Arsip Kategori: Tahun 2009

Bermain Bahasa Bersama Hans Magnus Enzensberger


Puisi Amsal Sajak Sulaiman Djaya

Puisi-puisi Hans Magnus Enzensberger merupakan sejumlah diagram yang berserakan –yang mungkin sebaiknya dibaca sebagai sejumlah sketsa yang bermain-main dalam sekian peluang permainan kemungkinan. Sejumlah modus linguistik dan fragmen-fragmen protes dan penertawaan yang membuka peluang dirinya untuk segala isu yang ingin diparodikan dan dikomedikannya secara ironis dan satiris. Dari isu yang sangat saintifik hingga yang remeh-temeh dan sehari-hari. Dari soal manusia sampai meminjam benda-benda yang dibayangkan sebagai manusia, juga sebaliknya. Segar, nakal, dan kadang-kadang urakan:

Ketika ia muncul dari kotaknya yang gelap, ia tak istimewa. Kulitnya mulus, baunya murni tanpa dosa, satu di antara berlaksa. Segan ia belajar berjalan, keseleo, tidak pas, tidak waspada. Lambat-laun ia mengalah, melunak, menjaga lidah. Kala malam ia termangu, tak tidur, namun di siang hari ia tergopoh-gopoh kian-kemari. Menderita, kotor, dan basah dalam ziarahnya yang panjang. Keringat, lungkrah, intimitas -sebuah pribadi, unik dan berhati baik. Hanya, keriputnya kian dalam, bintik-bintik bermunculan di kulitnya, dan tak lagi sepenuhnya kedap, mengendur di semua bagian. Maka berlabuhlah ia, di sana, tempat kita semua berlabuh, di sebuah kotak yang gelap. Yang tersisa cuma jiwa, jika sepatu memang memilikinya, tak kentara dan tak terpakai untuk apapun juga (Curiculum vitae).

Puisi-puisinya seakan hendak menerima keberserakan dalam hidup di tengah gempuran klaim-klaim kepaduan, kebenaran, dan objektivitas –yang dalam pemahaman Soren Kierkegaard, misalnya, disebut sebagai perjumpaan dengan ironi yang memang berciri individual dan konkret karena ia lebih sebagai pertemuan yang intim seseorang dengan eksistensi.

Tetapi ironi tentu juga tak semata-mata hanya dipahami secara intelektual –ia ada dan tersebar dalam hal-hal yang biasa. Dalam hal inilah Enzensberger melakukan upaya penghadap-hadapan antara narasi besar versus keremehtemehan, objektivitas versus pengalaman pribadi yang unik dan spesifik. Meskipun demikian, ikhtiar penghadap-hadapan tersebut tentu juga bukan sesuatu yang “diharuskan” –karena bisa jadi anggapan kita tentang ironi itu sendiri adalah juga ironi yang lain. Dengan itu, ironi dapat dipahami sebagai sebuah sketsa yang terbuka dan tidak rampung. Marilah kita contohkan dengan puisi-puisi Enzensberger berikut:

Yang satu membenci ketakjuban. Tapi mereka takjub, jika kita anggap sains mereka membosankan. Yang lain tak mau tahu bagaimana tepatnya sesuatu berlaku dan kesal, jika kita tak menggubris keajaiban mereka. Tubuh astral, teori M, karma, artificial intelligence: Aku tak tahu mana yang lebih kusuka, iming-iming kaum mistikus atau keajaiban-keajaiban sains. Dengan sabar keduanya kudengarkan, berjam-jam, bertahun-tahun (Jangan Percaya).

Dengan khidmat kita berhenti bagai gerombolan sapi, di sini, di bahu jalan. Bangkai mobil itu kita pelototi, dokter darurat, kamera-kamera kita pelototi, dengan abai, kita pelototi yang sekarat. Sementara di bebukit sana sapi-sapi, selemparan batu di rumput semanggi, tak mengacuhkan kita, memamah biak, tak mendongakkan kepalanya yang berat, memamah biak, dengan khusyuk, hingga kita kembali ke mobil, membanting pintu, dan begitu saja berlalu (Penonton).

Dengan pemahaman di atas, kita akan segera dimaphumkan pula bahwa ironi, parodi, dan komedi yang lembut justru adalah ironi, parodi, dan komedi yang dibungkus sekaligus dibumbui humor satiris –yang acapkali terdengar ringan dan biasa, tetapi itu tidak mengurangi kekuatannya justru karena keremehtemehan dan kesederhanannya:

Kelebihan istriku kelewat banyak untuk selembar kertas A4. Ia adalah makhluk multisel dengan rambut gemerisik, yang malam hari, bila ia tidur, berbiak dengan anggun. Tiap helai rambutnya kugemari. Ia dikaruniai bagian-bagian empuk. Bila cuping hidungnya sedikit bergetar, aku tahu: ia sedang berpikir. Betapa sering dia berpikir, dan betapa tak semena-mena ia hidup! Aku tahu, ia pandai meleletkan lidah, pandai main kaki. Bila tertawa atau marah, pada mulutnya tampak kerutan baru yang kusukai. Ia tak seluruhnya putih, ia memiliki beberapa warna. Tarikan nafasnya pun banyak jumlahnya, belum lagi aneka jiwa di dadanya. Aku heran, bahwa di sini, tempat kebetulan aku berada, kerap ia ada (Kelebihan Istriku).

Puisi tersebut pada dasarnya mendua, ia pujian sekaligus ejekan –ia ejekan sekaligus pujian. Dan kedua-duanya berjalan beriringan, saling mengisi, dan sama-sama melengkapi dan menguatkan. Berkat bantuan humor pula ironi memungkinkan tidak hanya berlaku satu arah. Seorang penyair menertawakan realitas yang dialami dan dihidupinya sekaligus menertawakan dirinya sendiri, yang dengan demikian sketsa dunia yang dibangun dan digambarnya tidak terlampau narsistik dan egoistik. Karena itu keberhasilan Enzensberger menurut saya lebih terlihat pada puisi-puisi sketsanya yang mendua dan berani menertwakan diri itu –bukan yang prosentasinya terlalu penuh dengan beban untuk mengkritik yang di luarnya:

Seorang teman saya di Akademi Jerman di Berlin-Timur, jalan Lepizig, baru-baru ini membuka bidang serba baru bagi ilmu pengetahuan: Linguistik Kekeliruan. Ya, ini akan berarti kita bakal super sibuk.

Sebagai awam saya tak berhak menilai, tapi kesan saya, kekeliruan sedang beranak-pinak: Tikus-tikus putih, albino-albino bermata merah, yang saling berpanjatan, di kursi dan ranjang, dan tak henti-henti membiakkan tikus-tikus baru.

Percakapan-percakapan di loket bank, pendapat-pendapat mengenai Komplotan Empat, pedoman-pedoman bagi masa depan ummat manusia.

Kesadaran keliru, kata para filsuf, ya, kalau cuma itu masalahnya.

Mengerem atau mempercepat, celana dengan atau tanpa keliman, moralmu atau moralku. Yang mengira diri benar telah terhakimi.

Dengan tangan telanjang mencoba membebaskan diri dari gunung timbunan semakin banyak sekop yang berkarat -saya khawatir itu mubazir. Salah semua, mungkin sekali juga kalimat ini.

Jika sesaat menyimak kata-kata sendiri, betapa ia menggaung di kepala, kita ingin membekap mata, layaknya anak kecil membekap telinga dan tak mau mengatakan apa-apa lagi. Tapi itu bakal keliru (Keliru).

Hal lain yang ingin dicandai Enzensberger dalam puisi-puisinya adalah dogmatisme akademik dan saintifik yang terlampau menganggap objektivitas dan kepastian sebagai doktrin yang seakan-akan tak terbantahkan. Dengan mengusulkan Linguistik Kekeliruan, Enzensberger mengajak kita untuk memeriksa setiap pernyataan-pernyataan dan kesimpulan-kesimpulan saintifik dari sudut bahasa. Yang dengan itu juga Enzensberger tidak menutup diri untuk juga mencurigai dan menertawai kata-kata dan bahasa puisi-nya sendiri.

Tapi rupanya Enzensberger tidak hanya mencandai dogmatisme akademik dan saintifik, ia juga mencandai ilusi-dogmatis yang seringkali dikhutbahkan para pemuka agama, yang memang acapkali hanya menjual retorika-politis, dan Enzensberger mencampuradukkannya dengan kritiknya terhadap dogmatisme saintifik dan akademik. Dalam sajaknya yang berjudul Khotbah Minggu yang Astronomis, Enzensberger memparodikan komedi humor-satirisnya terhadap sains dan agama tersebut secara bergantian dan bersamaan:

Mempercakapkan nestapa kita -Kelaparan penganiayaan pembunuhan etcetera -Betul! Ini rumah edan! Namun perkenankanlah saya menyebut dengan segala kerendahan hati, bahwa di atas segala-galanya tokh tempat kita berlabuh ini adalah sebuah planet yang agak memadai, persis sebuah taman mawar dibandingkan dengan neptunus (minus dua ratus sebelas derajat celcius), kecepatan angin dua ribu km/jam dan atmosfirnya pukimak penuh metan). Ini sekedar supaya kalian tahu bahwa tempat lain jauh lebih tak nyaman. Amiin!

Ideologi dan politik Enzensberger sendiri adalah penolakan terhadap segala ideologi, selalu mencurigai dan kritis terhadap kanan atau pun kiri. Tapi jika ideologi dipahami sebagai sikap dogmatis, ia juga bagi Enzensberger ada dalam sains atau pun agama, kepercayaan atau pun pemikiran. Dilihat dari erudisi dan gaya gugatannya, Enzensberger adalah seorang posmodernis. Seorang satiris dalam artian yang sebenarnya:

‘here let us build tabernacles, on this Aryan dump of scrap. . .this is the frozen-up waste, this is successful madness, this dances in needy mink, on broken knees, in amnesia’s eternal springtime’(Language of the Country).

Dengan satir dan humor pula –kebodohan, paradoks (pertentangan), dan aporia (kebuntuan) ditertawakan sekaligus dirayakan agar kita dapat terus-menerus mengintrospeksi dan mengkritik diri, menghindari dogmatisme pemikiran dan kepercayaan:

you the often maligned, who in your slyness often pretend to be stupider than you are, protector of all the frail, only to the elect do you grant the rarest of your gifts, the blessed simplicity of the simple’(Ode to Stupidity).

Puisi-puisinya Enzensberger menertawakan apa saja: agama, budaya pop, sains-politik, ilmu kimia, dan lain sebagainya, sejumlah sketsa dan fragmen yang terserak. Mulai dari sejarah sampai ajaran-ajaran teologi. Kadang bergaya atheisme Nietzschean kontemporer:

Many thanks for the four seasons, for the number e, for my dose of caffeine, and, of course, for the strawberry dish painted by Chardin ( Addressee Unknown).

Sebagian kritikus menilai sajak-sajaknya merupakan puisi jurnalisme (journalism poetry):

After the Boxer Rising the dowager empress of China is said to have driven through Peking’s streets in a yellow limousine. On spotting a foreigner she’d draw back the curtain, make a slight bow and smile at him. That doesn’t matter. Last week they took away Abdel, my friend. They kept him locked up for 10 days in a basement. Screamed at him: You are a CIA agent. Before they let him go (an error, comrade) they asked him what his wife was like in bed. That is heavy. Yarini was the most famous pimp in all Habana. He was so handsome that they shot him out in the street. That was 1906. Halley’s comet put in an appearance in 1910. It’s down to return in ‘86. That doesn’t matter. I found all this out today, the 10th of May ‘69. An informative day. And in addition the day my shoelaces gave up the ghost. That is heavy, for socialism here in Cuba cannot replace these laces until ‘85. That doesn’t matter. That is heavy. That doesn’t matter (The Usual Thing).

Sementara itu, sebuah sketsa adalah sebentuk diagram yang tak rampung, sejumlah fragment kemungkinan. Ia tidak menghendaki dirinya untuk utuh dan selesai. Dengan inilah saya memahami ironi dalam artian yang dipahami Kierkegaard, Nietzsche, dan Derrida. Sebuah sikap untuk memeriksa dan mencurigai klaim-klaim yang mengaku-ngaku diri telah mencapai kebenaran dalam artiannya yang esensial. Ketika pada kenyataannya kita seringkali menemukan pengecualian, kebuntuan, bahkan pertentangan yang tidak sejalan dengan klaim-klaim kebenaran tersebut. Setidak-tidaknya sikap itu juga dilakukan dan dipilih Karl Popper dalam artiannya yang epistemologis dan metodologis dalam disiplin pemikiran dan saintifiknya.

Dengan itu pula kita dapat mengatakan bahwa Hans Magnus Enzensberger adalah seorang posmodernis Nietzschean yang memeriksa dan mencurigai marxisme atau pun mistisisme. Sajak-sajaknya memiliki kemiripan dengan tulisan-tulisan aforistiknya Nietzsche yang tajam, nakal, menggugat, dan curiga pada klaim kepaduan dan menceraikannya kembali. Sehingga yang tersisa hanyalah kepingan-kepingan dan pecahan-pecahan yang berserakan. Dan sebuah sketsa dan diagram yang tak rampung adalah sejumlah titik, pecahan, kepingan, dan patahan-patahan garis dalam kanvas kehidupan. Segugus pengecualian yang keluar dari kategori dan narasi besar. Dan seorang satiris adalah seorang pencari yang menjadikan skeptisismenya sebagai sebuah perayaan dan petualangan jiwa dan intelektual dalam kehidupan, ia adalah si Zarathustra-nya Nietzsche, yang skeptisismenya adalah keyakinan dan pegangan hidupnya:

Aku adalah si lain yang tak tertawa, yang tak punya wajah di bawah langit, dan tak punya kata-kata di mulut, yang tak mengenal dirinya, juga tak mengenalku….Si lain yang tak peduli dengan dirinya, yang tak kutahu, yang tak ada yang tahu siapa dia, yang tak menggerakkan hatiku, itulah aku (Si Lain).

Kita pun bisa merasakan perayaan ironi diri sekaligus ironi perayaan diri ketika membaca sajak tersebut, yang juga mengingatkan saya pada deklamasi Zarathustra-nya Nietzsche ketika turun dari lembah pertapaannya dan memproklamirkan kematian Tuhan demi spirit bebas dan pencarian manusia untuk menemukan spiritualitas hidup yang segar dan mengafirmasi kehidupan itu sendiri. Sebutlah puisinya yang berjudul Rondeau, kita akan menangkap satir-sarkastis tentang kesia-siaan, pengutukan diri, dan bernada pesimistik.

Tetapi kemudian saya pun mendapatkan pemahaman lain bahwa puisinya yang berjudul Rondeau tersebut merupakan pembalikan komedis dan parodi ironis sebagai versi lain Zarathustra-nya Nietzsche yang diadaptasikan ulang oleh Enzensberger dalam konteks sosial dan politik kekinian, yang mungkin juga ingin menyuarakan wajah terselubung nihilisme jaman ini:

But you can’t build a house on a mountain. So move the mountain. It’s hard to move mountains. So become a prophet. But you can’t hear thoughts. So talk. It’s hard to talk. So become what you are and keep on muttering to yourself, useless creature.

Daya gelitik ala Gay Science-nya Nietzsche dan The Concept of Irony-nya Kierkegaard sajak-sajaknya Hans Magnus Enzensberger mungkin akan mampu membuat kita tertawa dan tersenyum sendiri ketika membacanya –seperti tercermin dalam puisinya yang berjudul Dept. of Philosophy: Hegel is smiling, filled with schadenfreude. We daub his face with an inky moustache. He now looks like Stalin. Kenakalan yang juga mengingatkan saya pada Soren Kierkegaard ketika menertawakan dan memparodikan gagasan-gagasan besar Hegel tentang sejarah dan eksistensi. Dan gaya seperti itu juga dipraktekkan Hans Magnus Enzensberger dalam puisi-puisi cintanya, salah satunya berjudul Pillow Poem:

Given that you’re present right to your fingertips, that you’re seized with desire, and given the way you bend your knees and show me your hair, and given your temperature and your darkness; as well as your subordinate clauses, the insubstantial weight of your elbows, and also the material soul that’s gleaming in the little hollow up above your collar-bone; given that you’ve gone and come, and given all the things that I don’t know about you, my monosyllabic syllables are not enough, or too much.

Puisi-puisi Hans Magnus Enzensberger adalah tuturan yang liar, spontan, dan tangkas. Ketangkasan yang, bila meminjam pemahamannya Schlegel tentang ironi sebagai “a clear awareness of perennial agility in terms of the intellect and of infinitely of chaos –menunjukkan kepekaan seorang penyair dalam menangkap fenomena dan realitas dalam kontinuitas dan aktualitasnya. Sejenis daya-tangkap dan pencerapan yang tanggap.

Sulaiman Djaya

Membaca Arthasastra


gajah-dan-senja.jpg

Dalam waktu beberapa bulan, setelah kemarau yang cukup panjang di sebuah hutan di lereng bukit gunung Himalaya nun jauh, hanya sedikit binatang-binatang yang bertahan hidup karena kekurangan makanan dan sedikitnya air yang tersedia. Saat itu telah lama hari-hari yang sulit berlangsung. Si harimau betina yang masih berusia muda itu telah hamil tua sejak ia memadu cintanya yang indah bersama kekasihnya yang kini telah tiada karena tak kuasa melawan kelaparan di sebuah musim kemarau yang panjang.

Ia terus melangkahkan keempat kakinya, meski hari itu ia merasa amat lelah setelah cukup lama tak menjumpai binatang-binatang yang hendak ia buru. Hari itu, si harimau betina yang tengah hamil tua itu hampir putus-asa di saat ia sangat merasa lapar setelah beberapa hari harus puasa dan hanya minum sedikit dari sisa-sisa air yang dijumpainya berkat keuletannya sebagai seorang calon ibu. Namun, saat ia hampir putus asa itu, ia melihat sekelompok kambing liar ketika ia mengarahkan kedua matanya yang murung dan sayu itu ke sudut sebuah hutan yang daun-daunnya sudah banyak yang berjatuhan.

Dengan sekuat tenaga ia berlari ke arah kawanan kambing liar tersebut. Tetapi tanpa ia sadari dan karena terdorong rasa tak sabarnya itu, gerakan tangkasnya yang tiba-tiba itu membuat bayi yang dikandungnya seketika keluar dari rahimnya, dan seketika ia pun tewas, hanya dua detik setelah bayi yang dikandungnya itu hadir di dunia, meski dengan cara terjatuh.

Sementara itu, sekawanan kambing liar yang awalnya tercerai-berai karena aksi si harimau betina yang telah tewas itu, merasa iba dengan seekor bayi harimau yang baru dilahirkan dan langsung menangis di sisi mayat ibunya. Dan cerita pun berlanjut, seperti laiknya sebuah kisah fabel, kawanan kambing liar itu pun memutuskan untuk merawat dan membesarkan si harimau kecil yang baru lahir dan belum lama hadir ke dunia tersebut.

Setelah dilakukan sebuah undian ala para kambing liar itu, terpilih-lah salah seorang kambing dari mereka yang sebenarnya sudah hampir renta dan telah memiliki anak. Si kambing yang terpilih menjadi ibu bagi si harimau kecil itu pun menyusui dan merawat si harimau kecil tak ubahnya anaknya sendiri. Mengajaknya bermain dan melindunginya dengan penuh kasih sayang.

Setelah itu, laiknya sebuah kisah, hari-hari pun berganti bulan, dan bulan-bulan berganti tahun, si harimau kecil tumbuh bersama kawanan kambing liar tersebut, hingga ia hidup layaknya para kambing: memakan rumput dan mengembik sebagaimana yang cukup lama ia pelajari dari kawanannya itu. Memang, mulanya ia merasa kesulitan ketika ia harus memakan rumput dengan gigi-giginya yang runcing, tetapi lambat-laun toh ia dapat juga melakukannya. Karena kebiasaannya itulah, tanpa ia sadari tubuhnya menjadi ramping dan wataknya menjadi lembut, berbeda dengan para harimau umumnya.

Dan akhirnya, di suatu ketika, saat si harimau kecil itu telah menjadi seorang harimau remaja yang tak lama lagi menjadi seorang harimau lelaki dewasa, seekor harimau jantan dewasa yang ganas menyerang kawan kambing liar yang telah menjadi ibu dan keluarga si harimau kecil. Semua kambing liar itu berlari ketakutan, tetapi tidak si harimau kecil yang tetap berada di tempatnya dengan tenang, dan tentu saja membuat si harimau jantan tua yang ganas itu menjadi kagum sekaligus merasa aneh bahwa ada seekor harimau remaja di antara kawanan kambing liar itu.

Si harimau kecil, setelah tahu ia berhadapan dengan si raja hutan, menatap si raja hutan yang memiliki bulu-bulu lebat yang pirang itu dengan perasaan heran karena tak menerkamnya. Tanpa ia sengaja, si harimau kecil itu mengembik layaknya kambing, yang segera membuat si harimau tua yang ganas itu merasa jijik sekaligus heran dan bertanya-tanya, terbelalak seketika. “Apa yang sedang kau lakukan di sini bersama kambing-kambing itu, hah calon jagoan!?” Tanya si raja hutan dengan garang sembari meledek si harimau kecil.

Si harimau kecil itu malah kembali mengembik hingga membuat si raja hutan semakin geram dengan tingkahnya itu. “Mengapa kau meniru-niru suara bodoh tersebut!” Bentak si raja hutan kepada harimau kecil. Karena terdorong rasa marah sekaligus ingin menunjukkan jati diri si harimau kecil, si raja hutan itu pun memaksa menarik dan mengajak si harimau kecil ke tempat si raja hutan.

Dan kini mereka berdua telah sampai di tempat si raja hutan, dan si raja hutan itu segera mengajak si harimau kecil ke sebuah kolam dan memaksa si harimau kecil itu mendekati kolam dan membungkukkan badan dan wajahnya ke air kolam yang jernih tersebut. “Sekarang kau tahu kan, calon jagoan, bahwa kau lebih mirip denganku, ketimbang dengan kambing-kambing itu!” Bentak si raja hutan ketika mereka berdua sama-sama memandang wajah mereka yang muncul dari balik kejernihan air kolam itu. “Nah, sekarang kau tak boleh lagi mengembik atau memakan rumput. Karena kau bukan mereka!” Ujar si raja hutan kepada harimau kecil, yang seakan-akan seorang murid baru yang tengah dilatihnya.

Saat itu, si harimau kecil memang tak dapat menjawab dan hanya bisa diam sembari terus memandangi wajahnya yang memang lebih menyerupai wajah si raja hutan, bukan dengan ibu asuhnya atau kambing-kambing lainnya yang telah menjadi keluarganya sejak kematian ibunya dalam perburuan yang berani itu.

Persis ketika itulah si harimau kecil menjadi gelisah, sementara si raja hutan menjadi puas dengan kejadian dan rasa gelisah murid barunya itu. Tanpa sengaja, si harimau kecil itu pun mulai mengaum, yang tentu saja membuat si raja hutan tertawa girang. Dan segera saja si raja hutan menarik dan mengajak si harimau kecil itu ke sebuah sudut lain, dan sesampainya di sebuah sudut rumahnya itu, si raja hutan menyuguhkan sekerat daging kepada si harimau kecil.

“Sekarang, makanlah makananmu itu!” Perintah si raja hutan. Tetapi lagi-lagi si harimau kecil malah mengembik dan langsung membuat si raja hutan marah. “Makan!” Demikian si raja hutan kembali memerintah, yang kali ini dengan membentak. Si harimau kecil menolak untuk memakan daging itu, namun dengan sigap si raja hutan malah menjejalkan ke mulut si harimau kecil.

Sontak saja, sekerat daging yang memang getas dan alot itu telah menyulitkan mulut si harimau kecil ketika dia berusaha mengunyah dan menelannya. Tetapi pelan-pelan ia merasakan ada rasa nikmat dan rasa ingin tahu yang muncul bersama-sama, dan akhirnya si harimau kecil merasakan sebentuk kepuasan setelah berhasil mengunyah dan menelan sekerat daging pemberian si raja hutan itu. Setelah itu, mereka terlelap bersama-sama karena lelah setelah berdebat selama setengah hari sampai seperempat malam itu.

Keesokan harinya, si harimau kecil terbangun dan menguap. Si raja hutan yang memperhatikan dirinya saat baru terbangun dari tidurnya langsung merasa puas dan gembira ketika si jagoan kecil itu telah menyadari siapa sesungguhnya dirinya, yang telah beberapa tahun ia lupakan. Si harimau kecil itu pun mulai mengaum, dan merasakan adanya kepuasan ketika ia melakukan hal tersebut. Si raja hutan pun kembali tersenyum dan gembira ketika memandang si harimau kecil yang ternyata tak butuh lama untuk menyadari siapa dirinya itu. “Nah, karena kau sudah sadar siapa dirimu, sekarang waktunya untuk berburu bersama-sama!” Kata si raja hutan.

Sulaiman Djaya