Arsip Kategori: Tahun 2007

Menulis Sebagai Konsolasi


Perempuan Muslim Berdoa

Kadang terpikir di saat saya membaca dan menulis bahwa: “mungkin saja orang-orang yang selama ini tidak membaca buku-buku filsafat dan kesusasteraan lebih merasakan kebahagiaan dalam hidup mereka”. Yang saya maksud adalah orang-orang bersahaja seperti para petani yang menurut saya lebih terlihat tulus ketika mereka bekerja di sawah-sawah.

Mereka bekerja dari pagi hingga menjelang siang, dari sore hari, hingga di ujung senja. Saya selalu memandangi mereka bekerja di waktu-waktu jeda ketika saya sedang menulis atau membaca. Sebagian adalah ibu-ibu, dan beberapa di antara mereka adalah perempuan-perempuan yang masih terhitung muda.

Mereka tentu saja tidak pernah menyibukkan dirinya dengan persoalan-persoalan epistemologis dan pertanyaan-pertanyaan axiomatik seperti halnya seorang pemikir atau pun penulis. Jikalau pun mereka berpikir, tentu sebatas bagaimana memenuhi kebutuhan wajib keseharian mereka untuk menghidupi diri dan keluarganya, dan itu menurut saya sama terhormatnya dengan para sarjana dan penulis yang mencari nafkah dan gengsi sosial dari pengetahuan dan keterampilannya. Selebihnya, mungkin, hanya menjual kebohongan. Mempublikasikan ketidakjujuran yang meremehkan kesederhanaan dan kesahajaan kejujuran.

Kadang juga saya bertanya pada diri sendiri: apakah yang saya lakukan selama ini dapat membuat saya bahagia? Atau malah membuat saya hanya menanggung penderitaan? Tidakkah apa yang saya lakukan hanyalah sebuah ilusi? Sejenis egoisme yang menghindar untuk menjadi orang biasa dan orang kebanyakan.

Keraguan itu, tentu saja, kadang-kadang merongrong saya ketika saya menulis atau membaca. Dan tentu masih ada pertanyaan-pertanyaan lain, seperti: “apakah pencapaian pengetahuan dan kemajuan ummat manusia memang meniscayakan pengorbanan waktu dan hidup segelintir orang-orang yang memikirkannya di saat kebanyakan orang tidak pernah memikirkannya? Melakukan martirisasi diri?”

Pertanyaan-pertanyaan itu –bagaimana pun- kandang muncul begitu saja dalam benak saya ketika saya meragukan apa yang saya lakukan selama ini dengan menulis dan membaca. Sejumlah pertanyaan iseng yang tiba-tiba segera mengingatkan saya pada Tukang Batu-nya Rabindranath Tagore:

“Kau kira aku anak kecil, Ibu, tapi kau keliru, sebab aku adalah Noto, tukang batu, dan aku berusia tiga puluh tahun.

Tiap pagi kunaiki kereta dan pergi ke kota dan kususun batu demi batu dengan semen dan kapur dan kugambar dinding layaknya gambar menangkapku.

Kau kira aku bermain rumah-rumahan dengan kerikil dan batu-batu, tetapi kukatakan padamu aku membangun rumah sungguh-sungguh.

Ini bukanlah rumah-rumah kecil sebab kudirikan tiga tingkat dan tiang-tiang yang kuat.

Tetapi bila kau tanyakan padaku kenapa aku berhenti di sana dan kenapa aku tak meneruskan membangun tingkat demi tingkat hingga atapnya mencapai bintang-bintang, kuyakin aku tak dapat mengatakannya padamu dan kuherani diriku sendiri kenapa aku berhenti di mana saja pada segala.

Kunaiki perancah saatku suka dan ini adalah kegembiraan yang lebih besar ketimbang sekedar bermain-main. Kudengar pekerja-pekerja lelaki dan perempuan bernyanyi-nyanyi dalam bekerja dan meratakan atap, gerobak-gerobak berderak-derak sepanjang jalan-jalan, dan musik jalan dari pedagang-pedagang dan para penjual barang logam dan buah-buahan; pada petang hari bocah-bocah lari pulang dari sekolah dan gagak-gagak terbang berkoak-koak ke sarang mereka.

Kau tahu, Ibu, aku tinggal di dusun kecil di tepi telaga.

Tetapi bila kau tanyakan padaku mengapa kutinggal dalam sebuah gubuk beratap jerami meski kubisa mendirikan rumah-rumah besar dari batu dan mengapa rumahku tidak akan yang terbesar dari semuanya, kuyakin aku tiada dapat mengataka padamu.”

Pengakuan ini –seperti yang telah saya katakan sebelumnya- adalah ikhtiar penghiburan diri saya sendiri di sela-sela waktu menulis dan membaca, di mana saya dapat menemukan kenyamanan dalam kesendirian saya di waktu malam, pagi, dan sore hari. Saya akan menuliskannya kapan pun saya ingin menuliskannya. Di saat saya tidak memiliki ide untuk menulis hal-hal lain.

Dengan menulis diari ini saya pun menemukan kebebasan yang paling menyenangkan saya, mungkin karena saya terbebas beban teoritik seperti ketika seseorang menulis tulisan ilmiah yang menuntut akurasi dan referensi.

Kadang-kadang saya menuliskannya sembari mendengarkan musik-musik klasik dan jazz –dan kadang-kadang dalam keadaan senyap di antara suara kersik daun dan desiran angin yang samar-samar pada waktu tengah malam. Saya melakukannya untuk menghindari kebengongan yang tidak perlu atau sekedar mengisi waktu sebelum tidur, misalnya. Sekedar untuk mencurahkan perasaan setelah jenuh berkutat dengan buku-buku pemikiran, buku-buku pemikiran yang sepanjang pengalaman saya ada yang teramat membebani pikiran ketika membacanya dan ada yang terasa cepat dipahami, renyah, sekaligus menggugah dengan daya gelitik humornya. Montaigne, Kierkegaard, Nietzsche, dan Derrida adalah dari sekian penulis yang menurut saya memiliki humor tersebut dalam tulisan mereka, dan tentu saja dengan keunikan mereka masing-masing.

Meski pun begitu, keinginan saya membaca buku-buku pemikiran tentu saja tak diniatkan untuk menjadi pemikir. Menurut saya buku-buku yang saya maksudkan tersebut lebih untuk membuka kepekaan saya dan memperkaya perspektif saya dalam memandang dan menyikapi hidup, berinteraksi dengan kekayaan dan keunikan jiwa para penulisnya, sebentuk pergaulan intersubjektif.

Para penulis –yang kebetulan juga para filsuf- yang saya maksudkan itu setidak-tidaknya telah merubah sekaligus memberikan sentuhan dan kekayaan baru pada cara saya berpikir, memandang, dan memahami diri saya sendiri dalam hidup, juga sikap dan penilaian saya ketika menghadapi persoalan menyangkut apa yang terjadi pada orang lain. Itu semua tentulah memberikan nilai-nilai positif pada seorang pembaca, memberinya otonomi yang tidak dimiliki orang-orang yang tidak membaca buku-buku.

Sulaiman Djaya

Iklan

Dostoievsky dan Akutagawa


Sajak Prosaik Sulaiman Djaya

Sebuah karya, atau pun eksperimen penulisan, seperti yang telah kita maphumi, adalah ikhtiar dan pergulatan pencapaian bahasa, di mana suatu kebaruan dan keunikan akan diperlihatkan oleh sebuah karya, entah puisi atau pun prosa. Misalnya, apakah sebuah karya menawarkan suatu bentuk pengucapan atau penuturan dan pengucapan tertulis, meski belum jauh berbeda dengan puisi-puisi atau prosa-prosa sebelumnya, tetaplah mampu memberikan sedikit sentuhan dan kenakalan.

Tak jarang, kreativitas mesti mendobrak kemapanan bahasa atau pun mainstream tuturan dari tradisi atau pun kebiasaan sebelumnya. Sebutlah sebagai contohnya, ikhtiar itu dengan tuturan puitis sebuah prosa, yang bercerita lewat imaji dan citra-citra pinjaman untuk menyiratkan sesuatu yang hendak disampaikan, atau cukup dengan jalan sederhana saja semisal dengan jalan verbalisme yang nakal namun berpetualang, yang dengan itu semua proses pembacaan sebuah karya sanggup membangkitkan sebentuk orgasme literer.

Contoh lainnya adalah semisal ketika kita membaca karya-karyanya Dostoievsky yang membuat kita tergoda untuk menelusuri dan menerka dunia yang tengah ditebarkannya kepada kita, bak ketakusaian Alfu Layla Wa Layla, karena suasana dari efek penulisan prosa-prosanya yang menghadirkan keragaman sekaligus teka-teki dunia ala novel-novel detektif.

Dalam Crime and Punishment, misalnya, kita sebenarnya tidak pernah tahu secara jelas alasan kejahatan Raskolnikov. Apakah karena kemiskinannya? Apakah karena kebenciannya terhadap tingkah-polah masyarakat rente? Kita tak tahu mana muasal dan akibat, karena yang tersisa adalah kesamaran yang memberi kita kesempatan untuk memikirkan sendiri. Dan itulah mungkin yang akan kita sebut sebagai efek musikal sebuah karya sastra yang tak menghendaki dirinya menjelma sebuah saintisme-bahasa, tetapi lebih sebagai kebijaksanaan penuturan dan penceritaan.

Model yang sama juga dapat kita rasakan dalam beberapa prosa Akutagawa, seperti prosa Di Hutan Belukar-nya yang menawarkan kepada kita ragam versi kesaksian atas kejahatan yang sama-sama menawarkan anti-tesis bagi setiap usaha saintisme bahasa. Seperti kita tahu, dalam salah-satu prosanya itu, Akutagawa rupa-rupannya hendak menyentil dan mempermainkan perspektif pembaca, atau kita, dalam memahami dan memandang sebuah kejahatan agar tidak terlalu terburu-buru menuduhnya.

Secara longgar kita dapat saja membandingkannya dengan Alfu Layla Wa Layla atau Kisah Seribu Satu Malam yang bercerita dalam sebuah cerita, di mana si tokoh yang bercerita dalam sebuah cerita pada saat yang sama juga tengah bercerita atau menceritakan tokoh lainnya dan tokoh yang tengah diceritakan juga tengah bercerita dalam cerita yang lainnya. Mungkin begitulah sebuah prosa, bertarung dan menjelujur dalam rimba bahasa itu sendiri. Bila demikian, kesusastraan memperlakukan bahasa bukan sebagai saintisme yang hendak mencipta kejelasan, tetapi lebih sebagai petualangan.

Sulaiman Djaya