Arsip Kategori: Tahun 2004

Di Sebuah Kafe, di Dago –Sebuah Melodrama Mahasiswa


Di IAIN (kini UIN) Bandung Tahun 2000

“Di meja yang agak menyudut ke arah dinding itu ia terus saja berbicara dengan riang, sementara aku sendiri hanya bisa mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut dan kedua bibirnya yang tipis dan indah”

Di Dago, di bulan Juni tahun 2001 itu –di sebuah keriuhan malam kota Bandung, aku pernah begitu akrab dengan cahaya lampu-lampu jalan, lampu-lampu kota, cahaya lampu-lampu yang telah kutinggalkan di antara pepohonan jalan dan trotoar. Sekarang –tentu saja ketika menulis catatan ini, aku hanya bisa menghadirkan kembali keberadaan mereka dalam benakku dengan jalan mengembarakan pikiranku ke tempat-tempat yang pernah kukunjungi, kulewati, dan kudiami bersama.

Bersama detik-detik dan menit-menit yang tak terasa ketika itu, kami tak peduli pada cuaca dingin yang menyusup ke sela-sela benang baju kami –ke pori-pori kulit tubuh kami. Sebab kami hanya tahu bahwa kami sama-sama ingin bertemu untuk sebuah alasan yang anehnya kami rahasiakan dalam diri kami masing-masing. Sebuah pengkhianatan –di saat aku tak memiliki alasan yang meyakinkan untuk marah, hingga aku hanya bisa menerimanya dan memang tak menemukan alasan untuk membantahnya.

Saat itu kami memutuskan untuk berjalan kaki saja –karena menurut kami dengan apa yang kami putuskan itu kami bisa saling mengenal kembali setelah selama satu tahun kami tak bertemu –selepas pertemuan dan perkenalan pertama kami di kampusnya, di sebuah kampus Islam, yang begitu akrab dan tanpa beban, meski pertemuan dan perbincangan itu memang bersifat kebetulan saja di sela-sela acara diskusi yang diselenggarakan oleh kampusnya dan kampusku.

Kami pun akhirnya bisa kembali untuk saling menerka dan memahami diri kami masing-masing selama berjalan kaki bersama itu –sebab hubungan kami sebelumnya hanya melalui pertukaran kata-kata yang kami tuliskan di lembar-lembar kertas. Kadang-kadang kami saling bertukar puisi –meski hanya sekali dua kali. Dan menurut pengakuannya sendiri, ia pun sesekali menuliskan apa yang dirasakan dan dialaminya menjadi sebuah puisi.

Sebenarnya aku tak menyangka bahwa ia sangat menyukai puisi yang kutulis dan kukirim untuknya selama kami hanya bisa berhubungan lewat pertukaran kata-kata di lembar-lembar kertas.

Kami berjalan kaki pelan saja dan memang kembali mendapatkan keakraban seperti saat pertama kali kami berkenalan dan berbincang di salah satu sudut taman kampusnya. Entah atas alasan dan dorongan apa, ia dan aku bersepakat untuk berkunjung ke rumahnya –dan meneruskan perbincangan kami di rumahnya hingga menjelang magrib. Bahkan aku sempat berkenalan dengan ibunya dan adik perempuannya.

Cuaca yang agak mendung dan menyembunyikan matahari di hari itu sangat mendukung apa yang kami lakukan. Apalagi ia mengenakan kemeja dan kerudung biru yang tentu saja menambah keindahan suasana kami selama kami berjalan dan berbincang menuju jalan umum untuk menaiki angkutan umum yang akan membawa kami ke Dago –di mana kami telah bersepakat untuk menghabiskan waktu kami demi memenuhi keinginanku untuk bisa kembali akrab di hari Minggu itu.

Ia memaksaku untuk turun bersamanya dari angkutan sebelum sampai di tempat yang hendak kami tuju. Ketika kutanya kenapa mesti turun di saat tempat yang akan kami tuju masih jauh sekitar ratusan meter lagi, ia hanya menjawab bahwa ia merasa tak nyaman berada di dalam angkutan dan lebih baik berjalan kaki lagi saja agar bisa lebih santai dan bisa berbincang-bincang seperti pada saat kami berangkat dari rumahnya.

Ia menggandeng dan menggenggam tanganku ketika kami akhirnya berjalan kaki lagi sesuai dengan keputusan dan kehendaknya. Dan memang aku sendiri merasa lebih nyaman dengan berjalan kaki lagi daripada merasakan kegerahan akibat cuaca mendung yang malah membuat tubuh kami merasa panas karena keringat orang-orang yang duduk bersama kami di dalam angkutan yang berdesakan-desakan.

Selama kami berjalan kaki untuk yang kedua kalinya itu, lampu-lampu jalan kota mulai menyala. Sepanjang trotoar dan pepohonan itu kurasa adalah pengalamanku yang paling akrab dengan seorang perempuan yang usianya lebih muda satu tahun dari usiaku, hingga kami lebih merasa sebagai sepasang bocah berlainan jenis kelamin yang asik bercanda tanpa canggung dan merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Kejadian-kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun itu tiba-tiba menemukan kembali detil-detilnya di dalam benak dan kepalaku saat aku tak menemukan tema dan isu lain untuk menulis. Kami sempat duduk berdua dan saling bertukar kata yang keluar dari mulut kami di trotoar itu untuk beberapa menit sembari memandangi lalulalang dan laju lalulintas sebelum kami berjalan kaki lagi.

Kami menyandarkan punggung kami masing-masing di sebaris pagar taman –di bawah lampu-lampu yang menyala dengan terang. Kami melakukan itu karena menurutnya bioskop yang hendak kami datangi baru akan dibuka sekitar satu jam lagi, jadi kami tak perlu terburu-buru.

Aku masih ingat, kami tak sempat menonton sebuah film yang kami rencanakan itu. Kami malah lebih asik bercanda di sebuah kafe yang terletak agak ke sudut di pusat hiburan itu setelah kami berkeliling di antara rak-rak sebuah toko buku. Ia membeli sebuah novel Sampek Engtay, sementara aku sendiri membeli Aeneid-nya Publius Virgilius Maro terbitan Everyman Books.

Di meja yang agak menyudut ke arah dinding itu ia terus saja berbicara dengan riang, sementara aku sendiri hanya bisa mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut dan kedua bibirnya yang tipis dan indah.

Sebenarnya aku tak sepenuhnya hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkannya –aku lebih terpesona dengan kelembutan sepasang matanya yang agak sendu. Seakan-akan aku tengah membaca larik-larik sebuah puisi yang memberikan kedamaian dan ketentraman bathin saat aku terus memandangi sepasangan matanya sambil berusaha menyimak apa yang dikatakannya dari satu tema ke tema lainnya saat itu.

Di sela-sela perkataannya –mungkin agar aku tak merasa diacuhkan, ia memintaku untuk membacakan sebuah puisi yang mungkin masih kuhapal, meski permintaannya kutolak dengan halus dengan mengatakan padanya bahwa tak ada satu pun puisi yang kuhapal. Tapi ia malah menggodaku untuk membuat puisi seketika itu juga untuknya. Tentu saja aku hanya bisa mengatakan bahwa puisi yang ia maksud itu telah ada ada di depanku –sebuah puisi yang tak lain sepasang matanya yang indah dan agak sendu, yang memberiku sebuah pandangan yang menenangkan dan memberiku rasa damai.

Ia hanya tersenyum dan sedikit tertawa gembira ketika mendengarkan apa yang kuucapkan itu. Aku yakin ia merasa istimewa dengan apa yang kukatakan itu –sebab ia tampak sedikit tersipu akibat ulahku itu, hingga ia mencubit lenganku dengan lembut. Setelah itu ia kembali menyeruput minumannya melalui sedotan dan kembali bercerita tentang apa saja yang ia lakukan selama kami tak bertemu. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mendengarkannya saja –karena memang aku tak memiliki tema yang bisa kuceritakan padanya, mungkin karena aku lelah, rasa lelah yang terobati karena kebahagiaan.

Rasa-rasanya momen-momen itu merupakan sebuah peristiwa paling riang dalam hidupnya sepanjang yang kuketahui –momen paling ceria dibanding pertemuan-pertemuan kami sebelumnya. Hingga rasa lelahku akibat perjalanan dari Jakarta ke Bandung seakan-akan hilang begitu saja, berubah menjelma rasa senang yang ia hadirkan. Dan sepertinya ia tahu bagaimana agar aku bisa mendapatkan sesuatu yang setimpal untuk mengobati keletihanku demi bertemu kembali dengannya.

Di kafe itu kami menghabiskan waktu hampir dua jam sejak kami berbincang selepas adzan magrib berkumandang. Ia pun mencegahku ketika aku hendak membayar minuman yang kami pesan, karena ia ingin mentraktirku dari uang lomba karya ilmiah yang ia menangkan. Setelah itu kami pun beranjak meninggalkan meja tempat kami bercengkerama dan bercanda selama dua jam itu, meninggalkannya dan berjalan keluar melewat pintu depan kafe. Kami tak segera pulang atau mengantarkan dirinya ke rumahnya –sementara malam itu aku berencana menginap ke kontrakan salah seorang teman kampusnya atas permintaan dirinya.

Setelah kami menghabiskan waktu bersama di kafe itulah ia memintaku untuk duduk barang sejenak di lantai depan kafe demi mendengarkan apa yang ingin ia katakan kepadaku. Tanpa rasa curiga kuiyakan dan kuturuti permintaannya. Tapi saat itu setiap perkataannya tiba-tiba menjadi pelan dan tak lagi riang seperti ketika kami berbincang di meja kafe sembari menikmati jajanan kami.

Saat itulah timbul pertanyaan dan rasa penasaran dalam diriku. Dan kecurigaanku yang muncul seketika itu ternyata benar dan tak ia bantah, meski sebelum-sebelumnya aku tak menyangkanya sedikit pun. Tiba-tiba ia malah meminta maaf bahwa kegembiraan dan keceriaannya selama kami berjalan kaki bersama dan mengobrol bersama di meja kafe itu memang disengajakan untuk menghargai apa yang telah kulakukan demi bertemu dengannya –demi membuatku merasa senang dan gembira meski untuk beberapa jam sebelum akhirnya ia akan mengatakan apa yang ingin ia katakan dengan terus-terang.

Aku memang hanya bisa mendengarkan setiap kata yang diucapkannya dan hanya bisa diam setelah ia sampai pada kata-kata klimaksnya bahwa undangan pernikahan dirinya dengan lelaki pilihan keluarganya telah ia kirimkan di hari ketika aku dalam perjalanan ke Bandung. Dan menurut pengakuannya, di dalam undangan pernikahan itu terdapat dua lembar surat yang ia tulis sendiri dengan jari-jemari tangannya –dan memang benar demikian ketika surat itu kubuka sesampainya aku di Jakarta.

Meski setelah perbincangan terakhir kami itu kami masih bisa berjalan kaki bersama kembali dan duduk bersama kembali di dalam angkutan umum –aku dan dirinya hanya bisa diam, sementara ia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. Kedua mataku hanya bisa memandangi pepohonan jalan dan lampu-lampu malam kota sebelum akhirnya aku berpisah dengannya di mana kami turun dan keluar dari angkutan umum yang kami tumpangi.

Sulaiman Djaya

Cervantes Sang Penyingkap Dunia Modern


mcnaught_guisard

“Bukan dengan mengurung tetangganya maka orang akan menjadi yakin dengan kegilaannya sendiri” (Dostoievsky). Rupanya, kegilaan dan sains pernah saling mencederai, dan ada sebuah jaman ketika tubuh yang tidak terkontrol dinamakan sebagai kegilaan. Nama yang sama bagi kemelimpahan imajinasi. Kegilaan ini juga menghiasi filsafat dan dunia kepenulisan.

Eksplorasi kegilaan bisa dikatakan sudah sangat tua dalam dunia kepenulisan dan pemikiran. Penulis-penulis seperti Erasmus, Shakespeare, Marquis de Sade, dan Cervantes adalah beberapa dari sekian banyak penulis yang mengeskplorasi kegilaan dengan intens dan maksimal yang dituangkan baik melalui traktat pemikiran maupun melalui karya-karya kesusasteraan. Tema kegilaan ini pun menjadi proyek super serius filsafatnya Michel Foucault. Menurutnya yang mendefinisikan kegilaan itu sendiri adalah sebuah kegilaan dalam artiannya yang lain. Foucault menyitir kata-kata Dostoievsky: “Bukan dengan mengurung tetangganya maka orang akan menjadi yakin dengan kegilaannya sendiri”.

Sementara itu, kegilaan dalam Don Quixote –nya Cervantes adalah kemelimpahan imajinasi. Dan Cervantes sendiri meminjam kegilaan Don Quixote untuk mengolok-ngolok kegilaan lainnya, yang dalam hal ini salah satu contohnya adalah heroisme. Turunan heroisme ini bisa juga dilihat dalam pembunuhan sesama manusia yang dimotivasi kliam manipulatif yang membajak atau mengatasnamakan agama.

Dapatlah dibandingkan, bila kegilaan dalam karya-karya Shakespeare berujung pada kematian, kegilaan Don Quixote dipicu dan dipacu oleh nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang dipercayainya yang berawal dari buku-buku tebal yang dibacanya. Secara metaforis dan alegoris, buku-buku bisa berarti doktrin tradisi atau pun nilai-nilai yang ditanamkan masyarakat pada individu.

Di sisi lain, menurut Foucault, kegilaan dalam Don Quixote-nya Cervantes adalah imajinasi-imajinasi yang dikontrol oleh praduga-praduga dan kepuasan-kepuasan dengan diri sendiri dalam dunia khayalan. Jika penelitian arkeologis dan genealogis Foucault benar, kegilaan dan orang-orang gila pada awalnya tidak diklinikkan atau dipasung. Menurutnya orang-orang di jaman renaissans lebih ramah memperlakukan orang-orang gila dengan cara menaikkan mereka ke atas kapal dan menyerahkannya kepada para pelaut. Itu dilakukan karena menurut orang-orang renaissans kebodohan dan laut memiliki persamaan. Di jaman renaissans kegilaan begitu riang dan bahtera kebodohan mengarungi lautan dan melintasi kanal-kanal Eropa.

Sementara itu dalam khasanah eksistensialisme kegilaan adalah ketegangan individu dengan masyarakat dan dunia objektifnya seperti terasa dalam pemikiran dan tulisan-tulisan Kierkegaard, Camus, dan Sartre. Dan di tangan Freud ketegangan ini mendapatkan pesona ilmiahnya. Kepatuhan individu pada tradisi dan etik-masyarakat (super ego) meniscayakan konsekuensi untuk menekan (menyensor) hasrat-hasrat bawah-sadar (id)-nya yang mengakibatkan neurosis alias “gangguan mental dan kejiwaan” pada tingkatan psikis.

Lebih lanjut menurut Freud, apa yang kita sebut rasionalitas dan peradaban itu sendiri adalah kumpulan sublimasi-sublimasi yang isinya adalah orang-orang hipokrit yang menderita. Penderitaan mereka yang paling dalam adalah apa yang disembunyikan dan tak dikatakan mereka. Dan kesepiannya yang paling menyakitkan adalah keinginan-keinginan mereka yang disumbat (disensor).

Sumbangan ilmiah Freud itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari jasa Nietzsche sebagai penemu pertama psikologi alam bawah sadar dan lorong-lorong gelap manusia yang selama ini mengenakan topeng rasionalitas. Dan pada Max Weber sumbangan Nietzsche tersebut menjadi teori tindakan: tidak semua pilihan dan tindakan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional, material, dan instrumental. Seringkali sebuah tindakan dan pilihan dilakukan karena dorongan emosi dan kebodohan yang spontan.

Dan bila kita kembali kepada cara pandang nietzschean, rasionalitas seringkali lebih merupakan kedok atau bentuk superfisial dari kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Lihat saja ulah George Walker Bush yang serampangan mengumandangkan perang terhadap setiap pemimpin negara lain yang tak disukainya. Di sini kita semua tahu kekuasaan memiliki kegilaannya sendiri seperti telah dibuktikan oleh sejarah dalam wujud diktatorisme dan totalitarianisme dalam sejarah kelam abad modern. Dan rasionalitas itu sendiri bila kita setuju dengan Hannah Arendt seringkali merupakan mesin pembunuh yang paling efektif dan sistematis sebagaimana telah terjadi di jaman modern dalam wujud genocide alias pembunuhan massal yang dimungkinkan oleh kepatuhan birokratis Eichmann si perancang gas demi melayani keinginan tiranis-nya Hitler.

Dalam Don Quixote-nya Cervantes, kegilaan adalah ketakterwadahan kemelimpahan subjektivitas individu dalam ruang sosial yang penuh larangan dan patokan, pembatasan dan moralitas. Sementara di sisi lain secara ironis ada banyak kegilaan yang menggunakan agama dan topeng-topeng kebajikan seperti disatirkan dan disiratkan dengan baik oleh The Name of the Rose-nya Umberto Eco. Dan rasionalitas-nya adalah kata lain “pelupaan”.

Akhirnya dari segi pemikiran seperti yang dipaparkan Milan Kundera dalam The Art of Novel, Miguel de Cervantes adalah penemu dunia modern yang dilupakan oleh para pemikir sekaliber Husserl dan Heidegger dalam telisik mereka tentang dunia modern.

Bila Descartes melulu berbicara tentang keniscayaan rasionalitas, Cervantes menemukan ambiguitas dan tawa-nya. Cervantes pula yang telah menyadari “pelupaan atas mengada” manusia, bukan hanya Heidegger. Manusia yang dalam pandangan Descartes merupakan “tuan dan pemilik alam”, kini tak lebih alat kekuasaan belaka. Dan rasionalitas yang digaungkan Descartes ternyata telah menjelma “the iron cage” bagi manusia itu sendiri, demikian tulis Kundera. Cervantes telah menemukan kebodohan dan kegilaan manusia di tengah klaim-klaim rasionalitas-nya. Dan hal tersebut sama-sama tak terhindarkan dan sama-sama nyatanya dalam kehidupan dan keseharian –meski seringkali dilupakan.

Sulaiman Djaya