Arsip Kategori: Kotak Puisi

Gerimis Saatku Bangun


Syi'ah Muslim and al Qur'an

Saatku terbangun dengan nyala api di hatiku –gerimis telah meninggalkanku dalam sedih. Daun-daun tersenyum lembut –burung-burung membacakanku sebuah puisi. Mataku yang lembab kembali membara oleh gairah riang kanak-kanak. Aku tak ingat lagi apa yang dulu Kau titipkan –yang kini kugenggam. Aku tak ingat dengan apa Kau mencipta bara sepasang mataku –yang kadang membuatku tak dapat melihat mereka yang padam –bila hati-ku terlampau membara karena cinta. Kutahu setiap gerak adalah langkah dan tangan karena keriangan yang tak pernah lelah –kutahu Kaulah yang menyulut gairah siang-malamku.

2010,
Sulaiman Djaya

Memoir


draw

Di masa kanak, setiap pagi di setiap hari, jalanan ramai oleh bunyi bel pada stang sepeda. Tetapi di hari Minggu, aku membantu ibu menyusun senja dan potongan-potongan kayu. Pada lembar-lembar buku gambar, kupindahkan sungai dan gunung-gunung. Seolah aku ingin menyimpan tanah kelahiran yang tak boleh dilupakan. Pelajaran pertamaku adalah bagaimana harus terbangun dengan sabar ketika halaman masih basah

–ketika sisa hujan membuatku enggan melangkah. Di hari-hari di mana aku harus mengenakan seragam, fajar lembab bulan Desember membuat hatiku hanya ingin terlelap.

Tetapi dengan sepasang sepatu kesayangan aku melangkah selepas menyantap sarapan buatan tangan ibu yang tak pernah lelah. Aku ingat, sepanjang jalan, sesekali aku memandang langit. Ada saatnya cuaca tak terduga, dan aku harus menghentikan perjalanan. Saat usai, kuakrabi dingin gerimis sebagai ketabahan –dan kepulan asap di dapur ibu segera menjadi penebus rasa gundah sepulang sekolah.

2012,
Sulaiman Djaya