Arsip Kategori: Tahun 2005

Ciujung


SUNGAI CIUJUNG BANTEN MENGHITAM

Di masa-masa silam, Sungai Ciujung tentulah sebuah anugerah dan keajaiban bagi Banten. Selain merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Banten, Ciujung tak ubahnya nyawa bagi masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, yang memang melintas sedari Gunung Kendeng di Lebak hingga ujung utara Serang. Airnya yang mengalir jernih ketika itu memberikan kesuburan dan produktivitas bagi pertanian –sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi hidup keseharian para penduduk dan masyarakat yang dilalui aliran airnya.

Tentu saja, ia juga memberikan keindahan bagi yang ingin mendekati dan memandanginya. Saat itu, ada banyak unggas atau pun burung-burung yang bercengkerama dan singgah di aliran airnya atau berkerumun di pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepinya.

Masyarakat tradisional Baduy –alias Urang Kanekes, yang hidup di kawasan Leuwidamar dan Gunung Kendeng, Lebak, bahkan menganggapnya sebagai salah satu sungai sakral di Banten, dan menyebutnya sebagai “Sasaka Buana”. Masyarakat Baduy, yang memang memegang kearifan tradisional mereka, juga percaya bahwa pengrusakan lingkungan akan menyebabkan petaka atau dampak buruk bagi manusia. Dan apa yang mereka percaya itu, kini menjadi kenyataan, ketika air Sungai Ciujung telah menghitam kental dan menyebarkan aroma tak sedap, alias tidak sejernih dan sewangi dulu lagi.

Namun bukan hanya kehadiran industri, yang salah-satunya adalah kehadiran pabrik kertas di Kecamatan Kragilan, Serang, yang menyebabkan airnya menghitam dan acapkali menyebarkan aroma tak sedap, ketika angin yang datang dari arahnya berhembus ke arah hidung kita, karena limbah yang dibuang ke Sungai Ciujung oleh pabrik tersebut. Pencemaran Sungai Ciujung juga disebabkan oleh sampah-sampah rumah tangga yang dibuang oleh para penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciujung, yang tak kalah mengkhawatirkannya dengan yang disebabkan oleh limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur tersebut.

Keadaan itu tentu saja sangat berdampak buruk bagi lingkungan (tanah, lahan, dan pohon), serta masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, terutama bagi penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang Serang Timur hingga Serang Utara, alias mereka yang tinggal di hilirnya. Pendeknya, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah dan keajaiban bagi Banten, kini telah menjelma kutuk dan sumber penyakit bagi masyarakat dan penduduk yang disinggahi aliran airnya, serta mengirimkan racun bagi lahan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya, atau yang dilintasi oleh aliran airnya yang tak lagi jernih, alami, dan sehat seperti dulu itu.

Keadaan tersebut, tentu saja sangat berbeda dengan kondisi Sungai Ciujung sekira 15 atau 20-an tahun silam. Sekarang, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah alamiah dan keajaiban bagi para petani dan nelayan, itu telah menjelma racun yang akan menmbulkan penyakit bagi penduduk dan membunuh produktivitas lahan-lahan pertanian. Masyarakat tak lagi dapat menggunakan airnya untuk kebutuhan mengairi sawah dan tanaman-tanaman ladang mereka. Apalagi untuk keperluan mandi dan kebutuhan air rumah tangga lainnya, terutama sekali bagi mereka yang tinggal di hilir sungai terpanjang dan terbesar di Banten ini.

Selain telah tercemar karena limbah rumah tangga para penduduk yang tinggal di hulu sungai dan limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur, debit air Sungai Ciujung juga mengalami penurunan yang signifikan dan mendekati taraf mengkhawatirkan. Salah-satu penyebabnya adalah mulai berubahnya sejumlah hutan di hulu sungai menjadi lahan pertanian dan perkebunan, dan juga beberapa kegiatan pertambangan pasir dan batu-bara. Fakta tersebut, tak pelak lagi, mesti menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah, baik pemerintah provinsi atau pun pemerintah kabupaten/kota, jika kita tidak ingin tanah Banten menjelma neraka di bumi dan sumber petaka bagi kita.

Sulaiman Djaya

Iklan

Nyai Dasima dan Edward Said


Film Njai Dasima Tahun 1932

Nyai Dasima. Nama itu membuat saya tertarik ketika menjadi bahasan tentang hubungan “sang pribumi” dan “sang kolonial” dalam sejarah bangsa kita, dan ketertarikan saya pada kisah Nyai Dasima ini tak lain karena ada masalah kepenulisan dan tuturan. Juga sedikit tentang gender dan feminisme. Kemudian saya pun membuka Orientalism-nya Edward W. Said untuk kembali membacanya.

Ketertarikan saya tidak terlepas dari judul yang ditulis oleh G. Francis tersebut: Tjerita Njai Dasima, Soewatu Koeban Dari Pada Pemboedjoek. Yang dimaksud pembujuk oleh G. Francis adalah Samiun CS (Hayati, Mak Buyung, Haji Salehun, dan Saleha). Yang berperan sebagai comblang Samiun untuk mendapatkan Nyai Dasima dari tangan Tuan Edward yang berkebangsaan Ingris tersebut tak lain adalah Mak Buyung. Sementara tukang guna-guna-nya alias dukun peletnya adalah H. Salehun.

Dilema Narasi

Nyai Dasima pun dimenangkan oleh Samiun yang sudah beristri Hayati tersebut. Tetapi kemudian tertindas karena sebagai istri kedua-nya Samiun. Nyai Dasima menjadi bulan-bulanan istri pertama Samiun, yaitu Hayati. Juga menjadi suruhan ibu-nya Samiun, yaitu Saleha. Syahdan, Nyai Dasima yang awal makmur hidup menjadi pembantu rumah tangga-nya Tuan Edward dan Nyonya Bonet, tiba-tiba menjadi korban patriarkhi dan praktek poligami. Inilah isu yang pertama yang membuat saya tertarik.

Isu yang kedua yang membuat saya tertarik adalah pada kata-kata: Nyai Dasima adalah didikan Nyonya Bonet. Pada isu yang kedua inilah saya teringat Orientalism-nya Edward W. Said bahwa kepenulisan atau kepengarangan dan tulisan atau pun ujaran rentan pada laku meng-objek-kan sesuatu yang dituliskan atau pun diujarkan. Di sini G. Francis sebagai sang narator dengan otoritas kepenulisan dan kepengarangannya yang kemudian mendefinisikan siapa Nyai Dasima dan orang pribumi pada umumnya. Persis seperti Robinson Crusoe mendefinisikan dan meng-ujar-kan siapa Friday.

Sang Ego dan Sang Lain

Tentu kita menjadi mafhum bahwa pada konteks ini posisi Nyai Dasima adalah sebagai Sang Lain. Sementara Sang Ego-nya adalah Nyonya Bonet. Artinya keberadaan (representasi) Nyai Dasima tidak lebih sebagai citra Nyonya Bonet. Nyai Dasima tidaklah hadir (berada) tetapi dihadirkan oleh Nyonya Bonet. Ia adalah konstruksi subjek Nyonya Bonet. Ironisnya di sisi lain, Nyonya Bonet sendiri sesungguhnya agen atau alat patriarkhis borjuis Eropa yang kolonial ketika itu. Artinya Nyonya Bonet adalah agen kolonial.

Sulaiman Djaya