Arsip Tag: Negeri Suryan

Dongeng Negeri Telaga Kahana (Jembatan Purgatorio)


Puisi Sungai Sulaiman Djaya

Sulit dibayangkan akankah dunia tanpa perang dan senjata adalah dunia yang tidak akan melahirkan cinta dan ketulusan? Ataukah cinta dan ketulusan memang lahir dan diuji dari kekejaman dan kejahatan? Seperti orang-orang yang dibersihkan di Neraka Purgatorio-nya Dante Alighieri itu, kasih-sayang justru menjadi nyata dalam situasi yang mencekam, dan ketulusan manusia acapkali justru terbukti dan dibuktikan dalam situasi-situasi yang sulit.

Kita tinggalkan sebentar kehidupan di Negeri Telaga Kahana demi mengetahui apa yang dilakukan para pemimpin Bangsa Amarik…..

Di Negeri Amarik yang megah dan canggih itu, pemimpinnya, yaitu Jarjus Bushan yang tolol tapi ditaati para menteri, para korporat, dan para senat negeri tersebut, tampak sedang mengadakan rapat tertutup dengan sejumlah anggota ordo rahasia. Tampak dalam rapat itu hadir pimpinan ordo tersebut, yaitu Mayar Rother, yang terkenal cerdik dan kaya-raya hingga rumahnya lebih menyerupai istana megah, dan memiliki banyak pembantu lelaki dan perempuan.

Rapat tersebut rupanya rapat sepihak yang tidak boleh bocor di kalangan menteri dan para anggota senat negeri itu. Hanya pimpinan dinas rahasia yang dilibatkan, selain para anggota ordo rahasia yang merupakan inisiator rapat tersebut. Dan Jarjus Bushan sendiri, tanpa sepengetahuan rakyat Negeri Amarik, adalah juga anggota ordo rahasia tersebut.

Salah-satu yang dibahas dalam rapat tersebut adalah bagaimana agar mereka dapat mengendalikan sejumlah negeri-negeri lain dengan jalan mengendalikan para pemimpin negeri-negeri yang ingin mereka kuasai, dan kalau cara ini tak berjalan, maka langkah yang akan mereka tempuh adalah dengan kekuatan senjata dan militer, alias dengan membuat kerusuhan di negeri orang lain alias bangsa lain atau menciptakan perang di negeri-negeri yang ingin mereka taklukkan, sehingga bangsa-bangsa itu menjadi lemah dari dalam terlebih dahulu sebelum mereka sendiri yang akan melancarkan serangan.

Salah-satu kekuatan utama ordo tersebut terletak pada kekuasaan finansial mereka yang mengendalikan ekonomi dan kehidupan Negeri Amarik dan sejumlah negeri yang berada dalam kuasa dan kendali mereka, melalui korporasi-korporasi yang mereka kuasai. Dan untuk menghidupkan korporasi-korporasi dan pabrik-pabrik persenjataan mereka di Negeri Amarik tersebut, mereka membutuhkan banyak bahan mentah dan sumber daya alam yang tidak tercukupi dari negeri mereka sendiri, dan karena itulah mereka harus mendapatkannya dari negeri-negeri yang berada dalam kekuasaan mereka, atau dari negeri-negeri yang mereka jarah dengan kekuatan senjata dan perang.

Cara lain untuk melebarkan kekuasaan mereka adalah dengan jalur doktrin dan pendidikan, contohnya dengan banyak menyekolahkan orang-orang dari luar negeri mereka di sekolah-sekolah mereka agar mereka dapat mendoktrin orang-orang tersebut dengan doktrin mereka, dan pada akhirnya akan menjadi orang-orang yang dikendalikan tanpa mereka sadar bahwa mereka telah menjadi agen-agen kekuasaan mereka ketika mereka berhasil mendoktrin orang-orang dari luar negeri mereka yang dididik di Negeri Amarik.

Tentu saja, para anggota ordo rahasia tersebut juga dikenal sebagai para otak intelektual sejumlah perang, agar senjata-senjata mereka dapat digunakan jika ada perang, yang dengan sendirinya akan mendatangkan keuntungan dan kekayaan bagi mereka di Negeri Amarik tersebut.

Bagi mereka, selain dapat menguntungkan secara ekonomi dan finansial bagi berjalannya korporasi mereka, perang juga merupakan ajang uji-coba dan eksperimentasi bagi senjata-senjata yang mereka ciptakan.

Mereka adalah otak di balik setiap perang yang terjadi di dunia, selain mereka juga tak segan-segan memerangi negeri-negeri yang tidak mau dikontrol oleh keuangan dan perdagangan mereka.

Banyak negeri yang telah menjadi korban siasat kotor dan kejahatan mereka, seperti Negeri Lubyan, Negeri Suryan, Negeri Yumnan, dan banyak negeri lainnya. Ada dua negeri yang menjadi sekutu setia Negeri Amarik dalam segala hal, yaitu Negeri Asrail yang dipimpin Ziva si cantik jelita dan Negeri Najdan yang dikendalikan seorang kaya raya bernama Pangeran Wilad Nibtalal.

Rakyat yang hidup di Negeri Amarik terbilang makmur, meski acapkali terjadi kejahatan dan ketidak-adilan, semisal perkosaan dan perkelahian antar penduduknya, atau juga kejahatan bersenjata di sekolah-sekolah.

Begitulah, hanya ada satu negeri yang tidak sanggup mereka kuasai secara penuh, yaitu Negeri Farisa, selain Bangsa Rumantium yang merupakan lawan terberat mereka, meski negeri Farisa pun sempat mereka kuasai ketika Negeri Farisa dipimpin oleh seorang raja bernama Shah Raza. Namun kemudian rakyat Negeri Farisa tersebut memberontak karena kala itu rakyat Negeri Farisa tahu bahwa banyak kekayaan Negeri Farisa yang dibawa ke Negeri Amarik, sementara hidup mereka menderita dalam kekuasaan Shah Raza yang merupakan boneka-nya Bangsa Amarik dan Bangsa Asrail. Tapi sekarang Negeri Farisa dipimpin oleh seorang yang bersahaja yang bernama Duhmam Nejad Ahmadi.

Selepas Negeri Farisa merdeka dari cengkeraman Negeri Amarik, negeri tersebut memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang juga tak kalah canggihnya dengan persenjataan Negeri Amarik dan Bangsa Rumantium. Dan dahulu kala, Negeri Farisa dijuluki sebagai Negeri Bulan Sabit Subur karena sebagian wilayah negeri itu mirip Negeri Sunda yang masyhur yang kini telah lenyap akibat gempa maha-besar yang menghancurkan kemegahan Negeri Tersebut.

Negeri Farisa inilah yang tengah dituju oleh Misyaila, Siswi Karina, Hagar, Ilias, dan Sophia dengan sebuah kereta yang membawa mereka tanpa merasakan kelelahan karena keajaiban kuda-kuda putih bertanduk indah yang mirip Unicorn yang menarik kereta tersebut dengan kecepatan super jet. Adakalanya kereta tersebut seperti terbang, dan yang lebih aneh lagi adalah bahwa kuda-kuda dan kereta tersebut dapat melintasi laut tak ubahnya berlari di daratan.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2015-2016)

Dongeng Negeri Telaga Kahana (Palagan Negeri Suryan)


russia-military-parade-reuters

Di kota Damas itu, sementara pasukan Siis tengah dalam perjalanan mereka menuju Negeri Suryan, Ilias dan Jenderal Reham mendapatkan informasi yang sangat berharga dari salah-seorang intelijen Negeri Suryan bahwa pasukan Siis pimpinan Rakab itu juga disokong oleh Dagoner dari Negeri Turik.

Berdasarkan laporan intelijen yang memberikan informasi kepada Ilias dan Jenderal Reham itu, Dagoner dari Negeri Turik mendukung pasukan Siis karena ‘disuap’ oleh Negeri Amarik dengan bayaran yang cukup besar dan menggiurkan, juga mendapatkan kompensasi dari Negeri Najdan dan Negeri Asrail, sehingga markas pelatihan pasukan Siis cadangan telah disiapkan di Negeri Turik.

Selain itu, Dagoner juga memiliki kepentingan untuk memerangi Bangsa Rudik ketika ia mendukung pasukan Siis pimpinan Rakab yang bengis dan keji itu. Sebab, Bangsa Rudik memang dikenal ‘bermusuhan’ secara politik dengan Bangsa Turik untuk waktu yang terbilang lama hingga saat ini.

Ketika mengetahui hal tersebut, Ilias pun mengirimkan utusan khusus untuk menyampaikan informasi penting itu ke Negeri Farisa, ke Jenderal Roshtam agar dikirim pasukan khusus tambahan sebagai tindakan preventif alias jaga-jaga demi kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa terduga, setelah Ilias mendapatkan persetujuan dari semua yang hadir dalam rapat rahasia di kota Damas di Negeri Suryan itu.

Rapat rahasia dan terbatas di kota Damas itu pun berhasil memutuskan untuk mencegat dan memberi kejutan demi menyambut kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab, yang setiap pasukannya langsung dipimpin Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri. Sementara divisi-divisi yang lain, yang bukan merupakan dua pasukan utama yang mereka bentuk berdasarkan strategi yang mereka godok dalam rapat rahasia itu, dipimpin masing-masing oleh empat orang kepercayaan Jenderal Reham dan dua orang kepercayaan Jenderal Ilias.

Tanpa sepengetahuan Ilias, informasi yang ia kirim melalui seorang utusan ke Negeri Farisa itu disampaikan juga kepada dua adiknya, Hagar dan Sophia, ketika informasi itu telah sampai kepada Jenderal Roshtam. Tentu saja, setelah mengetahui informasi dari Jenderal Roshtam tersebut, mereka memutuskan untuk memberitahu Misyaila dengan kembali mengirim Burung Hudan kesayangan mereka agar menyampaikan pesan dari mereka.

Di kota Damas di Negeri Suryan itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham menyepakati bahwa mereka terlebih dahulu mengirim empat battalion pasukan untuk mencegat secara tak terduga alias memberi kejutan yang akan menyakitkan pasukan Siis pimpinan Rakab.

Empat battalion itu masing-masing dikirim di perbatasan kota Alepp dan Kota Hama, satu battalion yang lebih besar di kirim ke kota Ramad, satu battalion menengah di kirim ke kota Palma, dan satu battalion lagi di kirim ke kota Daraa, sebelum pada akhirnya serangan yang jauh lebih keras dan mematikan akan dilakukan oleh Ilias dan Jenderal Reham sendiri.

Salah-satu strategi pengiriman battalion itu dengan cara diam-diam, dan mereka telah dibekali untuk membuat sekian jebakan dan perangkap untuk menyambuat kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab yang kini mendapat dukungan juga dari Dagoner, seorang penguasa Negeri Turik yang terkenal bermusuhan dengan Bangsa Rudik, Bangsa Asyur, dan Bangsa Armania itu.

Sementara itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri masing-masing mengirim pasukan khusus rahasia untuk membuat kekacauan di kota Nakara di Negeri Turik dan di kota Rajna di Negeri Najdan. Mereka juga telah menyiapkan diri dengan pasukan khusus masing-masing dalam rangka menggempur pasukan Siis dari udara bila pasukan Siis itu telah sampai di beberapa kota di Negeri Suryan.

Seementara itu, di tempat lain, di Negeri Farisa di kota Naheret, Hagar dan Sophia telah mengirim si Burung Hudan untuk kembali memberikan atau menyampaikan kabar kepada Misyaila tentang situasi dunia yang akan terjadi.

Dengan patuh dan tanpa ragu, si Burung Hudan itu segera melesat cepat menuju ke sebuah negeri di mana Misyaila tinggal dan berada, ke negeri yang jalur dan arahnya kini telah ia hapal dengan sangat baik melalui perjalanan intuitif dan telepatik sebelumnya.

Di sisi lain, pasukan Siis yang kini jumlahnya lebih besar dan lebih banyak telah berhasil mendarat di Negeri Suryan tanpa perlawanan yang berarti sama-sekali, yang tentu saja hal itu di luar dugaan mereka yang sebelumnya menduga akan mendapatkan perlawanan dalam pendaratan mereka, yang memang hal itu ‘disengaja’ oleh Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri untuk melawan dan menghajar mereka di darat, karena mereka jauh lebih paham dan lebih mengenal negeri mereka sendiri ketimbang pasukan Siis, dan karena itu, melancarkan serangan di darat jauh lebih baik bagi mereka dan pasukan-pasukan mereka ketimbang melakukannya di laut, di mana peperangan di laut akan membutuhkan banyak kendaraan amfibi dan atau kapal-kapal laut, sementara Negeri Suryan sendiri dapat dibilang tidak memiliki peralatan lengkap yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan di laut –terlebih para anggota senat Negeri Rumantium yang diminta bantuannya oleh Raja Rashab belum meberikan dukungan kepada Kaisar Nitup Rimaldiv.

Dengan semangat yang gegap-gempita, menggebu, dan persenjataan lengkap, pasukan Siis itu turun dari kapal raksasa yang mengangkut mereka. Barisan pasukan Siis pimpinan Rakab itu tampak besar dan begitu banyak dengan pakaian khas mereka dan rambut mereka yang seperti mirip rambut gimbal, sebuah pasukan yang tak ragu lagi, akan dapat menguasai Negeri Suryan dengan mudah dengan jumlah dan kekuatan mereka serta lengkapnya persenjataan mereka, bila tak ada perlawanan yang gigih dan sebanding dari pihak lawan-lawan mereka.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2015-2016)