Bertemu Sastrani Titaranti


Sastrani Titaranti

Dara kelahiran 15 November 1988 bernama lengkap Putu Sastrani Titaranti yang biasa disapa Shanty ini tak hanya memiliki wajah cantik dan simpatik, tapi juga memiliki suara sopran yang indah dan memukau siapa saja yang mendengarkan lagu-lagu yang disenandungkannya. Teman-temannya menjuluki dara kelahiran Jakarta dari keluarga ningrat Bali yang mencintai seni ini sebagai Maria Callas muda Indonesia.

Saat saya bertemu dengannya, ia mengatakan bahwa ia masih terus mempromosikan album crossover yang merupakan kolaborasinya bersama musisi jazz kenamaan, Idang Rasjidi. Bersama sang komposer jazz itu, ia juga sesekali membawakan lagu-lagu jazz, semisal lagu lawas Summertime yang ia nyanyikan di ulang tahun ke-56 Idang Rasjidi, 26 April 2011 silam di kawasan perumahan Arya Widura, Kota Bogor.

Sebagai soprano muda, ia bisa dibilang sudah memiliki pengalaman pentas dan prestasi yang cukup membanggakan. Bahkan ketika baru beranjak dewasa, ia sudah menunjukkan prestasi dan bakatnya dalam dunia seni. Sebutlah sepanjang tahun 2002-2003 saja, Sastrani pernah menjadi Juara I Penyanyi Pop Daerah Duta Kota Denpasar, Juara I Lomba Lagu Pop Indonesia se-Bali, dan Juara III English Poetry Reading Contest dalam rangka HUT RI ke-58 di Bali.

Deretan prestasi dan pengalaman itu baru sebagian kecilnya saja. Sebab, selain terus berkolaborasi dengan para komposer jazz dan para seniman klasik dalam event-event kesenian, Sastrani Titaranti juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi Interfaith Dialogue se-Asia Tenggara pada tahun 2009 di Singapura. Dan sejak 2008 sampai sekarang, Sastrani Titaranti tetap menjalani aktivitasnya sebagai solis soprano untuk orkestra Cikini Klasika.

Sulaiman Djaya

Sang Bambu yang Rendah Hati


Imam Ali As

قَال عليه السلام : الْعَجْزُ آفَةٌ، وَالصَّبْرُ شَجَاعَ وَالْوَرَعُ جُنَّةٌ وَنِعْمَ الْقَرِينُ الرِّضَى

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkata: “Ketidakmampuan adalah petaka, kesabaran adalah keberanian, zuhud adalah kekayaan, pengendalian diri adalah perisai (terhadap dosa), dan sahabat terbaik adalah penyerahan –tawakkal- (kepada Allah) (Hadits Keempat Nahjul Balaghah)

Di suatu desa yang begitu sejuk dinaungi pepohonan rindang, tumbuhlah sebatang pohon mahoni yang begitu besar, menjulang tinggi seolah-olah ingin memberitahukan dunia betapa kuatnya dia. Tampak dia begitu memancarkan pesona wibawa bagi siapapun yang melihatnya. Dan tak jauh dari tempat pohon mahoni itu berada, tumbuhlah serumpun kecil bambu. Jika dilihat secara kasat mata, sungguh suatu pemandangan yang begitu kontras, bagaikan langit dan bumi. Pohon mahoni yang begitu gagah dengan ranting-ranting besar, dan bambu yang begitu ramping, dengan dahan yang melengkung ke bawah.

Walaupun berbeda, mereka selalu hidup berdampingan. Sang bambu yang rendah hati selalu menyapa pohon mahoni setiap hari, hampir setiap waktu mereka berbincang dan berbincang. Pohon mahoni selalu menyombongkan diri, betapa besar dan hebatnya dia, namun sang bambu tidak pernah jenuh mendengarkan kesombongan si pohon mahoni sambil tersenyum. Dia selalu mengomentari segala ucapan mahoni dengan pujian, dengan tulus hati.

Hingga suatu malam, hujan deras menguyur desa tersebut disertai angin yang berhembus kencang. Suara gemuruh guntur turut menambah suasana semakin mencekam. Banyak pohon bertumbangan karena tidak kuat menghadapi hembusan angin kencang. Si pohon mahoni dan bambu pun turut terkena terpaan angin kencang tersebut, mereka mencoba bertahan dan berusaha untuk tidak tumbang. Saat itu, sang pohon mahoni yang panik, berusaha menahan angin kencang tersebut dengan badannya yang besar. Namun badannya tidak cukup besar untuk menahan laju angin yang begitu kencang, dan akhirnya tumbanglah pohon mahoni tersebut.

Sang bambu yang berada di sampingnya, tak terelakkan juga harus menghadapi tiupan angin kencang. Berbeda dengan mahoni yang mencoba menahan deruan angin kencang dengan dahannya yang kokoh, bambu hanya mengikuti ke mana pun arah tiupan anginnya. Dengan fleksibelnya dia bergemulai dengan hembusan angin. Angin kencang pun berlalu, sang bambu tetap berdiri di atas tanah, di samping pohon mahoni yang tumbang akibat terpaan angin kencang.

"Lab Sulaiman Djaya"