Arsip Kategori: Tahun 2012

Sastra, Sufisme, Islam


A Message for Peace and Solidarity

Selain tercatat mengukir prestasi dalam kancah sains dan ilmu pengetahuan secara umum, Islam juga dalam sejarahnya melahirkan karya-karya emas sastra atau pun dunia literasi-intelektual dan artistic –bahkan dapat dikatakan lebih prestisius dalam skala pengaruh dan pewarisannya di kawasan Timur atau pun Barat. Kita, misalnya, telah lama akrab dengan nama-nama besar seperti Jalaluddin Rumi, Attar, Hafiz, Firdausi, atau Umar Khayyam. Beberapa pujangga itu bahkan seringkali juga seorang filsuf dan ilmuwan, semisal Umar Khayyam. Dan sebaliknya, juga tak jarang seorang ilmuwan juga acapkali adalah penyair, semisal Ibnu Sina. Begitu pun, nama-nama mereka menjadi harum, bahkan populer, justru ketika karya-karya mereka diterjemahkan para penulis, filsuf, penyair, atau para orientalis ke dalam bahasa kebangsaan mereka masing-masing. Hingga dapat dikatakan bahwa karya-karya mereka telah menjadi “jembatan” atau pun dialog pemahaman antara Timur dan Barat itu sendiri.

Namun sesungguhnya, tradisi kesastraan ini pun sudah ada sejak era pra-Islam, dan masih marak ketika Muhammad al Mustafa Saw berjuang menyampaikan misi risalah dan kenabiannya di kawasan itu. Khusus di kawasan Jazirah Arab sendiri, utamanya di kawasan Makkah dan Madinah, hidup penyair-penyair legendaris seperti Walid Ibn Mughira, Abu Thalib (pamannya Nabi Muhammad dan ayahnya Imam Ali), Umru al-Qais bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi, Zuhair bin Abi Sulma, an-Nabigah adz-Dzibyani, al-A’sya al-Qaisi, Lubaid bin Rabi’ah al-Amiri, Amr’ bin Kultsum at-Taghlibi, Tharafah bin Abdul Bakri, Antarah bin Syaddad al-Absi, al-Harits bin Hiliziah al-Bakri, dan Umayyah bin ash-Shalt.

Bila kita membaca literatur-literatur sejarah dan sastra, tentu saja, Bangsa Arab telah sangat lama menganggap betapa teramat penting peranan seorang penyair. Sehingga sering kali mereka mengiming-imingi seorang penyair yang dapat memberikan semangat dalam perjuangan dengan memberikan sokongan suara bagi seseorang agar dapat diangkat sebagai kepala kabilah. Pada masa-masa itu pula, dikenal festival sastra mingguan, bulanan, dan tahunan. Mereka juga membuat apa yang yang sekarang disebut dengan pasar seni. Di pasar seni inilah para pujangga saling unjuk kemampuan dalam bersastra. Di antara pasar seni yang paling bergengsi pada zaman Jahiliah adalah pasar Dzu al-Majaz, yang terletak di daerah Yanbu’, dekat Sagar (kini termasuk wilayah Madinah); pasar seni Dzu al-Majinnah di sebelah barat Mekkah, dan pasar seni ‘Ukadz yang terletak di timur Mekkah, antara Nakhlah dan Tha’if. Di tiga tempat ini, masyarakat Jahiliah melangsungkan Festival Senin-Selasa selama 20 hari, sejak bulan Dzulqaidah. Di pasar ‘Ukadz, misalnya, para penyair berlomba mendendangkan karya-karya mereka di depan dewan juri yang terdiri dari sejumlah pujangga yang telah memiliki reputasi.

Ketika itu, karya-karya puisi yang dinyatakan sebagai yang terbaik akan ditulis dengan tinta emas di atas kain yang mewah, kemudian akan digantungkan di dinding Kakbah, yang kemudian dikenal dengan istilah al-Mu’allaqat (puisi-puisi yang digantungkan pada dinding Kakbah). Sementara itu, sastra puisi Arab yang paling terkenal pada zaman Jahiliah adalah puisi-puisi al-Mu’allaqat. Dinamakan al-Mu’allaqat, karena puisi-puisi tersebut digantungkan pada dinding Kakbah. Pada zaman Jahiliah, menggantungkan sesuatu pada dinding Kakbah bukanlah hal yang aneh, karena setiapkali ada urusan yang penting, pasti akan digantungkan pada dinding Kakbah. Pada masa Rasulullah SAW, pernah terjadi konflik antara Beliau SAW dan Suku Quraisy. Suku Quraisy sepakat untuk tidak lagi berhubungan dengan Bani Hasyim. Mereka tidak akan kawin dan melakukan jual-beli dengan keturunan Bani Hasyim. Kesepakatan tersebut ditulis di atas perkamen dan digantungkan pada dinding Kakbah.

Sedangkan para penyair Jahiliah lain yang sangat terkenal, namun tidak termasuk dalam jajaran para penyair al-Mu’allaqat adalah al-Khansa’ (w. 664, penyair wanita dari kabilah Mudhar yang akhirnya memeluk Islam), al-Khutaiyah (w.679, juga berasal dari kabilah Mudhar dan masuk Islam), Adi bin Rabi’ah (w. 531, dikenal dengan nama al-Muhalhil), dan juga Sabit bin Aus al-Azdi (w.510, yang lebih dikenal dengan nama Asy-Syanfari.

Tasawuf dan Susastra

Setelah risalah Islam mapan dan meluas ke luar dari kawasan Makkah dan Madinah, utamanya di era-era Islam paska khalifah ar rasyidin, dunia dan negeri-negeri Islam banyak melahirkan para penyair sufi dan karya-karya puisi sufisme. Di sepanjang era-era inilah kita mengenal para penyair sufi semisal Attar, Hafiz, Sa’adi, Abu Sa’id, Rumi dan lain sebagainya, yang telah mewariskan kepada kita karya-karya puisi yang indah sekaligus didaktik dan bernilai universal. Beberapa nama dan karya mereka bahkan sangat populer di Timur dan Barat, terutama sekali Jalaluddin Rumi. Puisi-puisi Rumi sendiri memang terbilang bersahaja, meski memiliki makna dan pesan yang sangat mendalam dan universal, yang menjadi ciri keunggulan puisi-puisi Rumi itu sendiri, semisal puisinya yang berjudul Kau dan Aku yang masyhur di segala kalangan Barat dan Timur, baik bagi generasi tua atau pun bagi generasi muda itu:

“Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku. Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa, Kau dan Aku. Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian. Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku. Bintang-bintang Surga keluar memandang kita –Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku. Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’, akan menjadi satu melalui rasa kita. Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku. Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita –Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa, Kau dan Aku. Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini. Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan –Kau dan Aku.”

Untuk konteks abad ini, nalar dan gaya perpuisian Rumi tersebut, misalnya, diikuti juga oleh puisi-puisi yang ditulis Ayatullah Khomeini, sebagai contohnya, “Kekasihku! Menyasikan keindahan-Mu, aku pun terpana // Melihat manifestasi kemuliaan-Mu, aku terpukau dalam bahagia. Kulupakan wujud diriku dan kuberseru, “Akulah kebenaran!” Bagai Manshur al-Hallaj, kurelakan diriku dihukum di tiang gantungan // Kesakitan dan kepedihan akan cinta-Mu membakar jiwa ragaku // Hingga aku terpukau dengan diriku, dan keadaanku menjadi pembicaraan seluruh kota. Biarkanlah pintu-pintu kedai minum tetap terbuka, Biarkan kami pergi kesana siang dan malam // Karena, aku muak dengan masjid maupun madrasah. Aku melepaskan jubah kezuhudan dan kepura-puraan // Dan menjadi sadar setelah mengenakan jubah pengunjung kedai minum. Juru dakwah kota dengan ceramahnya membuat aku tak nyaman // Karena itu aku mencari perlindungan pada orang yang penampilan luarnya memuakkan tetapi batinnya penuh kesalihan. Izinkan aku untuk mengingat kenangan manis kuil itu // Dimana aku tersadar oleh sentuhan lembut tangan kekasihku”.

Tentu saja, beberapa kata dan istilah dalam bait-bait atau larik-larik puisi Ayatullah Khomeini tersebut bermakna kiasan, bukan dalam artian sebenarnya (verbal –harfiah semata). Sebagai contoh, kedai minum di sini maksudnya adalah maqam spiritual kepada Allah Swt yang dicapai melalui pelaksanaan ibadah sunnah. Sementara itu kata masjid dan madrasah berarti ibadah yang kehilangan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mencapai kedekatan kepada Allah. Contoh larik-larik puisi Imam Khomeini yang juga tak kalah indah adalah: “Biarkan jangan kehormatanku melambung // Biarkan jangan namaku berkilau. Tuangan penuh-kasih dalam piala itu // Yang membanjiriku // Yang membasuh jiwa // Dari tipu daya yang angkara.”

Jika kita baca dan kita cermati secara akrab, bunyi puisi-puisi Ayatullah Khomeini itu akan juga mengingatkan kita kepada puisi-puisinya Hafiz dari Syiraz, semisal yang berjudul Engkau Tinggalkan Seribu Wanita Menjadi Gila (yang kiasannya begitu dalam dan sangat halus): “Kekasih, terakhir kali kala Engkau berjalan ke seluruh penjuru kota begitu indah dan telanjang, Engkau tinggalkan seribu wanita menjadi gila dan mustahil untuk bertahan hidup. Engkau tinggalkan seribu suami bingung dengan jenis kelamin mereka. Anak-anak berlarian dari kelasnya dan para guru begitu gembira dengan kedatangan-Mu. Dan sang matahari mencoba membongkar sangkar kahyangannya di langit dan akhirnya menyemayamkan cinta purba-nya di kaki-Mu. Dan kuharap Engkau membiarkannya agar seluruh dunia dapat menjalani kematian seperti Hafiz. Menari begitu bahagia dipenuhi kepayang dan cahaya ilahi yang tak tertahankan.”

Dan tentu saja masih banyak warisan kesastraan Islam, utamanya puisi sufisme yang perlu digali dan dibaca oleh kita, yang karenanya tulisan singkat ini tak lebih sebuah upaya kecil untuk “mengingat kembali”, sekali lagi, bahwa Islam juga adalah agama peradaban dan penyumbang besar bagi kehidupan intelektual dan kebudayaan manusia di Timur dan Barat, yang dalam hal ini dalam kancah kepenulisan dan kesusastraan.

Sulaiman Djaya

Iklan

Qasim Ibn Hasan –Singa Bani Hasyim


Qasim Bin Hasan Bin Ali

Di keganasan Nainawa –dan dalam kehausan yang menimpa keluarga Al-Mustafa itu, Imam Husain bertanya kepada putra kakak-nya yang masih remaja: “Qasim, bagaimana engkau memandang kematian?”

Di antara ksatria-ksatria yang berjuang bersama Imam Husain ‘alayhis-salam yang tetap dikenang namanya di sepanjang sejarah adalah putra dari Imam Hasan Al-Mujtaba ‘alayhis-salam –yakni Qasim bin Hasan. Menurut banyak riwayat usia Qasim bin Hasan ketika tragedi Karbala terjadi –belum genap dewasa. Sebagian besar riwayat menyatakan bahwa Qasim bin Hasan ketika itu berusia tiga belas tahun.

Qasim bin Hasan yang gagah perkasa adalah cinderamata Islam dari ayah beliau –Imam Hasan al Mujtaba as. Dia turut serta ke Padang Karbala bersama pamannya –Imam Husain as. Pada hari Asyura –yakni Hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, Qasim melihat para pemuda Bani Hasyim yang masih hidup membawa sisa-sisa tubuh Ali Akbar dari medan perang ke perkemahan Imam Husain as dan menjaganya ke dekat tenda-tenda mereka.

Saat itulah Qasim bin Hasan kehilangan nafsunya akan kehidupan duniawi. Dia pun melihat dengan jelas bahwa tragedi yang menimpa Ali Akbar telah mengubah raut wajah Imam Husain as. Qasim bin Hasan pun tak sanggup lagi untuk berdiam diri.

Qasim bin Hasan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, Fatimah Azzahra as, dan Imam Ali bin Abi Thalib as –mewarisi segala keberanian, kecerdasan, pemahaman, pemikiran dan kemampuan dari Rasulullah SAW dan Imam Ali. Dia memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan kehidupan dunia dan memohon izin kepada pamannya ke medan perang memerangi musuh-musuh laknat.

Imam Husain sangat menyayangi Qasim bin Hasan –keponakan beliau yang telah yatim saat Imam Hasan al Mujtaba syahid karena diracun Muawwiyah bin Abu Sufyan. Karenanya, Imam Husain tak ingin melepaskan keponakan tersayangnya untuk maju ke medan laga melawan ribuan pasukan musuh yang sadis dan keji. Namun karena Qasim bin Hasan sangat teguh pendiriannya untuk berperang melawan pasukan zalim dan rela syahid di medan perang, Imam Husain pun mengizinkannya.

Menyadari detik-detik perpisahannya dengan putra kakaknya, Imam Husain memeluk kasih seakan enggan untuk berpisah. Mereka berdua menangis dan seolah tak sanggup menanggung beban perpisahan dan merelakannya menjadi korban manusia-manusia laknat pendukung Yazid. Orang-orang pendukung Yazid adalah para pemuja berhala harta dan nafsu duniawi. Mereka memilih mengkhianati keluarga Rasulullah SAW untuk menjilat kerajaan Yazid bin Muawwiyah. Mereka lebih memilih hidup tanpa moral, daripada mati terhormat menyongsong agama Muhammad SAW.

Setelah mendapat izin dari pamannya untuk maju ke medan perang, Qasim segera melesat menerjang lawan sambil memacu kudanya –dia bersyair, “Mungkin kalian tak mengenalku. Akulah putra Hasan cucu Rasulullah SAW. Pamanku Husain dikepung bak tawanan. Semoga beliau tak memberikan karunianya kepada kalian semua.”

Pasukan Yazid sempat porak-poranda dihalaunya. Banyak musuh yang tumbang akibat tebasan pedang Qasim bin Hasan. Hamid bin Muslim –yang ditunjuk Yazid sebagai pencatat peristiwa-peristiwa peperangan Karbala berkata:

“Aku melihat seorang anak remaja yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Dia mengenakan pakaian dan celana serta sandal yang salah satu talinya terputus. Anak muda itu berlari ke arahku. Jika aku tak salah, tali sandal sebelah kirinyalah yang putus. Sa’ad Asdi berkata kepadaku, Biar aku serang dia. Aku berkata, Kemenangan atas Tuhan. Apa yang engkau inginkan dengan melakukan itu? Tinggalkan dia. Satu saja keluarga Husain mati, itu sudah cukup untuk dijadikan alasan balas dendam kepadamu atas kematiannya. Tapi dia memaksa, Biarkan aku menyerangnya. Maka dia menyerang anak muda itu dan tak kembali hingga menghantam kepala anak muda itu dengan pedangnya dan membelahnya menjadi dua. Sebelum terjatuh dari kudanya, anak itu berseru, oh pamanku.”

Melihat tragedi meremukkan hati itu, Imam Husain secepat kilat menyambar bak elang, menyerang bak singa garang dan menyabet Umar bin Sa’ad dengan pedang beliau. Umar bin Sa’ad mencoba untuk menangkis sambaran pedang Imam Husain dengan tangannya –tapi tangan Umar bin Sa’ad malah tertebas oleh pedang Imam Husain.

Lalu Imam Husain, yang bak sang singa yang marah itu, membawa jasad-jasad Qasim ke perkemahan dan membaringkannya di samping jenazah Ali Akbar dan para syuhada lainnya. Kesetiaan dan pengorbanan Qasim telah membuka lembaran baru sejarah Islam.

“Salam sejahtera atasmu, wahai Qasim Ibn Hasan. Salam sejahtera ketika engkau dilahirkan –dan ketika engkau syahid menghadap Rabb-mu”