Arsip Kategori: Tahun 2008

Silogisme Negative


Pale Fire by Vladimir Nabokov

Dalam bait-bait Pale Fire Canto One baris 99-101, Vladimir Nabokov menulis: My God died young. Theolatry I found degrading, and its premises, unsound. No free man needs a God; but was I free?

Bait-bait tersebut dalam pembacaan saya lebih terdengar sebagai satirisasi diri sang subjek sejauh menyangkut heroisme promothean manusia yang ingin terbebas dari belenggu kekuatan impersonal – yang kemudian malah terjebak dalam belenggu kekuatan impersonal yang lain – atau yang disebut oleh Adorno dan Horkheimer sebagai gejala odisian. Karena dalam pembacaan saya bait-bait tersebut tidak meletakkan dirinya pada ide tentang ada atau tidak adanya Tuhan, tetapi lebih sebagai kritik dan parodi atas semangat promothean manusia yang ketika ingin terbebas dari belenggu kekuatan impersonal yang satu, malah menciptakan bagi hadirnya kemungkinan belenggu kekuatan impersonal yang lainnya.

Bila saya kembali mengucapkan dan menuliskannya dengan gaya dan penuturan yang berbeda, maka bait-bait tersebut akan berbunyi: Tuhan senantiasa ada, tetapi manusia seringkali hanya menjadikannya sebagai berhala. Atau bisa juga: Tuhan memang ada, Tapi Ia tak nyata, karena itulah manusia menciptakan berhala.

Silogisme negatif tersebut merupakan gaya Aristophanes untuk mengekspresikan kekekesalannya terhadap silogisme sokratian yang menurutnya cenderung komikal dan lurus hingga menyingkirkan kemungkinan bagi ironi, komedi, satir, dan parodi. Dan gaya yang terakhir ini pulalah yang mungkin akan lebih dekat dengan apa yang ingin dimaksudkan istilah teolatri dalam bait-bait Pale Fire yang telah saya kutip di atas. Di mana diksinya mengandung secara serentak kontradiksi, satir, parodi, ironi, silogisme yang dipelesetkan, dan logika yang dijungkirbalikkan. Hingga logika atau pun silogisme menjadi negatif dan porak-poranda. Metode dan bentuk ini juga dikenal dengan anagram, yaitu permainan merangkai huruf yang telah disediakan untuk menyusun beberapa kata dan bunyi yang berbeda. Misalnya kata Islam bisa menjadi Salim. Kata Demokrasi bisa berubah menjadi “Demo Kasir”, “Kasir Demo”, “Sari Medok”, “Sari Demok”, dan lain sebagainya.

Begitulah bait-bait dalam teks Pale Fire terasa menggelitik sekaligus menggugah karena eksplorasinya dan iktiarnya memparodikan dan memelesetkan khasanah pemikiran menjadi kekayaan khasanah bahasa dan penuturan. Seperti silogisme yang dipelesetkan dan logika yang dibalikkan. Yang kadang digabungkan dan dicampuradukkan dengan anagram: pot, top, spider, redips. And “powder” was “red wop” (348-9) dan: other men die; but I am not another; therefore I’ll not die (213-14). Gaya yang pernah dipraktekkan Aristophanes untuk melawan Sokrates ini di kemudian hari dikembangkan dengan canggih oleh Nietzsche menjadi diksi yang padat sekaligus simbolik. Di sini metafor bukan semata personifikasi atau pun simbolisasi. Tetapi juga komedi, satir, dan ironi. Gaya ini juga dipraktekkan dalam karya-karya Kierkegaard yang sarkartis, simbolik, dan merusak kemapanan. Kita juga bisa memasukkan falsifikasi dan verifikasi Popperian ke dalam bentuk dan gaya ini. Ketika generalisasi silogistik-deduktif sokratian dan platonian dibatalkan keabsahannya oleh kasus induktif aristotelian. Dan di tangan Derrida, gaya ini menjadi dekonstruksi.

Semua gaya dan bentuk tersebut juga secara serempak dipraktekkan bait-bait dalam teks Pale Fire-nya Vladimir Nabokov untuk menertawakan dan memelesetkan berhalaisme dan dogmatisme pemikiran dan ideologi. Yang kadang menjadi skeptisisme murni: There was a time in my demented youth, when somehow I suspected that the truth about survival after death was known to every human being: I alone knew nothing, and a great conspiracy of books and people hid the truth from me. There was the day when I began to doubt man’s sanity: How could he live without knowing for sure what dawn, what death, what doom awaited consciousness beyond the tomb? And finally there was the sleepless night when I decide to explore and fight the foul, the inadmissible abyss (168-180).

Dalam teks-teks Pale Fire, silogisme menjadi komedi. Logika berubah parodi. Matematika jadi tawa. Rumus jadi satir. Pemikiran dan ideologi mesti dicurigai sebagai berhala, bila tanpa kritisisme. Di sana secara serempak terjadi perdebatan antara Freud, Sokrates, Aristoteles, Nietzsche, Lolita, Oedipus, Montaigne, Lafontaine, Rabelais, Plato, Pope, Jane Dean, Proust, Homer, Virgil, Ovid, Arthur Conan Doyle, dan Marx. Pale jadi Leap. No jadi On. Tea jadi Eat. Doom jadi Mood. On jadi No. Eat jadi Tea. Leap jadi Pale. Late jadi Tale. Tale jadi Late. Life jadi File. File jadi Life. Jean jadi Jane. Jane jadi Jean. Now jadi Won. Won jadi Now. Read jadi Dare. Dare jadi Read. Dan seterusnya sampai batas imajinasi huruf merangkai kata.

Tetapi keseluruhan penulisan teks-teks Pale Fire mempraktekkan bentuk dan gaya diaris, di mana penuturnya adalah orang pertama yang sedang mengkomunikasikan keluhan-keluhan kejiwaannya kepada seorang psikiater. Atau seseorang yang tengah curhat dan berbagi dengan pembaca. Istilah lain untuk menyebut gaya ini adalah confession atau pengakuan. Gaya seperti ini akan terasa dekat dan akrab dengan pembaca, karena si penutur hanyalah wakil dari pembaca untuk membuka dan mengungkapkan sisi lain jiwa para pembaca: Now I shall spy on beauty as none has spied on it yet. Now I shall cry out as none has cried out. Now I shall try what none has tried. Now I shall do what none has done (746-9). Dan posisi si penutur diari ini adalah posisi orang yang skeptis dan mengejek dogmatisme dalam hidup: I’m puzzled by the difference between two methods of composing: A, the kind which goes on solely in the poet’s mind, a testing of performing words, while he is soaping a third time one leg, and B, the other kind, much more decorous, when he’s in his study writing with a pen (840-7). Di sini kata-kata ditemukan oleh tangan, bukan oleh benak. Dan bahasa ditemukan oleh penyakit jiwa, kegilaan, dan ketakterdugaan: In method B the hand supports the thought, the abstract battle is concretely fought (848-9). Pada konteks ini logika konvensional diragukan dan pertanyaan dipertanyakan kembali: what is what? (369).

Uraian-uraian diaris Pale Fire bisa juga dibaca dalam posisi seorang penulis yang sedang bercerita tentang proses menulis. Seseorang yang mencampuradukkan berbagai pemikiran untuk disatirkan dan diparodikan. Pale Fire adalah Rabelais dalam puisi: L’if, Lifeless tree! Your great Maybe, Rabelais: The grand potato. I.P.H., a lay Institute (I) of Preparation (P) for the Hereafter (H) (501-4). Dan fantasi si penutur dan pencerita dalam teks-teks Pale Fire adalah seseorang yang sedang berandai-andai tidak menjadi manusia. Atau seseorang yang sedang membayangkan dirinya tak ada. Ia ingin menjadi burung atau pun bayang-bayang. Ia ingin terbang bebas menjelajah cakrawala semesta tanpa batas: I was the shadow of the waxwing slain, by the false azure in the windowpane; I was the smudge of ashen fluff –and I lived on, flew on, in the reflected sky (1-4).

Pale Fire adalah pengakuan verbal kekanak-kanakkan yang menggelitik. Nostalgia masa silam demi penghiburan. Ia adalah identitas yang samar dan tercerai dalam fantasi ketiadaan. Dengan kata lain, Pale Fire adalah fiksi otobiografis yang ditulis dalam bentuk puisi dengan mengeksplorasi ironi dan komedi demi mencurigai diri sendiri.

Sulaiman Djaya

Kisah Nyi Randa


Puisi Surat Cinta Tanpa Alamat Karya Sulaiman Djaya

Lampu-lampu sebuah pabrik kertas, karena tampak berkerlap-kerlip dan berkerumun, lebih mirip sebuah kota kecil yang tak pernah tertidur. Dan memang sudah hampir tengah malam ketika pintu ruang bacaku masih terbuka. Juga, meski cukup jauh, suara-suara mesin pabrik kertas itu seolah datang dari setapak pematang di belakang rumah.

Tak terasa, aku sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak lagi sama seperti ketika aku masih kanak-kanak. Memang, sesuatu acapkali telah berubah secara pelan-pelan ketika kita tak sedang memikirkannya, atau ketika kita, entah sengaja atau tidak sengaja, tak menyadarinya.

Sementara itu, malam tetap lengang seperti biasanya, tak ada bising atau keriuhan selain suara-suara katak dan serangga. Namun, ketika aku masih kanak-kanak, tempat yang kini menjadi kawasan pabrik kertas itu adalah sejumlah rawa-rawa dan hutan belukar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular dan binatang-binatang lainnya.

Di tempat itu pula, dulu sering kulihat gerombolan-gerombolan bermacam-macam burung dan unggas yang singgah atau kembali terbang.

Aku baru terbangun dari tidur sebelum aku membuka pintu dan memandangi lampu-lampu pabrik kertas itu, dan karenanya aku sengaja menahan dingin angin selepas hujan. Sedangkan di antara atau di sekitar lintasan-lintasan pematang dan hamparan sawah-sawah, gelap terasa kental dengan kebisuannya yang menyerupai kiasan maut yang tengah terlelap karena cuaca lembab.

Tetapi, ingatanku tentang masa silam, muncul ketika kupandangi barisan angka-angka pada kalender yang terpampang dan berdiri di atas meja bacaku, di antara beberapa buku, jurnal dan majalah yang terhampar dengan tenang, juga seperti kematian dan masa silam. Masa-masa yang bagiku seperti lorong-lorong keheningan yang panjang.

Ketika itu aku harus berjalan kaki dengan menempuh jarak beberapa kilometer untuk bisa sampai ke sekolah menengah pertama. Atau menumpang mobil-mobil truk pengangkut pasir dan batubata yang jarang ada, kecuali di hari-hari tertentu saja. Pernah juga aku harus berteduh di sepohon rindang di tengah perjalanan pulang dari sekolahku menuju rumah karena hujan lebat yang turun tiba-tiba.

Itulah ketakutan pertamaku berada dalam kegelapan dan guyuran hujan di antara barisan pohon-pohon rindang sepanjang jalan dan sungai, yang karena keheningannya, lebih mirip terowongan panjang di waktu malam. Tetapi kini, sungai telah memiliki dinding-dinding batu dan pohon-pohon rindang sepanjang jalan telah digantikan barisan tiang-tiang beton, bersamaan dengan hadirnya pabrik kertas dengan dua cerobong asap raksasanya.

Tetapi, sebelum pabrik kertas itu dapat hadir dengan megah seperti sekarang ini, ada sebuah cerita tentang Nyi Randa, yang kemudian menjadi nama tempat yang kini telah digantikan pabrik kertas itu, yaitu Tegal Nyi Randa. Dan ketika pabrik kertas mulai dibangun di tegal itu, orang-orang bercerita tentang sepohon besar yang berdiri kokoh kembali keesokan harinya setelah dirobohkan.

Pohon besar itulah yang oleh orang-orang dipercaya sebagai jelmaan Nyi Randa bertahun-tahun kemudian setelah ia melarikan diri ke rawa-rawa dan gugusan hutan belukar ketika seorang jawara membunuh suaminya tak lama setelah dilangsungkan resepsi pernikahan Nyi Randa dan suaminya yang terbunuh itu. Sebab, setelah kejadian itu, seperti cerita orang-orang di sekitar sungai Ciujung, Nyi Randa tak lagi ditemukan.

Mendapati pohon besar yang telah dirobohkan dengan menggunakan alat berat itu berdiri kokoh kembali keesokan harinya, pihak perusahaan pun merobohkan lagi pohon besar itu. Tetapi hasilnya tetap sama, pohon besar itu kembali berdiri seperti semula.

Kejadian itu pun segera menyebar luas di masyarakat, dan memunculkan dua pendapat: pihak perusahaan tetap ngotot untuk melenyapkan pohon tersebut, sementara sebagian masyarakat menginginkan agar pohon besar tetap ada di tempatnya seperti telah bertahun-tahun ada.

Butuh waktu berhari-hari bagi pihak perusahaan untuk mewujudkan keinginan mereka sebelum akhirnya mereka berhasil membayar para dukun dan beberapa orang untuk melenyapkan pohon besar tersebut dengan bayaran yang cukup besar bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan resmi.

Namun ceritanya tak hanya sampai di situ saja. Beberapa hari setelah pohon besar itu berhasil dilenyapkan, pihak perusahaan dikagetkan dengan banyaknya kehadiran ular-ular yang datang tiba-tiba entah dari mana ke setiap sudut dan tempat di kawasan pabrik kertas yang sedang dibangun itu, hingga beberapa pekerja pun meninggal karena serangan ular-ular tersebut.

Sementara, di waktu malam, para pekerja seolah selalu mendengar suara seorang perempuan tengah bersenandung dan beberapa pekerja terjatuh dari konstruksi bangunan karena efek teror nyanyian gaib tersebut.

Dan seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya, orang-orang pun mempercayai bahwa perempuan yang selalu bersenandung di waktu malam itu adalah Nyi Randa yang tengah merana dan merasakan kesepian karena telah terusir untuk kedua kalinya. Aku jadi teringat kembali tentang kisah Nyi Randa itu ketika kupandangi lampu-lampu pabrik kertas, yang dulunya adalah rawa-rawa dan habitat para unggas, burung-burung, dan binatang-binatang Tuhan lainnya.

Sejumlah burung-burung dan para unggas, yang ketika terbang melintasi cakrawala pagi atau senja, membuatku membayangkan diri ingin seperti mereka yang dapat pergi dan terbang kapan saja. Itulah sepenggal kisah tanah kelahiranku, Ciujung atau Kragilan.

Sulaiman Djaya