Dongeng Negeri Telaga Kahana (Palagan Negeri Suryan)


russia-military-parade-reuters

Di kota Damas itu, sementara pasukan Siis tengah dalam perjalanan mereka menuju Negeri Suryan, Ilias dan Jenderal Reham mendapatkan informasi yang sangat berharga dari salah-seorang intelijen Negeri Suryan bahwa pasukan Siis pimpinan Rakab itu juga disokong oleh Dagoner dari Negeri Turik.

Berdasarkan laporan intelijen yang memberikan informasi kepada Ilias dan Jenderal Reham itu, Dagoner dari Negeri Turik mendukung pasukan Siis karena ‘disuap’ oleh Negeri Amarik dengan bayaran yang cukup besar dan menggiurkan, juga mendapatkan kompensasi dari Negeri Najdan dan Negeri Asrail, sehingga markas pelatihan pasukan Siis cadangan telah disiapkan di Negeri Turik.

Selain itu, Dagoner juga memiliki kepentingan untuk memerangi Bangsa Rudik ketika ia mendukung pasukan Siis pimpinan Rakab yang bengis dan keji itu. Sebab, Bangsa Rudik memang dikenal ‘bermusuhan’ secara politik dengan Bangsa Turik untuk waktu yang terbilang lama hingga saat ini.

Ketika mengetahui hal tersebut, Ilias pun mengirimkan utusan khusus untuk menyampaikan informasi penting itu ke Negeri Farisa, ke Jenderal Roshtam agar dikirim pasukan khusus tambahan sebagai tindakan preventif alias jaga-jaga demi kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa terduga, setelah Ilias mendapatkan persetujuan dari semua yang hadir dalam rapat rahasia di kota Damas di Negeri Suryan itu.

Rapat rahasia dan terbatas di kota Damas itu pun berhasil memutuskan untuk mencegat dan memberi kejutan demi menyambut kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab, yang setiap pasukannya langsung dipimpin Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri. Sementara divisi-divisi yang lain, yang bukan merupakan dua pasukan utama yang mereka bentuk berdasarkan strategi yang mereka godok dalam rapat rahasia itu, dipimpin masing-masing oleh empat orang kepercayaan Jenderal Reham dan dua orang kepercayaan Jenderal Ilias.

Tanpa sepengetahuan Ilias, informasi yang ia kirim melalui seorang utusan ke Negeri Farisa itu disampaikan juga kepada dua adiknya, Hagar dan Sophia, ketika informasi itu telah sampai kepada Jenderal Roshtam. Tentu saja, setelah mengetahui informasi dari Jenderal Roshtam tersebut, mereka memutuskan untuk memberitahu Misyaila dengan kembali mengirim Burung Hudan kesayangan mereka agar menyampaikan pesan dari mereka.

Di kota Damas di Negeri Suryan itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham menyepakati bahwa mereka terlebih dahulu mengirim empat battalion pasukan untuk mencegat secara tak terduga alias memberi kejutan yang akan menyakitkan pasukan Siis pimpinan Rakab.

Empat battalion itu masing-masing dikirim di perbatasan kota Alepp dan Kota Hama, satu battalion yang lebih besar di kirim ke kota Ramad, satu battalion menengah di kirim ke kota Palma, dan satu battalion lagi di kirim ke kota Daraa, sebelum pada akhirnya serangan yang jauh lebih keras dan mematikan akan dilakukan oleh Ilias dan Jenderal Reham sendiri.

Salah-satu strategi pengiriman battalion itu dengan cara diam-diam, dan mereka telah dibekali untuk membuat sekian jebakan dan perangkap untuk menyambuat kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab yang kini mendapat dukungan juga dari Dagoner, seorang penguasa Negeri Turik yang terkenal bermusuhan dengan Bangsa Rudik, Bangsa Asyur, dan Bangsa Armania itu.

Sementara itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri masing-masing mengirim pasukan khusus rahasia untuk membuat kekacauan di kota Nakara di Negeri Turik dan di kota Rajna di Negeri Najdan. Mereka juga telah menyiapkan diri dengan pasukan khusus masing-masing dalam rangka menggempur pasukan Siis dari udara bila pasukan Siis itu telah sampai di beberapa kota di Negeri Suryan.

Seementara itu, di tempat lain, di Negeri Farisa di kota Naheret, Hagar dan Sophia telah mengirim si Burung Hudan untuk kembali memberikan atau menyampaikan kabar kepada Misyaila tentang situasi dunia yang akan terjadi.

Dengan patuh dan tanpa ragu, si Burung Hudan itu segera melesat cepat menuju ke sebuah negeri di mana Misyaila tinggal dan berada, ke negeri yang jalur dan arahnya kini telah ia hapal dengan sangat baik melalui perjalanan intuitif dan telepatik sebelumnya.

Di sisi lain, pasukan Siis yang kini jumlahnya lebih besar dan lebih banyak telah berhasil mendarat di Negeri Suryan tanpa perlawanan yang berarti sama-sekali, yang tentu saja hal itu di luar dugaan mereka yang sebelumnya menduga akan mendapatkan perlawanan dalam pendaratan mereka, yang memang hal itu ‘disengaja’ oleh Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri untuk melawan dan menghajar mereka di darat, karena mereka jauh lebih paham dan lebih mengenal negeri mereka sendiri ketimbang pasukan Siis, dan karena itu, melancarkan serangan di darat jauh lebih baik bagi mereka dan pasukan-pasukan mereka ketimbang melakukannya di laut, di mana peperangan di laut akan membutuhkan banyak kendaraan amfibi dan atau kapal-kapal laut, sementara Negeri Suryan sendiri dapat dibilang tidak memiliki peralatan lengkap yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan di laut –terlebih para anggota senat Negeri Rumantium yang diminta bantuannya oleh Raja Rashab belum meberikan dukungan kepada Kaisar Nitup Rimaldiv.

Dengan semangat yang gegap-gempita, menggebu, dan persenjataan lengkap, pasukan Siis itu turun dari kapal raksasa yang mengangkut mereka. Barisan pasukan Siis pimpinan Rakab itu tampak besar dan begitu banyak dengan pakaian khas mereka dan rambut mereka yang seperti mirip rambut gimbal, sebuah pasukan yang tak ragu lagi, akan dapat menguasai Negeri Suryan dengan mudah dengan jumlah dan kekuatan mereka serta lengkapnya persenjataan mereka, bila tak ada perlawanan yang gigih dan sebanding dari pihak lawan-lawan mereka.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2015-2016)

Iklan

Mengapa Kita Cenderung Menghakimi?


Kupu-Kupu Senjakala 4

oleh Jeff Maziarek

Kecenderungan manusia untuk “menghakimi” (yaitu: melabeli, mengkritik, menghukum, dan sebagainya) memainkan peran penting dalam mendorong pemisahan di antara kita. Untuk alasan apa pun, pikiran kita agaknya memiliki apa yang tampaknya menjadi kecenderungan alami untuk memberikan penilaian pada orang, tempat, situasi, dan lain-lain.

Meskipun tidak ada seorang pun yang ingin dianggap menghakimi, sepertinya deskripsi ini membawa konotasi yang sangat negatif, faktanya adalah bahwa semua orang pernah menghakimi. Pada dasarnya adalah mustahil untuk sepenuhnya menghindari melakukan penilaian, karena kenyataannya hampir setiap pikiran kita memiliki beberapa penilaian yang terkait dengannya.

Sebagai contoh, untuk menilai makanan sebagai lezat adalah penilaian, seperti komentar yang menyebutkan orang tertentu sebagai menarik. Namun, sangat penting di sini untuk membuat perbedaan antara istilah penilaian dan observasi. Penilaian melibatkan pendapat Anda bersama dengan emosi Anda, sedangkan observasi hanya melibatkan komentar pada apa yang Anda perhatikan.

Dalam setiap peristiwa, langkah pertama dalam mengenali kecenderungan Anda untuk menilai adalah dengan mengakui kepada diri sendiri bahwa Anda sedang melakukan penilaian. Hal ini tidak berarti dengan cara apapun bahwa Anda adalah orang yang menghakimi, melainkan hanya berarti bahwa Anda mengakui kecenderungan perilaku ini bukan menyangkal.

Hanya ketika Anda sadar untuk menerima bahwa Anda melakukan penghakiman secara teratur, Anda dapat mulai untuk menjadi lebih sadar ketika Anda melakukannya.

Hal ini juga sangat penting untuk memahami tentang apa arti menilai orang lain. Secara khusus, alasan kita menilai orang lain adalah bahwa kita melihat mereka, bukan sebagai mereka, tetapi seperti kita. Dengan kata lain, kita memfilter mereka melalui sistem keyakinan kita. Oleh karena itu, penilaian kita tidak benar-benar mengatakan apa-apa tentang orang lain –mereka hanya menggambarkan apa persepsi kita.

Setiap kali seseorang berbuat tidak ‘sesuai’ dengan standar pribadi kita, kita secara otomatis memberi semacam penilaian pada mereka.

Ketika saya pertama sadar tentang penilaian ini, agak sedikit mengejutan bagi saya karena, sebelum itu, saya telah menjadi orang yang terus-menerus mengkritik orang lain. Bahkan, pada saat saya bekerja di pekerjaan pertama saya setelah lulus sekolah, saya diberi julukan seorang ‘pembunuh karakter’ hanya karena kemampuan saya untuk mengolok-olok orang lain.

Apa yang orang ini tunjukkan tentang diri saya?

Melakukan refleksi kembali saat itu dalam hidup saya, menerima kenyataannya bahwa, jauh di dalam hati, saya tahu bahwa menilai orang lain itu salah, tapi saya tak punya kesadaran untuk mengatasinya. Sampai saya mengerti bahwa menilai orang lain hanya mendefinisikan preferensi saya, dan bahwa orang-orang akan tetap menjadi apa pun menurut preferensi mereka, setelah itu hidup saya tidak pernah benar-benar sama lagi.

Tentu saja, saya masih tetap punya kecenderungan untuk menilai, tetapi perbedaannya adalah bahwa sekarang saya setidaknya memiliki kesadaran ketika saya sedang menghakimi sesuatu, sedangkan di masa lalu, saya sama sekali tidak menyadari itu. Kesadaran ini tidak hanya dirasakan pada tingkat intelektual, tetapi sering secara fisik juga, karena kadang-kadang saya benar-benar merasakan sensasi dalam dada saya ketika saya sedang menghakimi.

Poin lain yang sangat penting untuk memahami tentang penilaian dijelaskan dalam bagian yang sangat menarik dari sebuah buku berjudul, “You Are The Answer”, oleh Michael J. Tamura:

Kita bisa menipu diri sendiri ke dalam kepercayaan bahwa kita pada dasarnya berbeda dari orang yang kita hakimi, namun, sebenarnya, kita tidak pernah dapat mengenali pada orang lain apa yang tidak kita miliki dalam diri kita sendiri.

Silakan baca kutipan di atas sekali lagi dan mengambil beberapa saat untuk merenungkan hal itu –ini dapat menjadi konsep yang sangat sulit untuk dipahami. Yang pada dasarnya berarti bahwa apa pun tentang orang lain yang sangat mengganggu Anda sebenarnya mencerminkan kembali kepada diri Anda suatu aspek dari diri Anda yang Anda sangkal, tekan, atau belum belajar untuk mencintai.

Ini adalah kutipan dari buku Debbie Ford, “The Dark Side of the Light Chaser”, yang dibangun berdasarkan titik yang sangat penting ini:

Kemarahan kita atas perilaku orang lain biasanya mengenai aspek yang belum terselesaikan dari diri kita sendiri. Jika kita mendengarkan segala sesuatu yang keluar dari mulut kita ketika kita berbicara dengan orang lain, menghakimi orang lain, atau memberi nasihat, kita harus berbalik dan seolah olah memberikannya pada diri kita sendiri.

Ini adalah konsep yang jelas yang menantang bagi kita untuk menerima, terutama karena pada tingkat sadar, kita hampir tidak menyadari bahwa aspek-aspek tersebut bahkan ada. Namun, jika Anda berpikiran cukup terbuka, dapat memberi Anda sudut pandang lain untuk pemahaman yang lebih baik dari diri Anda. Misalnya, bila Anda menemukan diri Anda menghakimi, Anda dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk melihat ke dalam diri dan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang orang ini tunjukkan tentang diriku?” Jawabannya mungkin tidak datang dengan segera, tetapi jika Anda tulus dalam niat Anda untuk menemukan itu, pada akhirnya Anda akan menemukan.

Saya secara pribadi telah belajar banyak tentang diri saya sendiri dengan menerapkan pendekatan ini, biasanya saya melihat apa yang benar-benar mengganggu saya tentang orang lain adalah sikap saya yang terbiasa untuk ingin terlibat masuk. Sebagai contoh, sikap saya yang cenderung menjadi sangat terganggu oleh orang-orang yang secara teratur mengkritik orang lain. Namun, seperti yang dibahas sebelumnya, pada titik ini saya berperilaku dalam cara yang persis sama. Jika Anda benar-benar jujur dengan diri sendiri dalam proses ini, sangat mungkin bahwa Anda akan juga cenderung melakukan hal yang sama.

Hal terakhir yang harus Anda perhatikan terhadap penilaian adalah jika Anda terlibat di dalamnya, akan dapat mengganggu hubungan Anda dengan Divinity itu sendiri. Deepak Chopra menegaskan hal ini dalam kutipan berikut dari bukunya “The Seven Spiritual Laws of Success”:

“Bila Anda terus-menerus mengevaluasi, mengklasifikasi, melabeli, menganalisis, Anda menciptakan banyak turbulensi dalam dialog batin Anda. Ini mengakibatkan kekacauan aliran energi antara Anda dan bidang potensi murni diri Anda. Dan Anda benar-benar menciptakan celah antara pikiran. Celah ini adalah hubungan Anda dengan bidang potensi murni. Ini adalah keadaan kesadaran murni, ruang yang diam diantara pikiran, keheningan batin yang menghubungkan diri Anda dengan kekuatan sejati.“

Bidang “murni potensi”ini, juga dikenal sebagai ‘Kekuasaan Tuhan’, adalah sumber segala kreativitas Anda. Dengan demikian, berpartisipasi dalam penilaian tidak hanya mendorong pemisahan antara Anda dan sesama jiwa yang lain, tetapi juga membatasi kekuatan pribadi dan keseluruhan potensi kreatif Anda juga.

Oleh karena itu, adalah kepentingan terbaik Anda untuk mengurangi jumlah penilaian yang Anda lakukan setiap hari. Hal ini, tentu saja, membutuhkan banyak latihan, tetapi sekali Anda datang ke kesadaran bahwa menghakimi tidak membawa kebaikan dengan cara apapun, menjadi hampir mustahil bagi Anda untuk menghakimi dan menjadi canggung untuk melakukannya.

Ketika Anda membuat kemajuan dalam upaya Anda untuk keluar dari penghakiman, Anda tidak hanya akan mengalami pikiran yang lebih tenang, tetapi juga akan memiliki perasaan ‘keterkaitan’ yang lebih besar dengan semua manusia, dan dengan segenap unsur-unsur ciptaan lain juga.

"Lab Sulaiman Djaya"