Arsip Kategori: Pustaka

Tangisan Sukainah dan Tragedi Anak-anak di Karbala


Hussein-Who-Said-No--Rouz-e-Rastakhiz-18-HR

Saat itu Imam Husain (as) berdo’a: “Jika saat ini Engkau tidak menghendaki kami untuk menang, maka berikan kemenangan untuk ummat yang akan datang”

Mungkin ini adalah kesempatan terakhir bagi Imam Husain (as) untuk bisa menatap wajah-wajah putri kecilnya. Ia berkata, ‘Wahai Sukainah, Fathimah, dan Ummu Kulsum terimalah salam perpisahan dari ayah kalian’.

Sukainah pun berkata lirih, ‘Wahai ayah apakah engkau menyerah kepada maut ? Imam Husain (as) menjawab, ‘Wahai cahaya mataku, bagaimana ayah tidak menyerah kepada maut, sementara tidak ada lagi seorangpun penolong dan pembela’. Lantas Sukainah berkata, ‘Wahai ayah, bawalah kembali kami ke kota kakek kami. Imam Husain (as) menjawab, ‘Andaikan seekor burung diletakkan di sana, maka ia akan tertidur’. Sukainah pun mengangis tersedu-sedu lalu menghampiri sang ayah dan memeluknya erat-erat.

Melihat ini para wanita yang berada di kemah tak kuasa menahan tangis. Imam Husain (as) pun berusaha menghentikan tangisan mereka.

Setelah selesai melakukan perpisahan dengan keluarga tercintanya, Imam Husain (as) pun bergerak dengan gagah berani menyambut tantangan musuh, walau di pihaknya tinggal dia sendiri. Dia tidak gentar dan tidak sedikitpun ada rasa takut dalam hatinya.

Ia menyambut kematian bak menyambut sesuatu yang sangat berharga. Syahadah adalah cita-cita tertingginya. Terang saja ia adalah putra Singa Arab, pendekar kaum Quraisy, Imam Ali bin Abi Thalib (as), Sang Haidar, yang dengan sebelah tangan ia angkat pintu Khaibar.

Dengan langkah pasti Imam Husain (as) menuju medan laga. Namun, seketika langkahnya terhenti ketika terdengar suara kecil memanggilnya, ‘Ayah!..Ayah!’

Sukainah keluar dari kemah dan berlari menuju ke arah Imam Husain (as), dan Imam Husain (as) berkata, ‘Ada apa wahai puntriku?’ Sukainah berkata, ‘Wahai ayah, sebelum engkau pergi ada satu permintaan yang ingin aku ajukan kepadamu, apakah engkau mau mengabulkan permintaanku ini?’ Imam Husain (as) berkata, ‘Tentu, wahai putriku, sampaikanlah permintaanmu itu’. ‘Wahai ayah,’ tandas Sukainah dengan nada lirih dan diringi isak tangis, ‘sebelum engkau pergi, maukah engkau mengusap kepalaku?’

Mendengar itu, Imam Husain (as) pun tersentak keheranan dan berkata, ‘Wahai putriku, kenapa engkau meminta ayah melakukan itu, engkau bukanlah anak yatim, aku ayahmu masih ada di sisimu.’

Sukainah yang kala itu dengan tersendat-sendat berkata, ‘Wahai ayah! Memang engkau masih berada di sisiku, akan tetapi aku tahu bahwa sebentar lagi engkau akan pergi untuk selamanya.’

Al-Husain pun tak kuasa menahan tangis dan ia pun memeluk tubuh kurus putrinya. Ia teringat ketika Muslim bin Aqil syahid, ia berkunjung ke keluarga Muslim dan menghampiri putri kecil Muslim serta mengelus kepalanya.

Putri kecil itu berkata, ‘Wahai paman, kenapa engkau mengusap kepalaku, aku ini bukan anak yatim, ayahku masih hidup, ia sedang pergi jauh dan ayah berkata bahwa ia akan kembali secepatnya.’ Dan kini putrinya, Sukainah, memintanya untuk mengusap kepalanya sementara ia masih ada. Seraya ia pun mendendangkan syair.

Ketahuilah! Akan panjang masa setelahku wahai Sukainah
Tangisan darimu ketika kematian menjemputku
Jangan kau bakar hatiku dengan tetesan air matamu
Selama ruh masih berada di jasadku
Maka jika aku terbunuh nanti, engkaulah yang paling layak
Untuk menangisiku wahai sebaik-baiknya wanita!

Sukainah merupakan salah satu putri kecil di antara sekian putra serta putri yang berada di Karbala.

Karbala, tempat berkecamuknya perang, tempat tangan dan kepala terpisah dari badan. Putra-putri kecil itu masih sangat lemah jiwanya untuk bisa menanggung beban perang. Mereka masih sangat kecil untuk menahan beban berat ini. Mereka masih belum kuat menyaksikan tangan dan kepala ayah-ayah mereka terpisah dari badan. Putra-putri kecil itu belum sanggup menyaksikan perlakuan-perlakuan yang tak berprikemanusiaan pasukan Yazid bin Muawwiyah terhadap ayah-ayah mereka.

Akan tetapi semua beban itu mereka alami di Karbala. Mereka menyaksikan tangan dan kepala ayah-ayah mereka terpisah dari badannya. Pasukan Yazid bin Muawwiyah yang tidak berprikemanusiaan itu, bahkan tega menyiksa dan membunuh anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang tidak berdosa kecuali hanya karena mereka keluarga suci Nabi saw. Membunuh dan menyiksa anak kecil adalah kejahatan yang peling besar. Tidak ada satu agama, kaum serta madzhab pun yang membolehkan penyiksaan terhadap anak-anak yang tidak berdaya. Ketika anak kecil melakukan kesalahan, ia tidak dihukum melainkan hanya diperingati. Akan tetapi mereka telah membunuh dan menyiksa anak-anak kecil yang tak berdosa dan tak berdaya. Mereka telah melakukan kejahatan yang paling buruk dan telah melakukan dosa yang teramat besar.

Seorang manusia yang membunuh anak kecil yang tak berdaya pada hakekatnya bukanlah manusia. Ia lebih buas dari pada serigala, lebih beracun dari pada ular dan lebih najis dari pada anjing serta babi.

Dalam undang-undang perburuan, tidak diperbolehkan memburu dan membunuh hewan yang masih kecil. Akan tetapi pasukan Yazid bin Muawwiyah telah melanggar aturan-aturan kemanusiaan, mereka mengejar-ngejar, memburu, menyiksa dan mebunuh manusia-manusia yang masih kecil itu. Anak-anak kecil yang lebih suci dari pada cahaya, tangan anak kecil itu belum sanggup membawa senjata, belum bisa menarik anak panah. Akan tetapi mereka tega memotong tangan-tangan mungil itu.

Bocah-bocah Syahid
Abdullah bin Hasan adalah salah satu anak kecil yang berada di Karbala. Ia sudah yatim ketika masih dalam kandungan ibunya, ia dibesarkan oleh pamannya (Al-Husain as) dan sekarang sudah berumur sepuluh tahun. Imam Husain (as) telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, seolah putranya sendiri.

Setelah beberapa saat pamannya pergi ke medan perang, Abdullah mulai gusar. Ia khawatir dengan keadaan sang paman. Ia tidak kuasa menahan kekhawatirannya, ia pun berlari menuju ke arah di mana pamannya tadi pergi.

Ketika sampai di kerumunan pasukan Yazid, langkahnya terhenti, matanya menuju ke arah setumpukan sosok yang dikelilingi pasukan. Ia melangkah pelan menuju ke arahnya, tersentak seketika, tatkala ia melihat bahwa tumpukan itu adalah pamannya, Imam Husain (as), dengan darah di sekujur tubuhnya dan badan yang tercabik-cabik.

Ia pun terjatuh ke tanah, tubuhnya lemas dan tak berdaya tak percaya bahwa tubuh itu adalah tubuh paman yang sangat disayanginya. Abdullah menangis histeris memanggil-manggil pamannya.

Ketika melihat Abdullah, Imam Husain (as) memanggil saudarinya, Zainab, dan menyuruhnya untuk menahan Abdullah agar tidak melanjutkan langkahnya. Zainab berusaha menahan Abdullah, akan tetapi Abdullah berontak dan berteriak, ‘Demi Allah aku tidak akan meninggalkan pamanku sendirian. Iapun berhasil lepas dari pelukan Zainab dan berlari menuju ke tubuh Al Husain (as) dan memeluknya.

Kala itu, salah seorang pasukan Yazid bin Muawwiyah mengayunkan pedang hendak menebas tubuh Al Husain (as), saat itu pula Abdullah berdiri dan berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh pamanku?’ Ia jadikan tangan kecilnya sebagai tameng untuk melindungi pamannya dari tebasan pedang.

Tidak disangka, jauh dari naluri kemanusiaan, laki-laki tersebut menebaskan pedangnya dan mengenai tangan mungil itu. Abdullah menjerit kesakitan, tangannya hampir putus dan menggantung ke tanah. Ia menangis dan memanggil-manggil ibunya. Imam Husain (as) dengan sisa tenaganya memeluk tubuh keponakannya dan menengadah ke langit mengadukan perbuatan ummat kakeknya terhadap keluarga sucinya.

Pasukan Yazid bin Muawwiyah menebas kepala Abdullah dan ia pun syahid menjemput ayah tercintanya (Al-Hasan as). Ia berhasil menjalankan sumpahnya terhadap bibinya bahwa ia tidak akan meninggalkan pamannya sendirian.

Selain Abdullah, ada pahlawan kecil lainnya, yaitu Muhammad. Muhammad tiga tahun lebih kecil dari Abdullah, ia adalah cucu dari Aqil. Muhammad tidak ikut berperang, akan tetapi ia salah satu dari para syuhada di Karbala. Ketika Imam Husain (as) telah syahid, pasukan Yazid bin Muawwiyah menyerbu ke kemah yang di dalamnya hanya terdapat para wanita dan anak-anak. Mereka menyerbu kemah untuk menawan para wanita dan merampas apa saja yang mereka bawa. Muhammad, karena ketakutan, keluar dari kemah dan tak tahu harus lari ke mana. Ia pun lepas dari awasan para wanita, semua kalang kabut, berlarian, panic di antara api, asap, dan debu. Tapi sungguh tidak disangka, tidak ada kasih sayang, tidak berprikemanusiaan. Muhammad memegang salah satu tiang kemah, sepuluh penunggang kuda menuju ke arahnya, yang salah satunya adalah Hani Al-Hadhrami. Mereka membelah badan kecil itu menjadi dua.

Bahkan, lebih kecil dari itu pun mereka bunuh. Ali bin Husain (as), bayi yang masih menyusui itu, pun ternyata menjadi sasaran panah pasukan Yazid bin Muawwiyah. Bayi yang tak berdaya, tak mampu membela diri, ia tidak bisa berperang akan tetapi ia berhasil mengurangi satu anak panah musuh. Bayi yang memiliki ibu bernama Rubab dan kakak yang bernama Sukainah. Imam Husain (as) sangat menyayangi keduanya. Di sela-sela perang, Imam Husain (as) menyempatkan diri untuk menengok putranya itu. Ia kembali ke kemah dan meninta Zainab untuk membawakan putranya itu. Al-Husain (as) menggendong sang putra dan menciuminya, namun seketika anak panah melesat dan mengarah ke leher halus bayi itu. Bayi pun mengerang dan darah menyembur dari lehernya.

Saat itulah, Al-Husain (as), Zainab, serta semua yang ada di kemah histeris melihat kejadian itu. Al-Husain (as) mengambil darah itu dan mengarahkannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Allah! aku persembahkan darah ini kepada-Mu. Darah ini tidak lebih sedikit dari darah sembelihan hewan. Jika saat ini Engkau tidak menghendaki kami untuk menang, maka berikan kemenangan untuk ummat yang akan datang. Ambillah pembalasan atas darah-darah kami yang di hamburkan oleh kaum yang zhalim.

Wahai yang Maha Pengasih! Satu hal yang membuat musibah ini menjadi mudah bagi kami, yaitu karena Engkau melihat semua ini’.

Voltaire 1694-1778


Candide by Voltaire

Oleh Michael H. Hart

Voltaire itu sebetulnya nama samaran. Nama yang diberikan bapaknya ketika dia diseret keluar oleh bidan adalah Francois Marie Arouet. Siapa pun panggilannya, yang jelas dia tokoh terkemuka pembaharu Perancis. Fungsinya tidak cuma dwi, tetapi jauh lebih banyak dari itu: penyair, penulis drama, penulis esai, penulis cerita pendek, ahli sejarah, dan filosof. Dia betul-betul juru bicaranya pemikiran bebas liberal.

Voltaire lahir tahun 1694 di Paris dari keluarga menengah, dan ayahnya seorang ahli hukum. Di masa mudanya Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis-le-Grand di Paris. Selepas itu dia belajar ilmu hukum sebentar tetapi kemudian ditinggalkannya. Selaku remaja di Paris dia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi dan tersembur dari mulutnya kalimat-kalimat satire. Di bawah ancient regime alias pemerintahan lama, tingkah laku macam itu bisa mengundang bahaya. Dan betul saja! Karena ucapan-ucapannya yang mengandung politik dia ditahan “diamankan” di penjara Bastille. Hampir setahun penuh dia meringkuk di situ. Tetapi dia tidak sebodoh pemerintah yang menjebloskannya. Dia bukannya bengong-bengong seperti orang bego, tetapi disibukkannya dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade yang kemudian dapat penghormatan tinggi. Tahun 1718, tak lama sesudah Voltaire menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan merebut sukses besar. Di umur dua puluh empat tahun Voltaire sudah jadi orang termasyhur, dan dalam sisa enam puluh tahun hidupnya dia betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Perancis.

Voltaire punya kepintaran ganda yang langka: pintar dalam hubungan uang dan pintar dalam hubungan ucapan. Tak heran jika setingkat demi setingkat dia menjadi seorang yang hidup bebas dengan kantong penuh uang. Tetapi tahun 1726 dia dapat kesulitan. Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, bukan saja menurut ukuran jamannya tetapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. Tetapi, dia kurang supel dan rendah hati yang oleh kalangan aristokrat Perancis dianggap suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan seperti dia. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristokrat, khususnya Chevalier de Rohan yang dikalahkan oleh kecerdasan Voltaire dalam adu kata. Selang beberapa lama, Chevalier mengupah tukang-tukang pukul mempermak Voltaire dan menjebloskannya lagi kedalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dari situ dengan syarat dia mesti meninggalkan Perancis. Karena itu dia berkeputusan menyeberang ke Inggris dan tinggal di sana selama dua setengah tahun.

Tinggalnya dia di Inggris rupanya merupakan titik balik dalam kehidupan Voltaire. Dia belajar bercakap dan menulis dalam bahasa Inggris dan karenanya menjadi terbiasa dengan karya-karya besar orang Inggris masyhur seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan William Shakespeare. Dia juga berkenalan secara pribadi dengan sebagian besar cerdik cendikiawan Inggris masa itu. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme, faham yang berpegang pada perlunya ada percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tetapi, dari semuanya itu yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. Demokrasi Inggris dan kebebasan pribadi memberi kesan yang amat berlawanan dengan apa yang Voltaire saksikan di Perancis. Tak ada bangsawan Inggris bisa mengeluarkan letre de cachet yang dapat menjebloskan Voltaire ke dalam bui. Sebab, kalau toh dia ditangkap secara semena-mena, perintah pembebasan segera diperolehnya.

Tatkala Voltaire kembali ke Perancis, dia menulis karya falsafahnya yang pertama Lettres philosophiques yang lazimnya disebut Letters on the English. Buku itu yang diterbitkan tahun 1734 merupakan tanda sesungguhnya dari era pembaharuan Perancis. Dalam Letters on the English, Voltaire menyuguhkan gambaran umum yang menyenangkan tentang sistem politik Inggris berikut pikiran-pikiran John Locke dan pemikir-pemikir Inggris lainnya. Penerbitan buku itu membikin berang para penguasa Perancis dan sekali lagi Voltaire dipaksa angkat kaki dari Paris.

Voltaire menghabiskan waktu lima belas tahun di Cirey, sebuah kota di sebelah utara Perancis. Di sana dia menjadi kekasih Madame du Chatelet, istri seorang marquis (bangsawan). Nyonya ini cerdas dan berpendidikan. Tahun 1750, setahun sesudah sang nyonya meninggal dunia, Voltaire pergi ke Jerman atas undangan pribadi Frederick yang Agung dari Prusia. Voltaire menetap tiga tahun di kediaman Frederick di Potsdam. Mulanya dia cocok dengan Frederick yang intelektual dan brilian itu tetapi tahun 1753 mereka bertengkar dan Voltaire meninggalkan Jerman.

Sesudah meninggalkan Jerman Voltaire menetap di sebuah perkebunan dekat Jenewa. Di situ dia bisa aman baik dari gangguan Perancis maupun raja-raja Prusia. Tetapi, pandangannya yang liberal membuat bahkan Swiss tidak aman lagi baginya. Tahun 1758 pindahlah ia ke suatu perkebunan baru di Ferney, terletak di dekat perbatasan Perancis-Swis, sehingga memudahkan ia lari ke sana atau ke sini andaikata ada kesulitan dengan pihak penguasa. Di situ dia tinggal selama dua puluh tahun, membenamkan diri dalam karya kesusasteraan dan falsafah, bersurat-suratan dengan pemimpin-pemimpin intelektual di seluruh Eropa dan menerima tamu-tamunya.

Sepanjang tahun-tahun itu, karya sastra Voltaire mengalir terus tak henti-hentinya. Dia betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis yang paling banyak bukunya dalam daftar buku ini. Semua bilang, kumpulan tulisannya melebihi 30.000 halaman. Ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamflet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serius tentang sejarah dan falsafah.

Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang Protestan di Perancis. Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam “jihad intelektual ” melawan fanatisme agama. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat “Ecrasez l’infame” yang maknanya “Ganyang barang brengsek itu!” Yang dimaksud Voltaire “barang brengsek” adalah kejumudan dan fanatisme.

Tahun 1778, ketika umurnya sudah masuk delapan puluh tiga tahun, Voltaire kembali ke Paris, menyaksikan drama barunya Irene. Publik berjubel meneriakinya “Hidup jago tua! Hidup biangnya pembaharuan Perancis!” Beribu pengagum, termasuk Benjamin Franklin, menjenguknya. Tetapi, umur Voltaire sudah sampai di tepi, Dia meninggal di Paris tanggal 30 Mei 1778. Akibat sikap anti gerejanya, dia tidak peroleh penguburan secara Kristen. Tetapi, tiga belas tahun kemudian, kaum revolusioner Perancis yang telah merebut kemenangan menggali makamnya kembali dan menguburnya di Pantheon Paris.

Karya tulis Voltaire begitu amat banyaknya sehingga sulit membuat seluruh daftarnya di sini meskipun yang kakap-kakapnya saja dalam artikel yang begini singkat. Meskipun begitu banyak karya tulisnya, yang lebih penting sebetulnya gagasan pokok yang dikemukakannya selama hidupnya. Salah satu pendiriannya yang tergigih adalah mutlaknya terjamin kebebasan bicara dan kebebasan pers. Kalimat masyhur yang sering dihubungkan dengan Voltaire adalah yang berbunyi “Saya tidak setuju apa yang kau bilang, tetapi akan saya bela mati-matian hakmu untuk mengucapkan itu.” Meskipun mungkin saja Voltaire tidak pernah berucap sepersis itu, tetapi yang jelas kalimat itu benar-benar mencerminkan sikap Voltaire yang sebenarnya.

Prinsip Voltaire lainnya ialah, kepercayaannya akan kebebasan beragama. Seluruh kariernya, dia dengan tak tergoyahkan menentang ketidaktoleransian agama serta penghukuman yang berkaitan dengan soal-soal agama. Meskipun Voltaire percaya adanya Tuhan, dia dengan tegas menentang sebagian besar dogma-dogma agama dan dengan mantapnya dia mengatakan bahwa organisasi berdasar keagaman pada dasarnya suatu penipuan.

Adalah sangat wajar bilamana Voltaire tak pernah percaya bahwa gelar-gelar keningratan Perancis dengan sendirinya menjamin kelebihan-kelebihan mutu, dan pada dasarnya tiap orang sebenarnya mafhum bahwa apa yang disebut “hak-hak suci Raja” itu sebenarnya omong kosong belaka. Dan kendati Voltaire sendiri jauh dari potongan seorang demokrat modern (dia condong menyetujui suatu bentuk kerajaan yang kuat tetapi mengalami pembaharuan-pembaharuan), dorongan pokok gagasannya jelas menentang setiap kekuasaan yang diperoleh berdasarkan garis keturunan. Karena itu tidaklah mengherankan jika sebagian terbesar pengikutnya berpihak pada demokrasi. Gagasan politik dan agamanya dengan demikian sejalan dengan faham pembaharuan Perancis, dan merupakan sumbangan penting sehingga meletusnya Revolusi Perancis tahun 1789.

Voltaire bukanlah seorang ahli ilmu pengetahuan, tetapi dia menaruh minat besar terhadap ilmu dan pendukung gigih sikap pandangan empiris dari John Locke dan Francis Bacon. Dia juga seorang ahli sejarah yang serius dan berkemampuan. Salah satu karyanya yang terpenting ialah buku yang menyangkut sejarah dunia Essay on the Manners and Spirit of Nations. Buku ini berbeda dengan umumnya uraian sejarah yang pernah ada sebelumnya dalam dua segi: Pertama, Voltaire mengakui bahwa Eropa hanyalah merupakan bagian kecil dari dunia secara keseluruhan, karena itu dia menitikberatkan sebagian dari pengamatannya pada sejarah Asia. Kedua, Voltaire menganggap bahwa sejarah kebudayaan adalah –pada umumnya– jauh lebih penting daripada sejarah politik. Bukunya dengan sendirinya lebih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perkembangan seni ketimbang soal raja-raja dengan segala rupa peperangannya.

Voltaire bukanlah mendekati filosof orisinal seperti beberapa tokoh yang ada dalam daftar buku ini. Sampai batas tertentu dia bertolak dari pandangan orang lain seperti John Locke dan Francis Bacon, memperkuat pendapat mereka atau mempopulerkan mereka. Melalui tulisan-tulisan Voltaire-lah, lebih dari siapa pun juga, ide demokrasi, toleransi agama dan kebebasan intelektual berkembang di seluruh Eropa. Meskipun ada penulis-penulis penting lain (Diderot, d’Alembert, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain) dalam masa pembaharuan Perancis, Voltaire lebih layak dianggap pemuka dari kesemuanya itu. Dia pemimpin terkemuka dari gerakan itu. Pertama, gaya sastranya yangmenggigit, kariernya yang panjang, dan tulisannya yang begitu banyak menggaet pengikut yang tak tertandingkan oleh penulis-penulis yang mana pun juga. Kedua, gagasan-gagasannya sepenuhnya bercirikan pembaharuan. Ketiga, Voltaire mendahului tokoh-tokoh penting lain dari sudut waktu. Karya besar Montesquieu The Spirit of Law baru terbit tahun 1748; jilid pertama Encyclopedie yang masyhur itu baru terbit tahun 1751; esei Rousseau pertama ditulis tahun 1750. Sedangkan Letters on the English-nya Voltaire sudah muncul tahun 1734 dan dia sudah kesohor enam belas tahun sebelum buku itu keluar.

Tulisan-tulisan Voltaire dengan kekecualian novel pendek Candide sedikit sekali dibaca orang sekarang. Kesemua buku-bukunya tersebar dan terbaca luas selama abad ke-18, karena itu Voltaire pegang peranan penting mengubah iklim pendapat umum yang ujung-ujungnya berpuncak pada meletusnya Revolusi Perancis. Dan pengaruhnya tidaklah cuma terbatas di Perancis: orang-orang Amerika seperti Thomas Jefferson, James Madison dan Benjamin Franklin juga kenal baik dengan tulisan-tulisannya.

Adalah menarik membandingkan Voltaire dengan teman sejamannya yang masyhur Jean-Jacques Rousseau. Voltaire yang segenap pandangannya rasional. lebih berpengaruh. Sebaliknya, Rousseau lebih orisinal dan karyanya lebih berpengaruh di jaman sekarang ini.

Sumber: Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Urutan 79), Michael H. Hart, 1978, Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982, PT. Dunia Pustaka Jaya.