lapuk dan kusam

tempatku menceritakan kebosanan
dan keriangan

adalah perlawanan yang selalu mengajakku
untuk memasuki buku-buku berdebu
yang belum sempat kubaca

tiba-tiba telah meminta
lembar-lembar lain yang tak kuasa kucegah.

Baru kusadari, matamu bukan lagi mataku
dan kau menitip usia yang mudah kulupakan begitu saja.

Apakah kematian sempat memberitahukanmu
kapan aku akan kembali dilahirkan
ke sebuah jazirah yang ingin kukenal,

yang mungkin akan semakin membuatku heran,
terpedaya, girang, atau sekadar berpura-pura dungu

seperti sebuah patung yang menunggu
tiba-tiba kusadari bahwa kau bukanlah diriku
selain bayang sang waktu.

Kau tinggalkan namaku bersama tanggal-tanggal
yang setahuku tak bisa memberiku penjelasan

beda tubuh dan jeda tidur. Sekali waktu
aku bertanya-tanya apa yang kulakukan
tanpa menyisakan ingatan.

Mataku telah menjadi bayang-bayang
yang berkeliaran tak tentu arah

bila aku mencari kata-kata dari dunia-dunia
yang dilupakan dan tergesa
oleh tahun-tahun yang merebutku

dari kenangan masa silam.

(2015)