Arsip Tag: Puisi

Capung-Capung Senjakala


Iran

Di sore hari, ada capung-capung selepas hujan, juga riap sejumlah kupu-kupu yang adakalanya terbang dan adakalanya singgah di kelopak bunga. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan kita tentang kegembiraan dalam kebisuan yang terhampar bersamaan dengan siklus cuaca.

Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, di antara susunan pematang dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan. Seakan-akan mereka asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca.

Ketika merenungi dan memandangi mereka, aku berusaha mereka-reka dan memikirkan sejumlah tamsil: adakah mereka tengah melakukan ritual atau peribadatan tertentu? Ataukah sekedar merayakan perubahan iklim dan cuaca? Sekedar mengamini siklus dan rotasi gerak unsur-unsur dan hukum alam, di saat waktu sesungguhnya hanya ‘diam’.

Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan, dingin yang meresap pada bulu-bulu mereka. Tentulah di saat-saat seperti itu matahari sudah enggan menampakkan diri.

Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu, yang seolah menikahi ketabahan dan cuaca dingin, dingin yang merundung segala yang hidup dan bernyawa.

Dalam cuaca seperti itu sebenarnya aku tak hanya memandangi capung-capung yang dapatlah kuumpamakan sebagai para peri mungil, sesekali juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang di antara pohon-pohon kecil dan lalang-lalang liar.

Aku tergoda untuk membayangkan getaran-getaran sayap-sayap mereka yang tipis dan bergerak dalam samar yang sunyi itu sebagai kiasan kematian yang menyamar sebagai keindahan dan kelembutan.

Aku tergoda untuk mengandaikan mereka adalah maut yang bermain-main itu sendiri. Aku akan menyebut capung-capung itu sebagai peri-peri kecil yang tengah mencandai kematian, sosok kematian yang memang tidak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dipahami oleh keintiman bathin.

Di sana ada banyak puisi dan perumpamaan yang tak dituliskan dengan kata-kata dan kalimat, namun dari merekalah kanak-kanak bahasa akan lahir untuk mereka yang menyukai menuliskan sajak dan nyanyian.

Ijinkan aku mendefinisikan apa itu membaca –yah berkenaan dengan alam dan segala yang hadir di hidup ini. Bagiku, membaca tak hanya melafalkan atau ‘membaca’ aksara-aksara dan tulisan-tulisan, tetapi juga mengakrabi, merenungi, dan mengintimi ‘kehadiran’ dalam hidup, yah seperti ketika aku memandangi dan merenungi para capung senjakala itu.

Karena itu, aku, tak hanya dapat belajar dari buku-buku yang kubaca, tetapi dari setiap yang hadir yang memunculkan minat dan rasa akrabku untuk merenunginya atau sekedar memandang dan memperhatikannya, seperti ketika aku berusaha memahami ‘waktu’ bersama mereka.

“Ketika redup matahari berkubang lembab cuaca
di senja yang sebentar lagi usai
aku tergoda untuk merenungkan para capung
yang menggetarkan sayap-sayap mereka
dengan gerakan lincah nan samar.

Betapa waktu sesungguhnya bercanda
bersama mereka. Kegembiraanmu untuk menafsir
yang tak dicatat lembar-lembar buku
di saat kau bosan atau jenuh. Sesungguhnya
kau dan aku acapkali saling menerka

di mana hati kita gerangan ingin singgah sebentar
dan menemu bahagia. Tahun-tahun,
yang kau sebut usia, barangkali cuma nama lain
untuk segala yang membuat kita lupa
bahwa ada anugerah dan berkat

yang luput kita baca. Sejenak, aku pun berpikir,
bagaimana bila kutulis puisi cinta
yang akan membuatmu tenteram selamanya
seperti juga ingatan yang paling berharga
yang terus kau kenang hingga maut pun tiba.”

[Sulaiman Djaya]

Sulaiman Djaya oleh Asep Bahri

Iklan

Secangkir Kopi & Selembar Diari


Taraneh Alidoosti

“Seseorang tak berhak bicara tentang sesuatu hanya dari katanya, hanya dari yang didengarnya dari orang lain, tapi harus menjumpai dan mengalaminya”

Kupandangi kerumunan lampu-lampu selepas isya –pukul 21.01 WIB. Lampu-lampu yang berada cukup jauh dari rumah, tapi begitu jelas, sekedar hiburan sesaat dan mencari objek untuk mengalihkan perhatian dari aktivitasku yang terbilang membuat jenuh. Sore tadi hujan turun begitu lebat, dan kini rasa dingin cukup untuk membuatku dicekam rasa asing –rasa asing yang seperti biasanya kurasakan sebelum menulis atau membaca.

Sudah enam tahun lebih Ibu telah tiada, selama itu pula aku tak merasakan menu-menu makanan yang biasanya disiapkannya menjelang buka puasa. Bakwan, tumis kangkung, tempe goreng yang dicampur bubuk terigu, sambal pedas dan sayur asam yang memang khas masakan Ibu.

Di masa kanak dulu, ketika aku hanya menginginkan apa saja yang kuinginkan terpenuhi, aku belum sadar bahwa tak semua yang kuinginkan dapat dipenuhi oleh Ibu. Ada banyak prioritas ketimbang mengabulkan permintaan yang menurut ibuku tidak banyak berguna, semisal mobil mainan yang dibeli teman-temanku.

Aku hanya bisa menangis ketika itu layaknya seorang bocah yang keinginannya tak terpenuhi, sebelum akhirnya aku belajar dan menjadi paham bahwa kekecewaan di masa yang akan datang adalah pelajaran ketabahan dan kesabaran. Aku tak hendak mendefinisikan kebahagiaan, aku hanya ingin berkata tentang bahwa seseorang adakalanya harus mengalami kekecewaan untuk mengerti dan paham.

Ingatanku kepada Ibu hadir begitu saja saat kupandangi susunan angka-angka di almanak –suatu ingatan yang cukup aneh bagi seorang lelaki. Barangkali itu karena rasa sepi yang tak disadari, dan lalu mencari objek pengalihan untuk melawannya.

“Ada debur sunyi di dalam dada seorang lelaki
yang acapkali tak dimengerti ketika hadir.
Barangkali juga seperti nasib yang mirip pencuri
dan kita senantiasa kehilangan koin
untuk menukar kesunyian kita dengan kegembiraan.”

Itulah sepenggal puisi yang kutulis ketika rasa bosan dan jenuh datang menyerbu dalam ragu. Sepenggal puisi yang memang ditulis dalam rangka mendapatkan penghiburan bagi diri yang seringkali diterkam rasa asing –kegelisahan yang tersamar dan dirasakan dengan malu-malu. Rasanya puisi ditulis justru agar kesepian itu tak berubah menjadi kegilaan. [Sulaiman Djaya]

Salle de meditation.Ketika Gerimis Terus Berbisik Karya Sulaiman DjayaAmsal RinduSketsa Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya oleh Ade Wahyu