Arsip Kategori: Pustaka

Allan Bloom


allan bloom

Bloom dididik di sekolah publik Indianapolis sampai usia enam belas tahun, dan bersama keluarganya pindah ke Chicago. Kemudian ia mendaftar di Universitas Chicago di mana ia memperoleh gelar BA Gelar pada tahun 1949, gelar MA-nya pada tahun 1953, dan gelar Ph.D. dari Komite Pemikiran Sosial tahun 1955. Dia juga belajar dan mengajar di luar negeri, Paris dari 1953 – 1955 dan di Heidelberg pada tahun 1957. Dia mengajar di Universitas Chicago, Yale, Cornell, dan Universitas Toronto. Setelah dari Toronto ia kembali ke Chicago untuk menetap hingga kematiannya. Bloom meninggal 7 Oktober 1992 saat sedang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan ulkus peptikum rumit oleh gagal hati.

Bloom adalah seorang profesor pemikiran sosial dan penerjemah Plato dan Rousseau. Ia menulis dan menerjemahkan banyak karya selama hidupnya. Daftar karya-karya berikut dalam rangka penjualan terbaik:

1. Penutup dari American Mind
2. Plato Republik (Bloom terjemahan)
3. Emile: Atau pada pendidikan (terjemahan Bloom)
4. Shakespeare di Cinta dan Persahabatan
5. Pengantar Membaca Hegel: Kuliah di Phemenology Roh
6. Shakespeare Politik (dengan Jaffa)
7. Politik dan Seni (Bloom penerjemah)
8. Xenophon Socrates (dengan Leo Strauss)

Bukunya, The Closing of American Mind, adalah untuk memahami pikiran Bloom dan peluruhan universitas modern. Bloom berpendapat bahwa krisis sosial dan politik Amerika abad kedua puluh benar-benar krisis intelektual. Bloom menyalahkan teknologi tinggi, revolusi seksual, dan pengenalan keragaman budaya ke dalam kurikulum dengan mengorbankan klasik, yang pada gilirannya menghasilkan siswa tanpa kebijaksanaan atau nilai-nilai. Menurut Bloom, demokrasi Amerika telah tanpa sadar menjadi tuan rumah bagi ide-ide benua vulgarized dari nihilisme dan putus asa, dan menyamar sebagai relativisme toleransi. Bloom membuat kasus yang meyakinkan untuk mengatakan bahwa membaca buku-buku lama tentang pertanyaan tetap bisa membantu membangun kembali alasan dan mengembalikan jiwa.

Bloom merupakan penganut aliran humanis. Bloom lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan sebutan “Taksonomi Bloom”. Pada tataran praktis, taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik dan guru untuk merumuskan tujuan-tujuan belajar yang akan dicapai, dengan yang sudah dipahami. Berpijak pada taksonomi Bloom ini pulalah para praktisi pendidikan dapat merancang program-program pembelajarannya. Secara ringkas, ketiga kawasan dalam taksonomi Bloom tersebut adalah sebagai berikut:

Ranah Kognitif, meliputi:

Pengetahuan, mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke dalam bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata; membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik.

Penerapan, mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus/problem yang konkret dan baru. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru, karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk menerapkannya terhadap suatu kasus atau problem baru.

Analisis, mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga terstruktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan/relasi antara semua bagian itu. Karena sekaligus harus ditangkap adanya kesamaan dan adanya perbedaan antara sejumlah hal.

Sintesis, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana, seperti penyusunan satuan pelajaran atau proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema dasar sebagai pedoman dalam memberikan ceramah dan lain sebagainya. Karena dituntut kriteria untuk menemukan pola dan struktur organisasi.

Evaluasi, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu yang berdasarkan kriteria tertentu. Kemampunan itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu, seperti penilaian terhadap pernyataan pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilai tepat tidaknya perumusan suatu TIK, berdasarkan kriteria yang berlaku dalam perumusan TIK yang baik.

Ranah Afektif, meliputi:

Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan itu dinyatakan dalam memperhatikan sesuatu, seperti memandangi gambar yang dibuat di papan tulis atau mendengarkan jawaban teman sekelas atas pertanyaan guru. Namun, perhatian itu masih pasif.

Partisipasi, mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan itu dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang di sajikan, seperti membacakan dengan suara nyaring suatu bacaan yang ditunjuk atau menunjukkan minat dengan membawa pulang buku bacaan yang ditawarkan.

Penilaian/penentuan sikap, mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap, menerima, menolak atau mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dan konsisten dengan sikap batin. Kemampuan itu dinyatakan dalam suatu perkataan atau tindakan, seperti mengungkapkan pendapat positif tentang pameran lukisan modern (apresiasi seni). Perkataan atau tindakan itu tidak hanya sekali saja, tetapi diulang kembali bila kesempatannya timbul. Dengan demikian, nampaklah adanya suatu sikap tertentu.

Organisasi, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pandangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai, mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai, seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar antara kebebasan dan tanggung jawab dalam suatu negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup.

Pembentukan pola hidup, mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Orang telah memiliki suatu perangkat nilai yang jelas hubungannya satu sama lain, yang menjadi pedoman dalam bertindak dan konsisten selama kurun waktu cukup lama. Kemampuan itu dinyatakan dalam pengaturan hidup di berbagai bidang, seperti mencurahkan waktu secukupnya pada tugas belajar/bekerja, tugas membina kerukunan keluarga, tugas beribadat, tugas menjaga kesehatan dirinya sendiri dan lain sebagainya.

Ranah Psikomotorik, meliputi:

Persepsi, mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan, seperti dalam menyisihkan benda yang berwarna merah dari yang berwarna hijau.

Kesiapan, mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakkan kendaraan yang ditumpangi, setelah menunggu beberapa lama di depan lampu lalu lintas yang berwarna merah.

Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam menggerakkan anggota tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti dalam meniru urutan gerakan tarian atau dalam meniru bunyi suara.

Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak gerik dengan lancar, karena sudah dilatih secukupnya tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.

Gerakan kompleks, mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa komponen, dengan lancar, tepat dan efisien. Adanya kemampuan itu dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan keseluruhan gerak gerik yang teratur, seperti dalam membongkar mesin mobil dalam bagian-bagiannya dan memasangkan kembali.

Penyesuaian pola gerakan, mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran.

Kreativitas, mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Hanya sosok yang berketerampilan tinggi dan berani berpikir kreatif, akan mampu mencapai tingkat kesempurnaan ini, seperti kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian di lapisan es dengan diiringi musik instrumental.

Adapun suatu taksonomi merupakan suatu tipe sistem klasifikasi yang khusus, yang berdasarkan data penelitian ilmiah mengenai hal-hal yang digolong-golongkan dalam sistematika itu. Misalnya sebagaimana terjadi dalam kontes perpustakaan, yang mengklasifikasikan buku-buku menurut urutan abjad pada nama pengarang, menurut urutan abjad pada judul buku atau menurut topik/bahan yang dibahas dalam semua buku. Klasifikasi/taksonomi di ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, yang dikembangkan oleh kelompok pelopor ini dan beberapa orang lain disebut “taxonomy”, tetapi menurut pendapat beberapa ahli belajar, mungkin tidak seluruhnya memenuhi tuntutan suatu taksonomi sebagaimana dijelaskan di atas, khususnya dalam ranah kognitif. Meskipun demikian, nama taksonomi akan tetap dipertahankan.

Berdasarkan tiga klasifikasi oleh Bloom beserta para penerusnya, mensyaratkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan capaian tujuan yang diharapkan. Dalam penerapannya, hendaknya memperhatikan hirarki atau urutan capaian/kemampuan yang diharapkan. Sejumlah penulis/ahli telah menunjukkan beberapa kelemahan yang melekat pada sistematika ranah kognitif dari Bloom, antara lain:

Rincian lebih lanjut terhadap berbagai jenis perilaku mental seperti pengetahuan, analisis dan sintesis kurang memadai.

Terjadi tumpang tindih (over lapping) antara berbagai kategori, dinilai belum terhindar.

Struktur hirarkis dalam ranah kognitif tersebut belum terbukti signifikan secara meyakinkan lebih-lebih pada kategori-kategori yang lebih tinggi.

Belum dapat memberikan ilustrasi yang serba pasti mengenai urutan dikembangkannya kemampuan-kemampuan internal itu melalui penstrukturan suatu kurikulum pembelajaran.

Bloom hanya menekankan pada hasil belajar, sedang proses pencapaian hasil belajar (saluran/jalur) yang harus dilewati peserta didik supaya sampai pada hasil (kemampuan internal) tidak di tekankan.

Sehingga guru belum memperoleh petunjuk mengenai tindakan-tindakan didaktis yang sebaiknya diambil selama peserta didik terlibat proses belajar (dalam aktivitas pembelajaran). Walaupun demikian, sistematika Bloom banyak bermanfaat bagi guru, khususnya jika akan merumuskan tujuan pembelajaran sebagai manifestasi dari hasil belajar peserta didik di sekolah (kelas pembelajaran). [Sherly Maya]

Ironi IMF dan Bank Dunia


Dees_Illustration_In_Zionist_Bankers_We_Trust.355w

Banten Raya, 9 Agustus 2014

Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui, IMF (the International Monetary Fund) dan Bank Dunia adalah lembaga dana moneter intemasional yang dalam misinya disebutkan untuk memberikan bantuan kepada negara-negara yang tengah mengalami kesulitan likuiditas keuangan atau menghadapi masalah moneter. Namun dalam kenyataannya, IMF dan Bank Dunia, yang saham mayoritasnya sebesar 51 % dikuasai oleh departemen keuangan Amerika Serikat, hanyalah kedok imperialisme melalui penguasaan dan pengendalian lewat lembaga moneter dan perbankan. Begitu pula, bagian terbesar dari saham the Fed dikuasai oleh para bankir raksasa Zionis Yahudi. Dengan uang-kertas dolar yang ongkos cetaknya, tidak peduli berapa pun nilai denominasinya di lembaran itu, hanyalah 3 sen dollar per lembar, hingga secara praktis the Fed memiliki kekuasaan atas keuangan dunia hampir-hampir tanpa biaya. Dan tentu saja, tidak dapat disangkal bahwa keduanya, baik IMF maupun Bank Dunia, merupakan dua instrumen kekuasaan yang digunakan oleh Barat (baca: kelompok Zionis) untuk menghancurkan negara-negara yang berdaulat agar menjadi tidak lebih daripada sekedar teritori (ekonomi-keuangan) mereka, yang pada gilirannya akan kehilangan kedaulatan politik mereka. Untuk mendalami fokus ini, kita bisa membaca tulisan-tulisannya Joseph Stiglitz dan John Perkins.

Joseph Stiglitz dan John Perkins

Sebagaimana yang pernah dipaparkan Joseph Stiglitz dan John Perkins, ketika suatu missi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang. Lebih gamblangnya, seperti yang dituturkan Joseph Stiglitz yang tak lain mantan Kepala Tim Ekonom Bank Dunia itu, IMF biasanya mengembangkan program empat langkah. Langkah pertama adalah program Privatisasi , yang menurut Stiglitz lebih tepat disebut dengan nama program ‘Penyuapan’. Pada program ini perusahaan-perusahaan milik negara penerima bantuan IMF harus dijual kepada swasta dengan alasan untuk mendapatkan dana tunai segar. Pada tahapan ini menurut Stiglitz, “Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”. Apa yang dikatakan Joseph Stiglitz itu tak jauh berbeda dengan yang pernah diungkap John Perkins dalam bukunya yang berjudul The Economics of Hit Man itu: “Kami, pembunuh bayaran ekonomi, adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan permasalahan ini secara global, dan kami bekerja dengan berbagai cara. Tapi mungkin yang paling umum adalah bahwa kami mengidentifikasi negara yang memiliki sumber daya yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika kita, seperti minyak, dan kemudian, mengatur pemberian pinjaman dalam jumlah yang besar untuk negara tersebut dari Bank Dunia atau salah satu organisasi yang berhubungan dengannya”.

Sebagai contoh, di mana pemerintah Amerika Serikat, terlibat dalam kasus “penyuapan” terbesar yang pernah ada, pada program “privatisasi” di Rusia pada tahun 1995, ketika pemerintah Amerika Serikat menghendaki Yeltsin terpilih lagi. “Kami tidak peduli kalau pemilihan itu adalah pemilihan yang korup. Kami ingin uang itu sampai ke tangan Yeltsin melalui ‘bawah-meja’ untuk keperluan kampanyenya”. Lebih khusus lagi, yang paling menyakitkan hati Joseph Stiglitz adalah kenyataan bahwa oligarki Rusia yang didukung oleh Amerika Serikat itu menyapu habis aset industri BUMN Rusia dengan akibat, korupsi tersebut memotong pendapatan nasional Rusia tinggal hampir separuhnya saja yang menyebabkan depresi ekonomi dan kelaparan.

Nah, sesudah program “penyuapan” itu langkah kedua IMF/Bank Dunia adalah rencana “satu-ukuran yang pas untuk menyelamatkan ekonomi anda” (all size – economic solution), yaitu “Liberalisasi Pasar Modal”. Dalam teorinya, deregulasi pasar modal memungkinkan modal investasi mengalir keluar-masuk. Namun, dan ini yang perlu diingat secara cermat, dengan ditingkatkannya pemasukan modal investasi dari luar, pada gilirannya akan menyebabkan pengurasan cadangan devisa negara yang bersangkutan untuk mendatangkan aset melalui impor dari negara-negara yang ditunjuk oleh IMF itu sendiri. Dan malangnya lagi, dalam kasus Indonesia dan Brazil, sebagai contoh, lagi-lagi menurut Stiglitz, modal itu hanya keluar dan keluar, tidak pernah balik atau kembali seperti yang diharapkan. Begitulah, ketika suatu misi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang.

Program Daur Uang Panas

Marilah kita kutip pernyataan John Perkins (yang pernah ditugaskan di Jakarta, Indonesia), demi melengkapi apa yang diungkap Joseph Stiglitz itu, “Tetapi uang yang dimaksud tidak pernah benar-benar diberikan kepada negara peminjam. Sebaliknya uang tersebut masuk ke perusahaan-perusahaan besar kita untuk membangun proyek infrastruktur di negara tersebut, pembangkit listrik, kawasan industri, pelabuhan. Hal-hal yang akan menguntungkan beberapa orang kaya di negara itu, di samping juga memperkaya perusahaan-perusahaan Amerika kita. Tetapi pemberian pinjaman tersebut sama sekali benar-benar tidak membantu sebagian besar orang di sana”.

Dalam hal ini, Stiglitz menyebut program “privatisasi” ini sebagai daur “uang panas”. Dana tunai dari luar masuk untuk spekulasi di bidang real-estate dan valuta, kemudian hengkang bila ada tanda-tanda akan ada kerusuhan. Akibat dari yang pertama di atas dan kedua ini, cadangan devisa negara bisa habis menguap dalam ukuran hari, bahkan dalam hitungan jam. Dan bila hal itu sampai terjadi, maka untuk merayu kaum spekulan untuk mau mengembalikan dana modal nasional, IMF menuntut negara-negara debetor untuk menaikkan suku-bunga banknya menjadi 30%, 50%, bahkan hingga 80%. Ketetapan itu diikuti dengan persyaratan kebijakan deregulasi peraturan perbankan, diberlakukannya kebijakan uang ketat (austerity policies), dihentikannya subsidi pada bidang-bidang yang berkaitan dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat. Dan lebih khusus pada kasus negara-negara yang sedang berkembang, di mana program pembangunan bagian terbesar masih menjadi tanggung-jawab negara, pemberlakuan politik uang ketat berdampak buruk terhadap kehidupan sektor riil. Penghentian subsidi terhadap sektor strategis seperti pangan, bahan bakar, transportasi, pendidikan, dan sebagainya, misalnya, selalu berakhir dengan krisis politik di negara-negara yang bersangkutan.

Singkatnya, pemasukan modal investasi dari luar, meskipun tampaknya membantu untuk memperluas kesempatan kerja, dalam kenyataannya persyaratan itu telah membunuh usaha atau para pengusaha bumiputera setempat, yang pada gilirannya jatuh bergelimpangan, karena belum mampu bersaing khususnya untuk pemasaran. Yang lebih ironis adalah acapkali kebijakan seperti itu berakibat dengan penutupan pabrik-pabrik, karena pemerintah tuan-rumah dan sektor swasta domestik tidak cukup memiliki modal. Contoh paling mutakhir adalah bangkrutnya ekonomi Argentina pada bulan Januari 2002 yang menimbulkan situasi kekacauan politik dan sosial.

Pada tahapan ini IMF menarik negara debetor yang tengah megap-megap itu ke langkah ketiga, yaitu Pricing atau Penentuan Harga Sesuai Pasar”, sebuah istilah yang terbilang muluk untuk program menaikkan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih, dan BBM. Tahapan ini sudah dapat diprediksi akan menuju ke langkah tiga-setengah, yaitu apa yang dinamakan oleh Stiglitz, “Kerusuhan IMF”, langkah yang paling mengerikan, sebagaimana yang dituturkan John Perkins: “Dalam kondisi seperti ini, kami para economic hitman akan mendatangi mereka dan akan mengatakan. “Dengar! Anda memiliki hutang yang cukup besar kepada kami, dan anda tidak sanggup membayar hutang anda tersebut. Jadi, kami meminta anda untuk menjual minyak anda dengan harga yang murah kepada perusahaan-perusahan minyak kami, begitu juga izinkan kami membangun sebuah pangkalan militer di negara anda, anda harus mengirim pasukan untuk mendukung pasukan kami ke suatu tempat di dunia seperti Irak, atau anda harus menggunakan suara anda untuk memilih apa yang kami pilih pada voting yang dilakukan di PBB”.

Tentu saja, “kerusuhan hasil ciptaan IMF” itu sudah bisa diprediksikan dan sangat menyakitkan hati. Ketika suatu negara sudah jatuh pingsan (IMF) akan mengambil keuntungan dan memeras sampai tetes darah terakhir yang masih ada pada negara debetor. Suhu akan terus meningkat, dan pada saatnya ketel itu meledak”, seperti halnya ketika IMF, yang lagi-lagi seperti dituturkan Joseph Stiglitz, mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia pada tahun 1998. Indonesia meledak dengan kerusuhan. Dan masih ada contoh kasus lain, semisal kerusuhan di Bolivia, sehubungan dengan kenaikan tarif air bersih pada tahun 2001, dan pada bulan Februari 2002 kerusuhan di Ekuador karena kenaikan harga gas dapur yang diperintahkan oleh Bank Dunia. Kesan yang ada ialah kerusuhan itu memang direncanakan. Singkat kata, “tak ada makan siang gratis” atau “tak ada bantuan yang tanpa pamrih”.

Sulaiman Djaya