Arsip Tag: Soren Kierkegaard

Filsafat Kebudayaan


Sulaiman Djaya and Angelina Jolie 2

Bagian Pertama (Pendahuluan)

Para filsuf dan analis di abad-19 telah menawarkan perspektif baru dalam melihat manusia (setidak-tidaknya dalam kadar jaman mereka) –Kierkegaard memandang manusia di jamannya digerakkan oleh materialisme dan kolektivisme atas dasar rasionalitas instrumental. Sigmund Freud menyatakan bahwa warisan tradisi sebagai sublimasi dan gejala neurotik, seks sebagai fakta yang diingkari telah menimbulkan gangguan kejiwaan manusia dan hipokrisi, dan neurosis adalah buahnya yang tak teringkari. Max Weber menyesali rasionalisme instrumental sebagai the iron cage dan disenchantment of the world.

Mereka telah memberikan sumbangan bagi khazanah teoritik dan wawasan kebudayaan, setidak-tidaknya pada jaman mereka. Nietzsche lebih menyelam ke dalam saat melihat persoalan tantangan dan gejala yang dihadapi manusia modern, ketika ia menyatakan bahwa peradaban modern mengidap kesadaran buruk, filsafatnya telah menjadi mummy yang menghisap darah kehidupan manusia, dan asketisme kristiani menurutnya justru telah melakukan pembunuhan karakteristik atas manusia modern.

Dalam skala itu, meski berbeda dalam hal fokus dan perspektifnya, tilikan Nietzsche dekat sekali dengan apa yang juga disuarakan Soren Kierkegaard, yaitu menyadari krisis manusia modern. Hegelianisme-Kristen, contohnya, dipandang oleh Kierkegaard sebagai rongrongan atas eksistensi manusia sebagai subjek-subjek yang individual dan mandiri. Di sini, Kierkegaard menegaskan bahwa apa yang dipilih seseorang akan menentukan siapa dirinya dalam konteks dunia modern.

Di sisi lain, sains dan rasionalitas modern telah menjadi suatu pabrik, yang pada akhirnya akan menggiring manusia modern kepada nihilisme. Jalan keluarnya, demikian menurut Nietzsche, adalah revaluasi dan transvaluasi nilai-nilai yang dianut manusia modern. Singkatnya, Nietzsche telah menyingkap lorong-lorong gelap manusia modern. Kita juga dapat memahami kembali konteks Nietzsche dan Kierkegaard dalam hal kritik kebudayaan dan analisis sosial ketika membaca tulisan-tulisannya Erich Fromm, Martin Heidegger, Rollo May, Allan Bloom, dan tentu saja, para filsuf dan analis yang lazim dikenal sebagai Mazhab Frankfurt.

Hak Cipta @ Sulaiman Djaya (2001)

Silogisme Negative


Pale Fire by Vladimir Nabokov

Dalam bait-bait Pale Fire Canto One baris 99-101, Vladimir Nabokov menulis: My God died young. Theolatry I found degrading, and its premises, unsound. No free man needs a God; but was I free?

Bait-bait tersebut dalam pembacaan saya lebih terdengar sebagai satirisasi diri sang subjek sejauh menyangkut heroisme promothean manusia yang ingin terbebas dari belenggu kekuatan impersonal – yang kemudian malah terjebak dalam belenggu kekuatan impersonal yang lain – atau yang disebut oleh Adorno dan Horkheimer sebagai gejala odisian. Karena dalam pembacaan saya bait-bait tersebut tidak meletakkan dirinya pada ide tentang ada atau tidak adanya Tuhan, tetapi lebih sebagai kritik dan parodi atas semangat promothean manusia yang ketika ingin terbebas dari belenggu kekuatan impersonal yang satu, malah menciptakan bagi hadirnya kemungkinan belenggu kekuatan impersonal yang lainnya.

Bila saya kembali mengucapkan dan menuliskannya dengan gaya dan penuturan yang berbeda, maka bait-bait tersebut akan berbunyi: Tuhan senantiasa ada, tetapi manusia seringkali hanya menjadikannya sebagai berhala. Atau bisa juga: Tuhan memang ada, Tapi Ia tak nyata, karena itulah manusia menciptakan berhala.

Silogisme negatif tersebut merupakan gaya Aristophanes untuk mengekspresikan kekekesalannya terhadap silogisme sokratian yang menurutnya cenderung komikal dan lurus hingga menyingkirkan kemungkinan bagi ironi, komedi, satir, dan parodi. Dan gaya yang terakhir ini pulalah yang mungkin akan lebih dekat dengan apa yang ingin dimaksudkan istilah teolatri dalam bait-bait Pale Fire yang telah saya kutip di atas. Di mana diksinya mengandung secara serentak kontradiksi, satir, parodi, ironi, silogisme yang dipelesetkan, dan logika yang dijungkirbalikkan. Hingga logika atau pun silogisme menjadi negatif dan porak-poranda. Metode dan bentuk ini juga dikenal dengan anagram, yaitu permainan merangkai huruf yang telah disediakan untuk menyusun beberapa kata dan bunyi yang berbeda. Misalnya kata Islam bisa menjadi Salim. Kata Demokrasi bisa berubah menjadi “Demo Kasir”, “Kasir Demo”, “Sari Medok”, “Sari Demok”, dan lain sebagainya.

Begitulah bait-bait dalam teks Pale Fire terasa menggelitik sekaligus menggugah karena eksplorasinya dan iktiarnya memparodikan dan memelesetkan khasanah pemikiran menjadi kekayaan khasanah bahasa dan penuturan. Seperti silogisme yang dipelesetkan dan logika yang dibalikkan. Yang kadang digabungkan dan dicampuradukkan dengan anagram: pot, top, spider, redips. And “powder” was “red wop” (348-9) dan: other men die; but I am not another; therefore I’ll not die (213-14). Gaya yang pernah dipraktekkan Aristophanes untuk melawan Sokrates ini di kemudian hari dikembangkan dengan canggih oleh Nietzsche menjadi diksi yang padat sekaligus simbolik. Di sini metafor bukan semata personifikasi atau pun simbolisasi. Tetapi juga komedi, satir, dan ironi. Gaya ini juga dipraktekkan dalam karya-karya Kierkegaard yang sarkartis, simbolik, dan merusak kemapanan. Kita juga bisa memasukkan falsifikasi dan verifikasi Popperian ke dalam bentuk dan gaya ini. Ketika generalisasi silogistik-deduktif sokratian dan platonian dibatalkan keabsahannya oleh kasus induktif aristotelian. Dan di tangan Derrida, gaya ini menjadi dekonstruksi.

Semua gaya dan bentuk tersebut juga secara serempak dipraktekkan bait-bait dalam teks Pale Fire-nya Vladimir Nabokov untuk menertawakan dan memelesetkan berhalaisme dan dogmatisme pemikiran dan ideologi. Yang kadang menjadi skeptisisme murni: There was a time in my demented youth, when somehow I suspected that the truth about survival after death was known to every human being: I alone knew nothing, and a great conspiracy of books and people hid the truth from me. There was the day when I began to doubt man’s sanity: How could he live without knowing for sure what dawn, what death, what doom awaited consciousness beyond the tomb? And finally there was the sleepless night when I decide to explore and fight the foul, the inadmissible abyss (168-180).

Dalam teks-teks Pale Fire, silogisme menjadi komedi. Logika berubah parodi. Matematika jadi tawa. Rumus jadi satir. Pemikiran dan ideologi mesti dicurigai sebagai berhala, bila tanpa kritisisme. Di sana secara serempak terjadi perdebatan antara Freud, Sokrates, Aristoteles, Nietzsche, Lolita, Oedipus, Montaigne, Lafontaine, Rabelais, Plato, Pope, Jane Dean, Proust, Homer, Virgil, Ovid, Arthur Conan Doyle, dan Marx. Pale jadi Leap. No jadi On. Tea jadi Eat. Doom jadi Mood. On jadi No. Eat jadi Tea. Leap jadi Pale. Late jadi Tale. Tale jadi Late. Life jadi File. File jadi Life. Jean jadi Jane. Jane jadi Jean. Now jadi Won. Won jadi Now. Read jadi Dare. Dare jadi Read. Dan seterusnya sampai batas imajinasi huruf merangkai kata.

Tetapi keseluruhan penulisan teks-teks Pale Fire mempraktekkan bentuk dan gaya diaris, di mana penuturnya adalah orang pertama yang sedang mengkomunikasikan keluhan-keluhan kejiwaannya kepada seorang psikiater. Atau seseorang yang tengah curhat dan berbagi dengan pembaca. Istilah lain untuk menyebut gaya ini adalah confession atau pengakuan. Gaya seperti ini akan terasa dekat dan akrab dengan pembaca, karena si penutur hanyalah wakil dari pembaca untuk membuka dan mengungkapkan sisi lain jiwa para pembaca: Now I shall spy on beauty as none has spied on it yet. Now I shall cry out as none has cried out. Now I shall try what none has tried. Now I shall do what none has done (746-9). Dan posisi si penutur diari ini adalah posisi orang yang skeptis dan mengejek dogmatisme dalam hidup: I’m puzzled by the difference between two methods of composing: A, the kind which goes on solely in the poet’s mind, a testing of performing words, while he is soaping a third time one leg, and B, the other kind, much more decorous, when he’s in his study writing with a pen (840-7). Di sini kata-kata ditemukan oleh tangan, bukan oleh benak. Dan bahasa ditemukan oleh penyakit jiwa, kegilaan, dan ketakterdugaan: In method B the hand supports the thought, the abstract battle is concretely fought (848-9). Pada konteks ini logika konvensional diragukan dan pertanyaan dipertanyakan kembali: what is what? (369).

Uraian-uraian diaris Pale Fire bisa juga dibaca dalam posisi seorang penulis yang sedang bercerita tentang proses menulis. Seseorang yang mencampuradukkan berbagai pemikiran untuk disatirkan dan diparodikan. Pale Fire adalah Rabelais dalam puisi: L’if, Lifeless tree! Your great Maybe, Rabelais: The grand potato. I.P.H., a lay Institute (I) of Preparation (P) for the Hereafter (H) (501-4). Dan fantasi si penutur dan pencerita dalam teks-teks Pale Fire adalah seseorang yang sedang berandai-andai tidak menjadi manusia. Atau seseorang yang sedang membayangkan dirinya tak ada. Ia ingin menjadi burung atau pun bayang-bayang. Ia ingin terbang bebas menjelajah cakrawala semesta tanpa batas: I was the shadow of the waxwing slain, by the false azure in the windowpane; I was the smudge of ashen fluff –and I lived on, flew on, in the reflected sky (1-4).

Pale Fire adalah pengakuan verbal kekanak-kanakkan yang menggelitik. Nostalgia masa silam demi penghiburan. Ia adalah identitas yang samar dan tercerai dalam fantasi ketiadaan. Dengan kata lain, Pale Fire adalah fiksi otobiografis yang ditulis dalam bentuk puisi dengan mengeksplorasi ironi dan komedi demi mencurigai diri sendiri.

Sulaiman Djaya