Mengapa Kita Cenderung Menghakimi?


Kupu-Kupu Senjakala 4

oleh Jeff Maziarek

Kecenderungan manusia untuk “menghakimi” (yaitu: melabeli, mengkritik, menghukum, dan sebagainya) memainkan peran penting dalam mendorong pemisahan di antara kita. Untuk alasan apa pun, pikiran kita agaknya memiliki apa yang tampaknya menjadi kecenderungan alami untuk memberikan penilaian pada orang, tempat, situasi, dan lain-lain.

Meskipun tidak ada seorang pun yang ingin dianggap menghakimi, sepertinya deskripsi ini membawa konotasi yang sangat negatif, faktanya adalah bahwa semua orang pernah menghakimi. Pada dasarnya adalah mustahil untuk sepenuhnya menghindari melakukan penilaian, karena kenyataannya hampir setiap pikiran kita memiliki beberapa penilaian yang terkait dengannya.

Sebagai contoh, untuk menilai makanan sebagai lezat adalah penilaian, seperti komentar yang menyebutkan orang tertentu sebagai menarik. Namun, sangat penting di sini untuk membuat perbedaan antara istilah penilaian dan observasi. Penilaian melibatkan pendapat Anda bersama dengan emosi Anda, sedangkan observasi hanya melibatkan komentar pada apa yang Anda perhatikan.

Dalam setiap peristiwa, langkah pertama dalam mengenali kecenderungan Anda untuk menilai adalah dengan mengakui kepada diri sendiri bahwa Anda sedang melakukan penilaian. Hal ini tidak berarti dengan cara apapun bahwa Anda adalah orang yang menghakimi, melainkan hanya berarti bahwa Anda mengakui kecenderungan perilaku ini bukan menyangkal.

Hanya ketika Anda sadar untuk menerima bahwa Anda melakukan penghakiman secara teratur, Anda dapat mulai untuk menjadi lebih sadar ketika Anda melakukannya.

Hal ini juga sangat penting untuk memahami tentang apa arti menilai orang lain. Secara khusus, alasan kita menilai orang lain adalah bahwa kita melihat mereka, bukan sebagai mereka, tetapi seperti kita. Dengan kata lain, kita memfilter mereka melalui sistem keyakinan kita. Oleh karena itu, penilaian kita tidak benar-benar mengatakan apa-apa tentang orang lain –mereka hanya menggambarkan apa persepsi kita.

Setiap kali seseorang berbuat tidak ‘sesuai’ dengan standar pribadi kita, kita secara otomatis memberi semacam penilaian pada mereka.

Ketika saya pertama sadar tentang penilaian ini, agak sedikit mengejutan bagi saya karena, sebelum itu, saya telah menjadi orang yang terus-menerus mengkritik orang lain. Bahkan, pada saat saya bekerja di pekerjaan pertama saya setelah lulus sekolah, saya diberi julukan seorang ‘pembunuh karakter’ hanya karena kemampuan saya untuk mengolok-olok orang lain.

Apa yang orang ini tunjukkan tentang diri saya?

Melakukan refleksi kembali saat itu dalam hidup saya, menerima kenyataannya bahwa, jauh di dalam hati, saya tahu bahwa menilai orang lain itu salah, tapi saya tak punya kesadaran untuk mengatasinya. Sampai saya mengerti bahwa menilai orang lain hanya mendefinisikan preferensi saya, dan bahwa orang-orang akan tetap menjadi apa pun menurut preferensi mereka, setelah itu hidup saya tidak pernah benar-benar sama lagi.

Tentu saja, saya masih tetap punya kecenderungan untuk menilai, tetapi perbedaannya adalah bahwa sekarang saya setidaknya memiliki kesadaran ketika saya sedang menghakimi sesuatu, sedangkan di masa lalu, saya sama sekali tidak menyadari itu. Kesadaran ini tidak hanya dirasakan pada tingkat intelektual, tetapi sering secara fisik juga, karena kadang-kadang saya benar-benar merasakan sensasi dalam dada saya ketika saya sedang menghakimi.

Poin lain yang sangat penting untuk memahami tentang penilaian dijelaskan dalam bagian yang sangat menarik dari sebuah buku berjudul, “You Are The Answer”, oleh Michael J. Tamura:

Kita bisa menipu diri sendiri ke dalam kepercayaan bahwa kita pada dasarnya berbeda dari orang yang kita hakimi, namun, sebenarnya, kita tidak pernah dapat mengenali pada orang lain apa yang tidak kita miliki dalam diri kita sendiri.

Silakan baca kutipan di atas sekali lagi dan mengambil beberapa saat untuk merenungkan hal itu –ini dapat menjadi konsep yang sangat sulit untuk dipahami. Yang pada dasarnya berarti bahwa apa pun tentang orang lain yang sangat mengganggu Anda sebenarnya mencerminkan kembali kepada diri Anda suatu aspek dari diri Anda yang Anda sangkal, tekan, atau belum belajar untuk mencintai.

Ini adalah kutipan dari buku Debbie Ford, “The Dark Side of the Light Chaser”, yang dibangun berdasarkan titik yang sangat penting ini:

Kemarahan kita atas perilaku orang lain biasanya mengenai aspek yang belum terselesaikan dari diri kita sendiri. Jika kita mendengarkan segala sesuatu yang keluar dari mulut kita ketika kita berbicara dengan orang lain, menghakimi orang lain, atau memberi nasihat, kita harus berbalik dan seolah olah memberikannya pada diri kita sendiri.

Ini adalah konsep yang jelas yang menantang bagi kita untuk menerima, terutama karena pada tingkat sadar, kita hampir tidak menyadari bahwa aspek-aspek tersebut bahkan ada. Namun, jika Anda berpikiran cukup terbuka, dapat memberi Anda sudut pandang lain untuk pemahaman yang lebih baik dari diri Anda. Misalnya, bila Anda menemukan diri Anda menghakimi, Anda dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk melihat ke dalam diri dan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang orang ini tunjukkan tentang diriku?” Jawabannya mungkin tidak datang dengan segera, tetapi jika Anda tulus dalam niat Anda untuk menemukan itu, pada akhirnya Anda akan menemukan.

Saya secara pribadi telah belajar banyak tentang diri saya sendiri dengan menerapkan pendekatan ini, biasanya saya melihat apa yang benar-benar mengganggu saya tentang orang lain adalah sikap saya yang terbiasa untuk ingin terlibat masuk. Sebagai contoh, sikap saya yang cenderung menjadi sangat terganggu oleh orang-orang yang secara teratur mengkritik orang lain. Namun, seperti yang dibahas sebelumnya, pada titik ini saya berperilaku dalam cara yang persis sama. Jika Anda benar-benar jujur dengan diri sendiri dalam proses ini, sangat mungkin bahwa Anda akan juga cenderung melakukan hal yang sama.

Hal terakhir yang harus Anda perhatikan terhadap penilaian adalah jika Anda terlibat di dalamnya, akan dapat mengganggu hubungan Anda dengan Divinity itu sendiri. Deepak Chopra menegaskan hal ini dalam kutipan berikut dari bukunya “The Seven Spiritual Laws of Success”:

“Bila Anda terus-menerus mengevaluasi, mengklasifikasi, melabeli, menganalisis, Anda menciptakan banyak turbulensi dalam dialog batin Anda. Ini mengakibatkan kekacauan aliran energi antara Anda dan bidang potensi murni diri Anda. Dan Anda benar-benar menciptakan celah antara pikiran. Celah ini adalah hubungan Anda dengan bidang potensi murni. Ini adalah keadaan kesadaran murni, ruang yang diam diantara pikiran, keheningan batin yang menghubungkan diri Anda dengan kekuatan sejati.“

Bidang “murni potensi”ini, juga dikenal sebagai ‘Kekuasaan Tuhan’, adalah sumber segala kreativitas Anda. Dengan demikian, berpartisipasi dalam penilaian tidak hanya mendorong pemisahan antara Anda dan sesama jiwa yang lain, tetapi juga membatasi kekuatan pribadi dan keseluruhan potensi kreatif Anda juga.

Oleh karena itu, adalah kepentingan terbaik Anda untuk mengurangi jumlah penilaian yang Anda lakukan setiap hari. Hal ini, tentu saja, membutuhkan banyak latihan, tetapi sekali Anda datang ke kesadaran bahwa menghakimi tidak membawa kebaikan dengan cara apapun, menjadi hampir mustahil bagi Anda untuk menghakimi dan menjadi canggung untuk melakukannya.

Ketika Anda membuat kemajuan dalam upaya Anda untuk keluar dari penghakiman, Anda tidak hanya akan mengalami pikiran yang lebih tenang, tetapi juga akan memiliki perasaan ‘keterkaitan’ yang lebih besar dengan semua manusia, dan dengan segenap unsur-unsur ciptaan lain juga.

Diari Ahmad Hasan


“Kebahagiaan muncul dari hidup yang bermakna, dari pembuatan keputusan yang benar, dan dari mencintai seseorang” (Victor Frankl). “Hidup tanpa musik dan nada-nada, pastilah sebuah kesalahan” (Friedrich Wilhelm Nietzsche).

Setiap orang, yah engkau dan aku, memiliki kesunyian masing-masing, yang kita tak sanggup saling menerka kesunyian kita masing-masing itu, karena ia merupakan sebuah rahasia personal kita yang tak terselami oleh orang lain selain oleh kita sendiri yang mengalami dan merasakannya, yang hanya dapat diterka jika dituliskan menjadi sajak dan nada-nada. Harapan dan keinginan kita seperti fajar dan mekar kembang, ada karena kecintaan kita pada hidup yang kita jalani.

Aku percaya setiap orang memiliki hasrat untuk mencari atau pun berusaha untuk menemukan apa saja yang dapat membuatnya merasa utuh dan berarti, entah apa pun itu, sesuatu yang mungkin membuatnya merasa lengkap, katakanlah sebagai contohnya menjadi seorang suami bila ia seorang lelaki atau pun menjadi seorang istri bila ia perempuan, yang dapat menemukan sendiri arti kebahagiaannya, yang mampu mengatasi kekeliruan atau pun ketaksepahaman yang acapkali berujung pada pertengkaran.

Atau katakanlah menjadi seorang jutawan yang dapat menggunakan waktu seenaknya untuk membaca buku-buku yang disukainya atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Artinya, yang tengah ingin kubicarakan ini adalah hasrat setiap orang untuk menjadi apa pun yang dapat membuatnya merasakan hidup yang sesungguhnya dan menjadi seseorang, menjadi seseorang yang mampu mendapatkan kebahagiaannya sendiri dengan segala apa yang dilakukan dan dijalaninya.

Tetapi acapkali kebahagiaan adalah kesadaran dan keintiman kita pada segala yang hadir, ketika kita mensyukuri dan mengakrabinya dengan ikhlas, bukan mengabaikannya, dan lalu mengangankan sejumlah utopia atau harapan-harapan palsu yang hanya akan membuat kita lari dari kenyataan hidup itu sendiri.

Tetapi apakah aku sendiri telah mendapatkan dan menemukan apa yang kubicarakan itu? Hingga aku merasa berhak untuk berceloteh tentangnya, yang memang barangkali mirip khutbah solipsistik. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku selalu mencoba dan berusaha untuk mendapatkan dan menemukannya, terlebih sebagai seorang yang senantiasa dirundung gelisah dalam kesendirianku.

Aku, seorang lelaki yang bernama Ahmad Hasan, seorang lelaki yang tengah dan terus mencoba untuk menjadi penulis di saat tak memiliki kesibukan lain. Meskipun demikian, ada satu hal yang setidak-tidaknya dapat meredakan kegelisahanku untuk waktu-waktu sementara, seperti ketika aku memandangi pohon-pohon yang kutanam terlihat segar dan rindang.

Itu semua karena ketika aku berpikir dan merenunginya, ada kesadaran yang hadir dalam diriku bahwa kesegaran dan keindahan pohon-pohon yang telah kutanam itu haruslah kuumpamakan sebagai keriangan dan kegembiraan hidup itu sendiri dalam kondisi apa pun, apa pun yang kini tengah kujalani dan kualami.

Mungkin saja itu semua pun lebih merupakan upaya-upayaku untuk menciptakan penghiburan dan harapan dalam kesepian dan kesunyianku sebagai penulis –yang acapkali dilanda kebuntuan epistemologis dan mengalami ketersendatan sintagmatik yang kadangkala membuatku harus mengurungkan niatku untuk menulis puisi atau cerita –meski awalnya aku merasa telah memiliki ide, tamsil, dan gagasan yang akan memberiku sebuah puisi indah yang kuinginkan, sebuah puisi romantis, sebagaimana alunan gesekan cello yang dimainkan seorang cellist perempuan yang memainkan komposisi sensual dan membuatku memiliki imajinasi untuk mengembara ke dalam dunia angan-angan, yang berkelana sebagaimana nada-nada komposisi musik yang kudengarkan dan lalu kurenungi.

Dan jika itu semua benar adanya, aku takkan mengingkarinya, karena sebenarnya mestilah kuakui, keseharianku di pedesaan ini merupakan pelarian diri, meskipun di sisi lain haruslah kuakui juga, keseharianku di pedesaan ini telah berjasa bagi kehidupan bathinku karena ketenangan dan kesunyiannya yang telah memberikan banyak puisi dan tamsil keindahan. Begitu juga malam-malamnya yang telah memberiku keheningan dan kedamaian di saat-saat aku menulis atau pun membaca dalam kesepian dan kesendirian.

Sementara itu, di saat aku menulis catatan harianku ini, hari tampak mendung dan terasa lembab karena cuaca basah selepas hujan menjelang asar tadi, tapi justru hal itulah yang membuatku merasa nyaman, merasakan ketenangan setelah di waktu malam sebelumnya kegelisahan dan kegundahan menguasaiku selama berjam-jam –hingga membuatku larut dalam diam dan lamunan, sementara rasa bosan dan kegundahan yang samar hampir menenggelamkan pikiranku.

Haruslah kuakui, bulan Juli kali ini terasa berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Dalam perasaanku bulan Juli kali ini lebih mirip bulan Januari dan Februari, November dan Desember, ketika malam dan senjanya yang sendu dan petangnya yang bagaikan sang perawan yang dirundung rindu dan dendam, terasa hening dan senyap –kesenyapan dan keheningan yang dapat saja memabukkan seseorang yang putus-asa.

Barangkali perlu juga kau ketahui, itu pun jika kau ikhlas membaca catatan harianku ini, sebelum hatiku terbangun dan terjaga di senja ini setelah terendam dalam lamunan karena rasa bosan yang menghunjam kalbu, selama berjam-jam tadi malam aku hanya terdiam di kursiku, seperti yang telah kukatakan dan harus kukatakan lagi, agar kau ingat dan menandainya dengan sepenuh hati, sembari mendengarkan alunan-alunan violin dan denting-denting piano dari beberapa komposisi yang kusuka –dari Debussy hingga Chopin, dari Mozart hingga Beethoven, dari Haydn hingga Paganini, dari Shostakovich hingga Vivaldi.

Hal itu kulakukan setiap kali aku ingin mendapatkan tamsil dan suasana untuk puisi yang akan kutulis di waktu-waktu malam atau pun di pagihari dan sorehari bila aku terbangun dalam keadaan segar, dan pikiranku merasa tercerahkan karena cuaca fajar dan kedamaian senja yang seperti perempuan yang mempesona.

Demikianlah aku menjelmakan kesunyianku sendiri dalam komposisi kata-kata dan paragraf atau dalam parafrase dan nada-nada musik yang kususun dari kata-kata, menyalinnya dan meminjamnya untuk sementara, sebelum aku menemukan suasana-suasana yang lainnya, sebelum aku menemukan alibi-alibi, kebohongan-kebohongan yang berbeda, yang mungkin juga sama saja, melakukan pengulangan-pengulangan, sebab betapa rentan dan rapuh seorang lelaki yang kadang merasa diri sabar dan tegar menjalani kesepian dan kesendirian.

Yah, aku tengah mengenakan topeng ketika aku terus menulis, terus-menerus mengenakan topeng demi memenuhi apa yang tak bisa kudapatkan dalam kehidupan yang sebenarnya, dalam keseharian yang biasa seperti yang dijalani dan dilakukan kebanyakan orang yang terbebas dari pretensi dan tendensi estetis dan kesombongan artistik. Dengan ini aku hanya ingin mengatakan bahwa hasrat pada keindahan adalah upaya untuk mengobati diri sendiri. Sejumlah ikhtiar untuk mengatasi atau pun mengalihkan kesepianku sendiri menjadi seni.

Hak cipta (C)Sulaiman Djaya (2007). Ilustrasi: Alisa Weilerstein.

Alisa Weilerstein

"Lab Sulaiman Djaya"