Arsip Kategori: Tahun 2011

Fiksi Sebuah Diari


Puisi Sulaiman Djaya Gerimis Saatku Bangun

Ketika memandangi pematang setapak di belakang rumah, aku jadi teringat peristiwa bertahun-tahun dulu ketika layang-layangku lepas dari benang, terbang bebas sebebas burung-burung yang sedang hijrah melintasi bentangan cakrawala demi mencari musim yang lain. Bila ingatanku tak terlampau samar, peristiwa itu terjadi di sebuah senja selepas kumandang adzan asar. Dan seingatku saat ini, sejak kejadian itu, aku tak lagi bermain layang-layang karena aku tak ingin membuat ibuku kecewa.

Mungkin juga alasan yang sebenarnya adalah karena aku tak memiliki keberanian untuk minta dibelikan layang-layang lagi kepada ibuku. Aku hanya bisa terdiam, berdiri terkesima, di saat teman-temanku tertawa memandangi layang-layangku yang terbang bersama burung-burung yang hijrah ke musim yang lain selepas kumandang adzan asar itu.

Mungkin itulah kali pertama apa yang kuanggap sebagai milikku ternyata tak sepenuhnya bisa kumiliki. Anehnya, tak satu kata pun dilontarkan ibuku sekedar untuk menanyakan perihal layang-layangku itu. Sikap diam ibuku itu kupahami sebagai pertanda ia tahu apa yang kualami dan berusaha berpura-pura untuk tidak peduli. Keesokan harinya aku mencoba untuk membuat sendiri layang-layang, meski tak pernah rampung dan tak pernah kuselesaikan. Sementara, sikap diam ibuku dengan kejadian itu tetap tak bisa kupahami hingga saat ini.

Sekarang Ibu telah tiada, dan pematang setapak yang kupandangi tak lagi serindang dan selebat ketika itu. Kini aku dapat melihat lampu-lampu sebuah pabrik kertas setiapkali aku duduk merenung sembari tetap membiarkan pintu belakang rumah tetap terbuka. Tentu saja, aku tak lagi ingin menunjukkan kepada burung-burung yang kulihat di senjahari bahwa aku pun bisa membuat sesuatu yang dapat bergerak lincah dan bebas terbang bersama gerak dan hembusan angin seperti mereka. Sebab –seperti yang telah kukatakan, meski hanya untuk sekali saja, aku tak lagi bermain layang-layang sejak kejadian di sebuah senja selepas kumandang adzan asar itu. Mungkin saja itu disebabkan oleh sikap diam ibuku dengan kejadian yang kualami itu. Sikap diam yang hingga saat ini tak kuketahui dan tak kupahami alasannya.

Tak kusangka, dan ini baru kusadari setelahnya, ingatanku pada layang-layang yang putus dari benang itu adalah pertanda bahwa ibuku akan pergi dari kehidupanku, ketika aku kembali teringat kejadian itu di saat ibuku tengah sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di depan kedua mataku sendiri di sebuah pagi yang cerah di hari Sabtu, di hari ketiga kami merayakan hari raya Idul Fitri itu. Ternyata, ingatanku tentang layang-layangku yang putus adalah pertanda bahwa salah seorang dari kami, yang tak lain ibuku sendiri, bakal pergi dari kami untuk selamanya. Rupanya, Tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk mengatakan sesuatu.

Aku masih ingat, di malam hari, selepas layang-layangku telah pergi jauh bersama burung-burung yang hijrah ke musim yang lain itu, aku terus memikirkannya di saat aku belajar di meja belajarku bertemankan selampu minyak yang setia mengepulkan asap hitamnya hingga menghitamkan bilah-bilah bambu penyangga genting-genting rumah. Dan kini, ingatanku itu acapkali menyulut rasa kangenku pada ibuku. Terlebih di saat-saat aku duduk dan merenung di pagihari bersama cahaya dan hembusan fajar yang telah terjaga dari tidurnya.

Sesekali aku terkesima begitu saja sembari mendengarkan kicauan burung-burung. Dalam keadaan seperti itu, aku tak henti-henti memunguti kembali detik-detik dan menit-menit yang kujalani bersama ibuku dengan sekuat ingatanku untuk mereka-reka kembali apa saja yang masih dapat kuingat, meski pada akhirnya beberapa di antara mereka sudah terlampau jauh seperti layang-layang di masa kanakku yang putus dan tak pernah kutemukan itu. Sebagiannya lagi sudah terlampau buram dan tak lagi dapat kukenali. Namun anehnya, aku masih selalu ingat dengan sikap diam dan tak acuh ibuku ketika layang-layang masa kanakku melepaskan diri dengan bebas dari seutas benang yang kupegang erat-erat di sebuah senja selepas kumandang adzan asar itu.

Karena ingatanku pada ibuku dan layang-layangku yang putus itu, mataku jadi lebih terasa akrab pada apa saja yang kulihat. Pada almanak, piring, gelas, halaman rumah dan pematang-pematang sawah yang kupandangi dari ruang di mana aku duduk dan merenung. Memang haruslah kuakui, ingatan-ingatanku lebih seperti potongan-potongan dan kilasan-kilasan yang datang dan pergi silih berganti. Tapi mereka juga seperti burung-burung di senjahari yang terbang beriringan sekaligus bersamaan itu. Atau seperti layang-layangku yang putus dan masih terbayang hingga sekarang. Mungkin karena ingatan itu juga pada akhirnya seperti sesuatu yang kuanggap sebagai milikku dan ternyata tak sepenuhnya dapat kumiliki.

Pernah juga terbersit dalam khayalanku bahwa yang telah mencuri dan membawa pergi layang-layangku itu tak lain adalah seorang peri yang hanya ingin bercanda dan bermain-main. Katakanlah seorang peri yang sekadar ingin usil ketika ia tengah jenuh dan bosan, lalu mendapatkan ide ketika ia melihat sejumlah layang-layang yang kami terbangkan sekaligus kami kendalikan dengan seutas benang yang ternyata memang rapuh dan bisa putus kapan saja ketika kami sadar bahwa salah satu layang-layang kami akhirnya memilih untuk bebas sebebas burung-burung terbang yang ingin kami tiru dengan jalan membuat layang-layang. Dan kini, layang-layangku itu telah menjelma sekedar ingatan, atau ingatan memang tak ubahnya seperti layang-layangku yang akhirnya memilih untuk bebas dari kendaliku sebagai seorang kanak-kanak yang hanya ingin bermain dan bergembira bersama burung-burung yang hijrah dengan beriringan dan bersamaan itu.

Ah, tanpa terasa segelas kopi hitamku telah dingin dan terasa terlalu manis di saat sudah tak hangat lagi selama aku terduduk dan terdiam memandang pematang setapak yang mengingatkanku pada ibuku dan layang-layangku yang putus selepas kumandang adzan asar bertahun-tahun lalu itu. Di pematang setapak yang sama itu pula kami berburu belalang dalam guyur hujan yang membuat ibu-ibu kami merasa was-was dan khawatir. Ibuku akan menggoreng belalang-belalang hasil buruanku selepas sembahyang magrib dengan minyak kelapa buatannya. Dan memang, sejak layang-layangku putus dan menghilang itu, aku jadi lebih suka berburu belalang di saat hujan bersama teman-teman dalam keadaan telanjang.

Yah, karena ingatanku pada itu semua, sekarang apa yang ada di sekitarku jadi terasa demikian nyata dan akrab. Almanak dan jarum-jarum jam yang seolah menghadirkan kembali sekian bayang-bayang samar masa silam, selampu kamar yang mengingatkanku pada selampu minyak dulu yang menyala sendirian di sebuah ruang, dan langit malam yang mengingatkanku pada keheningan basah selepas hujan ketika dulu ibuku terus melantunkan ayat-ayat dan baris-baris al Qur’an. Semua yang selama ini tak kuhiraukan, tiba-tiba hadir serentak, bersamaan dan bergantian seperti burung-burung perncari musim yang hijrah bersamaan.

Aku tak tahu apakah itu tanda-tanda kematian yang ingin mengucapkan selamat tinggal untuk kembali datang kelak? Yah, seperti layang-layangku yang putus dan hilang selepas kumandang adzan asar. Pikiran seperti itu semakin terasa kuat ketika gerimis pertama di bulan September mulai memandikan debu-debu sebelum akhirnya hujan pertama di bulan September melengkapinya.

Dulu, karena para ustadzku mengajarkan bahwa selain menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan juga menciptakan para malaikat, aku jadi suka membayangkan gerimis dan hujan tak ubahnya sekelompok bocah-bocah peri yang tengah menari dan berjingkat-jingkatan di halaman dan di genting-genting rumah. Sampai-sampai aku tak mempedulikan tetes-tetes air hujan yang membasahi lantai ruangan di mana aku berada ketika itu, dan karenanya ibuku merasa kecewa dengan sikap abaiku karena tergoda angan-angan dan khayalan yang demikian itu, meski tentu saja tak ada sedikit pun niatku untuk membuat ibuku merasa kecewa atau mencipta amarah di dalam hatinya yang mungkin saja rapuh dan berpura-pura untuk selalu tabah.

Bila sudah teringat itu semua, ada rasa sedih di hati ini. Meski aku sadar hal itu takkan pernah bisa berubah lagi seperti semula. Ingatan memang seperti bocah perempuan yang bermimpi sedang bermain ayunan dalam pelukan mendung di sebuah senja. Dan rasa sedih itu lebih mirip rasa sepi ketika aku teringat kembali itu semua di saat ini.

Sulaiman Djaya

Iklan

Kampung Halaman


Kragilan, Serang, Banten by Asep S Bahri

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan.

Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang terbatas. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru.

Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam Rosela, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosela tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar. Bila kami selesai mengemas bubuk Rosela tersebut, ibu saya lah yang akan menjajakannya alias menjualnya, kadangkala ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.

Seingat saya, selain menanam Rosela, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosela dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami. Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosela yang berwarna merah itu agar sambil yang dibuatnya cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosela.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosela. Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 80-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami. Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu lampu damar tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar al Qur’an. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya al Qur’an sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah. Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog.

Demikian, dalam rekonstruksi saya saat ini, ingatan dan kenangan saya tentang kampung halaman atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.

Dalam kesendirian itulah, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Ke arah burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu saya sebagai seorang anak. Dan bila masa panen tiba, saya pun akan membantu ibu saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut arit. Dengan demikian, kehidupan masa kanak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.

Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan kampung halaman dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai “kepedihan” pertama saya adalah ketika adik perempuan yang bermata indah dan berwajah cantik meninggal karena demam. Seingat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama saya dan senantiasa menangis bila saya tinggalkan.

Dengan sedikit paparan itu, kampung halaman dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman “kepedihan” saya bersamanya. Ia adalah sebuah konteks dan tempat di mana ingatan dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang. Ia adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk “merekonstruksi” sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi. Singkat kata, kampung halaman atau tanah kelahiran adalah sebuah “historiografi personal” sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ia adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami “kepedihan” saya.

Sulaiman Djaya