Arsip Kategori: Tahun 2013

Ihwal Fiksi dan Domain Sastra


More Important

“Jika seorang ilmuwan melihat suatu peristiwa dari penyebabnya, maka seorang sejarawan (yang barangkali juga seorang sastrawan) mencoba memahami maknanya” (Dilthey)

Meski ada banyak ragam definisi tentang fiksi dan sastra, umumnya tetap memandang fiksi dan sastra tidak terlepas sebagai kerja kreatif yang berhubungan dengan wilayah imajinasi dan rasa. Karena ia merupakan wilayah rasa dan imajinasi, sebagai contohnya, maka ia berbeda dengan sosiologi atau “ilmu” dalam arti umum yang kita pahami. Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi.

Wawasan itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas. Sedikit banyaknya, estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran. Semangat estetika adalah keraguan dalam prosesnya, di mana keakraban dan simpati dimungkinkan. Ikhtiar seorang penulis, pemikir, dan penyair adalah untuk menemukan dan mencari peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelahi sebelumnya tersebut. Seorang penulis, yang sekaligus seorang pemikir, dapat dibayangkan sebagai seorang usiran yang mencari tempat berteduh dan bernaung, yang di waktu senja ia tiba-tiba sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia kesepian sekaligus ingin memasuki ruangan yang sepi dan menjelang gelap itu.

Ignas Kleden (Lihat Ignas Kleden, Sasra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Grafiti 2004, hal. 7-8), dalam tulisannya yang berjudul Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, yang dipengaruhi pandangan filsafat hermeneutik-nya Paul Ricoeur, mengemukakan definisi dan perbedaan yang cukup menarik antara “Sastra” dan “Yang Bukan Sastra” yang ia tulis sebagai berikut: “Apakah yang membedakan sebuah tulisan yang bersifat sastra dari jenis tulisan-tulisan lainnya? Mengapa reportase seorang wartawan, catatan perjalanan seorang turis, kenang-kenangan hidup seorang tokoh, pandangan seorang politisi, atau laporan penelitian seorang ilmuwan dianggap berbeda dari sebuah cerpen, sebuah novel, dan sebuah sajak, atau sebuah esai? Mengapa ada biografi yang dianggap karya sastra seperti Confessiones Santo Agustiunus dan Autobiography Bertrand Russel, atau Ayahku Hamka dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Pramoedya Ananta Toer, dan ada pula biografi yang tidak dianggap sastra sama sekali seperti banyak sekali memoar tokoh politik dan tokoh bisnis Indonesia yang muncul dalam tahun-tahun terakhir ini? Apakah perbedaan itu harus dicari dalam tingkat keindahan atau sofistikasi berbahasa? Apakah karena ada perbedaan jenis narasi? Atau karena factor-faktor lain yang lebih mendalam dan lebih asasi?……

Perbedaan itu disebabkan oleh jenis-jenis makna yang ada dalam sebuah tulisan, yaitu apakah makna itu diproduksikan dalam hubungan sebuah teks dengan kenyataan-kenyataan di luar teks, atau makna itu lahir dalam hubungan internal di dalam teks-teks itu sendiri. Makna referensial (yaitu makna yang lahir dari hubungan antara teks dan dunia luar-teks) dan makna tekstual (yaitu makna yang lahir dari hubungan-hubungan di dalam teks sendiri) adalah dua jenis makna yang membedakan sebuah teks kesusastraan dari teks-teks lainnya. Sastra berbeda dari karya tulis lainnya, karena di sini makna tekstual diproduksikan pada berbagai tingkat, dengan sedikit banyak mensuspendir (yaitu membatalkan untuk tujuan tertentu dan untuk sementara waktu) makna referensial yang digarap dalam ilmu pengetahuan atau jurnalisme, misalnya. Sastra adalah dialektik (pada berbagai tingkatnya) antara dunia luar-teks (yaitu peristiwa) dan dunia dalam-teks (yaitu makna). Interaksi teks dan dunia luar teks menghasilkan makna referensial, sementara interaksi antara bagian-bagian teks satu sama lain menghasilkan makna tekstual, yang menurut hemat penulis merupakan pencapaian spesifik dari kesusastraan. Perbedaan pokok di antara ilmu pengetahuan dan sastra ialah bahwa yang pertama memproduksikan makna referensial dengan cara mereduksikan makna tekstual, sedangkan yang kedua memproduksikan makna tekstual dengan sejauh mungkin mensuspendir (yaitu menempatkan dalam tanda kurung) makna referensial. Atau dengan lain perkataan, dalam ilmu pengetahuan konsep-konsep disusun dengan cara menyingkirkan sebanyak mungkin konotasi dan ambivalensi sehingga tercapai denotasi yang dapatkan ditetapkan isi dan batas-batasnya. Sebaliknya, dalam karya sastra, konotasi dimungkinkan, dan ambivalensi justru diaktifkan untuk menghidupkan watak simbolik sastra, dengan memanfaatkan berbagai teknik simbolisasi seperti metaphor, alegori, atau cara-cara lainnya”.

Demikianlah sejumlah batasan dan definisi perbedaan antara apa “yang sastra” dan “yang bukan sastra” menurut Ignas Kleden yang mengambil wawasan filsafat hermeneutik-nya Paul Ricoeur.

Bila kita argumentasikan dengan kategori eksplanasi (Erklaren) yang sifatnya saintifik dan pemahaman (Verstehen) yang sifatnya hermeneutik, maka sastra berada dalam wilayah Verstehen yang sifatnya hermeneutik sedangkan sains (semisal fisika) berada di wilayah Erklaren yang sifatnya saintifik, sebagaimana ungkapannya Wilhelm Dilthey, “jika seorang ilmuwan melihat suatu peristiwa dari penyebabnya, maka seorang sejarawan (“yang barangkali juga seorang sastrawan) mencoba memahami maknanya (Lihat Rene Wellek & Austin Warren, Theory of Literature, Harcourt Brace Javanovich, Publisher, San Diego, New York, London 1977. Edisi Bahasa Indonesia: Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusatraan, Penerjemah Melani Budianta, Gramedia Jakarta 1993, hal. 6).

Dalam hal ini, Rene Wellek dan Austin Warren mendefinisikan atau mengkategorikan sastra sebagai sebagai sebuah kegiatan kreatif yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan kreatif dalam dunia seni pada umumnya, yang sama-sama berkaitan dengan kreativitas-imajinatif (Ibid, hal. 3), di mana dengan hal itu pula kita menyebut sastra sebagai “karya fiksi” (Ibid, hal. 14). Sementara itu, secara fungsional, sebagaimana dikemukakan oleh Edgar Allan Poe, sastra berfungsi untuk menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu (Ibid, hal. 25), yang kalau kita meminjam wawasannya Aristoteles, seni dan sastra berfungsi sebagai katarsis.

Sulaiman Djaya

Kesultanan Safawi dan Peradaban Islam-nya


Pascal Coste's depiction of Naqsh-e Jahan Square, Isfahan (1839-1841(Gambar: Isfahan, Iran by Pascal Coste)

Dalam catatan sejarah, Kesultanan Safawi dikenal sebagai kesultanan yang telah mengukir prestasi di bidang filsafat, kajian keagamaan, ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur. Bahkan, menurut sejumlah sejarawan, kegemilangan Safawi dalam prestasi-prestasi tersebut telah mengungguli Turki Usmani. Lihatlah bangunan-bangunan indah di Isfahan dan wilayah-wilayah lain di Iran yang merupakan peninggalan-peninggalannya”

Masa Awal

Kesultanan Safawi bermula dari gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, sebuah kawasan yang terbilang indah dan menawan. Tarekat ini diberi nama Safawiyah karena pendirinya bernama Syekh Safuyudin Ishaq (1252-1334), seorang guru agama yang lahir dari sebuah keluarga Kurdi di Iran Utara. Beliau merupakan anak murid Syekh Zahed Gilani (1216–1301) dari Lahijan. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan untuk memerangi orang-orang inkar dan golongan Ahlul Bid’ah. Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi al Din menempatkan seorang wakil yang diberi gelar Khalifah untuk memimpin murid-murid di daerahnya masing-masing. Bermula dari sinilah, gerakan Safawi mewakili sebuah kebangkitan Islam Populer yang menentang dominasi militer Mongol yang meresahkan dan bersifat eksploitatif. Tidak seperti gerakan lainnya, gerakan Safawiyah memprakarsai penaklukan Iran dan mendirikan sebuah Kesultanan baru yang berkuasa dari 1501 sampai 1722. Sang pendiri mengawali gerakannya dengan seruan untuk memurnikan dan memulihkan kembali ajaran Islam.

Berdirinya Kesultanan Safawi ini bersamaan dengan masa ketika kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaan, di saat Kesultanan Safawi yang didirikan di Persia tersebut baru berdiri. Hanya saja, tanpa diduga, kesultanan ini dapat berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini pun terus dipertahankan sampai Tarekat Safawiyah menjadi gerakan politik dan menjadi sebuah kesultanan yang disebut Kesultanan Safawi. Dan dalam perkembangannya, Kesultanan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kesultanan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya, seperti kerajan Turki Usmani dan Mughal. Kesultanan ini menyatakan sebagai Penganut Syi’ah Islam dan dijadikan sebagai mazhab Negara, dan karena itulah, dalam sejaran bangsa Iran, Kesultanan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya Negara Iran dewasa ini, di mana ketika Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini sukses menyudahi rezim Syah Pahlevi yang disokong Amerika dan Israel itu, Iran kembali memantapkan Syi’ah Islam sebagai mazhab resmi Negara.

Jalan Sejarah Kesultanan Safawi

Bangsa Safawi (Tarekat Safawiyah) memiliki komitmen yang sangat kuat dalam menjalankan Syi’ah Islam, dan seiring perkembangannya, banyak murid-murid Tarekat Safawiyah yang menjadi tentara dan prajurit. Semenjak itulah, mereka memasuki dunia perpolitikan pada masa kepemimpinan Syah al Junaid. Selanjutnya Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menumbuhkan kegiatan politik di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Pada tahun 1459 M, Junaid mencoba merebut Ardabil tapi gagal, dan pada tahun 1460 M ia mencoba merebut Sircasia, sayangnya pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan dan ia terbunuh dalam pertempuran tersebut. Penggantinya diserahkan kepada anaknya, Haidar, pada tahun 1470 M. Haidar menikah dengan seorang cucu Uzun Haisan dan lahirlah Ismail yang kemudian hari secara tegas menetapkan bahwa Syi’ah lah yang resmi dijadikan mazhab Negara ini. Inilah Kesultanan yang dapat dikatakan merupakan peletak batu pertama negara Iran.

Selanjutnya, gerakan Militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu setelah ia menang dari Kara Koyunlu (1476 M). Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan ia terbunuh. Ali, putera dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Akan tetapi Ya’kub pemimpin AK Koyunlu menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail dan ibunya di Fars (1489-1493 M). Periode selanjutnya, kepemimpinan Gerakan Safawi diserahkan pada Ismail. Selama 5 tahun, Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan untuk menyiapkan pasukan dan kekuatan. Pasukan yang dipersiapkan itu diberi nama Qizilbash (Baret Merah). Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash alias pasukan “Baret Merah” dibawah pimpinan Ismail menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (Domba Putih) di Sharur dekat Nakh Chivan. Qizilbash terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, yakni ibu kota AK Koyunlu dan akhirnya berhasil dan mendudukinya. Di kota Tabriz inilah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai Sultan pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I, dan berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, buktinya ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah Barat Daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun itulah wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur.

Sebagaimana para pendahulunya, Ismail memberlakukan Syi’ah Islam sebagai mazhab resmi negara. Ismail, yang dikenal sebagai Ismail I, ini adalah orang yang sangat berani dan berbakat. Ambisi politiknya mendorong untuk menguasai negara lain sampai Turki Usmani. Namun dalam peperangan ia dikalahkan pasukan militer Turki yang lebih unggul dalam kemiliteran. Karena keunggulan militer Kerajaan Usmani, dalam peperangan ini Isma’il mengalami kekalahan, malah Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan oleh pulangnya Sultan Salim ke Turki karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya. Kekalahan akibat perang dengan Turki Usmani ini membuat Ismail sedikit kehilangan harapan. Rasa pemusuhan dengan Kerajaan Usmani pun terus berlangsung sepeninggal Ismail I, hingga peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada masa pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577-1567M). Pada masa tiga raja tersebut Kerajaan Safawi mengalami kelemahan. Hal ini dikarenakan sering terjadinya peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat.

Masa Kejayaan Kesultanan Safawi

Keadaan Kesultanan Safawi yang memprihatinkan tersebut baru bisa diatasi setelah Sultan Safawi Kelima, Abbas I, yang naik tahta pada tahun 1588 dan berkuasa hingga 1628. Popularitas Abbas I ditopang oleh sikap keagamaannya. Ia terkenal sebagai seorang Syi’ah Islam yang shalih. Sebagai bukti atas kesalehannya adalah bahwa dia sering berziarah ke tempat suci Qum dan Masyhad. Disamping itu ia pun melakukan perubahan struktur birokrasi dalam lembaga politik keagamaaan. Lembaga sadarat secara berangsur-angsur digantikan oleh lembaga Ulama yang dipimpin oleh seorang Syeikhul Islam. Abbas I telah berhasil menciptakan kemajuan pesat dalam bidang keagamaan, yang membuat Syi’ah Islam menjadi harum dan semakin kokoh di Iran dan sekitarnya. Di antara langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan Kesultanan Safawi tersebut, misalnya, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia.

Selain itu, ia juga mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara menyerahkan wilayah Azerbaijan dan Georgia, yang pada saat bersamaan ia adalah orang yang tidak mencela Abu Bakr, Umar, dan Usman, yang meski dalam sejarah telah merebut hak Ali Bin Abi Thalib sebagai Khalifah dan Imam ummat Islam yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad Saw berdasarkan otoritas wahyu. Kesuksesan Abbas I juga pada keberhasilannya dalam program administrasi dan ekonomi, seperti pembentukan ibukota baru yang besar, Isfahan. Isfahan merupakan kota yang sangat penting bagi tujuan politik dan ekonomi bagi negara Iran yang memusat dan bagi legitimasi Dinasti Safawiyah ini. Dinasti Safawiyah membangun kota baru tersebut dengan mengitari Maydani-Syah, yakni sebuah alun-alun yang besar yang luasnya sekitar 160×500 meter. Alun-alun tersebut berfungsi sebagai pasar tempat perayaan dan sebagai lapangan permainan polo. Ia dikelilingi oleh sederetan toko bertingkat dua, dan sejumlah gedung utama pada setiap sisinya. Pada sisi bagian timur terdapat Masjid Syaikh Lutfallah, yang mulai dibangun pada 1603 dan selesai pada 1618, merupakan sebuah oratorium yang disediakan sebagai tempat peristirahatan pribadi Syah.

Sejumlah bazar di Isfahan sangat penting kedudukannya bagi perekonomian negara, sebab ia merupakan pusat produksi dan kegiatan pemasaran, dan mereka berada di dalam pengawasan petugas perpajakan negara. Ibukota tersebut juga sama pentingnya bagi vitalitas Islam Syi’ah Iran. Pada tahun 1666, menurut keterangan seorang pengujung bangsa Eropa, Isfahan memiliki 162 masjid, 48 perguruan, dan 273 tempat pemandian umum, yang hampir seluruhnya dibangun oleh Abbas I dan penggantinya Abbas II (1642-1666). Di bawah pemerintahan Abbas I Kesultanan Safawi mencapai kekuasan politiknya yang tertinggi. Pemerintahannya merupakan sebuah pemerintahan keluarga yang sangat dihormati dengan seorang penguasa yang didukung oleh sejumlah pembantu, tentara administrator pribadi. Sang penguasa secara penuh mengendalikan birokrasi dan pengumpulan pajak, memonopoli kegiatan industri dan penjualan bahan-bahan pakaian dan produk lainnya yang penting, membangun sejumlah kota besar, dan memugar sejumlah tempat keramat dan jalan-jalan sebagai ekspressi dari kepeduliannya terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Prestasi Intelektual dan Peradaban Safawi

Selain itu, keberhasilan Abbas I adalah menyatukan wilayah-wilayah Persia di bawah satu atap, yang merupakan kesuksesannya di bidang politik yang juga cukup prestisius. Betapa tidak, karena sebelumnya wilayah Persia terpecah dalam berbagai dinasti kecil yang bertaburan di mana-mana, sehingga para sejarawan berpendapat bahwa keberhasilan Safawiyah itu merupakan kebangkitan nasionalisme Persia. Tentu saja, kemajuan yang dicapai Kesultanan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya, semisal di bidang ekonomi. Kemajuan ekonomi ini dicapai terutama setelah kepulauan Hurmua dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Prancis sepenuhnya jadi milik Kesultanan. Sektor pertanian juga mengalami kemajuan terutama di daerah Bulan Sabit Subur. Letak Geografis Persia sendiri yang setrategis dan sebagian wilayahnya yang subur, hingga dikenal sebagai daerah bulan sabit subur, membuat mata dunia internasional pada saat itu memusatkan perhatiannya ke Persia. Portugal, Inggris, Belanda, dan Prancis berlomba-lomba menarik simpati Istana Safawiyah. Bahkan Inggris telah mengirim duta khusus dan ahli pembuat senjata modern guna membantu memperkuat militer Safawiyah.

Bidang lainnya yang juga mengalami kemajuan di masa Abbas I ini adalah bidang Ilmu Pengetahuan, termasuk tasawuf. Kemajuan di bidang tasawuf ditandai dengan berkembangnya Filsafat Ketuhanan (al Hikmah al Ilahiyah) yang kemudian terkenal dengan sebutan filsafat pencerahan atau al Isyraqiyah. Sepanjang sejarah Persia yang dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, filsafat terus mengalami kemajuan, dan banyak ulama dan ilmuan yang selalu hadir di majlis istana Safawiyah, yang antara lain adalah Baha al Din al Syirazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al Din al Syirazi, filosof, dan Muhammad al Baqir Ibn Muhammad Damad, yang dikenal sebagai filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi tentang kehidupan lebah. Selain itu ada juga Bahauddin al ‘Amali, yang tak hanya seorang teolog dan sufi, tapi ia juga ahli matematika, arsitek, dan ahli kimia yang terkenal. Ia menghidupkan kembali studi matematika dan menulis naskah tentang matematika dan astronomi untuk menyimpulkan ahli-ahli terdahulu. Ia ahli agama yang juga ahli matematika ternama. Dalam bidang ilmu pengetahuan inilah, Kesultanan Safawi dapat dikatakan lebih maju dibanding Mughal dan Turki Usmani.

Selain bidang keagamaan dan ilmu pengetahuan, pencapaian lainnya adalah dalam bidang Pembangunan Fisik dan Seni. Kemajuan bidang seni arsitektur, misalnya, ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibukota kerajaan. Sejumlah Masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Beberapa perayaaan di bulan Muharram pun menjadi prioritas, seperti pembacaan tragedi Imam Husain di Karbala yang sangat memilukan hati. Terlepas dari sisi kurang baiknya, sebagaimana perjalanan sejarah pada umumnya, Kesultanan Safawi telah menjadi sebuah “alternatif versi” untuk apa yang dinamakan Islam yang kompherensif dan menjadi inspirasi dan rahim pengetahuan dan peradaban.

Sulaiman Djaya