Arsip Kategori: Tahun 2012

Hagiografi Abu Dzar Al-Ghifari


Abu Dzar al Ghifari RA

Ar Rabadzah adalah nama sebuah gurun di antara Makkah dan Madinah, sebuah daerah yang tandus. Tak ada yang mendiami tempat tersebut. Tetapi pada tahun 30 H, ada sebuah kemah di sana. Di dalam kemah itu terdapat seorang lelaki tua, perempuan tua, dan putri mereka. Lalu mengapa lelaki tua itu mendiami tempat terpencil di tengah gurun tersebut? Ia tinggal di sana bukan karena keinginannya, melainkan khalifah Utsman bin Affan (karena hasutan Muawwiyah bin Abu Sufyan) yang telah membuangnya ke sana. Lelaki tua itu menderita sakit dan istrinya selalu menangis. Ia pun bertanya pada istrinya, “Wahai Ummu Dzar, mengapa kau menangis?” Perempuan tua itu menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau menjelang ajal di tengah gurun ini?” Lelaki tua itu lalu berkata, “Suatu hari, teman-temanku dan aku duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau Nabi Saw berkata pada kami, ‘Salah satu dari kalian akan mati di gurun. Dan sekelompok Mukmin akan menghadiri kematiannya.’ Lalu teman-temanku pulang ke rumah mereka masing-masing. Tak seorang pun yang mengingatnya kecuali aku. Seseorang akan datang dan menolongmu.”

Perempuan tua itu kemudian berkata, “Musim Haji telah usai. Tak ada seorang pun yang akan lewat di gurun ini.” Lelaki tua itu menjawab, “Jangan khawatir! Naiklah ke bukit dan lihatlah jalan yang biasa di lewati kafilah-kafilah.” Kemudian perempuan tua itu pun pergi ke atas bukit dan meihat. Setelah lama ia menunggu, di kejauhan perempuan tua itu melihat kafilah datang menuju ke arahnya. Perempuan tua itu melambaikan sehelai kain. Para penunggang kuda itu heran dan saling bertanya di antara mereka tentang perempuan tua itu yang sendirian berada di tengah gurun. Mereka lalu mendekatinya dan bertanya tentang keadaannya. Dan ia pun berkata, “Suamiku akan meninggal. Dan tak ada seorang pun yang ada di sampingnya.” Mereka bertanya, “Siapa suamimu?” Sambil menangis, perempuan tua itu menjawab, “Abu Dzar, sahabat tercinta Rasulullah!” Mereka pun terkejut. Lalu mereka berkata, “Abu Dzar! Sahabat Rasulullah! Mari kita lihat dia!”

Rombongan itu masuk ke kemah. Ketika mereka masuk, mereka melihat Abu Dzar sedang tidur di atas tempat tidurnya. Mereka lalu berkata, “Assalamu ‘alaika, wahai sahabat Rasulullah!” Abu Dzar menjawab, “Wa’alaikum salaam, siapa Anda sekalian?” Salah seorang dari mereka menjawab, “Malik al Harts al Asythar. Dan beberapa orang bersamaku dari Irak. Kami akan pergi ke Madinah untuk berbicara pada khalifah tentang penganiayaan yang kami alami.” Abu Dzar lalu berkata, “Wahai saudaraku! Bergembiralah! Rasulullah telah mengatakan padaku bahwa aku akan mati di gurun dan ada beberapa orang Mukmin akan menghadiri kematianku.” Malik al Asytar dan kawan-kawannya duduk di dalm kemah Abu Dzar. Malik al Asytar merasa kasihan melihat keadaan Abu Dzar. Dan ia merasa sedih mendengar Bani Umayyah telah menganiaya sahabat besar itu.

Malik Al Asytar

Malik bin al Harts al Nakhai adalah salah seorang dari suku tua Yaman. Ia telah memeluk Islam sejak masa Nabi Saw dan ia pun sangat setia dengan keislamannya itu. Ia mengambil bagian dan bertempur dengan gagah berani dalam pertempuran Yarmuk. Ia dengan berani menghadang serangan pasukan Romawi atas pasukan kaum Muslim. Sehingga kelopak matanya robek karena terbelah pedang musuh. Oleh karena itulah ia dijuluki Al Asytar (yang tergores wajahnya karena pukulan). Pada tahun 30 H, kaum Muslim Kufah dan kaum Muslim yang ada di kota-kota lain menjadi marah atas perlakuan penguasa-penguasa mereka. Sebagai contoh, Al Walid Bin Akabah (saudara Khalifah Utsman), Gubernur Kufah, yang kelakuannya sangat bertentangan dengan Islam. Ia adalah peminum khamar (minuman keras) dan menghabiskan waktunya dengan berfoya-foya. Suatu hari, ia pernah memasuki masjid dalam keadaan mabuk. Ia melakukan salat empat rakaat pada waktu subuh. Kemudian ia berbalik menghadap orang-orang yang sedang beribadah dan berkata dengan sinis, “Apakah salah jika aku menambah salatku?”

Rakyat merasa tidak senang dengan kelakuannya. Mereka mengkritik di pasar-pasar, di rumah-rumah, dan di masjid-masjid. Orang-orang bertanya-tanya, “Apakah khalifah tidak menemukan penguasa yang baik untuk menggantikan yang buruk ini?” Ia meminum khamar dengan terang-terangan.” Ia melanggar ajaran agama dan hak-hak kaum Muslim.” Akhirnya, rakyat memutuskan untuk meminta nasihat pada orang-orang bijak. Lalu mereka pun mendatangi Malik al Asytar. Malik al Asytar berkata pada mereka, “Kita sebaiknya menasehatinya terlebih dahulu. Bila tidak bisa dinasehati, kita laporkan pada khalifah kelakuan buruknya.” Malik dan beberapa orang pergi ke istana untuk menghadap al Walid. Ketika mereka sampai di istana, mereka melihat al Walid sedang minum khamar seperti biasanya. Mereka menasihatinya untuk berbuat baik. Tetapi ia justru membentak dan mengusir mereka.

Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Madinah untuk menemui khalifah Utsman dan mengatakan padanya tentang masalah ini. Para utusan itu bertemu dengan khalifah dan melaporkan kelakuan buruk al Walid. Namun sayang, Khalifah justru membentak dan mengusir mereka. Bahkan ia pun menolak untuk mendengarkan keluhan mereka. Sehingga mereka menjadi kecewa. Mereka lalu berpikir untuk menemui Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, sepupu Nabi Muhammad Saw, karena beliaulah satu-satunya harapan untuk memperbaiki keadaan.

Utusan

Sementara itu, seluruh kaum Muslim mengeluhkan kelakuan buruk para penguasa kotanya. Para sahabat pergi ke rumah Imam Ali. Mereka mengatakan pada beliau tentang penganiayaan dan korupsi yang dilakukan para penguasa tersebut. Imam Ali sedih mendengar berita itu. Sehingga beliau pergi ke istana khalifah. Beliau menemui Utsman dan menasehatinya, “Wahai Utsman, kaum Muslim mengeluh tentang penganiayaan yang dilakukan para penguasa. Dan engkau mengetahuinya dengan baik. Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Di hari kiamat nanti, penguasa yang zalim akan diseret ke neraka. Dan tak seorang pun yang mendukung atau membebaskannya. Kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka. Ia akan jatuh berputar-putar hingga ia mencapai kerak neraka.” Utsman berpikir sejenak. Ia menundukkan kepalanya dengan sedih. Ia mengakui kesalahannya. Dan ia berjanji bahwa ia akan bertobat kepada Allah dan memohon maaf pada kaum Muslim. Imam Ali pergi dan memberi tahukan kabar baik itu pada kaum Muslim. Mereka semua bergembira. Tetapi Marwan, seorang munafik, berkata pada Khalifah, “Engkau sebaiknya mengancam rakyat sehingga tak seorang pun yang berani melawan Khalifah.”

Revolusi

Utsman melanggar janjinya. Ia tidak berkelakuan baik dan tidak mengganti gubernurnya. Pada saat yang sama, ia menggunakan kebijakan keras untuk melawan rakyat. Muawwiyah, Gubernur Syam, menyarankan Khalifah agar mengusir para sahabat Nabi Saw. Khalifah pun membuang Abu Dzar, seorang sahabat besar, ke Rabadzah, di mana ia meninggal di sana. Ia menganiaya Ammar bin Yasir, yang juga seorang sahabat besar. Khalifah juga mencambuk Abdullah bin Mas’ud. Karenanya, rakyat mengeluhkan keputusan Utsman dan para gubernurnya itu. Para sahabat Nabi Muhammad Saw mengirim banyak surat ke kaum Muslim yang ada di seluruh kota. Surat-surat itu berbunyi sebagai berikut: “Kaum Muslim, mari bergabung dengan kami. Selamatkan kekhalifahan. Kitabullah (Alquran) dan sunnah Nabi telah diselewengkan. Maka, bergabunglah dengan kami jika kalian beriman kepada Allah dan hari pembalasan.”

Kaum Muslim berduyun-duyun datang ke Madinah dari berbagai penjuru. Malik al Asytar mewakili kaum pejuang revolusi. Ia mengadakan pertemuan dengan Utsman untuk membahas permasalahan pemerintahan kaum Muslim. Para pemberontak meminta Utsman untuk menanggalkan kekuasaannya. Tetapi Utsman menolak hal tersebut. Imam Ali mencoba untuk memperbaiki keadaan. Namun, semua usaha beliau sia-sia. Kaum Muslim tidak senang dengan penganiayaan yang dilakukan Utsman dan para gubernurnya yang zalim itu. Sementara Utsman tetap keras kepala memaksakan keputusannya. Para pejuang revolusi mengepung istana Utsman. Sehingga Imam Ali meminta kedua putranya, Al Hasan dan Al Husain as, untuk menjaga Utsman. Para pejuang revolusi memanjat dinding-dinding istana. Mereka menorobos masuk ke dalam ruangan khalifah dan membunuhnya. Sementara itu, Marwan dan kaum munafik lainnya melarikan diri.

Thalhah dan Zubair berambisi untuk menjadi Khalifah. Sehingga mereka pun membantu perjuangan revolusi. Tetapi rakyat berpikir hanya satu orang yang layak menjadi khalifah. Dan orang itu adalah Imam Ali. Rakyat berbondong-bondong mendatangi rumah Imam Ali. Mereka meminta beliau menjadi Khalifah. Tetapi Imam Ali menolaknya. Malik al Asytar dan sahabat-sahabat yang lain tetap mendesak agar Imam Ali menjadi Khalifah. Malik menyeru rakyat dengan bersemangat, “Wahai umat, ini adalah Khalifah Rasulullah. Ia telah belajar ilmu-ilmu Rasulullah. Alquran telah menyebut keimanannya. Rasulullah berkata padanya bahwa ia masuk ke surga Al Ridwan. Kepribadiannya sempurna. Orang-orang dari masa lampau maupun sekarang mengakui tindakan dan pengetahuannya.” Oleh karena itu, Malik al Asythar adalah orang yang pertama membai’at (menyatakan sumpah setianya kepada) Imam Ali untuk menjadi Khalifah. Kemudian kaum Muslim mengikutinya. Ketika Imam Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah menjadi Khalifah, babak baru dimulai. Beliau memecat semua penguasa zalim dan korup. Sebagai gantinya, beliau menunjuk orang-orang yang saleh –orang-orang yang jujur, kapabel, dan professional di bidangnya masing-masing.

Ali Akbar Ibn Husain –dan Epos Zaman di Gurun Efrat


Charles Dickens On Imam Husain

“Banyak ahli tarikh dan para muhaddits menyatakan bahwa ia sangat mirip dengan Rasulullah ketika bicara dan berjalan. Dan di gurun Nainawa itu, meski dalam kehausan dan dahaga yang luar biasa, setiap musuh yang diterjangnya pasti tak akan selamat. Tersungkur dan tumbang –sebelum ia sendiri tumbang dan mereguk syahadah. Dia-lah Ali Akbar Ibn Husain”.

Di antara para pemuda keturunan Rasulullah SAW yang brilian adalah Ali bin Husain yang biasa disebut Ali Akbar, putra Imam Husain yang kedua. Pada peristiwa tragedi Karbala, Ali Akbar masih sangat muda. Wajahnya bercahaya. Caranya berbicara amat mempesona. Perilakunya luhur persis seperti ayah dan kakeknya. Pada Hari Asyura, Ali Akbar baru berusia delapan belas tahun. Ibunya seorang wanita terhormat bernama Laila –yang adalah wanita keturunan Urwah bin Mas’ud Tsaqafi, salah seorang pendekar dari empat pendekar bangsa Arab yang paling berani pada masa pra-Islam. Imam Husain memberi nama Ali, nama ayah beliau, kepada semua putra beliau. Karena nama ketiga putra Imam Husain adalah Ali, maka masing-masingnya dipanggil dengan sebutan yang berbeda, seperti Ali Zainal Abidin (Ali yang pertama dan paling tua), Ali Akbar (Ali yang kedua), Ali Ashgar (Ali yang bungsu dan paling muda).

Kecerdasan, keberanian, kepribadian serta ciri-ciri fisik Ali Akbar sangat mirip dengan Imam Ali. Sedangkan cara Ali Akbar berjalan dan berbicara sangat mirip dengan kakek buyutnya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Menurut beberapa sumber, Ali Akbar adalah pemuda pertama Bani Hasyim yang maju menyerang pasukan Yazid. Dia menyerang dengan semangat jihad hingga syahid karena membela ayahnya, Imam Husain. Sebelum maju ke medan laga, Ali Akbar terlebih dahulu meminta izin kepada Imam Husain. Mendengar permintaan izin Ali Akbar, Imam Husain memandang sejenak ke arah ribuan pasukan Yazid dan kemudian kembali menatap pilu Ali Akbar, meyakinkan dirinya bahwa putranya harus berperang melawan ribuan pasukan itu seorang diri. Akhirnya Imam Husain mengizinkan Ali Akbar untuk maju ke medan laga seorang diri.

Sebelum melepas putranya meraih syahadah, Imam Husain berkata “Putraku, Ali Akbar, ucapkan salam perpisahan kepada bibimu, ibumu dan saudara-saudara perempuanmu, kemudian pergilah dia menuju medan laga.” Ali Akbar pun masuk ke tenda menemui para wanita Ahlul Bait. Ada kesedihan di sana. Ada ratap pilu di sana. Ada salam perpisahan di sana. Para wanita memeluknya erat-erat. Seorang wanita putri Rasulullah berkata terisak-isak, “Aduhai kenangan Rasulullah SAW, kasihanilah keterasingan dan kehormatan kami. Kami tak akan mampu hidup tanpamu.” Namun, meski sedih merajam sukma dan haru mendendang irama kalbu, Ali Akbar tetap menjunjung kehormatan dirinya sebagai lelaki yang menyaksikan ayahnya dikepung ribuan serigala berwajah manusia.

Di hadapannya, pasukan musuh yang beringas siap untuk membunuh ayahnya, cucu kesayangan Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Ali Akbar muda yang kuat tega membiarkan ayahnya tersiksa. Ali Akbar tidak bisa membiarkan kehormatan Rasulullah SAW diinjak-injak. Setelah mengucapkan salam, Ali Akbar berangkat menyerang pasukan musuh. Hingga beberapa depa, Imam Husain mengantar kepergian Ali Akbar melawan musuh.

Kala itu, Imam Husain menengadah ke langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Jadilah saksi bahwa cara berjalan dan berbicara, wajah dan kepribadian orang yang maju ke medan perang saat ini menyerupai nabi-Mu. Jadi kami, Ahlul Bait, rindu untuk melihat Rasulullah SAW, kami selalu memandang Ali Akbar dan terobatilah kerinduan kami. Ya Tuhanku, hilangkanlah karunia duniawi atas para tentara itu dan jadikanlah mereka linglung dan mendapat bencana, sehingga mereka tidak dapat menguasai kami. Mereka telah mengundang kami untuk datang kemari, namun mereka juga memusuhi kami dan siap untuk membantai dan membunuh kami.”

Kemudian Imam Husain yang teraniaya di Karbala itu menyebut nama putra Sa’d dan berkata, “Semoga Allah memangkas keturunanmu dan semoga kamu tak pernah mendapat apa yang kamu inginkan. Semoga Allah memberi kekuatan kepada penguasa zalim yang menguasaimu ketika dia memenggal kepalamu saat kamu sedang tidur pulas. Karena kesyahidan pemuda elok ini, kamu telah memangkas keturunanku yang seharusnya lahir dari garis keturunannya beberapa orang anak. Betapa kamu sama sekali tak memandang hubunganku dengan kakekku (Rasulullah SAW).”

Di medan perang di gurun Nainawa itu, Ali Akbar bersyair dengan semangat jihad berapi-api, “Akulah Ali putra Husain yang kakeknya adalah Rasulullah SAW. Demi Allah, kami adalah yang berhak dan layak menjadi wakil pemimpin Allah. Demi Tuhan, keturunan-keturunan yang hina tak akan bisa menguasai kami. Aku akan berperang dengan kalian hingga tetes darah penghabisan. Sekalipun sebilah pedang ini patah, aku tetap akan berperang dengan tonggat hingga tonggat ini pun patah, hingga kalian tahu kekuatan pemuda Bani Hasyim!.”

Segera setelah itu, Ali Akbar menerjang barisan musuh. Para kurcaci kekuasaan illegal itu porak-poranda. Satu-persatu tubuh-tubuh yang telah kehilangan kehormatan itu tersungkur dari punggung kudanya. Tak ada yang dapat mengelak dari tetakan pedang putra Husain itu. Kemudian Ali Akbar kembali ke tempatnya semula sejenak dan kembali menghunuskan pedangnya. Setiap peleton pasukan musuh yang dihalaunya kacau balau. Mereka tak menyangka akan menerima serangan pemuda yang lihai menarikan pedang itu.

Setiap musuh yang diterjangnya, pasti tak akan selamat. Tersungkur dan tumbang. Seratus Dua Puluh nyawa penjahat dilayangkan olehnya. Serigala-serigala berwujud manusia itu lari tunggang langgang tak tentu arah, berteriak-teriak meminta pertolongan seperti serombongan serigala yang berhamburan dihalau singa padang pasir. Saat itulah tercermin lagi pribadi Ali bin Abi Thalib di laga Badar, Uhud dan Khandaq. Terlihat lagi kegigihan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ketika menjebol benteng Khaibar. Keringatnya bercucuran. Nafasnya tersengal-sengal. Terik matahari Karbala membuatnya tak kuasa menahan dahaga. Ali Akbar kembali ke tenda Imam Husain dan berkata, “Ayah, dahaga mencekik leherku. Jika setetes air membasahi rongga leherku, niscaya aku akan memenangkan pertempuran ini.”

Mendengar putranya berseru, mata Imam Husain sembab. Seperti Ali Akbar, beliau telah berhari-hari tak mendapatkan seteguk air pun di sahara gersang Karbala yang ganas itu. Imam Husain memeluk putranya itu dan memasukkan lidah beliau ke mulut Ali Akbar. Ali Akbar dapat menghisap kelembaban suwarga. Ali Akbar berkata, “Ayah, lidahmu lebih kering dari lidahku!.” Ali Akbar kini kembali ke medan perang dalam kehausan yang mematikan. Pasukan musuh kali ini serentak mengepungnya dan menyerangnya dari segala penjuru. Serangan bertubi-tubi menghunjam dan menyambar tubuh Ali Akbar. Tebasan pedang-pedang laknat menorehkan luka di sekujur tubuhnya.

Namun, saat itu, ketika anak panah menancap tepat di dada dan perutnya, saat itu pula Ali Akbar membentur bumi. Berguling-guling bermandikan pasir panas Karbala. Ali Akbar pun syahid di medan juang. Menurut salah satu riwayat, Imam Husain mendekati Ali Akbar yang syahid tercincang-cincang tersebut. Pada saat itulah Imam Husain meletakkan kepala jasad Ali Akbar di pangkuannya dan menyuarakan pujian, “Putraku, engkau telah terpisah dengan dunia. Engkau telah terbebas dari duka dan kesedihan dunia, kini ayahmu seorang diri menanti kesyahidan. Wahai para pemuda, bawalah jenazah saudaramu ke perkemahan.”